Tokoh Alkitab

Siapa Rahab dalam Alkitab: Perempuan Sundal yang Diselamatkan karena Imannya

Pendahuluan

Bayangkan sebuah rumah yang menempel di tembok kota, jendelanya menghadap ke luar, ke padang gurun yang luas. Di dalam rumah itu tinggal seorang perempuan yang namanya disebut orang dengan setengah berbisik. Ia bukan imam, bukan nabi, bukan istri bangsawan. Ia perempuan sundal di Yerikho. Dan ketika seluruh kota itu akhirnya runtuh menjadi debu, hanya satu bangunan yang masih berdiri: rumahnya.

Kisah Rahab adalah salah satu kisah paling mengejutkan dalam Alkitab, bukan karena ia begitu baik, melainkan karena Allah begitu murah hati. Perempuan dari bangsa yang ditetapkan untuk dibinasakan ini justru berakhir dalam silsilah Yesus Kristus.

Di halaman ini Anda akan menelusuri hidup Rahab dari awal sampai akhir, dengan jujur tentang dosanya dan kebohongannya, dan melihat bagaimana satu pengakuan iman yang diucapkan di balik jendela bisa mengubah garis sejarah keselamatan.

Sudut pandang panduan ini

Kita akan membaca Rahab dari satu titik yang sangat konkret: jendelanya. Rumahnya berdiri di tembok Yerikho, dan jendela itu menjadi pusat segalanya. Lewat jendela itu masuk kabar tentang Allah Israel. Lewat jendela itu para pengintai diturunkan dengan tali. Pada jendela itu tali kirmizi diikatkan sebagai tanda. Dan dari jendela itu Rahab melihat dunianya runtuh, sementara rumahnya tetap berdiri.

Sudut pandang ini penting karena banyak orang menjadikan Rahab sekadar contoh "kesempatan kedua". Padahal Alkitab menampilkan sesuatu yang jauh lebih radikal: Allah merekrut seorang perempuan dari pihak musuh, dan menempatkannya di garis keturunan Mesias.

Apa kata Alkitab tentang Rahab?

Rahab pertama kali muncul di Yosua 2, pada saat yang genting. Israel sudah empat puluh tahun di padang gurun, Musa sudah meninggal, dan Yosua berdiri di tepi Sungai Yordan dengan satu kota besar di depannya: Yerikho, benteng pertama di Tanah Perjanjian. Yosua mengirim dua pengintai, dan Alkitab mencatat tujuan mereka tanpa basa-basi: "Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ" (Yosua 2:1).

Rumah seperti itu adalah tempat paling logis bagi dua orang asing yang ingin tidak menarik perhatian. Tamu datang dan pergi, tidak ada yang bertanya. Tetapi rencana mereka gagal. Raja Yerikho mendengar kabar itu dan mengirim perintah supaya Rahab menyerahkan kedua orang itu. Di sinilah Rahab mengambil keputusan yang mempertaruhkan nyawanya: ia menyembunyikan mereka di atas sotoh rumah, di bawah tumpukan batang rami, lalu mengatakan kepada utusan raja bahwa kedua orang itu sudah pergi dan sebaiknya segera dikejar.

Lalu, dalam gelap, di atas atap rumahnya, Rahab berbicara. Dan yang keluar dari mulutnya bukan tawar-menawar seorang pedagang, melainkan pengakuan iman. "Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu" (Yosua 2:9). Ia menyebut penyeberangan Laut Teberau dan kekalahan Sihon dan Og, peristiwa yang sudah berpuluh tahun berlalu. Kabar itu sampai ke Yerikho dan membuat semua orang ketakutan. Bedanya, hanya Rahab yang menarik kesimpulan yang benar.

Puncaknya ada di Yosua 2:11: "Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah."

Perhatikan apa yang ia katakan. Ia tidak berkata, "Allahmu kuat." Ia berkata Allah Israel adalah Allah atas langit dan bumi, atas atas dan bawah, atas segalanya. Itu bukan sekadar pengakuan bahwa Israel punya dewa yang lebih garang daripada dewa-dewa Kanaan. Itu pengakuan monoteistik yang utuh, diucapkan oleh seorang perempuan Kanaan, di kota Kanaan, tanpa Taurat di tangannya. Sementara satu generasi Israel mati di padang gurun karena tidak percaya, perempuan ini percaya hanya dari kabar yang ia dengar.

Iman sering lahir di tempat yang paling tidak kita duga.

Lalu Rahab memohon belas kasihan bagi keluarganya, dan para pengintai memberi satu syarat yang sangat spesifik: "sesungguhnya, apabila kami memasuki negeri ini, haruslah tali dari benang kirmizi ini kauikatkan pada jendela tempat engkau menurunkan kami, dan ayahmu serta ibumu, saudara-saudaramu serta seluruh kaum keluargamu kaukumpulkan di rumahmu" (Yosua 2:18). Satu tanda merah pada satu jendela, dan satu tempat perlindungan: di dalam rumah itu. Di luar rumah, perjanjian tidak berlaku.

Yang terjadi kemudian tercatat dalam Yosua 6:25: "Demikianlah Rahab, perempuan sundal itu dan keluarganya serta semua orang yang bersama-sama dengan dia dibiarkan hidup oleh Yosua. Maka diamlah perempuan itu di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang, karena ia telah menyembunyikan orang suruhan yang disuruh Yosua mengintai Yerikho."

Tembok kota runtuh. Rumah Rahab, yang berdiri di tembok itu, tidak. Bukan karena konstruksinya lebih kuat, tetapi karena Allah yang menyelamatkan juga Allah yang meruntuhkan, dan Ia tahu persis jendela mana yang bertanda merah.

Benang merah yang mengalir dalam Alkitab

Kisah Rahab tidak berhenti di Yosua. Alkitab terus kembali kepadanya, dan setiap kali ia disebut, ada satu lapisan baru yang terbuka.

Dalam Perjanjian Lama, Rahab adalah tanda bahwa program Allah tidak pernah sempit secara etnis. Sejak Abraham dipanggil, janjinya sudah berbunyi bahwa olehnya semua kaum di muka bumi akan diberkati. Perempuan Kanaan yang diselamatkan di Yerikho ini adalah buah sulung dari janji itu: seorang dari luar, dari bangsa yang justru sedang dihukum, ditarik masuk ke dalam umat Allah. Yosua 6:25 mencatat bahwa ia "diam di tengah-tengah orang Israel sampai sekarang". Ia tidak diparkir di pinggir perkemahan seumur hidup. Ia menjadi bagian dari umat.

Lalu ada kejutan yang menunggu berabad-abad kemudian. Ketika Matius membuka Injilnya dengan silsilah Yesus, nama Rahab muncul: "Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai," (Matius 1:5). Perempuan sundal dari Yerikho menikah dengan seorang Israel bernama Salmon, dan menjadi ibu Boas. Boas adalah pria yang kelak menebus Rut, perempuan Moab itu. Dari mereka lahir Obed, lalu Isai, lalu Daud, dan pada akhirnya Yesus Kristus. Silsilah Mesias melewati rumah di tembok Yerikho.

Perjanjian Baru menyebut Rahab dua kali lagi, dan dua-duanya penting. Yang pertama dalam daftar para pahlawan iman: "Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik" (Ibrani 11:31). Ia berdiri sederet dengan Habel, Nuh, Abraham, dan Musa. Yang menyelamatkannya bukan profesinya, bukan kecerdikannya, bukan keberaniannya pada dirinya sendiri, melainkan iman yang nyata dalam tindakan.

Yang kedua dalam surat Yakobus: "Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?" (Yakobus 2:25). Yakobus tidak sedang bertengkar dengan Paulus. Ia sedang menunjukkan bahwa iman Rahab bukan teori. Ia percaya Allah Israel adalah Allah atas langit dan bumi, dan karena itu ia bertaruh nyawa pada keyakinan itu. Iman yang tidak membuat Anda mengambil risiko apa pun adalah iman yang belum teruji.

Kembalilah ke jendela itu sejenak. Tali kirmizi yang tergantung di sana menyelamatkan sebuah rumah dari penghakiman, persis seperti darah anak domba pada ambang pintu di Mesir menyelamatkan keluarga-keluarga Israel. Alkitab tidak pernah secara eksplisit menyebut tali itu sebagai lambang darah Kristus, jadi kita tidak boleh memaksakan tafsir. Tetapi polanya tidak bisa diabaikan: penghakiman datang, sebuah tanda ditetapkan oleh perjanjian, dan siapa yang tinggal di bawah tanda itu hidup. Garis itu bermuara di salib.

Inti hidupnya

Ada tiga momen yang menentukan seluruh hidup Rahab, dan ketiganya terjadi di sekitar jendela yang sama.

Momen pertama: ketika ia memilih pihak. Dua orang asing datang ke rumahnya, dan raja Yerikho mengirim utusan. Secara manusiawi, pilihan Rahab jelas: serahkan mereka, dapatkan imbalan, selamatkan diri. Ia memilih sebaliknya. Ia menyembunyikan mereka dan mengalihkan pengejaran. Di sini kita harus jujur: Rahab berbohong. Alkitab mencatatnya tanpa memoles apa pun. Ibrani 11 dan Yakobus 2 memuji imannya dan tindakannya menyembunyikan serta meloloskan para pengintai, bukan kata-kata bohongnya. Kejujuran Alkitab tentang hal ini justru menghibur: Allah tidak menunggu orang yang sudah bersih dulu sebelum Ia bekerja. Ia memakai perempuan dengan masa lalu yang kelam dan iman yang masih sangat muda, dan Ia tidak malu dengan hal itu.

Momen kedua: ketika ia mengikat tali kirmizi. Sesudah para pengintai diturunkan dengan tali melalui jendela, Rahab tidak menunggu sampai tentara Israel terlihat di cakrawala. Yosua 2:21 mencatat bahwa ia melepas mereka pergi, lalu mengikatkan tali kirmizi itu pada jendela. Saat itu juga. Padahal tidak ada tanda apa pun bahwa serangan akan datang besok, bulan depan, atau tahun depan. Selama berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, tali merah itu tergantung di sana, terlihat oleh tetangga, terlihat oleh siapa saja yang lewat di bawah tembok. Iman Rahab bukan rahasia yang disimpan di hati; iman itu digantung di jendela, terbuka untuk dilihat orang.

Dan ia melakukan satu hal lagi yang sering terlewat: ia mengumpulkan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya, seluruh keluarganya ke dalam rumahnya. Perempuan yang kemungkinan besar menjadi aib bagi keluarganya kini menjadi satu-satunya alamat keselamatan mereka. Ia tidak hanya diselamatkan, ia menjadi saluran keselamatan bagi orang-orang yang mungkin dulu mencibirnya.

Momen ketiga: ketika tembok runtuh dan ia keluar. Tujuh hari Israel mengelilingi Yerikho. Bayangkan Rahab di dalam rumah itu, bersama keluarganya yang gelisah, mendengar langkah kaki dan sangkakala setiap hari, tanpa penjelasan. Lalu pada hari ketujuh terdengar sorak-sorai, dan tembok itu runtuh. Yosua menyuruh kedua pengintai itu masuk dan membawa Rahab dan seluruh keluarganya keluar, lalu menempatkan mereka di luar perkemahan Israel. Ia keluar dari reruntuhan kotanya menuju bangsa yang sama sekali asing baginya, tanpa rumah, tanpa penghasilan, tanpa status.

Dari situ hidupnya berlanjut dengan tenang dan nyaris tanpa catatan, sampai Matius 1:5 membuka tirai: ia menikah dengan Salmon dan melahirkan Boas. Seorang Kanaan yang mantan pelacur menjadi ibu seorang pemimpin Israel yang terkenal karena kebaikan hatinya kepada perempuan asing. Kadang buah dari pertobatan baru terlihat satu generasi kemudian.

Yang kita pelajari dari Rahab

Pertama, iman tidak menunggu bukti yang lengkap. Rahab tidak melihat Laut Teberau terbelah. Ia hanya mendengar ceritanya, bertahun-tahun setelah kejadian. Seluruh kota mendengar kabar yang sama, dan seluruh kota menjadi takut. Hanya Rahab yang mengubah ketakutan itu menjadi penyerahan diri. Yosua 2:11 adalah hasil dari mendengar, menimbang, dan mengambil keputusan. Ini kabar baik bagi kita yang hidup dua ribu tahun setelah kubur kosong. Kita juga percaya dari kabar, dan kabar itu cukup.

Kedua, keselamatan datang dari luar diri kita, tetapi harus kita pegang dengan kedua tangan. Rahab tidak menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tidak bisa menghentikan tentara Israel, tidak bisa memperkuat temboknya, tidak bisa mengubah masa lalunya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengikat tali yang diberikan orang lain pada jendelanya dan tinggal di dalam rumah. Itulah gambaran iman yang menyelamatkan: menerima apa yang disediakan Allah dan tetap tinggal di dalamnya. Efesus 2:8 mengatakannya dengan jelas: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,".

Ketiga, anugerah tidak menghapus masa lalu Anda, tetapi menebusnya. Ini mungkin detail paling mengharukan dari seluruh kisahnya. Baik Ibrani 11:31 maupun Yakobus 2:25, yang ditulis ratusan tahun setelah Rahab meninggal, tetap menyebutnya "perempuan sundal" dan "pelacur". Allah tidak menyensor sejarahnya. Mengapa? Karena justru di situlah letak kemuliaan anugerah-Nya. Kalau namanya diubah menjadi "Rahab yang saleh", kita akan kehilangan inti ceritanya. Sebutan itu bukan cap penghinaan yang terus dilekatkan padanya; itu adalah penanda sejauh mana kasih karunia Allah sanggup menjangkau.

Allah tidak menghapus sejarahmu; Ia menjadikannya kesaksian.

Banyak orang percaya hidup dengan rasa malu yang terpendam, yakin bahwa ada bagian dari masa lalu mereka yang membuat mereka selamanya warga kelas dua di rumah Allah. Rahab adalah jawaban Allah atas kecurigaan itu, dan jawaban itu tertulis di halaman pertama Perjanjian Baru, di tengah silsilah Anak-Nya sendiri.

Cermin

Mari kita berdiri sejenak di depan jendela itu bersama-sama.

Anda mungkin punya bagian hidup yang tidak pernah Anda ceritakan di kelompok sel. Sesuatu yang Anda lakukan untuk bertahan hidup, atau karena tekanan, atau karena Anda memang menginginkannya waktu itu. Setiap kali Anda menyanyikan lagu pujian, ada suara kecil yang berbisik bahwa Anda tidak pantas berada di ruangan itu. Rahab tahu persis rasanya. Dan Rahab ada di silsilah Yesus Kristus.

Tetapi kisah ini juga menggesek. Rahab tidak menunggu sampai ia merasa layak, dan ia tidak menunggu sampai keadaan aman. Ia mengambil keputusan yang bisa membuatnya dihukum mati oleh rajanya sendiri, dalam satu malam. Pertanyaannya untuk Anda: apa yang Anda tunda? Pertobatan yang terus Anda jadwal ulang? Percakapan jujur dengan pasangan Anda tentang utang yang Anda sembunyikan? Keputusan untuk berhenti dari sumber penghasilan yang Anda tahu tidak jujur, karena Anda takut tidak ada gantinya?

Rahab kehilangan rumahnya, pekerjaannya, kotanya, dan seluruh jaringan sosialnya dalam satu minggu. Yang ia dapat adalah hidup, keluarga yang utuh, dan tempat di tengah umat Allah. Kalau diukur dengan neraca duniawi, ia bangkrut. Kalau diukur dengan neraca Allah, tidak ada orang di Yerikho yang sekaya dia.

Dan ada satu hal lagi. Rahab tidak masuk ke rumah itu sendirian. Ia menyeret ayahnya, ibunya, dan saudara-saudaranya masuk. Siapa yang sedang Anda biarkan berdiri di luar? Adik yang Anda anggap terlalu keras hatinya, orang tua yang selalu mengejek iman Anda, rekan kerja yang Anda hindari karena malu dianggap fanatik? Tali merah itu tergantung di jendela Anda untuk dilihat orang lain, bukan untuk disembunyikan di balik tirai.

Dijelaskan untuk anak-anak

Kisah Rahab sebenarnya sangat cocok untuk anak-anak, karena bentuknya seperti cerita petualangan: ada mata-mata, ada persembunyian di atap, ada tali yang dijulurkan dari jendela, ada tembok yang runtuh. Tetapi ada dua hal yang perlu dipikirkan orang tua sebelum menceritakannya.

Yang pertama adalah pekerjaan Rahab. Untuk anak kecil, cukup katakan bahwa Rahab adalah perempuan yang hidupnya dulu jauh dari Tuhan dan yang banyak orang anggap buruk. Anak yang lebih besar bisa diberi penjelasan yang lebih terbuka, sesuai kematangan mereka, dan justru di situlah mereka mulai mengerti betapa besar kasih Allah. Yang kedua adalah kebohongan Rahab. Jangan dilewati begitu saja, karena anak-anak akan menangkapnya. Katakan dengan jujur bahwa Alkitab memuji imannya dan keberaniannya menolong, bukan kebohongannya, dan bahwa Allah sanggup memakai orang yang masih punya banyak kekurangan.

Inti yang perlu mereka bawa pulang sederhana sekali: Rahab percaya kepada Tuhan meskipun ia baru mendengar tentang Dia, ia mengikat tali merah di jendelanya seperti yang diperintahkan, dan Tuhan menyelamatkan dia beserta seluruh keluarganya. Semua orang di kota itu mendengar cerita yang sama, tetapi hanya Rahab yang percaya.

Untuk membantu Anda, tersedia penjelasan khusus yang disusun terpisah untuk anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun, untuk anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun, dan untuk remaja usia dua belas tahun ke atas. Masing-masing memakai bahasa, kedalaman, dan pertanyaan renungan yang sesuai dengan tahap usianya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa Rahab dalam Alkitab?

Rahab adalah seorang perempuan Kanaan yang tinggal di kota Yerikho dan bekerja sebagai pelacur. Ketika Yosua mengirim dua pengintai sebelum Israel merebut kota itu, Rahab menyembunyikan mereka dan mengakui iman kepada Allah Israel. Karena itu ia dan seluruh keluarganya diluputkan ketika Yerikho dibinasakan. Ia kemudian tinggal di tengah umat Israel, menikah dengan Salmon, dan menjadi ibu Boas, leluhur Raja Daud dan Yesus Kristus. Perjanjian Baru menyebutnya sebagai teladan iman dalam Ibrani 11:31 dan Yakobus 2:25.

Di mana kisah Rahab ditulis dalam Alkitab?

Kisah utamanya ada di Yosua pasal 2, ketika ia menyembunyikan para pengintai dan membuat perjanjian dengan mereka, lalu dilanjutkan di Yosua pasal 6, ketika tembok Yerikho runtuh dan ia bersama keluarganya diselamatkan, khususnya Yosua 6:25. Dalam Perjanjian Baru ia disebut tiga kali: dalam silsilah Yesus di Matius 1:5, dalam daftar pahlawan iman di Ibrani 11:31, dan sebagai contoh iman yang disertai perbuatan di Yakobus 2:25. Keempat bagian ini saling melengkapi dan sebaiknya dibaca bersama-sama.

Apakah Rahab benar-benar seorang pelacur?

Ya. Teks Ibrani memakai kata yang jelas berarti pelacur, dan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani memakai istilah yang sama jelasnya. Sebagian penafsir sepanjang sejarah mencoba melunakkannya menjadi "pemilik penginapan", tetapi itu tidak didukung oleh bahasa aslinya maupun oleh cara Alkitab sendiri menyebutnya. Yang luar biasa justru adalah bahwa Roh Kudus tidak menyembunyikan fakta ini, bahkan ketika memuji imannya ratusan tahun kemudian. Kejujuran ini bukan untuk mempermalukan Rahab, melainkan untuk menunjukkan sejauh mana anugerah Allah sanggup menjangkau.

Mengapa Rahab berbohong, dan apakah Allah membenarkan kebohongannya?

Rahab berbohong kepada utusan raja untuk menyelamatkan nyawa dua orang asing yang sedang diburu. Alkitab mencatatnya apa adanya, tanpa komentar moral langsung. Yang dipuji dalam Ibrani 11:31 dan Yakobus 2:25 bukanlah kata-kata bohongnya, melainkan imannya dan tindakannya menyambut serta meloloskan para pengintai. Sebagian teolog menilai ini sebagai dosa yang diampuni dalam rangka iman yang masih muda, sebagian lagi melihatnya sebagai tindakan melindungi nyawa yang tidak sejajar dengan dusta biasa. Yang pasti, Allah memakai orang yang belum sempurna.

Apa arti tali kirmizi yang diikatkan Rahab di jendelanya?

Menurut Yosua 2:18, tali kirmizi itu adalah tanda pengenal yang disepakati supaya tentara Israel tahu rumah mana yang harus diluputkan. Fungsinya praktis sekaligus sangat simbolis: sebuah tanda berwarna merah yang menyelamatkan sebuah rumah dari penghakiman, mirip dengan darah anak domba pada ambang pintu saat Paskah di Mesir. Alkitab tidak secara eksplisit menyebut tali ini sebagai lambang darah Kristus, jadi kita harus berhati-hati, tetapi polanya tidak terbantahkan: keselamatan datang melalui tanda yang ditetapkan Allah sendiri.

Apakah Rahab dalam Matius 1:5 orang yang sama dengan Rahab di Yerikho?

Hampir semua penafsir sepakat bahwa ya. Matius menempatkan nama Rahab tepat sebelum Rut, pada generasi yang secara kronologis cocok dengan zaman Yosua, dan tidak ada perempuan lain bernama Rahab dalam catatan Alkitab yang bisa dimaksudkan. Matius juga sengaja memasukkan empat perempuan dengan latar belakang tidak biasa ke dalam silsilah Yesus, yaitu Tamar, Rahab, Rut, dan istri Uria, untuk menunjukkan bahwa garis keturunan Mesias penuh dengan anugerah bagi orang-orang yang paling tidak diduga.

Bagaimana Rahab bisa dibenarkan karena iman sekaligus karena perbuatan?

Ibrani 11:31 berkata ia tidak binasa "karena iman", sedangkan Yakobus 2:25 berkata ia "dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya". Keduanya tidak bertentangan karena sedang menjawab pertanyaan yang berbeda. Ibrani menjelaskan sumber keselamatannya, yaitu kepercayaan kepada Allah Israel. Yakobus menjelaskan bukti keselamatannya, yaitu tindakan nyata yang mempertaruhkan nyawa. Iman Rahab bukan sekadar pendapat di kepala; iman itu menggerakkan tangannya. Inilah pola yang sama dengan Abraham dalam pasal yang sama di surat Yakobus.

Siapa Salmon, suami Rahab?

Salmon adalah keturunan Yehuda dan ayah Boas, seperti dicatat dalam Matius 1:5 dan Rut 4:20-21. Alkitab tidak menceritakan bagaimana ia bertemu Rahab, dan tradisi yang mengatakan bahwa ia salah satu dari dua pengintai itu hanyalah dugaan tanpa dasar tekstual. Yang kita tahu pasti adalah bahwa seorang laki-laki Israel menikahi perempuan Kanaan dengan masa lalu seperti itu, dan bahwa Allah memberkati pernikahan mereka dengan seorang anak yang kelak dikenal karena kemurahan hatinya kepada perempuan asing bernama Rut.

Apa hubungan Rahab dengan Rut?

Rahab adalah ibu mertua Rut. Anak Rahab, Boas, adalah pria yang menebus Rut, perempuan Moab yang kembali ke Betlehem bersama Naomi. Hubungan ini sangat indah bila dipikirkan: Boas dibesarkan oleh seorang ibu yang dulu adalah orang asing yang diterima ke dalam umat Allah. Tidak heran ia begitu peka terhadap perempuan asing yang memungut jelai di ladangnya. Dari Boas dan Rut lahirlah Obed, kakek Raja Daud, sehingga dua perempuan non-Israel berdiri berturut-turut dalam garis keturunan Mesias.

Apa yang terjadi dengan keluarga Rahab setelah Yerikho runtuh?

Yosua 6 mencatat bahwa kedua pengintai itu masuk ke rumah Rahab dan membawa keluar Rahab, ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya, dan semua orang yang bersama dia, lalu menempatkan mereka di luar perkemahan Israel. Penempatan di luar perkemahan kemungkinan besar bersifat sementara, berkaitan dengan aturan kekudusan, sampai mereka sepenuhnya bergabung. Yosua 6:25 kemudian menegaskan bahwa Rahab tinggal di tengah-tengah orang Israel sampai saat kitab itu ditulis, yang berarti ia dan keluarganya benar-benar diterima menjadi bagian dari umat Allah.

Apakah Rahab satu-satunya orang Kanaan yang diselamatkan?

Ia bukan satu-satunya orang dari luar Israel yang masuk ke dalam umat Allah, tetapi ia adalah contoh paling menonjol pada masa penaklukan Kanaan. Orang Gibeon kemudian juga diluputkan, meskipun lewat tipu daya, bukan lewat iman. Perbedaannya penting: Rahab diselamatkan karena ia mengakui siapa Allah Israel sebenarnya. Kisahnya menunjukkan bahwa penghakiman atas Kanaan bukanlah soal etnis melainkan soal dosa dan pemberontakan, dan bahwa pintu pengampunan selalu terbuka bagi siapa pun yang berbalik kepada Tuhan.

Apakah Rahab sama dengan "Rahab" yang disebut dalam Mazmur dan Kitab Yesaya?

Tidak. Dalam Mazmur 87:4 dan Yesaya 51:9 muncul nama Rahab sebagai sebutan puitis untuk Mesir atau untuk makhluk laut yang melambangkan kekacauan. Dalam bahasa Ibrani, kata itu ditulis berbeda dari nama perempuan Yerikho dan punya akar kata yang lain, yang berkaitan dengan kesombongan atau keganasan. Kemiripan dalam ejaan Indonesia sering membingungkan pembaca, tetapi keduanya tidak ada hubungannya. Rahab dalam Yosua, Matius, Ibrani, dan Yakobus selalu merujuk kepada perempuan yang sama.

Apa pelajaran terpenting dari kisah Rahab untuk orang percaya hari ini?

Bahwa tidak ada seorang pun yang terlalu jauh untuk dijangkau anugerah Allah, dan bahwa iman yang sejati selalu meninggalkan jejak dalam tindakan. Rahab tidak punya latar belakang agama, tidak punya reputasi baik, dan tidak punya waktu lama untuk mempersiapkan diri. Yang ia punya hanyalah kabar tentang Allah yang hidup, dan ia memutuskan untuk mempercayakan hidupnya pada kabar itu. Dari keputusan satu malam di atas atap rumah, Allah menenun sebuah garis yang berujung pada palungan di Betlehem.

Sebagai penutup

Kembalilah sekali lagi ke jendela itu. Dari sana Rahab pernah melihat dunia yang akan binasa, dan dari sana pula ia menggantungkan satu tali merah yang berarti ia memilih Allah yang belum lama ia kenal, melawan seluruh kotanya. Jendela yang sama yang dulu menjadi bagian dari pekerjaannya yang memalukan menjadi tempat tanda keselamatannya tergantung. Itulah cara Allah bekerja: Ia tidak membuang apa yang rusak, Ia menebusnya.

Pengakuan Rahab dalam Yosua 2:11, perjanjian dalam Yosua 2:18, pembebasannya dalam Yosua 6:25, namanya dalam Matius 1:5, pujian dalam Ibrani 11:31 dan Yakobus 2:25: enam ayat, satu garis, satu kesimpulan. Allah menyelamatkan orang yang mustahil, dan Ia tidak malu mencantumkan nama mereka dalam silsilah Anak-Nya.

Kalau Anda ingin mendalami lebih jauh, bacalah Yosua 2 dan Yosua 6 sekaligus dalam satu duduk, lalu lanjutkan ke Kitab Rut, dan tutup dengan Matius 1. Anda akan melihat bagaimana satu jendela di tembok Yerikho terhubung dengan sebuah ladang di Betlehem, dan akhirnya dengan sebuah salib di Yerusalem.

Bagikan halaman ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter
Ayat harian

Bacaan dan renungan di kotak masuk Anda setiap pagi

Setiap pagi Anda menerima bacaan Alkitab dengan renungan singkat untuk mengawali hari Anda. Sudah 6.200 orang membaca bersama.

Anda akan menerima email konfirmasi terlebih dahulu. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja dengan satu klik.

6.924
Bagian Alkitab yang dibuka bersama
Sudah 96 renungan baru minggu ini

Dinding perenungan

Apa yang menyentuh Anda dalam Kitab Suci? Apa yang bisa kami doakan? Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan?

Wawasan Editorial pada YOEL 2:26

Setelah belalang melahap habis panen bertahun-tahun, janji ini terdengar hampir mustahil: "Kamu akan makan banyak dan menjadi kenyang, dan memuji…

Doa Editorial pada YOHANES 14:12

Tuhan, sulit rasanya percaya bahwa pekerjaan-Mu bisa berlanjut lewat tangan kecilku. Tapi Engkau yang berkata demikian, dan aku memilih percaya.…

Wawasan Editorial pada 1 TAWARIKH 17:18

Daud duduk di hadapan TUHAN dan kehabisan kata: "Apa lagi yang dapat Daud katakan kepada-Mu mengenai kehormatan yang Kauberikan kepada…

Syukur Editorial pada AMSAL 2:20

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menuntun aku berjalan di jalan orang baik dan tetap mengikuti jalan orang benar. Aku bersyukur…

Wawasan Editorial pada YAKOBUS 2:9

Yakobus tidak menyebutnya kurang peka atau kurang sopan. Dia menyebutnya dosa: "Akan tetapi, jika kamu memandang muka, kamu berbuat dosa…

Doa Editorial pada GALATIA 5:24

Bapa, ada bagian dalam diriku yang masih ingin menarikku ke arah yang salah. Aku mau melepaskannya, walau rasanya berat. Tolong…

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun studi Alkitab dan renungan. Seluruh isi dihasilkan dari teks Alkitab itu sendiri dan diperiksa setiap hari oleh kontrol mutu otomatis yang independen: sampel acak dari setiap situs bahasa dinilai berdasarkan kesetiaan pada Kitab Suci, kutipan Alkitab yang harfiah, bahasa dan kejelasan, serta hasilnya dipublikasikan tanpa disunting. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan yang tanpa cela dan kesalahan tetap dapat terjadi. Tidak ada yang di platform ini yang merupakan nasihat profesional, dan tidak ada hak yang dapat diturunkan dari isinya. Selalu uji apa yang Anda baca dengan Alkitab itu sendiri, dan gunakan Faith.network sebagai pelengkap, bukan pengganti, studi Alkitab pribadi, doa, dan kehidupan jemaat lokal Anda. Sanggahan lengkap dan Ketentuan Penggunaan kami berlaku. Lihat pemeriksaan mutu harian kami

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami
Perusahaan?