KEJADIAN 6:2
Teks
Manusia bertambah banyak, dan di tengah pertumbuhan itu lahirlah anak-anak perempuan. Lalu muncul tokoh-tokoh yang disebut "anak-anak Allah": mereka memandang anak-anak perempuan manusia itu, menilai mereka cantik, dan mengambil istri-istri yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri. Tidak ada dialog, tidak ada lamaran, tidak ada keluarga yang ditanyai; hanya melihat, menginginkan, mengambil. Satu ayat, tiga kata kerja, dan sebuah dunia yang mulai retak dari dalam. Siapa persisnya "anak-anak Allah" itu, teks ini menolak menjelaskan, dan justru penolakan itu membuat kita terpaksa memperhatikan apa yang memang dijelaskan: pola tindakan yang akan berujung pada air bah beberapa ayat kemudian.
Inti
Perhatikan urutannya, sebab di situlah ayat ini menyakitkan. Melihat, menilai indah, mengambil. Itu persis urutan yang sama seperti di taman Eden, ketika perempuan itu melihat buah itu baik lalu mengambilnya. Dosa dalam Kejadian jarang tampil sebagai kebencian; ia hampir selalu tampil sebagai keinginan yang tidak mengenal batas. "Untuk diri mereka sendiri", kata teks ini, dan itulah kunci teologisnya: sebuah dunia di mana yang kuat menentukan siapa yang menjadi milik siapa. Perempuan-perempuan itu tidak berbicara sepatah kata pun. Mereka objek, bukan pribadi. Karena itu tidak mengherankan bahwa lima ayat kemudian bumi disebut "dipenuhi dengan kekerasan". Kekerasan tidak dimulai dengan pedang, melainkan dengan pandangan yang menganggap orang lain tersedia untuk diambil. Dan Allah, yang melihat semuanya, berduka.
Benang Merah
Ada satu gerakan yang mengalir dari ayat ini sampai ke Golgota, dan gerakannya berlawanan arah. Di sini "anak-anak Allah" mengambil untuk diri mereka sendiri apa yang mereka lihat dan sukai. Perkawinan menjadi perampasan; kekuatan menjadi izin. Berabad-abad kemudian rasul Paulus melukiskan Anak Allah yang sejati justru sebagai Pribadi yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan atau direbut, melainkan mengosongkan diri-Nya sampai mati di kayu salib (Filipi 2). Itu bukan alegori yang dipaksakan; itu kontras yang memang ditanam Kejadian sejak awal. Anak-anak Allah dalam pasal ini memperoleh mempelai dengan tangan yang mengambil. Kristus memperoleh mempelai-Nya dengan tubuh yang diserahkan. Dan sudah pada ayat 8 Kejadian memberi arah: Nuh "mendapat perkenanan di mata TUHAN". Bukan Nuh yang mengambil; Allah yang memberi. Sejarah keselamatan bergerak persis di sana, di antara mengambil dan menerima.
Cermin
Ayat ini menelanjangi sesuatu yang jarang kita akui: bahwa kita mahir memandang orang sebagai persediaan. Bukan hanya dalam bentuk yang paling kasar, di layar ponsel pada jam sebelas malam, meski itu juga. Tetapi juga di kantor, ketika seorang rekan berubah menjadi "sumber daya" yang berguna sampai ia tidak lagi berguna. Di rumah, ketika pasangan dinilai dari seberapa lancar ia membuat hidupmu berjalan. Dalam pelayanan, ketika orang menjadi angka kehadiran. Pola "melihat, menilai, mengambil" tidak butuh kejahatan besar; ia hanya butuh kekuasaan sedikit lebih banyak daripada orang di depanmu, dan hati yang berkata: aku berhak. Yang mengerikan bukanlah bahwa kita monster, melainkan bahwa kita sopan sambil melakukannya. Buka daftar kontakmu hari ini, pilih satu nama yang biasanya hanya kamu hubungi ketika kamu membutuhkan sesuatu, dan kirimkan pesan yang sama sekali tidak berisi permintaan.
Antarteks
Gema paling jelas ada di Kejadian 3: perempuan itu melihat bahwa buah itu baik, lalu mengambil dan memakannya. Penulis Kejadian sengaja mengulang kosakata itu supaya kita mengerti bahwa air bah bukan bencana yang datang tiba-tiba, melainkan buah matang dari benih yang sama. Kejatuhan menyebar dari satu pasangan ke seluruh bumi. Kontras yang paling tajam datang dari mulut Yesus sendiri, ketika Ia berbicara tentang hari-hari Nuh: orang makan, minum, kawin dan mengawinkan, sampai air bah datang dan melenyapkan semuanya (Matius 24). Yesus tidak mencela pernikahan. Ia mencela hidup yang begitu sibuk mengambil sehingga tidak lagi mendengar. Kejadian 6:2 adalah potret manusia yang kenyang oleh keinginannya sendiri dan karena itu tuli terhadap Allah yang sedang berduka.
Konteks
Kita berada di bagian Kejadian yang menceritakan asal usul dunia, sebelum Abraham, dalam gaya yang padat dan sengaja hemat kata. Dunia di sekitar Israel penuh cerita tentang raja-raja yang mengaku berdarah dewa. Keturunan ilahi adalah kartu kekuasaan: ia membenarkan istana, harem, dan hak untuk mengambil perempuan mana pun yang menarik perhatian penguasa. Ayat 4 menyambung dengan menyebut "raksasa-raksasa" dan "orang-orang yang perkasa sejak dahulu kala, orang-orang yang terkenal". Itu bahasa legenda pahlawan, dan Kejadian memakainya dengan nada dingin. Nama besar, tubuh besar, kuasa besar, dan hasilnya adalah bumi yang "dipenuhi dengan kekerasan". Dalam masyarakat kuno, perempuan tanpa pelindung laki-laki praktis tanpa suara. Teks ini merekam kebisuan itu tanpa membela pelakunya.
Profil
Pendengar pertama adalah umat yang tahu rasanya hidup di bawah penguasa yang berhak atas segalanya. Mereka pernah menjadi budak; mereka mengenal raja-raja yang tidak pernah ditolak. Ketika mereka mendengar tentang anak-anak Allah yang mengambil istri-istri "yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri", telinga mereka menangkap sesuatu yang sering luput dari kita: ini kritik terhadap kekuasaan ilahi palsu. Cerita-cerita bangsa lain memuja para pahlawan setengah dewa. Kejadian menyebut mereka sebagai penyebab kehancuran. Bagi Israel, yang diikat oleh perjanjian dengan Allah yang justru membatasi diri demi umat-Nya, ini pembalikan total. Allah mereka bukan yang mengambil, melainkan yang menebus. Dan Dia bukan Allah yang acuh: hati-Nya berduka melihat apa yang manusia lakukan terhadap sesamanya.
Refleksi
Di bagian hidupmu yang mana kamu memiliki kuasa lebih besar daripada orang di sekitarmu, dan bagaimana kamu memakainya minggu ini?
Apa bedanya bagi caramu mengasihi orang lain, jika kamu sungguh percaya bahwa Kristus tidak mengambil melainkan menyerahkan diri untuk memperoleh kamu?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Genesis 6:2
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti KEJADIAN 6:2?
Tentang apakah KEJADIAN 6:2?
Apa konteks historis dari KEJADIAN 6:2?
Apa yang KEJADIAN 6:2 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana KEJADIAN 6:2 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Genesis 6
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Bapa, di tengah dunia yang terasa retak, Engkau tetap mengikat janji dengan manusia. Terima kasih Engkau menyediakan tempat aman bagi kami dan orang orang yang kami kasihi. Ajar kami percaya pada janji-Mu, bahkan ketika badai belum reda.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi