YOHANES 19:40
The Text
Setelah semua teriakan berhenti dan tubuh itu diturunkan dari kayu, dua orang laki-laki melakukan pekerjaan yang paling biasa di dunia: mereka mengurus jenazah. Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus mengambil tubuh Yesus, membungkusnya dengan kain linen bersama rempah-rempah yang dibawa Nikodemus dalam jumlah luar biasa banyak, "sesuai adat penguburan orang Yahudi." Tidak ada mukjizat di sini, tidak ada suara dari surga, hanya tangan yang bekerja cepat karena matahari hampir terbenam dan hari Sabat mendekat. Yohanes menulisnya dengan tenang, hampir seperti catatan administratif, dan justru ketenangan itulah yang membuat ayat ini berat: Anak Allah diperlakukan persis seperti setiap orang Yahudi yang mati, dengan kain, dengan rempah, dengan adat.
Inti
Ayat ini adalah pernyataan paling sunyi tentang kematian yang sungguh-sungguh terjadi. Tubuh yang dibungkus adalah tubuh yang benar-benar mati, bukan penampakan, bukan roh yang melayang lepas dari daging. Injil yang membuka dengan Firman yang menjadi manusia menutup lingkarannya di sini: daging itu kini didandani untuk kubur. Dan perhatikan siapa yang melakukannya. Yusuf, murid yang sembunyi-sembunyi, dan Nikodemus, yang dahulu datang pada malam hari, muncul terang-terangan justru ketika tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Yesus. Salib menarik keluar orang-orang yang selama ini bersembunyi. Nubuat tentang Hamba yang menderita dalam Yesaya 53 menyebut bahwa kuburnya ada di antara orang-orang kaya; di sini rempah seharga penguburan raja digenapi oleh dua tokoh terpandang yang terlambat berani, namun tidak terlalu terlambat.
Benang Merah
Rempah-rempah itu bukan muncul pertama kali di sini. Beberapa hari sebelumnya, di Betania, Maria menuangkan minyak narwastu ke kaki Yesus dan Dia membela perempuan itu dengan mengatakan bahwa minyak itu disimpan untuk hari penguburan-Nya. Apa yang waktu itu terdengar seperti kiasan yang suram, sekarang menjadi tindakan harfiah: kain, rempah, tangan yang membungkus. Yohanes juga tidak asal menyebut bahwa di dekat tempat penyaliban "terdapat sebuah taman". Cerita besar Alkitab dimulai di sebuah taman tempat manusia mendengar bahwa ia akan kembali menjadi debu, dan di taman inilah debu itu dibungkus untuk terakhir kalinya. Penguburan bukan jeda kosong antara Jumat dan Minggu. Ini adalah titik terdalam dari inkarnasi: Firman yang menjadi daging menempuh seluruh jalan manusia sampai ke kain kafan, supaya tidak ada satu meter pun dari jalan kita yang belum Ia lewati.
Cermin
Ada pekerjaan kasih yang tidak menghasilkan apa-apa. Mengganti popok orang tua yang sudah tidak mengenali Anda. Duduk di samping ranjang rumah sakit sambil memeriksa ponsel karena tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Mengurus administrasi kematian saudara yang selama hidupnya menyakiti Anda. Kita cenderung menilai kasih dari hasilnya, dan karena itu kita menyimpan energi untuk hubungan yang masih punya masa depan. Yusuf dan Nikodemus membungkus tubuh yang tidak bisa berterima kasih, tidak bisa membela mereka di hadapan Sanhedrin, tidak bisa membalas lima puluh kati rempah itu dengan apa pun. Justru di situ kasih mereka menjadi jujur. Dan bagi Anda yang merasa terlambat, terlalu lama bersembunyi, terlalu lama diam: keberanian yang datang terlambat tetap keberanian. Hari ini, kirimkan satu pesan kepada seseorang yang sedang berkabung, dan sebutkan nama orang yang ia kehilangan itu di dalam pesan Anda.
Tokoh Utama
Nikodemus adalah orang yang paling lama berjalan dalam ayat ini. Yohanes tidak membiarkan kita lupa: "orang yang dahulu menemui Yesus pada malam hari". Ia datang dalam gelap, bertanya tentang kelahiran baru, dan pulang dengan kebingungan. Sekarang ia berdiri di bawah matahari sore Golgota, di depan prajurit Romawi dan mata rekan-rekannya sendiri di Sanhedrin, memegang jenazah seorang terhukum. Lima puluh kati rempah adalah jumlah yang tidak masuk akal, ukuran penguburan seorang raja. Itu bukan perhitungan; itu kesedihan yang tidak tahu harus ditaruh di mana. Orang yang dulu berdebat tentang teori kini bekerja dengan tangannya. Iman Nikodemus tidak pernah digambarkan dengan pengakuan verbal yang bagus. Ia digambarkan dengan beban di punggungnya dan bau mur yang menempel di jubahnya.
Profil
Pembaca pertama Yohanes tahu sesuatu yang mudah luput dari kita: orang yang disalib Roma biasanya tidak dikuburkan. Itulah puncak hukumannya. Tubuh dibiarkan di kayu sampai membusuk, dimakan burung, lalu dibuang ke lubang bersama. Menolak kubur berarti menolak nama, menolak ingatan, menolak martabat. Maka permintaan Yusuf kepada Pilatus adalah tindakan berisiko yang menggagalkan seluruh maksud eksekusi itu. Bagi telinga Yahudi, mengurus jenazah adalah kasih yang paling murni, karena penerimanya tidak mungkin membalas. Dan bagi pembaca Yunani yang mulai berbisik bahwa Yesus hanya tampak mati, hanya roh ilahi yang tidak sungguh menderita, kalimat kering Yohanes tentang kain dan rempah adalah pukulan telak. Tubuh yang dibungkus adalah tubuh yang benar-benar berhenti bernapas.
Detail
Kata yang dipakai Yohanes untuk kain itu, othonion, berarti potongan atau lembaran kain linen, bukan satu kafan besar yang menutup seluruh tubuh. Rincian kecil ini menjadi penting dua pasal kemudian. Ketika Lazarus keluar dari kubur, ia masih terikat kain dan harus dilepaskan orang lain; ia kembali ke hidup yang sama dan akan mati lagi. Tetapi ketika Petrus dan Yohanes masuk ke kubur pada hari ketiga, kain-kain itu tergeletak, kosong, ditinggalkan. Yesus tidak perlu dilepaskan siapa pun. Dua orang membungkus dengan susah payah menjelang Sabat; Minggu pagi bungkusan itu tinggal cangkang. Jadi ayat yang terdengar paling final dalam Injil ini, tangan yang menutup segalanya dengan rapi sesuai adat, diam-diam sudah menyiapkan barang bukti kebangkitan.
Refleksi
Kasih macam apa yang Anda simpan untuk orang-orang yang masih bisa membalasnya, dan siapa yang karena itu tidak pernah Anda datangi?
Nikodemus butuh bertahun-tahun untuk keluar dari gelap. Apa yang selama ini Anda tunda karena menunggu saat yang lebih aman, dan apa yang membuat saat itu tidak pernah datang?
Pertanyaan yang sering diajukan tentang John 19:40
Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.
Apa arti YOHANES 19:40?
Tentang apakah YOHANES 19:40?
Apa konteks historis dari YOHANES 19:40?
Apa yang YOHANES 19:40 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Bagaimana YOHANES 19:40 masih relevan hari ini?
Yang dibagikan komunitas tentang John 19
Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.
Tuhan, di hadapan orang yang merasa memegang hidup dan mati-Nya, Yesus memilih diam. Aku sering panik saat orang lain seolah menentukan nasibku. Ajari aku percaya bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari tangan-Mu, dan tenang di dalamnya.
Para imam kepala tidak meminta Yesus diturunkan. Mereka hanya minta satu kata diubah: "Jangan menulis, 'Raja orang Yahudi', tetapi bahwa Orang itu mengatakan, 'Aku adalah Raja orang Yahudi.'" Ubah fakta jadi klaim, maka salib itu terasa lebih nyaman. Kadang aku juga begitu. Aku tidak menyangkal Dia Raja, aku cuma menggeser sedikit kalimatnya supaya tidak perlu tunduk.
Terima kasih, Tuhan Yesus, karena tuduhan itu ternyata benar: Engkau memang Anak Allah. Engkau tidak menyangkal jati diri-Mu meski itu berarti hukuman mati. Aku bersyukur Engkau rela dianggap bersalah karena kebenaran, supaya aku yang bersalah dinyatakan benar.
Kemudian, Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan." Pilatus tahu Yesus tidak bersalah, tapi ia memilih aman. Ia tidak menghukum, ia hanya menyerahkan, seolah tangannya tetap bersih. Ada kalanya kita pun begitu: tidak menolak Yesus terang-terangan, hanya menyerahkan Dia pada suara terbanyak. Hari ini, di mana kamu diam supaya tetap aman?
Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda
Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.
Buka di alat studi