MATIUS 26
Teks
Pasal ini seperti terowongan gelap yang panjang: Yesus mengumumkan penyaliban-Nya, diurapi oleh seorang perempuan di Betania, dikhianati oleh Yudas dengan tiga puluh keping perak, mengadakan Perjamuan Malam, bergumul di Getsemani, ditangkap, dan diadili di depan Kayafas. Sementara itu, di halaman luar, Petrus menyangkal-Nya tiga kali dan menangis pahit. Dalam satu malam, semua lingkaran yang paling dekat dengan Yesus runtuh, dan Ia berjalan sendirian menuju salib.
Inti
Yang mengejutkan dari pasal ini bukan pengkhianatan Yudas, melainkan ketenangan Yesus. Ia tahu semuanya sebelum terjadi: "dua hari lagi Paskah tiba, dan Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan." Ia bukan korban keadaan, Ia adalah subjek yang memilih. Justru di situ letak beratnya: Ia dapat memanggil dua belas pasukan malaikat, tetapi tidak melakukannya. Kematian-Nya bukan tragedi yang kebetulan menjadi keselamatan, melainkan ketaatan yang menetes menjadi darah di Getsemani. "Bukan seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti kehendak-Mu." Di situ, di taman itu, seluruh sejarah manusia diputarbalikkan: seorang manusia yang akhirnya benar-benar berkata "ya" kepada Bapa.
Benang Merah
Perhatikan bagaimana Paskah membingkai seluruh pasal ini. Yesus tidak hanya merayakan Paskah, Ia menjadi Paskah. Roti yang dipecahkan adalah tubuh-Nya, cawan adalah "darah perjanjian, yang ditumpahkan untuk banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa." Kata "perjanjian" itu bukan hiasan. Itu menggemakan Keluaran 24, ketika Musa memercikkan darah lembu ke atas umat dan berkata: inilah darah perjanjian. Sekarang darah itu bukan darah hewan, melainkan darah Anak Manusia sendiri. Dan taman Getsemani? Sebuah taman lain, jauh sebelumnya, adalah tempat manusia pertama berkata "tidak" kepada kehendak Allah. Di taman kedua, Manusia kedua berkata "ya", sambil berpeluh dan gemetar.
Cermin
Yang paling menusuk dalam pasal ini adalah kata Petrus: "Sekalipun aku harus mati bersama-Mu, aku tidak akan menyangkal-Mu!" Kita mengenali diri kita di sana. Kita mengucapkan sumpah-sumpah besar di hari Minggu, dan gagal pada hari Senin oleh pertanyaan seorang pelayan perempuan. Bukan penganiayaan besar yang meruntuhkan Petrus, melainkan percakapan santai di dekat api unggun. Iman kita jarang runtuh karena palu godam; ia runtuh karena erosi kecil, karena kita tidak ingin canggung di kantor, di meja makan keluarga, di grup WhatsApp. Dan murid-murid yang tidur di Getsemani? Mereka juga kita. Kita ingin setia, tetapi mata kita berat. "Roh memang penurut tetapi daging lemah" bukan alasan, itu diagnosis.
Tokoh Utama
Yesus dalam pasal ini bergerak melalui dua mode yang tampak bertentangan. Di depan Kayafas, Ia diam, lalu berbicara dengan otoritas kerajaan: "kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa." Tetapi di Getsemani, Ia "berduka dan bersusah hati", sujud dengan wajah menyentuh tanah. Ini bukan dua Yesus, ini satu Yesus yang penuh. Ia tidak berpura-pura tenang; Ia benar-benar takut, dan tetap taat. Ketaatan-Nya bukan kekebalan emosional, melainkan kesetiaan yang menembus rasa takut. Dan lihat kelembutan-Nya: kepada Yudas Ia berkata "Teman." Bukan pengkhianat, bukan setan, tetapi teman. Sampai detik terakhir, pintu belum ditutup.
Pertanyaan
Ada satu kalimat yang sulit dilewati: "Akan lebih baik bagi orang itu jika ia tidak pernah dilahirkan." Diucapkan tentang Yudas, di meja yang sama di mana Yudas baru saja dicelupkan tangannya ke dalam mangkuk yang sama. Bagaimana kita memegang ini bersama kalimat "Teman, lakukanlah maksud kedatanganmu"? Apakah Yudas dijerat oleh nasib, atau ia benar-benar memilih? Teks tidak memberi kita jawaban yang rapi. Yesus berkata "seperti yang tertulis tentang Dia", tetapi juga "celakalah orang itu." Kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia berdiri berdampingan tanpa saling melarutkan. Kita ingin memilih satu sisi karena lebih nyaman. Injil menolak kenyamanan itu.
Intertekstualitas
Pasal ini dipenuhi kutipan yang tidak diucapkan keras-keras. Tiga puluh keping perak: itu harga seorang budak dalam Keluaran 21:32, dan juga upah gembala yang ditolak dalam Zakharia 11:12. Matius ingin kita mendengar: sang Gembala sejati dihargai seperti budak. Lalu Yesus sendiri mengutip Zakharia 13:7 tentang gembala yang dipukul dan domba yang tercerai-berai. Zakharia jarang muncul di kepala kita, tetapi Yesus jelas hidup di dalamnya. Dan di depan Kayafas, kata-kata "Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa, dan datang di atas awan-awan" menggabungkan Mazmur 110 dengan Daniel 7. Di titik terlemah-Nya, ketika Ia dituduh menghujat, Yesus mengklaim identitas paling tinggi yang dapat dibayangkan seorang Yahudi. Kayafas mengerti persis apa yang didengarnya, dan itulah sebabnya ia merobek pakaiannya. Ironi Injil: klaim keilahian Yesus paling terang justru ketika Ia paling terhina.
Refleksi
Di mana dalam hidupmu engkau, seperti Petrus, berjanji besar tetapi rontok pada pertanyaan-pertanyaan kecil dari orang biasa? Apa yang harus berubah supaya iman itu tidak hanya di meja perjamuan, tetapi juga di dekat api unggun asing?
Getsemani menunjukkan bahwa ketaatan sejati tidak berarti tidak takut. Kehendak Bapa apa yang sedang engkau hindari, dan seperti apa doamu berubah jika engkau berani berkata: "bukan seperti yang aku kehendaki"?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang Matthew 26
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti MATIUS 26?
Tentang apakah MATIUS 26?
Apa konteks historis dari MATIUS 26?
Apa yang MATIUS 26 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana MATIUS 26 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang Matthew 26
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Dan, ketika mereka sedang makan, Yesus berkata, 'Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu bahwa salah satu dari kamu akan menyerahkan Aku.'" Perhatikan: Yesus tidak menyebut nama. Ia memberi ruang untuk bertobat, bahkan bagi orang yang sedang mencelupkan tangan ke mangkuk yang sama dengan-Nya. Kalau kalimat itu diucapkan di mejamu malam ini, apakah kau berani bertanya, "Tuhan, akukah itu?
Petrus baru saja bersumpah setia sampai mati. Beberapa jam kemudian, ketika seorang pelayan perempuan menunjuknya, ia berkata, "Aku tidak tahu apa yang kaukatakan." Bukan tentara Romawi yang membuatnya jatuh, hanya sebuah pertanyaan kecil di halaman. Kadang iman kita tidak runtuh oleh badai besar, tapi oleh suara yang paling tidak kita duga.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena meski para murid tertidur saat Engkau berdoa di Getsemani, Engkau tetap setia berjaga dan bergumul sendirian demi keselamatanku. Ketika aku pun sering lemah dan lalai berjaga, kasih-Mu tidak pernah mundur menopang aku.
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi
