EFESUS 4
Teks
Paulus mengajak pembacanya hidup selaras dengan panggilan mereka: dengan kerendahan hati, kelembutan, kesabaran, saling menanggung beban, berjuang memelihara kesatuan Roh. Ia menghitung tujuh hal yang satu, mulai dari satu tubuh sampai satu Allah dan Bapa, lalu menjelaskan bahwa Kristus yang naik ke tempat tinggi memberikan karunia: rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar, supaya orang-orang kudus diperlengkapi dan tubuh dibangun sampai dewasa. Bagian kedua pasal ini menjadi sangat konkret: buanglah manusia lama, perbarui pikiran, jangan berdusta, jangan menyimpan kemarahan sampai matahari terbenam, jangan mencuri lagi, jangan mengeluarkan perkataan kotor, jangan mendukakan Roh Kudus, dan saling mengampuni seperti Allah mengampuni kita dalam Kristus.
Intinya
Perhatikan urutannya. Paulus tidak berkata: jadilah satu, supaya kamu menjadi tubuh. Ia berkata: hanya ada satu tubuh, karena itu peliharalah kesatuan. Kesatuan bukan hasil kerja kita, melainkan kenyataan yang sudah diberikan, yang harus kita jaga jangan sampai rusak. Kata yang dipakai Paulus untuk "berusahalah sekuat tenaga" (Yunani: spoudazō) mengandung nada keringat, ketergesaan, kerja keras. Jadi kesatuan itu anugerah, dan justru karena itu ia menuntut usaha. Di sini teologi bertemu dengan hal-hal yang sangat tidak rohani kedengarannya: menahan lidah, menyelesaikan konflik sebelum malam, bekerja supaya bisa memberi. Kekudusan dalam pasal ini hampir seluruhnya berbentuk sosial. Tidak ada satu pun perintah yang bisa dijalankan sendirian di kamar.
Benang Merah
Ayat 8 mengutip Mazmur 68 dengan cara yang mengejutkan: "Ketika Ia naik ke tempat tinggi, Ia menangkap orang-orang yang ditawan, dan memberikan karunia kepada manusia." Mazmur itu menyanyikan Allah yang naik ke Sion setelah menang, membawa jarahan. Paulus mendengar di dalamnya Kristus: yang turun lebih dahulu, sampai ke bagian bawah bumi, sebelum naik lebih tinggi dari semua langit. Turun dan naik. Pola itu adalah keseluruhan kisah keselamatan dalam dua gerakan. Dan hasil dari kemenangan-Nya bukan monumen, bukan takhta yang jauh, melainkan orang-orang: rasul, gembala, pengajar, diberikan kepada jemaat sebagai jarahan perang. Kalau begitu, orang yang mengajar anak-anak sekolah minggu di gerejamu adalah bagian dari kemenangan Kristus atas kematian. Renungkan itu sebentar sebelum melanjutkan.
Cermin
"Jangan biarkan matahari terbenam dalam kemarahanmu." Ada kalimat yang tidak butuh eksposisi, hanya butuh kejujuran. Siapa yang sedang kaupikirkan sekarang? Pasangan yang kaudiami sejak kemarin, rekan kerja yang kausindir di grup WhatsApp, anggota keluarga yang namanya membuat perutmu mengencang. Paulus tidak melarang marah; ia melarang kemarahan bermalam, karena kemarahan yang tidur akan bangun sebagai kepahitan, dan kepahitan tumbuh menjadi fitnah. Yang mengganggu adalah betapa hemat Paulus memberi ruang untuk pembenaran diri. Tidak ada pengecualian untuk marah yang beralasan. Dan ayat 28 mengubah bahkan pekerjaan kita: bukan sekadar berhenti mencuri, tetapi bekerja supaya punya sesuatu untuk dibagikan. Uang di rekeningmu punya arah yang bukan dirimu sendiri.
Tokoh Utama
Yang paling menonjol dalam pasal ini bukan Paulus, melainkan Roh Kudus yang bisa berduka. "Jangan mendukakan Roh Kudus Allah." Bukan: jangan membuat-Nya murka, jangan membuat-Nya menghukum. Berduka. Itu kata untuk kasih yang tersakiti, bukan untuk kekuasaan yang tersinggung. Dan lihat konteksnya: kalimat itu berdiri persis di antara larangan perkataan kotor dan daftar kepahitan serta pertikaian. Artinya, hal yang mendukakan Allah bukan terutama dosa-dosa besar yang dramatis, tetapi cara kita berbicara satu sama lain. Allah yang dalam pasal ini digambarkan "di atas semuanya, melalui semuanya, dan dalam semuanya" ternyata cukup dekat untuk terluka oleh gosip di gereja. Kebesaran dan kelembutan-Nya tidak saling meniadakan. Kita hanya belum tahu bagaimana memikirkan keduanya sekaligus.
Profil Pendengar
Yang mendengar surat ini dibacakan adalah kumpulan orang yang secara sosial tidak seharusnya duduk bersama: orang Yahudi dan orang Yunani, tuan dan hamba, pengrajin dan pedagang. Bagi mereka, "satu tubuh" bukan puisi rohani, melainkan masalah praktis di ruang makan bersama. Sebagian dari mereka dulu memang mencuri, itulah sebabnya ayat 28 ditulis begitu terus terang, tanpa nada mengecam. Mereka tinggal di kota-kota Asia Kecil di mana kuil-kuil menawarkan identitas, jaringan usaha, dan kehormatan; meninggalkan semua itu berarti kehilangan tempat berpijak. Ketika mereka mendengar "satu Tuhan, satu iman, dan satu baptisan," mereka mendengar bahwa apa yang telah mereka tinggalkan diganti dengan sesuatu yang lebih kokoh, meski jauh lebih rapuh secara sosial.
Konteks
Pasal 4 adalah titik balik surat Efesus. Tiga pasal pertama hampir seluruhnya berupa deklarasi tentang apa yang Allah telah lakukan; dari ayat 1 pasal ini, kata "oleh karena itu" membalikkan arah ke tanggapan manusia. Paulus menulis dari penjara, kemungkinan besar di Roma, sekitar awal tahun enam puluhan, kepada jemaat-jemaat muda yang tersebar di wilayah Efesus. Mereka tidak punya gedung, tidak punya status hukum, tidak punya Perjanjian Baru. Yang mereka punya adalah surat yang dibacakan keras-keras dan para pengajar yang disebut dalam ayat 11. Menariknya, Paulus tidak menyusun struktur jabatan; ia menyebut pemberian-pemberian yang tujuannya satu, yaitu memperlengkapi semua orang kudus. Kepemimpinan di sini bukan puncak piramida, melainkan alat pertumbuhan.
Refleksi
Kesatuan yang harus "dipelihara sekuat tenaga": di mana dalam hidupmu minggu ini engkau justru memilih membiarkannya rusak karena memperbaikinya terlalu mahal?
Jika Roh Kudus bisa berduka, bagian mana dari cara bicaramu yang paling membuat-Nya berduka, dan mengapa engkau masih membelanya?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Ephesians 4
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti EFESUS 4?
Tentang apakah EFESUS 4?
Apa konteks historis dari EFESUS 4?
Apa yang EFESUS 4 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana EFESUS 4 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Ephesians 4
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, terima kasih karena Engkau tidak melewatkan aku. Setiap orang Kaupercayakan bagian sesuai ukuran pemberian Kristus, dan aku pun punya bagian itu. Ampuni aku kalau sering membandingkan diri. Ajar aku memakai apa yang Kauberi dengan setia.
Bapa, pikiranku sering lelah oleh pola lama yang sulit kulepaskan. Perbarui aku dari dalam, di tempat yang tidak terlihat orang lain. Ajar aku berpikir dengan cara-Mu, sedikit demi sedikit, sampai hidupku ikut berubah.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menuntut aku menjadi manusia tanpa amarah, melainkan mengajar aku: "Ketika kamu marah, jangan berbuat dosa." Terima kasih untuk batas kasih itu, agar matahari tidak terbenam sementara hatiku masih menyimpan marah.
Bapa, aku sering memilih kata yang aman daripada kata yang jujur. Tolong aku melepaskan kepura-puraan itu, dan berani berkata benar dengan lembut kepada orang-orang di sekitarku. Ingatkan aku bahwa kami saling terhubung, dan setiap dusta kecil melukai kami bersama.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
