Siapa Nabi Yeremia: Nabi yang Menangis dan Tetap Setia di Tengah Penolakan
Pendahuluan
Di pelataran Bait Allah, seorang pria berdiri dengan gulungan di tangannya. Ia sudah berkhotbah di tempat itu selama puluhan tahun. Hasilnya? Ia pernah dipukuli dan dipasung di depan umum, pernah diturunkan dengan tali ke dalam perigi berlumpur sampai kakinya terbenam, dan gulungan yang ditulisnya dengan susah payah dirobek potong demi potong oleh raja lalu dibakar di perapian. Dalam seluruh kitab yang memuat namanya, tidak ada satu pun catatan tentang kebangunan rohani besar sebagai buah pelayanannya. Bangsanya tetap jatuh. Kotanya tetap terbakar.
Dan Allah menyebut pelayanan itu berhasil.
Di halaman ini Anda akan mengikuti hidup Yeremia dari rahim ibunya sampai pengasingannya di Mesir, dan menemukan mengapa air matanya justru menjadi salah satu gambaran paling jelas tentang hati Allah sendiri, dan tentang Yesus Kristus yang kemudian menangis di atas kota yang sama.
Sudut pandang panduan ini
Banyak tulisan menggambarkan Yeremia sebagai "nabi yang gagal tapi bertahan". Panduan ini membacanya dari sudut lain: air mata Yeremia bukan tanda kelemahannya, melainkan bentuk kesetiaannya. Ia tidak diutus untuk memenangkan pendapat umum, melainkan untuk ikut merasakan apa yang dirasakan Allah atas bangsa yang Ia cintai. Karena itu hidup Yeremia menjadi ukuran baru bagi kita: pelayanan yang setia tidak selalu kelihatan seperti pelayanan yang sukses. Kita akan melihat bagaimana sudut pandang ini mengubah cara kita membaca panggilannya, cara kita memahami tangisannya, dan cara kita mengerti janji terbesar yang pernah ia sampaikan.
Apa kata Alkitab tentang nabi Yeremia?
Yeremia diperkenalkan dengan sangat sederhana: anak Hilkia, dari keluarga imam di Anatot, sebuah desa kecil di wilayah Benyamin, kira-kira satu jam jalan kaki di utara Yerusalem. Ia bukan orang istana. Ia bukan anak nabi terkenal. Ia bahkan tidak ingin menjadi nabi. Tetapi sebelum ia berkata sepatah kata pun, Allah sudah berbicara lebih dulu:
"Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:5)
Perhatikan urutannya. Mengenal, menguduskan, menetapkan. Semuanya terjadi sebelum Yeremia punya prestasi, bakat, atau pengalaman. Panggilannya tidak lahir dari kemampuannya, melainkan dari kasih Allah yang mendahului. Itulah sebabnya Yeremia tidak bisa berhenti, bahkan ketika semua alasan manusiawi menyuruhnya berhenti.
Jawaban Yeremia sangat manusiawi: ia berkata bahwa ia tidak tahu berbicara, sebab ia masih muda (Yeremia 1:6). Allah tidak memperdebatkan rasa tidak mampu itu. Ia menyelesaikannya dengan sebuah sentuhan:
"Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu." (Yeremia 1:9)
Ini kunci untuk memahami seluruh hidupnya. Yeremia tidak diminta menjadi orator hebat. Ia diminta menjadi mulut yang dipinjam. Isi pesannya pun sudah diringkaskan sejak awal: mencabut dan merobohkan, membinasakan dan menghancurkan, lalu membangun dan menanam. Empat kata penghancuran, dua kata pembangunan. Pelayanan yang jauh lebih banyak berisi bongkar daripada bangun, tetapi selalu berakhir di pembangunan.
Maka datanglah tangisan itu. Yeremia melihat bangsanya menyembah Baal, mengorbankan anak-anak di lembah Hinom, menindas orang asing, janda, dan yatim, sambil tetap rajin ke Bait Allah dan merasa aman karena "ini kan rumah Tuhan". Ia melihat kiamat kecil yang sedang mendekat, dan hatinya hancur:
"Sekiranya kepalaku adalah mata air dan mataku sumber air mancur, maka aku akan menangisi siang malam orang-orang puteri bangsaku yang terbunuh!" (Yeremia 9:1)
Inilah yang membuat Yeremia berbeda dari seorang pengkritik. Seorang pengkritik senang ketika ramalannya terbukti. Yeremia tidak pernah senang. Ia memberitakan penghukuman dengan mata basah, karena ia tahu air mata itu bukan air matanya sendiri saja. Allah juga berduka atas umat-Nya. Allah menangis sebelum Ia menghukum.
Dan karena tangisan itu melelahkan, Yeremia pernah sungguh-sungguh ingin berhenti:
"Tetapi apabila aku berpikir: Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berusaha untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup." (Yeremia 20:9)
Ayat ini sering dikutip sebagai semangat pelayanan. Sebenarnya ini adalah pengakuan seorang pria yang sudah mencoba mundur dan tidak berhasil. Firman Allah di dalam dirinya lebih kuat daripada keinginannya untuk aman. Kesetiaan Yeremia bukan kesetiaan orang yang tak pernah goyah; itu kesetiaan orang yang goyah, lalu ditahan oleh Allah.
Perjalanan hidup Yeremia: dari Anatot sampai Mesir
Panggilan Yeremia jatuh pada tahun ketiga belas pemerintahan Raja Yosia, kira-kira tahun 627 sebelum Kristus. Ia melayani lebih dari empat puluh tahun, melewati lima raja: Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia. Ia menyaksikan tiga gelombang pembuangan ke Babel, dan akhirnya menyaksikan Yerusalem beserta Bait Allah dibakar rata dengan tanah pada tahun 586.
Masa mudanya bertepatan dengan satu-satunya periode cerah: reformasi Yosia. Kitab Taurat ditemukan kembali, berhala dibongkar, Paskah dirayakan besar-besaran. Namun menarik sekali, Yeremia hampir tidak pernah memuji reformasi itu. Ia melihat sesuatu yang tidak kelihatan dari luar: hati bangsa itu tidak ikut berubah. Pembaruan itu berjalan dari atas ke bawah, bukan dari dalam ke luar. Diagnosisnya tajam dan tidak populer: "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membandel, siapakah yang dapat mengetahuinya?" (Yeremia 17:9)
Setelah Yosia tewas di Megido, segalanya memburuk dengan cepat. Di bawah Yoyakim, Yeremia berdiri di pintu gerbang Bait Allah dan menyampaikan khotbah yang hampir membuatnya dibunuh: tempat suci itu tidak otomatis melindungi mereka, sebab mereka menjadikan rumah Allah "sarang penyamun" (Yeremia 7:11). Para imam dan nabi menangkapnya dan menuntut hukuman mati (Yeremia 26). Ia lolos, tetapi sejak itu namanya tercatat sebagai pengkhianat bangsa.
Allah juga meminta sesuatu yang luar biasa berat dari hidup pribadinya. Yeremia dilarang menikah dan punya anak (Yeremia 16:2), bukan karena pernikahan itu salah, melainkan supaya hidupnya sendiri menjadi khotbah hidup tentang masa depan yang akan hilang. Ia dilarang ikut pesta, dilarang ikut perkabungan. Kesepiannya bukan kebetulan; kesepiannya adalah bagian dari pelayanannya. Tidak banyak hamba Allah yang diminta memberikan sebanyak itu.
Pada tahun 605, Yeremia mendiktekan seluruh nubuatnya kepada Barukh, juru tulis yang setia menyertainya. Gulungan itu dibacakan di istana. Raja Yoyakim duduk di depan perapian, memotong gulungan itu dengan pisau beberapa lembar sekaligus, dan membakarnya sampai habis (Yeremia 36). Lalu Allah menyuruh Yeremia menulis ulang semuanya, ditambah lagi. Sebuah pelajaran yang tenang dan menakutkan: firman Allah bisa dibakar, tetapi tidak bisa dihapuskan.
Masa paling berat datang di tahun-tahun terakhir. Yeremia memberitakan bahwa Babel akan menang dan bahwa menyerah adalah jalan hidup. Di mata para pejabat Yerusalem, itu pengkhianatan terbuka. Nabi-nabi lain seperti Hananya menjanjikan kemenangan dalam dua tahun, dan rakyat jelas lebih suka pesan itu (Yeremia 28). Yeremia ditangkap, dituduh membelot, dipukuli, dan akhirnya dimasukkan ke perigi berlumpur di pelataran penjagaan; ia tenggelam dalam lumpur sampai seorang pegawai istana dari Etiopia, Ebed-Melekh, memohon kepada raja dan menariknya keluar dengan tali dan kain (Yeremia 38).
Justru di tengah pengepungan itulah Yeremia melakukan hal paling tidak masuk akal dalam hidupnya: ia membeli ladang. Tanah di Anatot, yang sebentar lagi diduduki tentara Babel, ia bayar penuh dengan tujuh belas syikal perak dan surat jual beli disegel di depan saksi (Yeremia 32). Itu iman dalam bentuk akta tanah. Kota ini akan jatuh, katanya, tetapi suatu hari ladang akan dibeli dan dijual lagi di negeri ini.
Ketika Yerusalem akhirnya runtuh, raja Babel memberi Yeremia kebebasan memilih: ikut ke Babel dengan jaminan kehormatan, atau tinggal. Ia memilih tinggal bersama sisa-sisa rakyat yang paling miskin. Setelah gubernur Gedalya dibunuh, kelompok yang panik itu memaksa Yeremia pergi bersama mereka ke Mesir, bertentangan dengan firman yang baru saja ia sampaikan (Yeremia 43). Di sana, di tanah yang dulu menjadi lambang perbudakan Israel, catatan Alkitab tentangnya berakhir. Ia dibawa pergi melawan kehendaknya, masih berbicara, masih setia, masih tidak didengar.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Yeremia tidak berdiri sendiri. Ia berdiri di tengah sebuah cerita besar yang dimulai jauh sebelum dia dan baru selesai di dalam Yesus Kristus.
Di Perjanjian Lama, Yeremia adalah suara yang menutup satu era. Sejak Musa, Allah sudah memperingatkan bahwa perjanjian di Sinai membawa berkat bagi ketaatan dan kutuk bagi pemberontakan (Ulangan 28). Yeremia adalah jaksa yang membacakan tuntutan terakhir berdasarkan perjanjian itu. Tetapi di titik paling gelap, ketika semua kelihatan berakhir, justru keluar dari mulutnya janji yang paling terang dalam seluruh Perjanjian Lama: Allah akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang mereka langgar, melainkan perjanjian yang hukumnya ditulis di dalam hati, dengan dosa yang tidak diingat-ingat lagi (Yeremia 31:31-34).
Dasar janji itu bukan perbaikan sikap manusia, melainkan sifat Allah sendiri:
"Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu." (Yeremia 31:3)
Kasih yang kekal, bukan kasih yang bergantung pada hasil. Inilah sebabnya Yeremia bisa memberitakan penghukuman tanpa menjadi sinis, dan memberitakan harapan tanpa menjadi naif.
Surat Yeremia kepada para buangan di Babel berjalan di jalur yang sama. Kepada orang-orang yang kehilangan rumah, bait, dan masa depan, ia menulis supaya mereka membangun rumah, menikah, berkebun, dan mendoakan kota musuh. Lalu kalimat yang paling sering dikutip di seluruh kitab ini:
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11)
Perhatikan konteksnya, karena di situlah kekuatannya. Ayat ini bukan janji bahwa penderitaan akan dibatalkan; ayat ini diucapkan kepada orang-orang yang harus menunggu tujuh puluh tahun di negeri asing. Banyak dari mereka akan mati sebelum janji itu digenapi. Allah tidak menjanjikan jalan keluar yang cepat, Ia menjanjikan Diri-Nya dan masa depan yang Ia pegang.
Di Perjanjian Baru, benang ini bertemu dengan Kristus. Ketika Yesus menyucikan Bait Allah, Ia mengutip Yeremia 7 tentang sarang penyamun. Ketika Ia berjalan menuju Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, persis seperti nabi yang dahulu menangisi kota yang sama (Lukas 19:41). Sebagian orang bahkan menyangka Yesus adalah Yeremia yang kembali (Matius 16:14), dan itu bukan tebakan sembarangan: orang mengenali di dalam Dia seorang nabi yang mengasihi bangsanya sampai hancur hatinya.
Puncaknya terjadi di ruang perjamuan. Yesus mengangkat cawan dan menyebut kata yang sudah menunggu selama enam abad: perjanjian baru, oleh darah-Nya (Lukas 22:20). Surat Ibrani kemudian mengutip Yeremia 31 lebih panjang daripada kutipan Perjanjian Lama mana pun dalam Perjanjian Baru (Ibrani 8:8-12). Jadi nabi yang tidak pernah melihat satu pun kebangunan rohani di zamannya justru menjadi nabi yang paling banyak dikutip ketika Injil dijelaskan. Buah pelayanannya tidak muncul dalam statistiknya; buahnya muncul di Golgota.
Inti hidupnya
Ada tiga momen yang memegang seluruh hidup Yeremia, dan ketiganya berputar di sekitar sudut pandang panduan ini: kesetiaan yang tidak kelihatan seperti keberhasilan.
Momen pertama adalah panggilannya di Yeremia 1. Yeremia diberitahu lebih dulu bahwa misinya akan ditolak. Allah tidak menjual mimpi kepadanya. Allah berkata: mereka akan memerangi engkau, tetapi Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau. Inilah panggilan yang jujur sejak hari pertama. Dan di situlah Yeremia 1:5 bekerja dengan dahsyat: karena identitasnya sudah ditetapkan Allah sebelum ia lahir, penolakan manusia tidak bisa membatalkan siapa dirinya. Orang yang nilai dirinya ditentukan oleh respons pendengar akan hancur dalam setahun. Yeremia bertahan empat puluh tahun karena nilainya sudah diputuskan di tempat lain.
Momen kedua adalah krisis di Yeremia 20. Setelah dipasung di depan umum oleh Pasyhur, imam kepala Bait Allah, Yeremia meledak. Ia menuduh Allah telah membujuknya, ia mengutuk hari kelahirannya sendiri, dan ia menyatakan berhenti. Lalu datang kalimat itu: firman di dalam dirinya terasa seperti api yang terkurung dalam tulang-tulangnya, dan ia tidak sanggup menahannya (Yeremia 20:9). Perhatikan bahwa pasal yang sama memuat pujian dan kutukan, iman dan keputusasaan, berdampingan tanpa dirapikan. Alkitab tidak menyensor keluhan hamba-Nya. Yeremia mengajarkan sesuatu yang membebaskan: Anda boleh membawa kemarahan Anda kepada Allah, dan itu bukan tanda iman yang rusak, itu tanda hubungan yang nyata. Doa yang jujur lebih kudus daripada doa yang sopan.
Momen ketiga adalah pembelian ladang di Yeremia 32, dan menurut saya inilah puncak hidupnya. Ia berada di penjara. Tentara Babel sudah di luar tembok. Ia sendiri yang memberitakan bahwa kota ini akan jatuh. Lalu Allah menyuruhnya membeli tanah dari kerabatnya, membayar penuh, menyegel surat-suratnya, dan menyimpannya dalam tempayan supaya tahan lama. Tindakan itu kelihatan bodoh secara ekonomi dan brilian secara teologis: ia menaruh uangnya di tempat ia menaruh harapannya. Nabi yang menangis itu ternyata nabi yang berinvestasi. Air matanya tidak membuatnya pesimis, karena yang ia tangisi adalah dosa, sedangkan yang ia percayai adalah Allah.
Tiga momen ini membentuk pola: dipanggil tanpa jaminan sukses, bertahan tanpa menyembunyikan luka, berharap tanpa menyangkal kenyataan. Itulah profil kesetiaan yang Alkitab anggap berharga.
Yang kita pelajari dari Yeremia
Pelajaran pertama: panggilan Anda lebih tua daripada diri Anda. Yeremia 1:5 bukan hanya tentang seorang nabi tertentu. Rasul Paulus memakai bahasa yang nyaris sama tentang dirinya di Galatia 1:15, dan seluruh Alkitab menegaskan bahwa Allah mengenal kita sebelum kita bisa membalas kasih-Nya. Artinya, ketika Anda merasa terlalu muda, terlalu biasa, terlalu kurang pandai berbicara, keberatan itu sudah dijawab Allah sejak dulu: bukan mulut Anda yang menjadi sumber kekuatan, melainkan firman yang Ia taruh di dalamnya (Yeremia 1:9).
Pelajaran kedua: air mata bisa menjadi bentuk ketaatan. Kita hidup dalam budaya rohani yang sering menuntut senyum. Yeremia 9:1 mematahkan tuntutan itu. Yeremia menangisi bangsanya bukan karena ia lemah, tetapi karena ia dekat dengan hati Allah. Orang yang hatinya dekat dengan Allah tidak bisa melihat kehancuran manusia dengan dingin. Jadi kalau Anda berduka atas keluarga yang menjauh dari Tuhan, atas gereja yang terpecah, atas anak yang tersesat, itu bukan kegagalan iman. Itu mungkin justru bagian paling murni dari iman Anda. Dan karena Ratapan 3:23 benar, tangisan itu punya batas: "selalu baru setiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" Kesetiaan Allah tiba lebih pagi daripada kesedihan kita.
Pelajaran ketiga: ukurlah pelayanan dengan kesetiaan, bukan dengan angka. Yeremia tidak punya statistik yang bisa dibanggakan. Ia punya satu pendengar yang setia, Barukh, dan satu pembela asing, Ebed-Melekh. Namun janji perjanjian baru yang ia sampaikan menjadi fondasi pengertian kita tentang Injil. Kalau Allah menilai pelayanan seperti kita menilai, Yeremia akan dipensiunkan dini. Karena Allah menilai dengan cara-Nya, Yeremia dikenang sebagai salah satu nabi terbesar. Hal yang sama berlaku untuk guru sekolah minggu yang tidak dilihat siapa pun, untuk ibu yang berdoa bertahun-tahun, untuk pekerja yang menolak kompromi dan karenanya tidak dipromosikan.
Cermin
Anda mungkin sedang berada di suatu tempat yang terasa seperti perigi berlumpur. Pekerjaan yang Anda jalani dengan jujur, tetapi yang tidak berkembang karena Anda tidak mau ikut bermain curang. Pernikahan yang Anda perjuangkan sendiri, sementara pihak lain sudah berhenti berusaha. Doa untuk anak Anda yang sudah Anda naikkan selama bertahun-tahun, tanpa satu tanda pun bahwa Allah mendengar. Kesepian yang tidak bisa Anda ceritakan di persekutuan, karena semua orang di sana tampak sedang berbuah.
Yeremia tidak akan menyuruh Anda berpikir positif. Ia akan duduk di samping Anda dan berkata bahwa ia pernah mengutuk hari kelahirannya sendiri, dan bahwa Allah tidak memarahinya karena itu.
Tetapi Yeremia juga akan menantang Anda di satu titik yang tidak nyaman. Ia akan bertanya: apa yang sebenarnya Anda kejar? Kalau yang Anda cari adalah hasil yang kelihatan, Anda akan berhenti setia begitu hasil itu tidak datang. Kalau yang Anda cari adalah persetujuan orang, Anda akan mulai melunakkan kebenaran sedikit demi sedikit, seperti nabi-nabi yang menjanjikan damai ketika damai tidak ada. Yeremia 29:11 sering dipakai untuk menenangkan diri bahwa segalanya akan segera membaik. Dalam konteks aslinya, ayat itu justru berkata: kamu akan tinggal lama di tempat yang tidak kamu pilih, dan di situ Allah tetap memegang masa depanmu.
Jadi pertanyaannya bukan "kapan Allah mengeluarkan saya dari sini". Pertanyaannya adalah "apa yang Allah mau bangun di dalam saya di tempat ini". Beranikah Anda membeli ladang di kota yang sedang dikepung? Beranikah Anda tetap mendidik anak Anda dalam firman, tetap memberi, tetap jujur dalam laporan keuangan, tetap melayani, sambil belum melihat hasilnya? Yeremia 31:3 adalah alasan mengapa Anda bisa. Kasih itu kekal, dan kasih itu tiba di hidup Anda lebih dulu daripada semua usaha Anda.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kepada anak-anak, Yeremia bisa diperkenalkan sebagai "nabi yang berani bicara walaupun tangannya gemetar". Ceritanya punya semua bahan yang menarik perhatian anak: seorang anak muda yang bilang "aku masih kecil, aku tidak bisa bicara", Allah yang menyentuh mulutnya, gulungan yang dibakar raja, dan seorang pria yang ditarik keluar dari lubang berlumpur dengan tali dan kain-kain tua. Inti yang ingin kita tanamkan sederhana: Allah sudah mengenal dan mengasihi kita jauh sebelum kita bisa melakukan apa pun, dan kita tidak perlu menjadi hebat untuk dipakai Allah, kita hanya perlu mau.
Untuk anak yang lebih kecil, cukup satu gambar: Allah berbicara kepada Yeremia seperti seorang ayah yang berjongkok di depan anaknya dan berkata, "Jangan takut, Aku ada bersamamu." Untuk anak yang lebih besar, kita bisa jujur bahwa Yeremia sering sedih, bahkan menangis, dan bahwa menangis bukan berarti imannya rusak. Itu pelajaran yang sangat dibutuhkan anak-anak yang tumbuh dengan tekanan untuk selalu tampak kuat.
Hindari menakut-nakuti anak dengan detail penghukuman. Arahkan selalu kepada akhir cerita: Allah berjanji membuat hati yang baru, dan janji itu digenapi dalam Yesus Kristus.
Untuk membantu Anda, tersedia penjelasan khusus tentang Yeremia dalam bahasa yang disesuaikan untuk tiga kelompok umur: anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun, anak sekolah dasar usia 7 sampai 12 tahun, dan remaja usia 12 tahun ke atas. Pilihlah yang sesuai dengan anak Anda, lalu bacalah bagian Alkitabnya bersama-sama.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa nabi Yeremia dalam Alkitab?
Yeremia adalah nabi Yehuda yang melayani kira-kira empat puluh tahun, dari tahun ketiga belas pemerintahan Raja Yosia sampai beberapa waktu setelah Yerusalem jatuh pada tahun 586 sebelum Kristus. Ia anak Hilkia, dari keluarga imam di Anatot, sebuah desa kecil di utara Yerusalem. Allah memanggilnya sejak muda untuk memperingatkan bangsanya tentang penghukuman yang akan datang melalui Babel, sekaligus menyampaikan janji pemulihan dan perjanjian baru. Namanya melekat pada Kitab Yeremia yang panjangnya lima puluh dua pasal, dan menurut tradisi juga pada Kitab Ratapan.
Mengapa Yeremia disebut nabi yang menangis?
Sebutan itu muncul dari ayat-ayat seperti Yeremia 9:1, di mana ia berharap kepalanya menjadi mata air supaya ia bisa menangisi bangsanya siang dan malam. Yeremia tidak menyampaikan berita penghukuman dengan puas hati; ia hancur karena ia mengasihi bangsa yang ia tegur. Tangisannya memperlihatkan hati Allah sendiri, yang berduka atas umat-Nya sebelum menghukum. Karena itu air mata Yeremia bukan tanda kelemahan karakter, melainkan tanda kedekatan dengan hati Tuhan. Yesus menunjukkan hal yang sama ketika Ia menangisi Yerusalem.
Apakah nabi Yeremia yang menulis Kitab Ratapan?
Kitab Ratapan sendiri tidak menyebut nama penulisnya, tetapi tradisi Yahudi dan Kristen yang sangat tua mengaitkannya dengan Yeremia, dan isinya cocok sekali: lima syair perkabungan atas Yerusalem yang baru hancur, ditulis oleh seseorang yang menyaksikannya sendiri. Di jantung kitab yang penuh duka itu berdiri kalimat yang paling terang, bahwa rahmat Tuhan selalu baru setiap pagi dan kesetiaan-Nya besar (Ratapan 3:23). Entah siapa pun penulis akhirnya, nada dan beban kitab ini benar-benar bernada Yeremia.
Apa arti Yeremia 29:11 yang sebenarnya?
Ayat ini ditulis dalam sebuah surat kepada orang Yehuda yang sudah diangkut ke Babel. Allah berkata bahwa rancangan-Nya atas mereka adalah damai sejahtera dan hari depan yang penuh harapan, tetapi di ayat-ayat sekitarnya Ia juga mengatakan bahwa pembuangan itu akan berlangsung tujuh puluh tahun. Jadi janji ini bukan jaminan bahwa kesulitan segera berakhir, melainkan jaminan bahwa Allah memegang masa depan kita bahkan ketika keadaan tidak berubah. Dipakai dengan benar, ayat ini memberi kekuatan untuk setia dalam penantian panjang, bukan alasan untuk mengharapkan jalan keluar cepat.
Apakah benar Yeremia tidak pernah menikah?
Benar. Dalam Yeremia 16 Allah secara khusus melarangnya mengambil istri dan memiliki anak di tempat itu, sesuatu yang sangat tidak biasa dalam budaya Israel, di mana keluarga dan keturunan dianggap berkat utama. Alasannya bukan karena pernikahan itu buruk, tetapi karena hidup Yeremia sendiri harus menjadi tanda: generasi yang akan datang di Yehuda tidak akan punya masa depan sebelum pemulihan. Kesendirian itu adalah bagian dari harga pelayanannya, dan membuat Yeremia menjadi teman yang sangat mengerti bagi orang-orang yang hidup dalam kesepian panjang.
Mengapa Yeremia dimasukkan ke dalam perigi berlumpur?
Pada hari-hari terakhir pengepungan Yerusalem, Yeremia memberitakan bahwa kota itu akan jatuh dan bahwa menyerah kepada Babel adalah satu-satunya jalan untuk hidup. Para pembesar menganggap pesan itu melemahkan semangat tentara dan menuduhnya berkhianat. Raja Zedekia yang lemah menyerahkan dia kepada mereka, lalu ia diturunkan dengan tali ke dalam perigi yang tidak berair tetapi berlumpur, sampai kakinya terbenam. Ebed-Melekh, seorang pegawai istana dari Etiopia, memohon kepada raja dan menariknya keluar dengan tali serta potongan kain, menyelamatkan nyawanya.
Apa itu perjanjian baru dalam Yeremia 31?
Dalam Yeremia 31:31-34 Allah berjanji mengadakan perjanjian yang berbeda dari perjanjian di Sinai, bukan hukum yang tertulis di loh batu, melainkan hukum yang ditulis di dalam hati, dengan pengenalan akan Allah yang langsung dan pengampunan yang tidak mengingat dosa lagi. Janji inilah yang digenapi Yesus Kristus ketika Ia mengangkat cawan pada perjamuan terakhir dan menyebutnya perjanjian baru oleh darah-Nya. Surat Ibrani mengutip bagian Yeremia ini secara panjang untuk menjelaskan mengapa karya Kristus lebih baik dan bersifat final.
Bagaimana nabi Yeremia meninggal?
Alkitab tidak menceritakan kematiannya. Catatan terakhir menempatkan Yeremia di Mesir, dibawa ke sana secara paksa oleh sekelompok orang Yehuda yang melarikan diri setelah gubernur Gedalya dibunuh, meskipun ia sudah memperingatkan mereka untuk tidak pergi. Di sana ia masih menyampaikan firman Tuhan, dan di situlah jejaknya berakhir dalam Alkitab. Tradisi di luar Alkitab mengatakan ia dibunuh dengan dilempari batu oleh bangsanya sendiri di Mesir, tetapi itu tidak bisa dipastikan. Yang pasti, ia mati seperti ia hidup: setia dan tidak didengarkan.
Apa bedanya Yeremia dengan nabi palsu seperti Hananya?
Hananya menjanjikan apa yang orang ingin dengar, bahwa kuk Babel akan dipatahkan dalam dua tahun dan semuanya akan segera pulih. Yeremia memberitakan apa yang Allah katakan, meskipun itu membuatnya dibenci. Perbedaannya bukan soal siapa yang lebih percaya diri atau lebih berkarisma, sebab Hananya bahkan melakukan tindakan simbolis yang dramatis. Perbedaannya terletak pada sumber pesan dan pada kesediaan menanggung akibatnya. Ujian seorang nabi sejati adalah kesesuaian dengan firman Allah dan penggenapannya, bukan kepopulerannya di tengah umat.
Apakah Yeremia pernah marah kepada Allah?
Ya, dan Alkitab tidak menyembunyikannya. Dalam bagian yang sering disebut pengakuan-pengakuan Yeremia, mulai dari pasal 11 sampai 20, ia memprotes keadilan Allah, menuntut pembalasan atas musuhnya, menuduh Allah telah membujuknya, dan akhirnya mengutuk hari kelahirannya sendiri. Yang luar biasa adalah bahwa Allah tidak membuang dia karena itu. Keluhannya dibiarkan tercatat dalam firman Allah, sebagai izin bagi kita untuk berdoa dengan jujur. Iman yang berani mengeluh kepada Allah masih jauh lebih sehat daripada iman yang diam-diam menjauh.
Apa hubungan nubuat tujuh puluh tahun Yeremia dengan Daniel?
Yeremia dua kali menyebut bahwa pembuangan akan berlangsung tujuh puluh tahun sebelum Allah memulihkan umat-Nya. Bertahun-tahun kemudian, Daniel membaca nubuat itu di Babel, menghitung waktunya, dan tergerak untuk berdoa serta mengaku dosa bangsanya (Daniel 9:2). Kitab Ezra mencatat bahwa firman Tuhan melalui Yeremia digenapi ketika Koresy, raja Persia, mengizinkan orang Yahudi pulang membangun Bait Allah. Jadi nubuat seorang nabi yang ditolak di zamannya menjadi dasar doa dan pengharapan bagi generasi berikutnya, puluhan tahun setelah ia meninggal.
Apa pesan utama Kitab Yeremia bagi orang Kristen hari ini?
Kitab ini mengajarkan dua hal yang harus dipegang bersama: dosa itu sungguh serius sehingga Allah tidak bisa membiarkannya, dan kasih Allah sungguh kekal sehingga penghukuman bukan kata terakhir. Di tengah kehancuran, Allah justru menjanjikan hati yang baru dan pengampunan yang tuntas. Bagi kita, itu berarti kita tidak perlu memperhalus dosa untuk merasa dikasihi, dan tidak perlu menyembunyikan kehancuran untuk berharap. Yeremia juga mengajarkan ukuran baru untuk hidup kita: kesetiaan di hadapan Allah lebih berharga daripada hasil yang bisa dihitung manusia.
Sebagai penutup
Kalau kita menilai Yeremia dengan ukuran yang biasa kita pakai, ia adalah seorang pria dengan empat puluh tahun pelayanan tanpa buah yang terlihat, tanpa keluarga, tanpa penghargaan, yang meninggal di pengasingan di negeri yang salah. Tetapi Allah menyimpan kata-katanya, memakai nubuatnya untuk membangkitkan doa Daniel, menggenapi janjinya dalam darah Yesus Kristus, dan menjadikan Yeremia 31 sebagai kutipan Perjanjian Lama terpanjang dalam Perjanjian Baru. Yang Allah hargai sering tidak terlihat di zamannya.
Itulah sebabnya air mata Yeremia penting bagi kita. Tangisan itu bukan bukti bahwa ia kalah, melainkan bukti bahwa ia mengasihi dengan hati yang sama seperti hati Allah. Dan kasih itulah yang akhirnya berjalan menuju Yerusalem dalam diri Yesus, menangisi kota yang sama, lalu mati untuk kota itu.
Jika Anda ingin melangkah lebih jauh, bacalah Yeremia 1 bersama Yeremia 31, lalu bandingkan dengan Ibrani 8. Setelah itu bacalah Ratapan 3 dengan tenang, pelan-pelan, sampai Anda tiba di ayat tentang rahmat yang selalu baru setiap pagi. Mungkin Anda akan menemukan bahwa Allah sedang berbicara persis ke dalam tempat di hidup Anda yang terasa seperti perigi berlumpur itu.
