Sepuluh Perintah Allah: Isi, Makna, dan Penerapannya bagi Orang Kristen
Pendahuluan
Di rumah nenek saya dulu ada bingkai kayu berdebu yang berisi tulisan tangan: sepuluh baris pendek, ditulis dengan tinta yang mulai memudar. "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku." Sampai baris terakhir: "Jangan mengingini." Sebagai anak kecil, saya membacanya seperti membaca daftar larangan di pintu sekolah. Sepuluh cara untuk membuat Allah marah. Sepuluh alasan untuk merasa bersalah.
Bertahun-tahun kemudian saya baru sadar bahwa saya selalu melewatkan satu kalimat: kalimat pembuka, yang bahkan tidak dihitung sebagai perintah. Kalimat itu mengubah segalanya.
Halaman ini akan membawa Anda menelusuri isi kesepuluh perintah itu satu per satu, jejaknya dari Kejadian sampai Wahyu, kesalahpahaman yang paling sering melekat padanya, dan bagaimana perintah-perintah ini menyentuh hidup Anda hari Senin pagi. Bukan sebagai beban baru, melainkan sebagai bentuk hidup orang yang sudah dibebaskan.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Sepuluh Perintah Allah mulai dari ayat pertamanya, bukan dari perintah pertamanya. Sebelum Allah berkata "jangan", Ia berkata: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan" (Keluaran 20:2). Israel tidak menaati sepuluh perintah supaya keluar dari Mesir; mereka sudah keluar, dan karena itu mereka diberi bentuk hidup orang merdeka.
Itulah kacamata yang saya pakai di sepanjang halaman ini. Sepuluh Perintah Allah bukan tangga menuju keselamatan, melainkan potret wajah umat yang sudah ditebus. Pembebasan dulu, baru perintah. Kalau urutan itu terbalik, seluruh isinya berubah menjadi penjara.
Apa kata Alkitab tentang Sepuluh Perintah Allah?
Kesepuluh perintah itu tercatat dua kali secara lengkap: di Keluaran 20:1-17, ketika Allah berbicara langsung dari Gunung Sinai kepada bangsa yang baru saja keluar dari Mesir, dan di Ulangan 5:6-21, ketika Musa mengulanginya kepada generasi berikutnya di ambang Tanah Perjanjian. Alkitab sendiri menyebutnya bukan "sepuluh hukum", melainkan "Kesepuluh Firman" (Ulangan 4:13). Ini firman, bukan sekadar peraturan; sepuluh kalimat yang diucapkan oleh Allah yang baru saja membelah laut untuk umat-Nya.
Keluaran 20:1-2 membuka dengan penegasan yang menentukan seluruh nada: "Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: 'Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.'" Perhatikan kata "Allahmu". Relasi sudah ada. Penebusan sudah terjadi. Barulah setelah itu datang bentuk hidup yang pantas bagi umat yang ditebus.
Empat perintah pertama menata hubungan kita dengan Allah. "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (Keluaran 20:3) berarti hati yang tidak terbagi; Allah yang membebaskan tidak mau dibagi dengan Mesir yang lama. "Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi" (Keluaran 20:4) melarang kita mengecilkan Allah menjadi sesuatu yang bisa kita kendalikan. Perintah ketiga, "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan" (Keluaran 20:7), menjaga nama-Nya dari pemakaian yang murahan, termasuk saat nama itu dipakai untuk membungkus kepentingan kita sendiri. Perintah keempat memerintahkan istirahat: "Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat" (Keluaran 20:8), dengan alasan penciptaan di Keluaran 20:11.
Menarik sekali bahwa di Ulangan 5:15 alasannya diganti: "Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat." Bekas budak diperintahkan untuk berhenti bekerja. Hanya orang merdeka yang boleh istirahat, dan sekarang mereka merdeka.
Enam perintah berikutnya menata hidup bersama sesama. "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu" (Keluaran 20:12) menjaga generasi agar tidak putus. Lalu tiga kalimat yang begitu pendek sehingga mudah dihafal anak kecil: "Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri" (Keluaran 20:13-15). Ketiganya melindungi tiga hal yang paling rapuh pada manusia: nyawa, ikatan pernikahan, dan hasil jerih payah. Perintah kesembilan menjaga kebenaran di ruang publik: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Keluaran 20:16). Dan perintah kesepuluh masuk ke tempat yang tidak bisa dijangkau pengadilan mana pun: "Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu" (Keluaran 20:17).
Perintah terakhir itu membongkar anggapan bahwa Sepuluh Perintah Allah hanya mengurus perilaku luar. Tidak ada polisi yang bisa menangkap Anda karena iri. Sejak awal, hukum ini sudah menuntut hati. Dan justru di situlah kita semua kandas, sehingga hukum yang diberikan kepada orang merdeka juga menyingkapkan betapa dalamnya perbudakan yang masih tersisa di dalam diri kita.
Anugerah lebih dulu berbicara, ketaatan menyusul kemudian.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Sepuluh Perintah Allah memang diucapkan di Sinai, tetapi isinya sudah bergema jauh sebelum itu. Kain membunuh adiknya dan darah itu berteriak dari tanah, jauh sebelum ada tulisan "jangan membunuh". Yusuf menolak istri Potifar dengan berkata, "bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kejadian 39:9), padahal loh batu belum pernah ada. Dunia yang Allah ciptakan memang berjalan menurut irama ini; Sinai hanya menuliskannya dengan jelas supaya sebuah bangsa bekas budak tahu seperti apa hidup di hadapan Allah yang membebaskan mereka.
Para nabi kemudian memakai kesepuluh firman itu sebagai cermin bangsa. Hosea mendakwa Israel dengan bahasa yang nyaris menyalin loh batu: sumpah palsu, dusta, pembunuhan, pencurian, perzinahan. Yeremia berdiri di pintu gerbang Bait Suci dan bertanya bagaimana mungkin orang mencuri, membunuh, dan berzinah, lalu datang beribadah dengan tenang. Namun para nabi juga menjanjikan sesuatu yang lebih dalam daripada loh batu: "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka" (Yeremia 31:33). Persoalannya memang tidak pernah pada mutu perintahnya, melainkan pada hati yang membacanya.
Di sinilah Yesus Kristus masuk. Ia menolak dianggap datang untuk membatalkan: "Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya" (Matius 5:17). Lalu Ia mendorong perintah-perintah itu masuk lebih dalam: marah tanpa sebab sudah menyentuh perintah keenam, memandang dengan nafsu sudah menyentuh perintah ketujuh. Dan ketika ditanya perintah mana yang terutama, Ia merangkum keseluruhannya dalam Matius 22:37-40: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Dua loh batu, dua arah kasih.
Paulus meneruskan garis yang sama di Roma 13:9-10: "Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!' Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat." Kasih bukan pengganti perintah, melainkan isi perintah.
Yohanes menutup lingkaran ini dengan kalimat Yesus sendiri: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku" (Yohanes 14:15). Bukan "taatilah Aku supaya Aku mengasihimu", melainkan urutan Sinai yang diulang di ruang perjamuan. Kasih lebih dulu, lalu ketaatan. Dan di ujung Alkitab, umat yang bertahan digambarkan justru dengan dua hal yang menyatu: "yang menuruti perintah Allah dan iman kepada Yesus" (Wahyu 14:12). Perjalanan panjang dari Mesir sampai kota yang baru ternyata membawa perintah yang sama, kini dituliskan di hati oleh Roh Kudus (Yehezkiel 36:26-27).
Kesalahpahaman yang umum
Kesalahpahaman pertama, dan yang paling merusak: Sepuluh Perintah Allah adalah syarat masuk surga. Kalau begitu, kalimat pembukanya harus dibuang, karena Israel sudah lebih dulu dibawa keluar dari Mesir sebelum satu perintah pun diberikan. Paulus menutup pintu itu rapat-rapat: "Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Roma 3:20). Hukum berfungsi seperti cermin: ia menunjukkan kotoran di wajah, tetapi tidak pernah bisa mencucinya. Yang mencuci adalah Kristus.
Kesalahpahaman kedua adalah kebalikannya: karena kita hidup di bawah anugerah, kesepuluh perintah itu tidak relevan lagi. Namun Yesus justru memperdalamnya, bukan menghapusnya, dan para rasul mengutipnya sebagai pedoman jemaat. Paulus mengutip perintah kelima kepada anak-anak di Efesus dan menyebutnya "suatu perintah yang penting". Yohanes menulis, "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat" (1 Yohanes 5:3). Anugerah tidak membebaskan kita dari kasih; anugerah memampukan kita untuk mengasihi. Bebas dari hukuman hukum, bukan bebas dari kasih.
Kesalahpahaman ketiga: yang penting nilai rata-ratanya bagus. Saya memang suka menggosip, tetapi saya tidak pernah mencuri; saya tamak, tetapi saya setia pada pasangan. Yakobus 2:10 mematahkan aritmetika itu: "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya." Hukum bukan daftar belanja yang bisa dicicil, melainkan satu kesatuan yang menyatakan siapa Allah. Melanggar satu bagian berarti berhadapan dengan Pribadi yang sama. Ini kabar buruk yang perlu kita dengar sampai tuntas, supaya kabar baik tentang salib tidak terdengar sebagai basa-basi.
Kesalahpahaman keempat: perintah ini hanya mengatur perbuatan, bukan hati. Perintah kesepuluh sudah membantahnya sejak Sinai, karena mengingini terjadi sepenuhnya di dalam batin. Yesus mempertegasnya di Matius 5:21-28, dan Paulus mengakui bahwa justru perintah "jangan mengingini" yang membongkar dirinya (Roma 7:7). Seseorang bisa punya catatan bersih di mata tetangga dan tetap hidup dengan hati yang penuh berhala.
Ada juga kekeliruan yang lebih halus: menganggap kesepuluh perintah ini bisa dilepaskan dari Pribadi yang mengucapkannya, lalu dipajang sebagai nilai moral universal di dinding kantor. Begitu kalimat "Akulah TUHAN, Allahmu" dilepas, yang tersisa hanyalah etika tanpa Penebus, dan etika tanpa Penebus selalu berakhir menjadi beban.
Menghidupinya hari ini
Bacalah kesepuluh firman itu sebagai gambaran hidup orang yang sudah dibebaskan, lalu tanyakan di titik mana Anda masih hidup seperti budak.
Perintah pertama dan kedua mengenai kita di tempat yang tidak kita duga. Berhala zaman ini jarang berbentuk patung; ia lebih sering berbentuk angka. Saldo rekening yang menentukan apakah Anda bisa tidur tenang, jabatan yang menentukan apakah Anda merasa berharga, penilaian orang tua atau atasan yang lebih menakutkan daripada penilaian Allah. Semua itu berfungsi sebagai allah lain, sebab ke sanalah hati Anda lari ketika takut.
Perintah ketiga bekerja di ruang yang sering luput: memakai nama Tuhan untuk membenarkan kemauan sendiri. Berkata "ini kehendak Tuhan" untuk menutup diskusi, atau membungkus ambisi dengan bahasa rohani, adalah cara paling halus menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
Perintah keempat menantang budaya kerja yang menganggap sibuk sebagai tanda berharga. Kalau Anda tidak sanggup berhenti satu hari, mungkin bukan pekerjaan Anda yang terlalu banyak, melainkan keyakinan Anda bahwa dunia bergantung pada Anda. Istirahat adalah tindakan iman.
Perintah kelima menemukan bentuk yang berat di usia dewasa: merawat orang tua yang mulai menyusahkan, tetap menghormati mereka meski mereka pernah melukai, mengurus biaya pengobatan tanpa berhitung terlalu keras. Menghormati tidak selalu berarti menuruti, tetapi selalu berarti tidak memandang rendah.
Perintah keenam sampai kedelapan turun ke hal-hal sehari-hari: nada suara yang mematikan semangat anak Anda, kata sindiran yang dilempar di depan orang lain, mata yang berkeliaran di layar ponsel pukul sebelas malam, laporan pengeluaran yang digelembungkan sedikit, jam kerja yang dibayar tetapi tidak dipakai bekerja. Kesetiaan dan kejujuran nyaris selalu diuji dalam ukuran kecil.
Perintah kesembilan hidup di grup percakapan keluarga dan kantor. Menyebarkan kabar yang belum tentu benar, membiarkan reputasi seseorang rusak karena Anda malas mengecek, atau diam saat seseorang difitnah, semuanya menyentuh perintah ini.
Perintah kesepuluh menunggu Anda setiap kali membuka media sosial. Rumah orang lain, liburan orang lain, keluarga orang lain yang terlihat utuh. Obatnya bukan berhenti melihat, melainkan belajar berterima kasih sampai hati Anda kembali tenang di hadapan Allah yang sudah memberi lebih dari cukup.
Cermin
Coba jujur sebentar. Perintah mana yang tadi Anda baca sambil cepat-cepat melanjutkan, karena Anda tahu di situ ada sesuatu yang belum beres?
Mungkin Anda merasa aman karena tidak pernah membunuh siapa pun, sementara di rumah ada orang yang setiap hari mati sedikit demi sedikit oleh sikap dingin Anda. Mungkin pernikahan Anda utuh di mata jemaat, tetapi hati Anda sudah lama tinggal di tempat lain. Mungkin Anda memberi persembahan dengan setia dan pada saat yang sama menahan hak orang yang bekerja untuk Anda. Mungkin Anda begitu lelah sehingga tidak ingat kapan terakhir kali beristirahat tanpa rasa bersalah, sebab jauh di dalam Anda percaya bahwa nilai Anda ditentukan oleh apa yang Anda hasilkan.
Kalau bacaan ini terasa menekan, itu berarti hukum sedang bekerja sebagaimana mestinya. Hukum tidak dirancang untuk membuat Anda merasa hebat; ia dirancang untuk membuat Anda pulang. Namun jangan berhenti di rasa bersalah, sebab bukan itu tujuan akhirnya. Suara yang mengucapkan kesepuluh firman itu adalah suara yang sama yang berkata "Akulah TUHAN, Allahmu", suara yang datang mencari, bukan mengusir.
Yang tidak sanggup Anda lakukan, Kristus sudah lakukan dengan sempurna. Ia mengasihi Bapa dengan segenap hati, tidak pernah berdusta, tidak pernah mengingini, dan Ia menanggung hukuman atas setiap pelanggaran Anda. Karena itu, ketika Anda kembali kepada perintah-perintah ini besok pagi, Anda tidak sedang berusaha membeli kasih Allah. Anda sedang belajar berjalan sebagai orang yang sudah dibawa keluar dari Mesir.
Pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak yang harus Anda taati agar diterima. Pertanyaannya: karena Anda sudah diterima, di mana Anda mau mulai berubah minggu ini?
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak menangkap Sepuluh Perintah Allah jauh lebih baik kalau ceritanya dimulai dari pembebasan, bukan dari larangan. Ceritakan dulu tentang bangsa Israel yang lama sekali menjadi budak di Mesir, bekerja tanpa henti, lalu Allah membawa mereka keluar dengan tangan yang kuat. Setelah mereka bebas, Allah memanggil mereka ke sebuah gunung dan berkata kurang lebih begini: "Aku Allahmu, Akulah yang menyelamatkan kamu. Sekarang Aku mau ajarkan cara hidup keluarga-Ku."
Lalu jelaskan bahwa sepuluh kalimat itu terbagi dua: empat yang pertama tentang mengasihi Allah, dan enam berikutnya tentang mengasihi orang lain. Untuk anak kecil, cukup katakan bahwa Yesus meringkasnya menjadi dua: kasihi Allah, kasihi sesama. Beri contoh yang mereka kenal, seperti berkata jujur waktu memecahkan gelas, tidak mengambil mainan teman, dan tidak iri ketika teman punya sepatu baru.
Yang paling penting untuk mereka dengar adalah bagian akhirnya: kita semua gagal menaatinya, dan justru karena itu Yesus datang. Anak-anak perlu tahu bahwa kasih Allah tidak akan berkurang ketika mereka jatuh, dan bahwa Roh Kudus menolong mereka bertumbuh.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus untuk berbagai usia: versi cerita sederhana untuk balita dan anak prasekolah tiga sampai enam tahun, versi dengan contoh sehari-hari dan pertanyaan diskusi untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun, serta versi yang lebih mendalam untuk remaja dua belas tahun ke atas yang mulai bertanya soal hukum, kebebasan, dan anugerah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa isi Sepuluh Perintah Allah secara lengkap?
Menurut Keluaran 20:1-17, isinya adalah: jangan ada allah lain di hadapan Allah, jangan membuat patung untuk disembah, jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan, ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat, hormatilah ayah dan ibu, jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesama, dan jangan mengingini apa pun yang dipunyai sesama. Empat perintah pertama mengatur hubungan dengan Allah, enam sisanya mengatur hubungan dengan sesama, dan semuanya didahului pengumuman bahwa Allah sudah lebih dulu membebaskan umat-Nya dari perbudakan.
Di mana Sepuluh Perintah Allah tertulis dalam Alkitab?
Teks lengkapnya muncul dua kali, yaitu di Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21. Versi Keluaran mencatat saat Allah mengucapkannya langsung di Gunung Sinai kepada umat yang baru keluar dari Mesir. Versi Ulangan adalah pengulangan oleh Musa kepada generasi berikutnya di dataran Moab, dengan beberapa perbedaan kecil, terutama pada alasan perintah Sabat yang di sana dikaitkan dengan pembebasan dari perbudakan. Alkitab juga menyebutnya "Kesepuluh Firman" di Ulangan 4:13 dan Keluaran 34:28.
Mengapa penomoran Sepuluh Perintah Allah berbeda antara gereja Katolik dan Protestan?
Teksnya sama persis; yang berbeda hanya cara membaginya. Tradisi Katolik dan Lutheran menggabungkan larangan menyembah allah lain dan larangan membuat patung menjadi satu perintah, lalu membagi perintah tentang mengingini menjadi dua, yaitu mengingini istri sesama dan mengingini milik sesama. Tradisi Reformed, Anglikan, dan sebagian besar gereja Protestan lain memisahkan perintah pertama dan kedua, lalu menyatukan perintah tentang mengingini. Jumlahnya tetap sepuluh, isinya tetap utuh, dan perbedaan ini bukan perbedaan doktrin keselamatan.
Apakah orang Kristen masih wajib menaati Sepuluh Perintah Allah?
Ya, tetapi dengan alasan yang benar. Kita tidak menaatinya untuk memperoleh keselamatan, sebab Roma 3:20 menegaskan bahwa tidak seorang pun dibenarkan oleh melakukan hukum Taurat. Kita menaatinya karena sudah diselamatkan dan karena mengasihi Yesus, seperti kata-Nya di Yohanes 14:15: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Sembilan dari sepuluh perintah ini diulang secara eksplisit dalam Perjanjian Baru sebagai pedoman hidup jemaat, dan Yesus justru memperdalam maknanya sampai ke tingkat motif hati.
Apa perbedaan hukum Taurat dan Sepuluh Perintah Allah?
Hukum Taurat mencakup seluruh peraturan yang diberikan kepada Israel melalui Musa, termasuk aturan korban, makanan, kenajisan ritual, dan tata pemerintahan bangsa itu. Sepuluh Perintah Allah adalah inti moralnya, satu-satunya bagian yang diucapkan Allah langsung kepada seluruh umat dan ditulis pada dua loh batu. Banyak aturan upacara sudah digenapi dalam Kristus, seperti dijelaskan di Kolose 2:16-17 yang menyebut hal-hal itu bayangan sedangkan wujudnya adalah Kristus. Inti moralnya tetap berlaku karena mencerminkan karakter Allah sendiri.
Apakah orang Kristen harus beribadah pada hari Sabtu?
Perintah keempat tetap berbicara kepada kita tentang ritme kerja dan istirahat yang kudus, tetapi Perjanjian Baru tidak pernah memerintahkan jemaat untuk mempertahankan hari Sabtu sebagai kewajiban. Jemaat mula-mula berkumpul pada hari pertama minggu itu untuk merayakan kebangkitan Yesus. Paulus menulis di Roma 14 bahwa soal hari sebaiknya tidak dipakai untuk saling menghakimi. Ibrani 4 menunjukkan bahwa perhentian sejati kita ada di dalam Kristus. Yang penting bukan sekadar harinya, melainkan apakah Anda sungguh berhenti dan menyembah.
Apa artinya "jangan menyebut nama TUHAN dengan sembarangan"?
Keluaran 20:7 melarang kita memakai nama Allah dengan enteng, palsu, atau demi kepentingan diri. Larangan ini mencakup sumpah palsu atas nama-Nya, tetapi juga mencakup hal yang lebih halus: memakai bahasa rohani untuk memanipulasi orang, mengatasnamakan kehendak Tuhan atas keputusan yang sebenarnya kita ambil karena kepentingan sendiri, atau berdoa dengan kata-kata indah tanpa hati yang terlibat. Nama Allah adalah diri-Nya yang dinyatakan; memperlakukan nama itu dengan murah berarti memperlakukan Dia dengan murah.
Benarkah melanggar satu perintah sama dengan melanggar semuanya?
Benar, dan Yakobus 2:10 mengatakannya dengan sangat jelas: "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya." Maksudnya bukan bahwa semua dosa memiliki akibat yang sama beratnya di dunia ini, melainkan bahwa hukum adalah satu kesatuan yang menyatakan kehendak satu Pribadi. Melanggar satu bagian berarti menolak otoritas Allah yang sama. Karena itu tidak ada seorang pun yang bisa berdiri di hadapan-Nya dengan mengandalkan skor moralnya sendiri.
Bagaimana Yesus meringkas Sepuluh Perintah Allah?
Dalam Matius 22:37-40 Yesus berkata: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Ringkasan itu sejajar dengan dua bagian loh batu. Paulus menegaskan hal yang sama di Roma 13:9-10 dengan menyebut kasih sebagai kegenapan hukum Taurat.
Apakah memasang salib atau gambar rohani melanggar perintah kedua?
Perintah kedua melarang membuat gambar atau patung untuk disembah dan diperlakukan sebagai perwakilan Allah yang bisa kita kendalikan, seperti terlihat dari lanjutannya di Keluaran 20:5: "Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya." Allah sendiri memerintahkan pembuatan kerub di atas tabut dan ular tembaga di padang gurun, jadi seni religius bukan larangan mutlak. Persoalannya muncul ketika benda itu menjadi objek doa dan pengharapan. Pertanyaan yang perlu diajukan sederhana: apakah hati saya bersandar kepada benda ini, atau kepada Allah yang hidup?
Mengapa perintah kelima disertai janji?
Keluaran 20:12 berbunyi: "Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." Paulus mengutipnya di Efesus 6 dan menyebutnya perintah yang penting karena disertai janji. Keluarga adalah tempat pertama otoritas, kasih, dan iman diwariskan; ketika penghormatan kepada orang tua runtuh, seluruh tenunan masyarakat ikut robek. Janji itu bersifat umum, bukan jaminan matematis bahwa setiap anak yang berbakti pasti berumur panjang, melainkan prinsip bahwa hidup yang menghormati asal-usulnya cenderung berakar kuat.
Apa yang terjadi pada dua loh batu itu?
Musa memecahkan loh yang pertama ketika turun dari gunung dan melihat Israel menyembah anak lembu emas, tepat setelah mereka berjanji taat. Allah kemudian menyuruhnya memahat dua loh baru, dan firman yang sama dituliskan kembali. Loh-loh itu disimpan di dalam tabut perjanjian, di ruang mahakudus. Alkitab tidak mencatat ke mana perginya setelah Bait Suci dihancurkan. Yang penting bukan nasib batunya, melainkan janji Yeremia 31:33 bahwa Allah akan menuliskan Taurat-Nya di dalam hati umat-Nya.
Bagaimana cara menghafalkan Sepuluh Perintah Allah dengan mudah?
Cara paling menolong bukan menghafal daftar, melainkan memahami strukturnya. Ingat dulu kalimat pembukanya tentang pembebasan dari Mesir, lalu bagi menjadi dua bagian: empat perintah tentang Allah, yaitu tentang keberadaan-Nya, gambar-Nya, nama-Nya, dan hari-Nya; kemudian enam perintah tentang sesama, yaitu tentang keluarga, nyawa, pernikahan, harta, kebenaran, dan hati. Setelah polanya melekat, urutannya akan mudah diingat. Membacanya langsung dari Keluaran 20:1-17 beberapa kali dalam seminggu lebih efektif daripada menghafal ringkasan tanpa konteks.
Sebagai penutup
Kembalilah sejenak ke bingkai kayu berdebu itu. Selama bertahun-tahun saya membacanya dari baris ketiga, dan hasilnya adalah agama rasa takut. Ketika akhirnya saya membacanya dari baris pertama, semuanya berubah bentuk: sepuluh kalimat itu ternyata adalah cara Allah berkata kepada bekas budak, "Kamu sudah bebas, sekarang hiduplah seperti orang bebas."
Itulah sebabnya kesepuluh firman ini tidak pernah bisa dilepaskan dari Kristus. Dialah yang menggenapi seluruhnya, menanggung hukumannya, dan mengirimkan Roh Kudus untuk menuliskannya di dalam hati kita. Yang dituntut hukum, disediakan oleh Kristus.
Kalau Anda ingin melangkah lebih jauh, bacalah Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:6-21 berdampingan dan perhatikan perbedaannya. Lalu bacalah Matius 5 sampai 7, tempat Yesus membuka lapisan terdalam dari perintah-perintah ini, dan tutuplah dengan Roma 8, tempat Paulus menjelaskan bagaimana tuntutan hukum digenapi dalam hidup orang yang dipimpin Roh. Jangan membacanya sambil menghitung nilai Anda sendiri. Bacalah sambil bertanya di titik mana Anda masih hidup seperti orang Mesir, lalu bawalah titik itu kepada Dia yang sudah membawa Anda keluar.
