Apa Itu Puasa Menurut Alkitab dan Cara Melakukannya dengan Benar
Pendahuluan
Pukul dua siang, dan aroma nasi goreng dari pantry kantor terasa jauh lebih menggoda daripada biasanya. Perutmu berbunyi. Kepalamu sedikit pusing. Tadi pagi kamu memutuskan untuk berpuasa, karena ada satu doa yang sudah berbulan-bulan kamu bawa tanpa jawaban: pekerjaan yang tak jelas arahnya, pernikahan yang dingin, anak yang menjauh, atau sekadar kerinduan yang sulit dijelaskan bahwa hidupmu dengan Tuhan terasa hambar. Lalu muncul pertanyaan yang jujur: sebenarnya apa gunanya tidak makan? Apakah Tuhan lebih mendengar orang yang lapar?
Pertanyaan itu bagus, dan Alkitab tidak menghindarinya. Di halaman ini kamu akan menemukan apa sebenarnya puasa menurut Alkitab, bagaimana ia muncul dari Kejadian sampai Wahyu, kesalahpahaman yang paling sering melekat padanya, dan cara melakukannya dengan benar tanpa jatuh ke dalam kesombongan rohani atau melukai tubuhmu sendiri.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini tidak memandang puasa sebagai teknik untuk menekan Tuhan supaya cepat menjawab. Puasa adalah doa yang diucapkan oleh tubuh. Ketika mulut kehabisan kata, perut yang kosong meneruskan permohonan itu: "Tuhan, Engkau lebih berharga bagiku daripada makanan."
Dan puasa punya tempatnya dalam sejarah. Ia berdiri di antara dua meja makan: gigitan pertama di Eden yang merusak segalanya, dan perjamuan kawin Anak Domba yang akan memulihkan segalanya. Di antara kedua meja itu, umat Tuhan berpuasa, bukan karena membenci makanan, tetapi karena belum pulang ke rumah. Sudut pandang inilah yang akan terus kembali di setiap bagian halaman ini.
Apa kata Alkitab tentang puasa?
Alkitab tidak pernah memberi definisi puasa dalam satu ayat rapi. Ia menunjukkannya lewat orang-orang yang melakukannya. Dari semua kisah itu muncul satu gambaran yang cukup jelas: puasa adalah menahan diri dari makanan, untuk jangka waktu tertentu, dengan sengaja, demi mencari Tuhan. Bukan diet. Bukan pantangan karena tradisi. Melainkan sebuah keputusan untuk mengosongkan sesuatu yang sah dan baik, agar hati punya ruang untuk yang lebih penting.
Perhatikan Daniel. Ia baru saja membaca nubuat Yeremia tentang tujuh puluh tahun pembuangan, dan bukannya berdebat soal tanggal, ia berlutut. "Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu" (Daniel 9:3). Perhatikan urutannya: puasa tidak berdiri sendiri. Ia menempel pada doa dan pengakuan dosa. Daniel tidak berpuasa untuk mengubah rencana Allah, tetapi untuk menyelaraskan dirinya dengan rencana itu.
Lalu ada Ester, yang harus masuk menghadap raja tanpa dipanggil, sebuah langkah yang bisa berarti kematian. Perintahnya kepada Mordekhai terdengar seperti orang yang sudah menghitung risiko sampai habis: "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; jangan makan dan jangan minum tiga hari lamanya, baik waktu malam baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati" (Ester 4:16). Puasa di sini adalah bahasa tubuh dari sebuah penyerahan total. Perut yang kosong berkata: nyawaku ada di tangan Tuhan, bukan di tangan raja.
Nabi Yoel menghubungkan puasa dengan pertobatan. Ketika bencana datang dan bangsa itu hancur, Tuhan tidak berkata, "Berpuasalah supaya Aku senang." Ia berkata: "Tetapi sekarang juga", demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh" (Yoel 2:12). Kata kuncinya bukan "berpuasa", tetapi "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu". Puasa adalah pendukung, bukan pemeran utama. Dua ayat kemudian Tuhan bahkan memperingatkan supaya mereka mengoyakkan hati, bukan pakaian.
Yesaya menyerang titik yang paling sensitif. Umat itu berpuasa dengan rajin, lalu kesal karena Tuhan seolah tidak memperhatikan. Jawaban Tuhan menohok: "Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan memutuskan setiap jenis kuk" (Yesaya 58:6). Artinya, puasa yang benar selalu punya alamat. Ia tidak berhenti di perutmu; ia sampai ke buruh yang kamu tekan, ke tetangga yang kelaparan, ke saudara yang kamu hindari. Ayat berikutnya sangat konkret: memecah-mecah roti bagi orang yang kelaparan, membawa orang miskin ke rumah, memberi pakaian kepada yang telanjang.
Yesus sendiri berpuasa empat puluh hari di padang gurun sebelum pelayanan-Nya dimulai, dan Ia mengajar murid-murid-Nya dengan asumsi bahwa mereka akan berpuasa. "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya" (Matius 6:16). Bukan "jika kamu berpuasa", melainkan "apabila". Puasa dianggap normal, seperti berdoa dan memberi. Yang tidak normal adalah memakainya sebagai panggung.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kisah Alkitab dimulai di sekitar meja makan. Manusia diberi taman yang penuh dan satu larangan kecil, lalu jatuh justru pada titik itu: "lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya" (Kejadian 3:6). Sejak saat itu, mulut manusia menjadi tempat di mana keinginan dan ketaatan saling berebut. Karena itu tidak mengherankan kalau pemulihan pun sering dimulai di tempat yang sama. Ketika Israel dituntun di padang gurun, Tuhan sengaja membiarkan mereka lapar, "untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN" (Ulangan 8:3). Lapar dipakai sebagai guru.
Dalam Perjanjian Lama, puasa muncul dalam berbagai situasi. Hari Pendamaian adalah satu-satunya hari puasa yang diperintahkan dalam Taurat, hari ketika seluruh bangsa merendahkan diri di hadapan Allah. Di luar itu, puasa lahir dari desakan hidup: Daud berpuasa saat anaknya sakit, Nehemia berpuasa ketika mendengar kabar tembok Yerusalem yang runtuh, Ezra memaklumkan puasa sebelum perjalanan berbahaya, orang-orang Niniwe berpuasa setelah mendengar khotbah Yunus yang cuma satu kalimat. Tetapi Perjanjian Lama juga jujur tentang bahayanya. Melalui Zakharia, Tuhan bertanya kepada umat yang sudah tujuh puluh tahun rajin berpuasa: adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku? Rutinitas rohani bisa berjalan bertahun-tahun tanpa hati.
Di Perjanjian Baru, benang itu tidak dipotong, tetapi diberi pusat baru. Hana, perempuan tua di Bait Allah, siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa, dan justru dialah yang mengenali Bayi itu ketika dibawa masuk. Yesus berpuasa di padang gurun dan mengalahkan pencobaan dengan firman, membalikkan kegagalan Adam yang tidak sanggup menahan satu buah. Ketika murid-murid Yohanes bertanya mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa, jawaban-Nya membuka seluruh logika puasa Kristen: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa" (Matius 9:15).
Puasa adalah rindu yang belum bertemu wajah yang dirindukannya.
Karena itulah gereja mula-mula berpuasa. Bukan lagi untuk mendapat perkenanan Allah, sebab perkenanan itu sudah diberikan di kayu salib, melainkan karena Mempelai itu untuk sementara belum kelihatan. Dalam Kisah Para Rasul 13:2 kita membaca: "Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: 'Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.'" Misi kepada bangsa-bangsa lahir di tengah ibadah dan puasa, bukan di rapat strategi. Pola yang sama terulang di Kisah Para Rasul 14:23, ketika penatua-penatua ditetapkan setelah berdoa dan berpuasa.
Dan ke mana semuanya menuju? Ke meja makan lagi. "Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba" (Wahyu 19:9). Di sana tidak akan ada puasa lagi, sebab mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi. Puasa punya tanggal kedaluwarsa. Ia hanya berguna selama kita masih di jalan, belum di rumah.
Kesalahpahaman yang umum
Kesalahpahaman pertama: puasa adalah alat penekan supaya Tuhan menuruti kemauan kita. Cara berpikirnya sederhana, "kalau doa saja belum cukup, mungkin doa plus lapar akan menembus." Tetapi Yesaya 58 justru menunjukkan bahwa Allah bisa mengabaikan puasa yang seperti itu. Umat itu bertanya mengapa Tuhan tidak memperhatikan puasa mereka, dan jawabannya bukan "puasalah lebih lama", tetapi "ubahlah cara kamu memperlakukan orang". Puasa bukan koin yang dimasukkan ke mesin surga. Ia adalah cara kita membuka tangan yang tergenggam, bukan cara memaksa tangan Tuhan terbuka.
Kesalahpahaman kedua: ada rumus rohani tertentu yang membuat puasa berkuasa. Ayat yang sering dipakai adalah Markus 9:29, ketika murid-murid gagal mengusir roh dari seorang anak. Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa." Sejumlah salinan kuno menambahkan "dan berpuasa", dan karena itu banyak terjemahan mencantumkannya. Tetapi apa pun bacaannya, inti kalimat Yesus tetap sama: masalah murid-murid bukan kurang teknik, melainkan kurang bergantung. Mereka mulai mengandalkan pengalaman sendiri. Puasa dan doa mengembalikan mereka ke posisi orang yang tidak bisa apa-apa tanpa Tuhan. Kekuatannya ada pada Pribadi yang dipercayai, bukan pada metodenya.
Kesalahpahaman ketiga: puasa adalah cara rohani untuk menurunkan berat badan atau mendetoks tubuh. Puasa memang punya efek pada tubuh, dan itu tidak dosa, tetapi begitu tujuannya bergeser ke bentuk tubuh atau rasa disiplin diri, ia berhenti menjadi puasa alkitabiah dan berubah menjadi proyek pribadi. Orang Farisi dalam Lukas 18:12 membanggakan diri, "aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku", dan justru dialah yang pulang tanpa dibenarkan. Puasa yang membuatmu merasa lebih baik daripada orang lain sudah kehilangan arahnya.
Kesalahpahaman keempat: puasa hanya soal pribadi dan batin, tidak berhubungan dengan uang, makanan, atau keadilan. Yesaya 58:6 memutus anggapan itu dengan tegas: puasa yang Tuhan kehendaki membuka belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk. Ada tradisi lama dan bijak dalam gereja: uang yang seharusnya dipakai untuk makan pada hari puasa diberikan kepada yang kelaparan. Dengan cara itu, perut yang kosong berhubungan langsung dengan perut orang lain yang juga kosong. Puasa yang benar tidak membuat kita makin berpusat pada diri; ia membuat mata kita lebih tajam melihat sesama.
Satu kesalahpahaman kecil yang perlu disebut juga: puasa bukan syarat untuk dikasihi Allah. Matius 6:16 sampai 18 menempatkan puasa dalam relasi dengan "Bapamu yang ada di tempat tersembunyi". Kata "Bapa" itu penting. Kamu tidak sedang melamar untuk diterima; kamu sudah menjadi anak.
Menghidupinya hari ini
Mulailah kecil dan jujur. Kalau kamu belum pernah berpuasa, jangan langsung mencoba empat puluh hari seperti Yesus di padang gurun. Lewatkan satu kali makan, misalnya makan siang, dan pakai waktu itu untuk berdoa dan membaca firman. Setengah jam yang biasanya dipakai untuk makan dan menggulir ponsel diubah menjadi setengah jam bersama Tuhan. Kalau tidak ada penggantinya, puasa hanya menjadi acara menahan lapar. Puasa tanpa doa adalah tubuh yang kosong tanpa hati yang mencari.
Tentukan alasannya sebelum kamu mulai. Alkitab menunjukkan bahwa orang berpuasa untuk hal-hal yang konkret: pertobatan atas dosa tertentu, keputusan besar seperti pindah kerja atau menerima panggilan pelayanan, pergumulan dalam pernikahan, anak yang sedang jauh dari Tuhan, kesembuhan, atau kebutuhan gereja. Tuliskan satu atau dua pokok saja. Ketika perutmu bereaksi, jadikan rasa lapar itu alarm doa: setiap kali terasa, kamu berdoa untuk hal itu sekali lagi. Itulah maksud dari perut yang menjadi mulut kedua.
Perhatikan tubuhmu, karena tubuhmu bukan musuh. Air tetap diminum kecuali dalam puasa singkat dan khusus seperti yang dilakukan Ester tiga hari lamanya. Jika kamu punya diabetes, gangguan makan, sedang hamil atau menyusui, sedang minum obat rutin, atau masih dalam masa pertumbuhan, bicarakan dengan dokter dan pertimbangkan bentuk lain: puasa dari media sosial, hiburan, belanja, atau kebiasaan yang paling sulit kamu lepaskan. Prinsipnya tetap alkitabiah, yaitu melepaskan yang baik untuk sementara demi yang terbaik.
Sembunyikan sebisa mungkin. Matius 6:17 dan 18 menyuruh membasuh muka dan tampil biasa saja. Jangan mengumumkan puasamu di grup keluarga atau media sosial. Kalau seseorang menawarkan makanan, kamu bisa menolak dengan sopan tanpa berkhotbah. Pengecualiannya adalah puasa bersama, seperti dalam Ester 4:16 dan Kisah Para Rasul 13:2, ketika satu keluarga atau satu jemaat sepakat mencari Tuhan bersama-sama. Itu bukan pamer, itu kesepakatan.
Akhiri dengan lembut dan dengan tangan terbuka. Berbuka dengan porsi kecil dan makanan sederhana, jangan langsung pesta. Lalu lakukan satu hal nyata sesuai Yesaya 58: berikan uang makanmu hari itu kepada orang yang membutuhkan, kirim makanan kepada tetangga, selesaikan hutang upah kepada pekerjamu, atau angkat telepon dan minta maaf kepada orang yang kamu hindari. Dengan begitu puasamu tidak berhenti di dalam kamarmu.
Terakhir, jangan menilai puasamu dari perasaan. Kadang puasa terasa manis, kadang cuma pusing dan mudah tersinggung. Yang membuat puasa berharga bukan pengalaman rohani yang menggetarkan, tetapi kenyataan bahwa Bapa melihat yang tersembunyi.
Cermin
Coba jawab satu pertanyaan ini dengan jujur: kapan terakhir kali kamu mengatakan tidak kepada dirimu sendiri untuk sesuatu yang sah dan boleh? Bukan dosa, bukan hal jahat, hanya sesuatu yang boleh. Sepotong ayam. Satu jam gulir ponsel. Serial yang tinggal dua episode. Kalau jawabannya sulit diingat, mungkin bukan karena kamu tidak rohani, tetapi karena hidupmu sudah lama diatur oleh dorongan yang tidak pernah kamu tanyai.
Puasa mengganggu, karena ia menyalakan lampu di ruangan yang biasanya gelap. Beberapa jam tanpa makanan, dan tiba-tiba kamu tahu betapa cepat kamu marah kepada anak-anakmu. Satu hari tanpa media sosial, dan kamu sadar seberapa besar kebutuhanmu untuk dilihat orang. Satu minggu tanpa belanja, dan kamu berkenalan dengan kekosongan yang selama ini kamu tutup dengan paket-paket kecil yang datang ke rumah. Itu bukan hukuman. Itu belas kasihan yang menunjukkan di mana hatimu sebenarnya tinggal.
Dan puasa juga membebaskan. Ia mengingatkanmu bahwa kamu bukan hamba dari perutmu, bukan hamba dari jam kerjamu, bukan hamba dari rasa sepimu. Ada Pribadi yang lebih besar daripada semua itu, dan Ia memanggilmu anak sebelum kamu melakukan apa pun untuk-Nya. Kalau kamu berpuasa untuk membuktikan diri, kamu akan capek. Kalau kamu berpuasa karena rindu, kamu akan menemukan bahwa Ia sudah lebih dulu merindukanmu.
Mungkin hari ini bukan waktu untuk membaca lebih banyak lagi. Mungkin ini waktu untuk memilih satu hari dalam minggu ini, satu kali makan yang dilewatkan, satu pokok doa yang paling menyakitkan, dan satu orang yang akan menerima berkat dari puasamu. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan. Ia menunggu hati yang berbalik.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sering menangkap inti puasa lebih cepat daripada orang dewasa, asal kita tidak memulainya dengan aturan. Mulailah dengan gambaran: kalau ada tamu yang sangat kita rindukan datang ke rumah, kita akan mematikan televisi dan menyingkirkan mainan supaya bisa benar-benar bersama dia. Puasa mirip seperti itu. Kita menyingkirkan sesuatu yang kita sukai untuk sementara, supaya hati kita punya banyak ruang untuk Tuhan. Jadi puasa bukan hukuman, dan bukan cara membuat Tuhan sayang kepada kita. Tuhan sudah sayang. Puasa adalah cara kita berkata kepada-Nya, "Engkau lebih penting daripada makanan enak, lebih penting daripada permainan di ponsel."
Perlu ditegaskan kepada anak bahwa mereka tidak diminta untuk tidak makan. Tubuh mereka sedang bertumbuh dan butuh makanan. Bentuk puasa yang cocok untuk mereka biasanya berupa melepaskan waktu bermain gawai, camilan favorit, atau uang jajan satu hari yang lalu diberikan kepada orang yang kelaparan. Cerita Ester dan Niniwe sangat kuat untuk mereka, karena di sana orang berpuasa saat ketakutan dan ketika mau berbalik dari kesalahan.
Karena tiap usia memerlukan bahasa yang berbeda, tersedia penjelasan khusus untuk anak prasekolah 3 sampai 6 tahun, untuk anak usia sekolah 7 sampai 12 tahun, dan untuk remaja 12 tahun ke atas. Yang termuda cukup memahami gambaran hati yang membuka ruang untuk Tuhan; anak sekolah dasar bisa masuk ke kisah tokoh-tokoh Alkitab; sedangkan remaja siap membahas Matius 6:16 dan bahaya melakukan hal rohani supaya dilihat orang.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti puasa menurut Alkitab?
Puasa menurut Alkitab adalah keputusan sadar untuk menahan diri dari makanan selama waktu tertentu agar dapat mencari Tuhan dengan lebih terfokus melalui doa, pengakuan dosa, dan firman. Alkitab selalu menempatkannya berpasangan dengan doa, seperti dalam Daniel 9:3 dan Kisah Para Rasul 13:2, dan bukan sebagai latihan disiplin yang berdiri sendiri. Intinya bukan penderitaan tubuh, melainkan hati yang berbalik kepada Tuhan, seperti dinyatakan dalam Yoel 2:12. Puasa adalah doa yang diucapkan oleh tubuh, sebuah pengakuan bahwa Tuhan lebih berharga daripada makanan.
Apakah orang Kristen wajib berpuasa?
Perjanjian Baru tidak pernah memberikan perintah dengan jadwal dan jumlah hari tertentu, jadi puasa bukan syarat keselamatan dan bukan hukum yang mengikat. Namun Yesus berbicara seolah-olah puasa adalah hal wajar bagi murid-murid-Nya. Dalam Matius 6:16 Ia berkata "apabila kamu berpuasa", bukan "jika". Dalam Matius 9:15 Ia mengatakan murid-murid akan berpuasa setelah Mempelai itu diambil dari mereka. Jadi puasa bukan kewajiban yang menekan, tetapi kesempatan yang disediakan bagi orang yang rindu kepada Tuhan.
Berapa lama sebaiknya berpuasa menurut Alkitab?
Alkitab menunjukkan panjang yang beragam: satu hari sampai matahari terbenam, tiga hari seperti Ester dan orang Yahudi di Susan dalam Ester 4:16, tujuh hari seperti Daud, tiga minggu seperti dalam Daniel 10, sampai empat puluh hari seperti Musa, Elia, dan Yesus. Tidak ada satu ukuran yang menjadi standar. Bagi pemula, melewatkan satu kali makan atau berpuasa dari pagi sampai sore adalah awal yang sehat dan bijak. Yang menentukan nilainya bukan lamanya, tetapi hati dan doa yang menyertainya.
Apakah puasa Daniel itu ada di Alkitab?
Istilah populer "puasa Daniel" biasanya mengacu pada dua bagian. Dalam Daniel 1, Daniel dan kawan-kawannya menolak makanan istana dan hanya makan sayuran serta air, tetapi itu soal kesetiaan agar tidak menajamkan diri dengan makanan raja, bukan ibadah puasa. Dalam Daniel 10, ia tidak makan makanan yang enak, daging, dan anggur selama tiga minggu, dan ini memang puasa dalam konteks doa. Jadi polanya alkitabiah, walaupun nama "puasa Daniel" sendiri tidak ada di dalam Alkitab.
Bolehkah minum air saat berpuasa menurut Alkitab?
Pada umumnya boleh, dan bagi banyak orang justru dianjurkan. Sebagian besar puasa dalam Alkitab adalah pantang makanan, bukan pantang air. Puasa tanpa air disebut secara khusus dan jarang, misalnya tiga hari tiga malam dalam Ester 4:16 ketika keadaan benar-benar darurat, dan itu berlangsung singkat. Menahan air dalam waktu lama berbahaya bagi tubuh. Karena tubuh kita adalah pemberian Tuhan yang harus dijaga, minumlah air secukupnya dan fokuskan puasamu pada makanan serta hal-hal yang mengalihkan hatimu.
Benarkah puasa membuat doa lebih cepat dijawab?
Puasa tidak bekerja seperti mempercepat proses dengan biaya tambahan. Yesaya 58:3 mencatat umat yang kesal karena puasa mereka seolah tidak diperhatikan, dan Tuhan menjawab bahwa masalahnya ada pada cara hidup mereka, bukan pada durasi puasa. Yang berubah dalam puasa lebih dulu adalah kita, bukan Tuhan. Puasa mempertajam kesungguhan, membuka telinga terhadap firman, dan melepaskan pegangan kita pada hal-hal lain. Dari situ doa sering menjadi lebih jernih dan lebih selaras dengan kehendak Tuhan, dan itulah bentuk jawaban yang paling sering kita butuhkan.
Apa bedanya puasa Kristen dengan puasa dalam agama lain?
Bentuk luarnya bisa mirip, karena manusia di mana-mana memakai lapar sebagai bahasa kerendahan hati. Perbedaannya ada pada dasar dan tujuan. Orang Kristen tidak berpuasa untuk memperoleh perkenanan Allah, sebab perkenanan itu sudah diberikan melalui karya Yesus Kristus di kayu salib. Puasa Kristen bukan usaha mendaki menuju Allah, melainkan respons anak yang sudah diterima Bapa dan sekarang rindu kepada-Nya. Matius 6:18 menyebut Dia "Bapamu yang ada di tempat tersembunyi", dan kata Bapa itu mengubah seluruh nada puasa kita.
Bagaimana cara memulai puasa untuk pemula?
Pilih satu hari, satu kali makan, dan satu pokok doa yang jelas. Beri tahu Tuhan alasanmu, siapkan bagian Alkitab yang akan kamu baca, misalnya Yesaya 58 atau Matius 6, dan pakai waktu makan itu untuk berdoa. Minum air secukupnya, kurangi kafein sehari sebelumnya supaya kepala tidak terlalu berat, dan jangan mengumumkan puasamu. Ketika lapar datang, ubah rasa itu menjadi doa singkat untuk pokok yang kamu bawa. Berbukalah dengan porsi kecil, lalu lakukan satu tindakan kasih yang nyata bagi orang lain.
Apakah boleh berpuasa kalau sedang sakit, hamil, atau minum obat?
Puasa tidak pernah dimaksudkan untuk merusak tubuh yang dipercayakan Tuhan kepadamu. Jika kamu hamil, menyusui, punya diabetes, tekanan darah tidak stabil, riwayat gangguan makan, atau harus minum obat bersama makanan, jangan memaksakan pantang makanan dan bicarakanlah dengan dokter. Kamu tetap dapat berpuasa dalam bentuk lain yang sungguh berarti: melepaskan media sosial, hiburan, belanja, atau satu kebiasaan yang paling menguasaimu, lalu memakai waktu dan uang itu untuk berdoa dan menolong orang. Hati yang mencari Tuhan tetap sama.
Apa yang harus dilakukan selama berpuasa selain tidak makan?
Isi ruang yang kosong itu, jangan biarkan kosong begitu saja. Bacalah firman dengan tenang, akui dosa dengan jujur, doakan orang-orang yang Tuhan letakkan di hatimu, dan nyanyikan pujian walaupun hanya dalam hati. Kurangi kebisingan: matikan notifikasi, jauhkan hiburan, dan biarkan diam menjadi temanmu sesaat. Lalu ingat Yesaya 58:6 dan 7 dengan sengaja lakukan sesuatu bagi orang lain, misalnya memberikan uang makanmu, mengantar makanan kepada tetangga, atau memperbaiki hubungan yang rusak. Puasa yang benar selalu keluar dari dirinya sendiri.
Mengapa Yesus berpuasa empat puluh hari di padang gurun?
Empat puluh hari mengingatkan pada Musa di gunung dan Israel di padang gurun. Yesus masuk ke padang gurun sebagai wakil umat-Nya, dan di titik yang paling lemah, ketika Ia lapar, Ia diuji. Adam gagal di taman yang penuh makanan; Yesus menang di padang gurun tanpa makanan, dengan berpegang pada firman: manusia hidup bukan dari roti saja. Puasa-Nya bukan contoh yang harus kita tiru dari segi jumlah harinya, tetapi bukti bahwa ketaatan-Nya sempurna di tempat kita gagal. Itulah dasar puasa kita.
Bagaimana cara mengakhiri puasa dengan benar?
Berbukalah perlahan. Setelah beberapa jam atau sehari tanpa makan, tubuh membutuhkan makanan yang ringan lebih dulu, misalnya buah, sup, atau bubur, bukan pesta besar yang membuat perutmu kaget. Semakin lama puasamu, semakin bertahap pula proses berbukanya. Selain itu, akhiri secara rohani: ucapkan syukur, catat apa yang Tuhan tunjukkan kepadamu selama puasa, dan tunaikan satu langkah ketaatan yang muncul dari waktu itu. Puasa yang selesai di meja makan tanpa perubahan hidup mudah menjadi kenangan yang cepat hilang.
Apakah puasa media sosial termasuk puasa alkitabiah?
Puasa dalam Alkitab secara khusus berkaitan dengan makanan, jadi puasa media sosial tidak persis sama. Namun prinsipnya sangat dekat: melepaskan sesuatu yang sah namun menguasai kita, untuk sementara waktu, agar hati punya ruang bagi Tuhan. Bagi banyak orang hari ini, ponsel lebih sulit dilepaskan daripada makan siang. Jika kamu memilih bentuk ini, tetapkan batas waktunya, gantikan jam yang kosong itu dengan doa dan firman, dan lakukan dengan tenang tanpa mengumumkannya, sesuai semangat Matius 6:17 dan 18.
Sebagai penutup
Puasa tidak membuat Tuhan lebih mengasihimu, dan tidak menjadikanmu orang Kristen kelas satu. Ia hanya melakukan satu hal, dan hal itu berharga: ia membuat tubuhmu ikut berkata apa yang mulutmu doakan. Perut yang kosong menjadi pengakuan bahwa kamu belum di rumah, bahwa ada Pribadi yang lebih memuaskan daripada segala yang tersedia di meja, dan bahwa kamu menunggu hari ketika puasa tidak lagi diperlukan.
Di antara Eden dan perjamuan Anak Domba, kita berpuasa.
Kalau kamu ingin melanjutkan, bacalah Yesaya 58 secara utuh dan pelan, lalu Matius 6:1 sampai 18, dan perhatikan bagaimana keduanya menolak agama yang hanya kelihatan dari luar. Setelah itu ikuti Yoel 2:12 sampai 17 dan Kisah Para Rasul 13:1 sampai 3 untuk melihat puasa yang lahir dari pertobatan dan yang melahirkan perutusan.
Dan mungkin, sebelum kamu menutup halaman ini, tentukan satu hari dalam minggu ini. Satu kali makan yang dilewatkan. Satu pokok doa. Satu orang yang akan menerima kebaikan dari puasamu. Bapa yang melihat yang tersembunyi sudah menunggu, dan Ia tidak pernah kecewa pada hati yang berbalik kepada-Nya.
