Penjelasan Alkitab

KIDUNG AGUNG 1:1

Alkitab

Teks

Satu baris saja, dan sudah selesai: "Nyanyian di atas segala nyanyian dari Salomo." Tidak ada pendahuluan, tidak ada penjelasan, tidak ada permohonan maaf. Hanya sebuah judul yang berani menyebut dirinya sendiri puncak dari segala nyanyian, lalu langsung melompat ke mulut seorang perempuan yang berkata, "Biarlah dia menciumku dengan kecupan mulutnya!" Antara ayat 1 dan ayat 2 ada jurang yang tidak dijembatani siapa pun. Pembaca dijatuhkan begitu saja ke tengah percakapan yang sudah berlangsung, tanpa tahu siapa "dia" itu, tanpa tahu di mana kita berdiri. Judul ini bukan ringkasan isi. Judul ini sebuah pintu, dan pintu itu dibuka tanpa memberi tahu kita apa yang menunggu di baliknya.

Inti

Dalam bahasa Ibrani, susunan shir hashirim, "nyanyian dari segala nyanyian," adalah bentuk superlatif yang sama persis dengan cara Kitab Suci menyebut ruang terdalam Bait Allah: yang mahakudus, kudus dari segala yang kudus. Pola katanya identik. Dan itu membuat kita berhenti. Kitab yang berisi pipi, leher, mur, kebun anggur, tempat tidur yang hijau, diberi nama dengan tata bahasa yang biasanya dipakai untuk ruang di mana manusia tidak boleh masuk sembarangan. Entah ini kelancangan, entah ini wahyu. Alkitab tampaknya menganggapnya wahyu. Ada sesuatu tentang Allah yang tidak dapat dikatakan lewat hukum, lewat sejarah, lewat nubuat, dan karena itu harus dinyanyikan, dan dinyanyikan justru dengan bahasa tubuh dan kerinduan. Mengapa? Kitab ini tidak menjawab. Ia hanya mulai bernyanyi.

Benang Merah

Judul ini menyebut Salomo, dan dengan itu menempatkan nyanyian cinta di tengah sejarah perjanjian. Raja, Bait Allah, Yerusalem: semuanya hadir hanya sebagai nama, tetapi nama-nama itu membawa beban. Sebab sepanjang Perjanjian Lama, hubungan Allah dengan umat-Nya terus-menerus dilukiskan sebagai pernikahan, dan Hosea adalah yang paling berani di sana: nabi yang diperintahkan mengawini perempuan yang tidak setia, supaya umat melihat seperti apa rasanya dikhianati oleh yang kaukasihi. Kidung Agung berdiri di sisi lain dari luka itu. Bukan pengkhianatan, melainkan kerinduan yang terbalas. Bukan tangisan suami yang dilupakan, melainkan suara perempuan yang mencari dan menemukan. Jika Hosea memperlihatkan betapa dalamnya kasih Allah dapat dilukai, kitab ini memperlihatkan betapa dalamnya kasih itu dimaksudkan untuk dinikmati. Dan di ujung seluruh Kitab Suci, kasih itu berujung pada perjamuan kawin Anak Domba.

Cermin

Kita cenderung memperlakukan kerinduan sebagai masalah yang harus dikelola. Tubuh yang menua dan tidak lagi kita sukai di cermin kamar mandi. Pernikahan yang sudah lama berfungsi tanpa lagi bernyanyi, dua orang yang saling mengurus jadwal anak dan cicilan rumah tetapi tidak pernah lagi mengatakan apa pun yang memalukan karena terlalu jujur. Kesendirian yang kita tutup dengan kesibukan karena mengaku rindu terasa lebih memalukan daripada mengaku lelah. Lalu datang satu baris ini, dan Allah menamai nyanyian tentang kerinduan tubuh sebagai yang teragung dari segala nyanyian. Bukan ditoleransi, bukan diselipkan diam-diam, melainkan dimahkotai. Mungkin yang perlu bertobat bukan kerinduan Anda, melainkan rasa malu Anda atasnya. Malam ini, bacalah seluruh Kidung Agung pasal 1 dengan suara keras, sendirian, tanpa menerjemahkannya lebih dulu menjadi sesuatu yang rohani. Nyanyian memang untuk disuarakan.

Intertekstualitas

Mazmur 45 adalah nyanyian pernikahan untuk raja, dan Ibrani mengutipnya sebagai perkataan tentang Kristus. Itu menunjukkan bahwa Israel tidak pernah merasa perlu memilih antara syair cinta manusiawi dan penyembahan; satu teks bisa menampung keduanya tanpa yang satu memalsukan yang lain. Di ujung Alkitab, Wahyu menutup segalanya dengan undangan dari mempelai perempuan dan Roh kepada yang haus. Perhatikan bahwa kalimat terakhir Kitab Suci bukan perintah, melainkan kerinduan yang disuarakan. Kidung Agung membuka dengan suara perempuan yang meminta dicium; Alkitab menutup dengan suara mempelai yang meminta Dia datang. Dua suara itu bergema satu sama lain, dan di antaranya terbentang seluruh sejarah keselamatan, sebuah kisah yang ternyata diapit oleh kerinduan, bukan oleh hukum.

Pertanyaan

Mengapa Allah sama sekali tidak disebut dalam kitab ini? Tidak sekali pun secara jelas, dari awal sampai akhir. Kitab yang diberi nama paling kudus dalam tata bahasa Ibrani, dan Pemilik kekudusan itu memilih diam. Kita boleh menjawab bahwa Ia hadir secara tersembunyi, dan mungkin itu benar. Tetapi jawaban itu terlalu cepat menutup sesuatu yang sengaja dibiarkan terbuka. Mungkin ada hal-hal yang hanya bisa dikatakan Allah bila Ia tidak menyebut nama-Nya sendiri, seperti seorang ayah yang paling jelas terbaca dalam cara anaknya mencintai. Atau mungkin Ia sedang mengajarkan bahwa kasih antara dua manusia tidak perlu dibenarkan dengan menempelkan nama-Nya di atasnya. Saya tidak tahu. Kitab ini tidak memberi tahu, dan saya menolak mengarang jembatan di atas jurang yang dibiarkan menganga.

Tokoh Utama

Salomo. Namanya muncul di baris pertama, dan ironinya nyaris tak tertahankan: raja dengan ratusan istri, laki-laki yang hatinya akhirnya terpecah justru oleh perempuan-perempuan itu, dipakai namanya untuk menaungi nyanyian tentang satu orang yang mencari satu orang. Ia tahu segalanya tentang kemegahan dan hampir tidak ada apa pun tentang kesetiaan. Mungkin justru itu sebabnya nyanyian ini begitu tajam: ia datang dari seseorang yang memiliki segala yang bisa dibeli dan menulis tentang satu-satunya hal yang tidak bisa. Dan di belakangnya berdiri Anak Daud yang lebih besar, yang tidak mengumpulkan mempelai melainkan memberikan diri bagi satu mempelai, dan yang tidak kehilangan hati-Nya di tengah jalan. Salomo memberi judul. Kristus memberi isi.

Refleksi

Kapan terakhir kali Anda menyuarakan kerinduan, kepada Allah atau kepada manusia, tanpa lebih dulu memperhalusnya supaya terdengar pantas?

Jika Allah sengaja tidak menyebut nama-Nya dalam kitab ini, apa yang ingin Ia ajarkan kepada Anda tentang di mana saja Ia hadir tanpa diumumkan?

Bagikan penjelasan ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter

Pertanyaan yang sering diajukan tentang Song of Solomon 1:1

Jawaban singkat untuk pertanyaan paling umum tentang bagian Alkitab ini.

Apa arti KIDUNG AGUNG 1:1?
Satu baris saja, dan sudah selesai: "Nyanyian di atas segala nyanyian dari Salomo." Tidak ada pendahuluan, tidak ada penjelasan, tidak ada permohonan maaf. Hanya sebuah judul yang berani menyebut dirinya sendiri puncak dari segala nyanyian, lalu langsung melompat ke mulut seorang perempuan yang berkata, "Biarlah dia menciumku dengan kecupan mulutnya!
Tentang apakah KIDUNG AGUNG 1:1?
Dalam bahasa Ibrani, susunan shir hashirim, "nyanyian dari segala nyanyian," adalah bentuk superlatif yang sama persis dengan cara Kitab Suci menyebut ruang terdalam Bait Allah: yang mahakudus, kudus dari segala yang kudus. Pola katanya identik. Dan itu membuat kita berhenti.
Apa konteks historis dari KIDUNG AGUNG 1:1?
Judul ini menyebut Salomo, dan dengan itu menempatkan nyanyian cinta di tengah sejarah perjanjian. Raja, Bait Allah, Yerusalem: semuanya hadir hanya sebagai nama, tetapi nama-nama itu membawa beban.
Apa yang KIDUNG AGUNG 1:1 ajarkan tentang karakter Tuhan?
Kita cenderung memperlakukan kerinduan sebagai masalah yang harus dikelola. Tubuh yang menua dan tidak lagi kita sukai di cermin kamar mandi. Pernikahan yang sudah lama berfungsi tanpa lagi bernyanyi, dua orang yang saling mengurus jadwal anak dan cicilan rumah tetapi tidak pernah lagi mengatakan apa pun yang memalukan karena terlalu jujur.
Bagaimana KIDUNG AGUNG 1:1 masih relevan hari ini?
Mazmur 45 adalah nyanyian pernikahan untuk raja, dan Ibrani mengutipnya sebagai perkataan tentang Kristus. Itu menunjukkan bahwa Israel tidak pernah merasa perlu memilih antara syair cinta manusiawi dan penyembahan; satu teks bisa menampung keduanya tanpa yang satu memalsukan yang lain.
Terwujud berkat para mitra kami

Yang dibagikan komunitas tentang Song of Solomon 1

Wawasan, doa, dan ucapan syukur dari para pembaca dan tim redaksi untuk bagian ini.

Wawasan Editorial pada ayat 10

Perempuan itu baru saja berkata bahwa dirinya hitam terbakar matahari, lelah menjaga kebun orang lain, dan kebunnya sendiri terbengkalai. Lalu kekasihnya menjawab, "Pipimu elok dengan anting-anting, lehermu dengan untaian permata." Ia tidak membantah keletihannya. Ia hanya melihat keindahan di tempat yang kaupikir memalukan. Pernahkah kau membiarkan Allah memandangmu seperti itu?

Doa Editorial pada ayat 15

Bapa, ada hari-hari ketika aku sulit percaya bahwa aku berharga di mata-Mu. Namun Engkau memandangku bukan dengan kecewa, melainkan dengan kasih yang lembut. Tolong aku menerima tatapan itu, dan berhenti mengukur diriku dengan ukuran yang salah.

Wawasan Editorial pada ayat 17

Mereka tidak sedang berteduh di istana. Mereka di padang terbuka, rumput jadi alas, dan yang di atas kepala hanyalah pepohonan. Tetapi cinta membuat mereka berkata, "Balok-balok rumah kita adalah pohon aras, kasau-kasau kita adalah pohon sanobar." Kayu aras itu bahan istana Salomo. Kasih mengubah hutan biasa menjadi rumah yang megah. Coba lihat lagi tempat sederhana yang kamu tinggali: bersama siapa kamu berani menyebutnya "rumah kita"?

Syukur Editorial pada ayat 12

Terima kasih, Tuhan, untuk saat-saat Engkau duduk dekat di meja hidupku. Di hadirat-Mu, narwastuku menyebarkan keharumannya, dan bahkan kasihku yang kecil menjadi wangi. Aku bersyukur Engkau menerima persembahan hatiku yang sederhana ini dengan senang hati.

Jelajahi bagian ini pada tingkat yang berbeda

Pemula, teolog, atau panjang bacaan yang berbeda? Sesuaikan pengaturan dan buat versi Anda sendiri.

Buka di alat studi