Siapa Harun: Imam Besar Pertama Israel dan Saudara Musa
Pendahuluan
Bayangkan dua tangan. Tangan yang sama. Yang satu memegang pahat dan membentuk emas leleh menjadi seekor anak lembu, sementara seluruh bangsa bersorak. Yang lain, beberapa tahun kemudian, memegang perbaraan berisi bara api dan berlari ke tengah umat yang sedang mati kena tulah, berdiri persis di garis antara yang hidup dan yang mati. Tangan itu milik satu orang: Harun, kakak Musa, imam besar pertama Israel.
Kebanyakan orang mengenal Harun hanya lewat satu kalimat: "yang membuat anak lembu emas." Tetapi Alkitab jauh lebih jujur dan jauh lebih murah hati daripada ringkasan itu. Di halaman ini kita akan menelusuri hidup Harun dari awal sampai akhir, menurut urutan ceritanya sendiri: mulutnya yang dipakai Allah, jubahnya yang indah, dosanya yang memalukan, tongkatnya yang bertunas, dan kematiannya di puncak gunung. Dan di sepanjang jalan itu kita akan melihat mengapa kisahnya justru berakhir di kaki salib.
Sudut pandang panduan ini
Kita membaca Harun dari satu sudut yang sering dilewatkan: dia adalah imam besar yang harus mempersembahkan korban bagi dosanya sendiri lebih dahulu, baru bagi umat. Perhatikan urutan waktunya. Allah menetapkan dia sebagai imam di Keluaran 28, sebelum anak lembu emas dibuat di Keluaran 32. Dan Allah tetap menahbiskan dia sesudahnya, di Imamat 8. Jadi jabatan imam besar pertama di Israel dipegang oleh orang yang sudah terbukti gagal. Itu bukan kecelakaan dalam cerita; itu justru pesannya. Sudut pandang ini penting karena di situlah Harun berhenti menjadi tokoh moral yang jauh dan mulai terasa seperti cermin bagi kita sendiri.
Apa kata Alkitab tentang Harun?
Harun lahir di Mesir, anak Amram dan Yokhebed dari suku Lewi, tiga tahun lebih tua dari Musa (Keluaran 6:20; Keluaran 7:7). Ia tumbuh besar sebagai budak di antara budak, tidak dibesarkan di istana seperti adiknya. Kita tidak tahu apa-apa tentang delapan puluh tahun pertama hidupnya. Alkitab baru membuka tirai ketika Musa berdiri di depan semak duri yang menyala dan mencoba menolak panggilan Allah dengan alasan terakhirnya: aku tidak pandai bicara.
Di situlah nama Harun muncul pertama kali: "Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: "Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya." (Keluaran 4:14). Ada dua hal yang menarik di ayat ini. Pertama, Harun diberikan kepada Musa dalam konteks murka Allah; ia adalah semacam kompromi, pendamping yang diberikan kepada seorang hamba yang keras kepala. Kedua, Harun sudah dalam perjalanan sebelum Musa setuju. Allah sudah menggerakkan dia. Dan reaksinya ketika bertemu adiknya bukan iri hati, melainkan sukacita. Harun pernah bersukacita atas panggilan orang lain yang lebih besar dari panggilannya sendiri, dan itu patut dicatat.
Dari sana Harun menjadi juru bicara. Ia berdiri di depan Firaun, melemparkan tongkatnya sehingga menjadi ular, mengulurkan tangannya atas sungai dan debu tanah pada tulah-tulah pertama. Allah sendiri berkata kepada Musa: "Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu." (Keluaran 7:1). Harun belajar berdiri di antara: antara Allah dan Musa, antara Musa dan Firaun, antara Musa dan umat. Seluruh hidupnya adalah hidup di posisi tengah.
Posisi itu terlihat paling indah di Rafidim, ketika Israel berperang melawan Amalek dan tangan Musa yang terangkat menjadi penat. Harun dan Hur menopang tangan Musa, seorang di kiri dan seorang di kanan, sampai matahari terbenam (Keluaran 17:12). Sebelum ia pernah memegang perbaraan pendamaian, ia sudah belajar memegang tangan orang lain.
Di Sinai, Harun termasuk rombongan yang naik dan melihat Allah Israel serta makan dan minum di hadapan-Nya (Keluaran 24:9-11). Lalu datanglah penetapan resmi itu: "Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku, yakni Harun dan anak-anak Harun: Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar." (Keluaran 28:1). Perhatikan bahasanya: dari tengah-tengah orang Israel. Harun bukan makhluk yang lebih tinggi; ia diambil dari antara saudara-saudaranya. Pasal-pasal berikutnya menggambarkan pakaiannya dengan detail yang hampir berlebihan: baju efod, tutup dada dengan dua belas permata bertuliskan nama-nama suku Israel, dan sebuah patam emas murni di dahinya bertuliskan "Kudus bagi TUHAN". Imam besar berjalan dengan nama umatnya di dadanya dan kekudusan Allah di keningnya.
Lalu, di kaki gunung yang sama, semuanya runtuh. Musa terlambat turun, umat menjadi gelisah, dan Harun menyerah: "Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: "Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!"" (Keluaran 32:4). Mulut yang dipilih Allah karena pandai bicara kini dipakai untuk mengumumkan hari raya bagi sebuah patung. Dan ketika ditanya Musa, Harun memberi alasan yang hampir lucu kalau tidak begitu menyedihkan: emas itu dilemparkannya ke dalam api, "dan keluarlah anak lembu ini" (Keluaran 32:24). Seolah-olah logam itu membentuk dirinya sendiri.
Yang mengejutkan adalah apa yang terjadi sesudahnya. Allah tidak mencabut penetapan di Keluaran 28. Di Imamat 8, Harun tetap ditahbiskan, diurapi dengan minyak, dikenakan jubah kudus itu. Dan pada Hari Pendamaian, urutan yang Allah perintahkan sangat jelas: imam besar mempersembahkan korban bagi dirinya sendiri dan keluarganya lebih dahulu, baru sesudah itu bagi seluruh umat (Imamat 16). Harun tidak pernah boleh lupa bahwa ia juga seorang berdosa.
Sisa hidupnya adalah campuran terang dan gelap. Kedua anak sulungnya, Nadab dan Abihu, mati di hadapan TUHAN karena mempersembahkan api yang asing, dan Harun berdiam diri (Imamat 10). Ia pernah ikut bersungut-sungut terhadap Musa bersama Miryam. Ia juga pernah berlari ke tengah tulah dan menghentikannya (Bilangan 16:48). Di Meriba ia ikut dihukum tidak boleh masuk Kanaan (Bilangan 20:12). Dan di puncak Gunung Hor, pada usia seratus dua puluh tiga tahun, jubahnya ditanggalkan dan dikenakan kepada Eleazar anaknya, lalu ia mati (Bilangan 20:28). Seluruh umat menangisinya tiga puluh hari lamanya.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Dari Harun mengalir sebuah garis panjang yang melintasi seluruh Alkitab: garis keimaman. Setelah pemberontakan Korah, ketika klaim atas jabatan imam dipersengketakan, Allah menyelesaikannya dengan cara yang tak terduga. Dua belas tongkat diletakkan di hadapan tabut, satu untuk setiap suku. "Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun, dari keturunan Lewi, telah bertunas, mengeluarkan kuncup, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam." (Bilangan 17:8). Sepotong kayu mati berbunga dalam semalam. Pesannya sederhana dan tajam: keimaman bukan sesuatu yang direbut, melainkan sesuatu yang dihidupkan oleh Allah.
Kayu mati yang berbuah: itu tanda tangan Allah.
Garis itu diteruskan dalam ibadah Israel selama berabad-abad. Para imam keturunan Harun memberkati umat dengan kata-kata yang sampai hari ini masih diucapkan di gereja-gereja: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau" (Bilangan 6:24). Dan ketika pemazmur mencari gambaran untuk persatuan umat Allah, ia tidak memilih gambaran keluarga atau pasukan, melainkan pentahbisan Harun: "Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya." (Mazmur 133:2). Minyak urapan yang dicurahkan di kepala sang imam mengalir turun, membasahi janggut, lalu leher jubahnya. Berkat selalu bergerak ke bawah, dari kepala ke seluruh tubuh. Siapa yang mengerti gambaran ini akan langsung mengerti mengapa Perjanjian Baru menyebut Kristus sebagai Kepala dan jemaat sebagai tubuh-Nya.
Perjanjian Baru memang tidak melupakan Harun. Surat Ibrani memakai dia sebagai titik bandingnya yang utama. Prinsip pertama yang ditarik adalah soal panggilan: "Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun." (Ibrani 5:4). Jadi pelayanan sejati selalu dimulai dari atas, bukan dari ambisi. Tetapi penulis Ibrani melanjutkan dengan perbandingan yang menusuk. Harun harus mempersembahkan korban bagi dosanya sendiri; Yesus tidak. Harun mati dan digantikan oleh Eleazar, lalu Eleazar oleh Pinehas, lalu seterusnya selama ribuan tahun; Yesus hidup selama-lamanya dan keimaman-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Harun masuk ke ruang mahakudus sekali setahun dengan darah binatang; Yesus masuk satu kali untuk selama-lamanya dengan darah-Nya sendiri.
Di sinilah sudut pandang panduan ini mencapai puncaknya. Justru karena Harun seorang berdosa yang butuh pengampunan, pelayanannya tidak pernah bisa selesai. Setiap tahun ia harus kembali. Setiap tahun darah lagi, korban lagi, pengakuan lagi. Dan setiap tahun itu umat diingatkan bahwa jalan masuk kepada Allah belum terbuka lebar. Tirai itu masih tergantung. Baru ketika Yesus mati, tirai Bait Allah terbelah dari atas ke bawah. Imam Besar yang tidak perlu berkorban bagi diri-Nya sendiri akhirnya datang, dan Dia membuka pintu yang selama ini hanya dibuka sedikit, setahun sekali, oleh seorang yang tangannya sendiri gemetar.
Inti hidupnya
Tiga momen menentukan arah seluruh hidup Harun, dan ketiganya berkaitan dengan mulut dan tangannya.
Momen pertama adalah panggilan di Keluaran 4:14. Harun dipanggil bukan karena ia saleh, melainkan karena ia pandai bicara. Allah memakai bakat alamiahnya yang paling biasa. Tetapi perhatikan juga apa yang dikatakan tentang hatinya: ia akan bersukacita melihat adiknya. Di awal cerita, Harun adalah orang yang rela berdiri di tempat kedua. Ia menjadi mulut bagi Musa, bukan mulut bagi dirinya sendiri. Banyak orang memulai pelayanan dengan sikap seperti itu dan perlahan kehilangannya; Harun termasuk di antara mereka, dan Alkitab tidak menutupinya.
Momen kedua adalah anak lembu emas di Keluaran 32:4. Ini bukan sekadar kelemahan sesaat, melainkan kegagalan seorang pemimpin rohani pada titik paling genting. Umat menekan, Musa tidak ada, dan Harun memilih damai yang palsu daripada kebenaran yang mahal. Yang paling menyedihkan bukan patungnya, melainkan kalimatnya. Ia menyebut hari raya bagi anak lembu itu sebagai "hari raya bagi TUHAN" (Keluaran 32:5). Dosa Harun bukan ateisme; itu sinkretisme, mencampur nama Allah yang benar dengan cara penyembahan yang salah. Dan ketika dimintai pertanggungjawaban, ia menyalahkan umat dan bahkan menyalahkan api. Ulangan 9:20 memberi tahu kita bahwa murka Allah menyala terhadap Harun sampai Musa harus berdoa khusus baginya. Harun hidup karena ada yang mendoakannya. Itu detail yang jangan dilewatkan: imam besar pertama Israel diselamatkan oleh doa syafaat orang lain.
Momen ketiga adalah pentahbisannya di Imamat 8 dan pelayanannya pada Hari Pendamaian. Di sinilah sudut pandang kita terasa paling kuat. Orang yang sama yang membentuk patung dengan pahat kini mengenakan patam emas bertuliskan "Kudus bagi TUHAN". Orang yang membiarkan umat menari di depan berhala kini membawa nama dua belas suku di dadanya masuk ke hadirat Allah. Tetapi sebelum ia boleh berdoa bagi mereka, ia harus menyembelih korban bagi dirinya sendiri. Setiap tahun, seumur hidup. Kasih karunia tidak menghapus kenyataan bahwa Harun seorang berdosa; kasih karunia justru memakai orang berdosa itu dan terus-menerus mengingatkannya akan hal itu.
Ada momen keempat yang layak disebut sebagai bayangan: Bilangan 12:1. "Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kusy yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kusy." Pertanyaan yang keluar kemudian membuka isi hati yang sesungguhnya: apakah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Miryam kena kusta; Harun tidak, mungkin karena jabatan keimamannya, tetapi ia langsung memohon ampun. Ia yang dulu bersukacita atas panggilan adiknya kini mempertanyakannya. Itulah erosi pelan yang mengintai setiap pelayan Tuhan yang berdiri lama di tempat kedua.
Yang kita pelajari dari Harun
Pelajaran pertama: panggilan datang dari Allah, bukan dari ambisi. "Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun." (Ibrani 5:4). Korah dan kelompoknya menginginkan jabatan imam dan binasa karenanya; Harun tidak pernah meminta jabatan itu dan menerimanya. Tongkat yang bertunas di Bilangan 17:8 mengatakan hal yang sama dengan cara lain: yang hidup hanyalah yang dihidupkan Allah. Kalau Anda sedang berjuang mendapatkan pengakuan dalam pelayanan, posisi, atau panggung, kisah Harun mengundang Anda duduk dan bertanya: apakah saya mengejar sesuatu yang harus saya rebut, atau menerima sesuatu yang diberikan?
Pelajaran kedua: kegagalan tidak otomatis mengakhiri panggilan, tetapi juga tidak boleh diremehkan. Harun tetap menjadi imam besar setelah anak lembu emas. Itu kabar baik yang luar biasa bagi siapa pun yang pernah merusak sesuatu yang berharga. Tetapi perhatikan bahwa pemulihan itu datang bersama tiga ribu orang yang mati, dengan tulah, dengan doa syafaat Musa yang berjam-jam, dan dengan kewajiban seumur hidup mempersembahkan korban bagi dirinya sendiri. Kasih karunia memang gratis, tetapi tidak murah. Harun diampuni, dipakai, dan sekaligus terus-menerus diingatkan. Itu bukan kekejaman; itu kelembutan yang menjaga dia tetap rendah hati.
Diampuni, dipakai, dan tetap diingatkan.
Pelajaran ketiga: hidup Harun mengajarkan kita bahwa manusia membutuhkan perantara yang lebih baik. Selama empat puluh tahun Harun berdiri di antara Allah dan umat, dan selama empat puluh tahun itu juga ia membuktikan bahwa dirinya sendiri perlu diwakili. Ketika ia berdiri di antara orang mati dan orang hidup dengan perbaraan di tangan (Bilangan 16:48), kita melihat gambaran paling indah tentang syafaat dalam Perjanjian Lama. Tetapi gambaran itu hanya sebuah bayangan. Bayangan selalu menunjuk pada tubuh yang nyata. Dan tubuh itu adalah Kristus, yang berdiri di antara kita dan maut bukan dengan perbaraan, melainkan dengan tubuh-Nya sendiri; bukan sekali setahun, melainkan untuk selamanya. Siapa yang sungguh mengenal Harun tidak akan berhenti pada Harun. Ia akan merindukan Imam Besar yang tidak pernah gagal.
Cermin
Mari kita berhenti sebentar dan bicara tentang Anda.
Anda mungkin pernah berada di posisi Harun di Keluaran 32: dikelilingi tekanan, ditinggal sendiri memikul tanggung jawab, dan memilih jalan yang paling tidak berisiko secara sosial. Di kantor, ketika atasan meminta angka dipercantik sedikit dan semua orang diam. Di keluarga besar, ketika praktik yang Anda tahu tidak sejalan dengan iman Anda tetap dijalankan demi menjaga perasaan orang tua. Di gereja, ketika Anda melihat sesuatu yang salah tetapi memilih tidak bersuara supaya tidak dianggap sulit. Harun tidak bangun pagi itu dengan rencana membangun berhala. Ia hanya tidak sanggup mengatakan tidak. Begitulah kebanyakan dari kita jatuh: bukan lewat pemberontakan besar, melainkan lewat seratus kali mengalah kecil.
Dan mungkin Anda juga mengenal Keluaran 32:24, kalimat "keluarlah anak lembu ini". Kita semua punya versinya. Saya hanya terbawa suasana. Keadaannya memang begitu. Kalau pasangan saya tidak begini, saya tidak akan begitu. Uang itu memang sudah ada di tangan saya. Harun mengajarkan bahwa dosa yang paling sulit disembuhkan bukan dosa yang paling besar, melainkan dosa yang paling pandai menjelaskan dirinya sendiri.
Tetapi di sinilah Harun juga membebaskan Anda. Allah menetapkan dia menjadi imam sebelum ia jatuh, dan tidak menarik penetapan itu sesudahnya. Kalau Anda hari ini merasa sudah terlalu rusak untuk dipakai, bahwa tubuh Anda terlalu lelah, keuangan Anda terlalu berantakan, rumah tangga Anda terlalu retak, dan masa lalu Anda terlalu memalukan, dengarlah ini: imam besar pertama dalam sejarah Israel adalah pria yang pernah memimpin seluruh bangsa menyembah patung. Ia tetap mengenakan tulisan "Kudus bagi TUHAN" di dahinya, bukan karena ia kudus, melainkan karena Allah yang menguduskannya. Anda tidak perlu menunggu menjadi layak. Anda hanya perlu datang kepada Imam Besar yang sudah membawa korban itu bagi Anda, satu kali, untuk selama-lamanya.
Dijelaskan untuk anak-anak
Untuk anak-anak, Harun paling mudah dikenalkan lewat tiga gambar sederhana. Pertama, Harun adalah kakak yang menolong adiknya bicara. Musa takut dan merasa tidak bisa, lalu Allah mengirim kakaknya untuk berdiri di sampingnya. Anak-anak sangat mengerti hal ini, karena mereka tahu rasanya butuh ditemani saat harus maju ke depan kelas. Kedua, Harun pernah melakukan kesalahan besar, dan ia mencoba menyalahkan orang lain serta api. Di sini orang tua bisa bertanya dengan lembut: pernahkah kamu berkata "itu bukan salahku" padahal sebenarnya salahmu? Ketiga, tongkat Harun yang sudah kering tiba-tiba berbunga dan berbuah. Gambar itu memukau anak-anak dan mengajarkan bahwa Allah sanggup membuat hidup muncul dari sesuatu yang kelihatan mati.
Yang paling penting, arahkan anak kepada inti ceritanya: Harun adalah imam, orang yang membawa permintaan maaf umat kepada Allah, tetapi ia sendiri juga perlu dimaafkan. Yesus adalah Imam yang sempurna, yang tidak pernah perlu minta maaf, dan yang mau menjadi korban bagi kita.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Harun untuk tiga kelompok usia: untuk balita dan anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun dengan cerita yang sangat sederhana dan penuh gambar, untuk anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun dengan alur cerita yang lebih lengkap termasuk jubah imam, dan untuk remaja dua belas tahun ke atas dengan pembahasan jujur tentang tekanan kelompok, kompromi, dan apa artinya dipanggil Allah meskipun pernah gagal.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Harun dalam Alkitab?
Harun adalah kakak Musa dan Miryam, anak Amram dan Yokhebed dari suku Lewi, yang lahir di Mesir sekitar tiga tahun sebelum Musa. Ia mula-mula dipakai Allah sebagai juru bicara Musa di hadapan Firaun, lalu ditetapkan menjadi imam besar pertama Israel bersama keempat anaknya, Nadab, Abihu, Eleazar, dan Itamar (Keluaran 28:1). Harun melayani di Kemah Suci selama pengembaraan di padang gurun, pernah gagal berat dalam peristiwa anak lembu emas, dan meninggal pada usia seratus dua puluh tiga tahun di puncak Gunung Hor.
Apa hubungan Harun dengan Musa dan Miryam?
Mereka bersaudara kandung, dengan Miryam sebagai yang tertua, Harun yang kedua, dan Musa yang bungsu. Ketiganya memegang peran berbeda dalam satu umat: Musa sebagai pemimpin dan nabi, Harun sebagai imam, Miryam sebagai nabiah yang memimpin pujian setelah penyeberangan Laut Teberau. Hubungan mereka tidak selalu mulus. Bilangan 12:1 mencatat bagaimana Miryam dan Harun mengatai Musa soal istrinya, perempuan Kusy itu, yang sesungguhnya menyembunyikan persoalan lebih dalam tentang otoritas. Namun ketika Miryam dihukum kusta, Harun segera memohon pengampunan bagi kakaknya.
Mengapa Harun membuat patung anak lembu emas?
Musa sudah berada di atas gunung selama empat puluh hari dan umat menjadi gelisah serta menuntut ilah yang kelihatan. Harun menyerah pada tekanan itu, mengumpulkan anting emas, dan membentuknya menjadi anak lembu tuangan (Keluaran 32:4). Menariknya, ia lalu menyebut hari raya berikutnya sebagai hari raya bagi TUHAN, jadi niatnya bukan mengganti Allah Israel melainkan menggambarkan-Nya dengan cara yang dilarang. Itulah dosa sinkretisme: nama yang benar dipakai untuk penyembahan yang salah. Akar masalahnya adalah ketakutan kehilangan dukungan orang banyak.
Apakah Harun dihukum karena anak lembu emas?
Ulangan 9:20 menyatakan bahwa murka TUHAN menyala terhadap Harun sampai Allah hendak memusnahkannya, dan Musa harus berdoa khusus baginya. Jadi Harun memang berada di bawah penghakiman, bukan dibebaskan begitu saja. Namun Allah tidak membatalkan penetapannya sebagai imam besar yang sudah diberikan di Keluaran 28:1, dan Imamat 8 mencatat pentahbisannya tetap dilaksanakan. Hukuman yang tersisa justru berbentuk pengingat seumur hidup: setiap Hari Pendamaian ia harus mempersembahkan korban bagi dosanya sendiri sebelum boleh mewakili umat.
Apa arti tongkat Harun yang bertunas?
Setelah pemberontakan Korah, Allah meminta setiap suku meletakkan satu tongkat di hadapan tabut hukum untuk menetapkan siapa yang Ia pilih. Keesokan harinya hanya tongkat Harun yang bertunas, berkuncup, berbunga, dan berbuah badam (Bilangan 17:8). Artinya sederhana: keimaman bukan jabatan yang bisa direbut lewat kampanye atau jumlah pendukung, melainkan pemberian Allah yang Ia hidupkan sendiri. Tongkat itu kemudian disimpan di dalam tabut sebagai peringatan tetap. Bagi pembaca Kristen, kayu mati yang berbuah juga menjadi gambaran kebangkitan.
Mengapa Harun tidak boleh masuk tanah Kanaan?
Di Meriba, ketika umat tidak punya air, Allah memerintahkan Musa berbicara kepada bukit batu, tetapi Musa justru memukulnya dua kali sambil berkata dengan marah. Harun berdiri di sampingnya dalam peristiwa itu, dan keduanya mendapat keputusan yang sama: karena mereka tidak percaya kepada Allah dan tidak menghormati kekudusan-Nya di depan mata orang Israel, mereka tidak akan membawa jemaah itu masuk ke negeri perjanjian (Bilangan 20:12). Beberapa waktu kemudian Harun mati di Gunung Hor, dan jubah imamnya dikenakan kepada Eleazar, anaknya.
Apa saja tugas imam besar seperti Harun?
Tugas utamanya adalah berdiri di antara Allah dan umat. Ia mempersembahkan korban, menjaga pelayanan harian di Kemah Suci, membakar ukupan, merawat pelita, mengajarkan perbedaan antara yang kudus dan yang tidak kudus, serta memberkati umat dengan rumusan dalam Bilangan 6:24-26. Puncaknya adalah Hari Pendamaian, ketika hanya imam besar yang boleh masuk ke ruang mahakudus dengan darah, satu kali dalam setahun. Ia mengenakan tutup dada berisi dua belas permata bertuliskan nama suku-suku Israel, sehingga ia harfiah membawa umat itu di dadanya.
Apa perbedaan keimaman Harun dan keimaman Yesus Kristus?
Perbedaannya terletak pada tiga hal. Harun harus berkorban bagi dosanya sendiri lebih dahulu, sedangkan Yesus tidak berdosa sehingga korban-Nya murni bagi orang lain. Harun mati dan digantikan oleh keturunannya terus-menerus, sedangkan Yesus hidup selama-lamanya dan keimaman-Nya tidak beralih. Harun masuk ke hadirat Allah sekali setahun dengan darah binatang, sedangkan Yesus masuk satu kali untuk selama-lamanya dengan darah-Nya sendiri. Surat Ibrani memakai Harun bukan untuk merendahkannya, melainkan untuk menunjukkan bahwa pelayanannya memang dirancang sebagai bayangan dari sesuatu yang lebih besar.
Mengapa Mazmur 133 menyebut janggut Harun?
Mazmur 133 berbicara tentang betapa baiknya ketika saudara diam bersama dengan rukun, lalu memakai gambaran pentahbisan imam: "Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya." (Mazmur 133:2). Minyak urapan dicurahkan di kepala dan mengalir turun membasahi janggut sampai ke tepi jubah. Intinya adalah arah gerakan: berkat mengalir dari atas ke bawah dan membasahi seluruhnya. Persatuan umat bukan hasil usaha manusia, melainkan buah dari urapan Allah yang turun atas mereka.
Siapa anak-anak Harun dan apa yang terjadi pada mereka?
Harun memiliki empat putra: Nadab, Abihu, Eleazar, dan Itamar (Keluaran 28:1). Nadab dan Abihu mati di hadapan TUHAN karena mempersembahkan api yang asing, yang tidak diperintahkan kepada mereka, dan Imamat 10 mencatat reaksi Harun dengan satu kalimat yang memilukan: ia berdiam diri. Eleazar kemudian menggantikan ayahnya sebagai imam besar, dan garis keimaman diteruskan melalui dia serta anaknya, Pinehas. Itamar juga melayani dan keturunannya ikut bertugas di Kemah Suci. Dari keluarga inilah seluruh keimaman Israel berasal.
Apakah Harun seorang nabi?
Dalam arti tertentu, ya. Keluaran 7:1 menyebut Harun akan menjadi nabi bagi Musa di hadapan Firaun, artinya ia yang menyampaikan firman yang diterima Musa. Mikha 6:4 juga menempatkan Harun bersama Musa dan Miryam sebagai pemimpin yang diutus Allah untuk membawa Israel keluar dari Mesir. Namun fungsi utamanya bukan bernubuat melainkan melayani sebagai imam. Harun lebih banyak membawa suara umat kepada Allah daripada membawa suara Allah kepada umat, dan di situlah letak perbedaan perannya dengan Musa.
Apa pelajaran terpenting dari hidup Harun bagi orang percaya hari ini?
Bahwa Allah memanggil orang yang tidak sempurna dan tetap setia pada panggilan-Nya, tanpa pernah menganggap remeh dosa. Harun ditetapkan sebagai imam sebelum ia jatuh, dan tetap ditahbiskan sesudahnya, tetapi ia harus hidup dengan pengingat harian bahwa ia pun membutuhkan pendamaian. Pola itu mengajarkan dua hal sekaligus: jangan pernah berpikir kegagalan Anda terlalu besar bagi kasih karunia Allah, dan jangan pernah berpikir kasih karunia Allah membuat dosa menjadi ringan. Keduanya bertemu dalam Kristus, Imam Besar yang sempurna.
Sebagai penutup
Kalau Anda hanya mengingat satu hal dari halaman ini, ingatlah urutan ini: Allah menetapkan Harun sebagai imam besar di Keluaran 28:1, Harun membuat anak lembu emas di Keluaran 32:4, dan Allah tetap mengurapi dia di Imamat 8. Di antara penetapan dan pentahbisan itu terletak dosa terbesar dalam hidupnya, dan Allah tidak mencoretnya dari daftar. Namun Allah juga tidak berpura-pura tidak terjadi apa-apa; seumur hidupnya Harun harus menyembelih korban bagi dirinya sendiri sebelum boleh berdoa bagi orang lain.
Di situlah seluruh kisah Harun berlutut di hadapan Kristus. Imam besar yang pertama membuktikan betapa kita membutuhkan Imam Besar yang terakhir, yang tidak perlu berkorban bagi diri-Nya sendiri, yang tidak akan mati dan digantikan, dan yang membawa nama kita bukan di permata di dada-Nya melainkan di bekas luka di tangan-Nya.
Kalau Anda ingin melangkah lebih jauh, bacalah Imamat 8 sampai 10 dan Ibrani 7 sampai 10 berdampingan. Bacalah pelan-pelan, satu pasal sehari. Anda akan melihat bayangan dan wujudnya bertemu, dan kemungkinan besar Anda akan berhenti di tengah dan mengucap syukur bahwa jalan kepada Allah hari ini tidak lagi terbuka setahun sekali, melainkan terbuka lebar bagi siapa saja yang datang.
