Siapa Yakub dalam Alkitab: Perebut Hak Kesulungan yang Diubah Menjadi Israel
Pendahuluan
Ada satu detail kecil di akhir hidup Yakub yang jarang dikhotbahkan: ia menyembah sambil bersandar pada tongkatnya. Bukan berdiri tegak, bukan berlutut dengan gagah, melainkan bertumpu pada sepotong kayu karena pinggulnya tidak pernah sembuh lagi. Orang yang sama, puluhan tahun sebelumnya, lahir dengan tangan mencengkeram tumit kakaknya. Dari tangan yang merebut sampai tangan yang bersandar: itulah seluruh kisah Yakub dalam satu gerakan.
Di halaman ini kita akan menelusuri hidupnya dari rahim Ribka sampai ranjang kematiannya di Mesir, dengan jujur tentang tipu dayanya dan jujur pula tentang kasih setia Allah yang tidak pernah melepaskannya. Anda akan melihat mengapa Allah mengubah namanya, mengapa Ia juga melumpuhkannya, dan apa artinya semua itu bagi Anda yang mungkin sedang berusaha keras merebut sesuatu yang sebenarnya ingin Allah berikan.
Sudut pandang panduan ini
Kebanyakan tulisan tentang Yakub berhenti pada "penipu yang bertobat". Panduan ini membaca hidupnya dari satu titik yang sering dilewati: sendi pangkal pahanya yang terpelecok di tepi sungai Yabok. Nama baru dan luka permanen diberikan pada malam yang sama. Allah tidak membereskan Yakub dengan membuatnya lebih kuat, lebih pintar, lebih cepat; Allah membereskannya dengan membuatnya pincang. Karena itu seluruh halaman ini bergerak di antara dua gambar: tangan yang mencengkeram tumit dan tangan yang bersandar pada tongkat. Di antara keduanya ada anugerah, dan anugerah itu tidak pernah murah.
Apa kata Alkitab tentang Yakub?
Alkitab memperkenalkan Yakub sebelum ia sempat berbuat apa pun. Ribka mengandung anak kembar yang bertolak-tolakan di dalam rahimnya, lalu ia bertanya kepada TUHAN, dan jawaban yang diterimanya menentukan arah seluruh kitab Kejadian selanjutnya: "Firman TUHAN kepadanya: 'Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda'" (Kejadian 25:23). Perhatikan urutannya. Pilihan Allah diumumkan ketika kedua anak itu belum lahir, belum menipu, belum menjual apa pun. Yakub tidak memenangkan posisinya; ia menerimanya sebagai pemberian, jauh sebelum ia tahu caranya meminta.
Masalahnya, Yakub menghabiskan separuh hidupnya untuk merebut apa yang sudah dijanjikan kepadanya. Ia lahir sambil memegang tumit Esau, dan namanya pun berarti "ia memegang tumit", sebuah kata yang dalam bahasa Ibrani bergeser mudah menjadi "ia menipu". Ketika Esau pulang kelaparan dari padang, Yakub menukar semangkuk masakan kacang merah dengan hak kesulungan kakaknya. Ketika Ishak sudah tua dan matanya kabur, Yakub mengenakan pakaian Esau dan kulit anak kambing, lalu berbohong di hadapan ayahnya sendiri: "Akulah Esau, anak sulungmu." Esau meledak dalam tangis pahit dan berkata, "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkatku" (Kejadian 27:36). Ini bukan sekadar persaingan saudara. Ini adalah penilaian jujur Alkitab atas karakter bapa leluhur Israel.
Yang mengejutkan, Allah tidak membatalkan janji-Nya karena cara Yakub yang kotor. Dalam pelarian dari rumah, kelelahan, sendirian, berbantalkan batu di Betel, Yakub bermimpi melihat tangga yang menghubungkan bumi dan sorga. Dan Allah berfirman kepadanya: "Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu" (Kejadian 28:15). Tidak ada teguran di sana, tidak ada syarat. Hanya janji penyertaan kepada seorang buronan yang baru saja menipu ayahnya.
Dua puluh tahun berikutnya adalah sekolah yang keras. Di Haran, si penipu bertemu penipu yang lebih senior. Laban menukar Lea dengan Rahel di malam pernikahan, mengubah upah Yakub sepuluh kali, dan memerasnya selama empat belas tahun demi dua istri. Dari rumah tangga yang penuh kecemburuan itu lahirlah dua belas anak laki-laki yang kelak menjadi dua belas suku Israel. Allah bekerja melalui kekacauan yang tidak pernah Ia restui.
Puncaknya terjadi di tepi sungai Yabok, saat Yakub pulang dan harus berhadapan dengan Esau. Malam itu ia bergulat dengan seorang asing sampai fajar, pinggulnya terpelecok, dan ia tetap berpegang sambil berkata bahwa ia tidak akan melepaskan sebelum diberkati. Lalu datanglah kata-kata yang mengubah segalanya: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang" (Kejadian 32:28; dalam Alkitab Terjemahan Baru tercantum sebagai Kejadian 32:29). Nama baru itu kemudian diteguhkan sekali lagi ketika ia kembali ke Betel: "Firman Allah kepadanya: 'Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu.' Maka Allah menamai dia Israel" (Kejadian 35:10).
Sisa hidupnya diwarnai duka: Rahel mati melahirkan Benyamin, Dina dinodai di Sikhem, Ruben mencemarkan ranjang ayahnya, dan Yusuf dilaporkan mati diterkam binatang buas. Ketika akhirnya berdiri di hadapan Firaun, ia merangkum hidupnya dengan getir: tahun-tahun hidupnya sedikit saja dan buruk adanya. Namun di ranjang kematiannya, lelaki pincang itu memberkati, bernubuat, dan menyembah.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Nama Yakub tidak pernah hilang dari Alkitab. Ia menjadi bagian dari nama diri Allah sendiri. Ketika TUHAN berbicara dari semak duri yang menyala, Ia memperkenalkan diri sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, dan Yesus Kristus mengutip rumusan itu untuk membuktikan kebangkitan orang mati di Matius 22:32. Allah tidak malu menempelkan nama-Nya pada seorang penipu yang sudah dipulihkan. Allah lebih suka disebut Allah orang berdosa yang diselamatkan.
Nabi Hosea membaca ulang hidup Yakub dengan sangat tajam. Ia mengingatkan Israel yang keras kepala bahwa leluhur mereka pun pernah ditaklukkan: "Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman dengan dia" (Hosea 12:5). Detail yang tidak disebut dalam Kejadian muncul di sini: Yakub menangis. Jadi "kemenangan" di Yabok bukan kemenangan otot, melainkan kemenangan air mata. Ia menang justru pada saat ia menyerah dan memohon. Hosea memakai itu untuk memanggil satu bangsa kembali kepada Allah mereka, seolah berkata bahwa keturunan Yakub baru akan menjadi Israel yang sesungguhnya kalau mereka juga mau dipincangkan oleh anugerah.
Rasul Paulus mengambil Kejadian 25:23 sebagai contoh utama pemilihan Allah yang bebas. Dalam Roma 9 ia menegaskan bahwa keputusan itu jatuh sebelum anak-anak itu lahir dan sebelum mereka berbuat baik atau jahat, supaya rencana Allah tetap berdasarkan panggilan-Nya dan bukan berdasarkan perbuatan. Kesimpulannya ia tulis dengan jelas: "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah" (Roma 9:16). Yakub adalah bukti hidup bahwa keselamatan tidak pernah dimenangkan dengan kelicikan manusia.
Garis itu bermuara pada Kristus. Di Betel, Yakub melihat tangga dengan malaikat-malaikat yang turun naik, dan ia berseru bahwa tempat itu adalah pintu gerbang sorga. Yesus mengambil gambar itu dan menempatkan diri-Nya di tengahnya: "Lalu kata Yesus kepadanya: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia'" (Yohanes 1:51). Tangga itu bukan benda; tangga itu Pribadi. Jalan yang dulu dibuka Allah bagi seorang pelarian sekarang terbuka bagi siapa saja yang datang kepada Yesus Kristus.
Dan ada satu lagi. Yakub pincang karena bergumul dengan Allah; Yesus Kristus terluka karena bergumul demi kita. Yang satu kalah lalu diberi nama baru; Yang lain menang melalui kekalahan di kayu salib lalu memberikan nama baru kepada kita. Dari dua belas anak Yakub lahirlah suku Yehuda, dan dari Yehuda datanglah Dia yang dinubuatkan ayahnya sendiri dalam Kejadian 49:10, Dia yang berhak atas tongkat kerajaan. Yakub yang merebut berkat akhirnya menjadi saluran Berkat bagi seluruh dunia.
Inti hidupnya
Ada tiga malam yang menentukan dalam hidup Yakub, dan ketiganya terjadi dalam kegelapan.
Malam pertama adalah malam penipuan di kemah Ishak. Yakub sudah memegang janji Allah dari Kejadian 25:23, tetapi ia tidak percaya janji itu cukup. Maka ia memakai pakaian kakaknya, berbohong tentang namanya, bahkan menyeret nama Allah ke dalam dustanya ketika ditanya mengapa ia begitu cepat menemukan buruan. Ia mendapatkan berkat, dan dalam hukum kuno berkat itu sah serta tidak bisa ditarik kembali. Tetapi harganya mengerikan: ia kehilangan rumah, tidak pernah bertemu ibunya lagi, dan hidup dua puluh tahun dengan ketakutan dibunuh kakaknya. Kalimat Esau di Kejadian 27:36 menjadi semacam vonis yang mengikutinya ke mana-mana. Ia mendapat apa yang ia mau dengan cara yang menghancurkan dirinya sendiri.
Malam kedua adalah malam di Betel. Di sinilah untuk pertama kali Yakub berhadapan dengan Allah yang tidak bisa ia tipu dan tidak bisa ia tawar. Yang luar biasa adalah isi perjumpaan itu: bukan hukuman, melainkan Kejadian 28:15, janji penyertaan yang utuh kepada orang yang sama sekali tidak pantas menerimanya. Reaksi Yakub khas dirinya; ia langsung menawar, berjanji memberi sepersepuluh asal Allah memberinya makanan dan pakaian dan membawanya pulang dengan selamat. Iman yang masih berbau dagang. Tetapi Allah menerima awal yang kecil itu dan sabar menunggu dua puluh tahun lagi.
Malam ketiga adalah malam di Yabok, dan itulah titik balik yang sesungguhnya. Yakub sudah mengirim semua miliknya menyeberang; ia tinggal sendirian, telanjang dari segala strategi. Lalu seseorang bergumul dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika Yakub tidak mau menyerah, lawannya cukup menyentuh pangkal pahanya dan sendi itu terpelecok. Di titik itulah Yakub berhenti bergulat dan mulai berpegang, sambil menangis memohon berkat seperti dicatat Hosea 12:5. Pertanyaan yang diajukan kepadanya, "Siapakah namamu?", adalah pertanyaan pengakuan dosa: sekali lagi ia harus menyebut namanya, tetapi kali ini dengan jujur, bukan sambil berpura-pura menjadi Esau. Baru setelah pengakuan itu datang nama baru dalam Kejadian 32:28, dan matahari terbit atasnya saat ia berjalan timpang.
Nama itu ditegaskan kembali bertahun-tahun kemudian di Betel, tempat semuanya dimulai, lewat Kejadian 35:10. Allah mengulang karena Yakub, seperti kita, butuh diingatkan siapa dirinya sekarang. Dan di ujung hidupnya, Ibrani 11:21 memotret buah dari ketiga malam itu: "Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu ia sujud menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya." Tangan yang dulu merampas berkat kini membagikan berkat, dan kaki yang dulu berlari untuk melarikan diri kini bertumpu pada tongkat.
Yang kita pelajari dari Yakub
Pelajaran pertama: Anda tidak perlu merebut apa yang sudah Allah janjikan untuk diberikan. Seluruh tragedi masa muda Yakub lahir dari ketidakpercayaan, bukan dari ambisi. Ia benar bahwa berkat itu memang untuknya; ia salah karena mengira Allah butuh bantuan tipu dayanya. Banyak dari kita hidup seperti itu. Kita memanipulasi percakapan supaya dipuji, memoles citra diri di hadapan orang lain, mengatur situasi supaya mendapat posisi yang kita yakin pantas kita terima. Yang kita dapat mungkin nyata, tetapi kita kehilangan rumah batin kita sendiri. Anugerah tidak pernah perlu dicuri karena anugerah memang selalu dibagikan secara cuma-cuma.
Pelajaran kedua: Allah lebih sering memincangkan daripada menghancurkan. Perhatikan bahwa Dia tidak mematahkan punggung Yakub, tidak mengambil nyawanya, tidak membatalkan janji-Nya. Dia menyentuh satu sendi, dan satu sentuhan itu cukup untuk mengubah cara Yakub berjalan seumur hidup. Kelemahan yang Allah izinkan dalam hidup Anda, entah penyakit yang tidak kunjung pergi, kegagalan yang mempermalukan, atau keterbatasan yang membuat Anda tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan lama, sering kali adalah bentuk kasih yang paling praktis. Luka itu bukan hukuman, melainkan tanda tangan anugerah. Orang yang pincang tidak bisa berlari mendahului Allah.
Pelajaran ketiga: perubahan sejati bersifat bertahap dan tidak rapi. Setelah menerima nama Israel, Yakub masih pilih kasih terhadap Yusuf dan merusak keluarganya sendiri, masih diam ketika Dina diperlakukan semena-mena, masih tenggelam dalam duka yang menolak dihibur. Alkitab bahkan tetap memanggilnya Yakub di banyak tempat sesudah Kejadian 32. Jadi jangan ukur pertumbuhan rohani Anda dengan hilangnya seluruh kelemahan lama. Ukurlah dengan arah: apakah tangan Anda perlahan terbuka, apakah Anda makin sering memberkati daripada merebut, apakah di masa tua Anda ingin menyembah. Yakub butuh lebih dari seratus tahun untuk sampai pada Ibrani 11:21, dan Allah tidak pernah terburu-buru meninggalkannya.
Cermin
Mungkin Anda mengenali Yakub lebih dari yang ingin Anda akui. Anda tahu rasanya memperhitungkan setiap langkah dalam rapat kantor, membaca siapa yang bisa menguntungkan Anda, dan berkata kepada diri sendiri bahwa itu cuma kecerdikan yang wajar. Anda tahu rasanya memegang erat uang, waktu, atau reputasi, karena jauh di dalam ada ketakutan bahwa kalau Anda melepaskan, tidak akan ada yang tersisa. Anda tahu rasanya pulang ke rumah dan menemukan bahwa semua strategi yang berhasil di luar justru merusak hubungan Anda dengan pasangan, dengan anak-anak, dengan saudara yang sudah bertahun-tahun tidak Anda hubungi.
Tanyakan ini kepada diri Anda malam ini: berkat apa yang sedang saya coba rebut padahal sebenarnya ingin Allah berikan? Sebutkan namanya. Jabatan itu. Pengakuan dari orang tua Anda. Rasa aman secara keuangan. Tubuh yang sehat. Pasangan hidup. Anak yang kembali ke rumah. Yakub harus menyebut namanya sendiri dengan jujur sebelum ia menerima nama baru, dan Anda pun tidak akan berubah selama Anda masih mengenakan kulit kambing dan berkata, "Aku Esau."
Dan kalau Anda sedang berada di sisi lain, kalau hidup Anda terasa seperti sendi yang terpelecok dan Anda bertanya mengapa Allah membiarkannya, dengarkan Kejadian 28:15 sekali lagi. Janji itu tidak diberikan kepada orang suci yang sedang berdoa di bait suci, melainkan kepada seorang pembohong yang tidur beralaskan batu di tengah pelarian. Allah tidak menunggu Anda rapi untuk menyertai Anda. Dia menyertai Anda supaya Anda bisa dipulihkan. Ada jarak panjang antara Betel dan tongkat sembahyang di Mesir, tetapi jarak itu seluruhnya ditempuh dalam penyertaan-Nya.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kisah Yakub sangat mudah digemari anak-anak karena penuh aksi: anak kembar yang berebut sejak di dalam perut, semangkuk sup yang ditukar dengan hak istimewa, penyamaran dengan kulit kambing, mimpi tangga ke langit, dan pergulatan semalaman di tepi sungai. Tantangannya bukan membuatnya menarik, melainkan menjaga agar pesannya tidak berubah menjadi "jadilah pintar seperti Yakub".
Cara paling sederhana untuk menjelaskannya kepada anak: Yakub adalah anak yang sangat ingin diberkati, tetapi ia memakai cara berbohong untuk mendapatkannya. Ia menyakiti kakaknya dan ayahnya, lalu ia harus lari jauh dari rumah. Tetapi Allah tetap mencarinya. Allah berjanji akan selalu menyertai dia ke mana pun ia pergi. Bertahun-tahun kemudian Allah menemuinya lagi di tepi sungai, membuat kakinya pincang, dan memberinya nama baru: Israel. Sejak itu, setiap kali Yakub berjalan, ia teringat bahwa Allah mengasihinya bukan karena ia hebat, melainkan karena Allah memang baik. Anak-anak perlu mendengar dua hal sekaligus: berbohong selalu merusak, dan Allah tidak pernah berhenti mengasihi orang yang pernah berbuat salah.
Untuk mendampingi percakapan di rumah atau di kelas sekolah minggu, tersedia penjelasan khusus menurut usia: versi untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan gambaran yang sangat sederhana, versi untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun yang menelusuri alur ceritanya lebih lengkap, dan versi untuk remaja dua belas tahun ke atas yang berani masuk ke pergumulan identitas, keluarga yang berantakan, dan arti nama baru dari Allah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa sebenarnya Yakub dalam Alkitab?
Yakub adalah anak kedua dari pasangan kembar yang dilahirkan Ribka bagi Ishak, cucu Abraham, dan bapa dari dua belas anak laki-laki yang menjadi leluhur dua belas suku Israel. Hidupnya dicatat panjang lebar dalam Kejadian 25 sampai 50. Ia dikenal sebagai orang yang merebut hak kesulungan dan berkat kakaknya dengan tipu daya, lalu hidup sebagai buronan, pekerja upahan, suami dari empat perempuan, dan akhirnya seorang tua yang memberkati keturunannya di Mesir. Allah mengubah namanya menjadi Israel, dan dari keturunannyalah lahir bangsa perjanjian serta, pada akhirnya, Yesus Kristus.
Apa arti nama Yakub dan mengapa ia diberi nama itu?
Yakub lahir sambil tangannya memegang tumit Esau, dan namanya dalam bahasa Ibrani berkaitan erat dengan kata "tumit". Secara harfiah namanya berarti kira-kira "ia memegang tumit", tetapi ungkapan itu juga dipakai untuk menggambarkan orang yang menjegal atau menipu. Karena itulah Esau bisa bermain kata dengan pahit dalam Kejadian 27:36 ketika berkata bahwa nama Yakub memang tepat baginya, sebab ia telah dua kali menipu. Nama itu seperti ramalan tentang karakternya, dan justru nama itulah yang kemudian diganti Allah menjadi Israel.
Mengapa Allah memilih Yakub dan bukan Esau?
Alasannya tidak terletak pada kualitas Yakub, sebab pilihan itu diumumkan sebelum kedua anak itu lahir, seperti tertulis dalam Kejadian 25:23. Rasul Paulus memakai peristiwa ini dalam Roma 9 untuk menunjukkan bahwa rencana Allah berdiri di atas panggilan dan kemurahan-Nya, bukan di atas prestasi manusia. Pemilihan itu juga bukan tentang nasib kekal dua pribadi semata, melainkan tentang melalui garis keturunan siapa janji keselamatan akan mengalir. Jadi kisah ini bukan sertifikat bahwa Yakub lebih baik, melainkan bukti bahwa anugerah selalu mendahului usaha kita.
Apakah dosa Yakub dibenarkan karena Allah tetap memakainya?
Tidak sama sekali. Alkitab tidak pernah memuji tipu daya Yakub; sebaliknya, teks menunjukkan akibatnya dengan sangat detail. Ia kehilangan rumah, hidup dalam ketakutan selama dua puluh tahun, ditipu balik oleh Laban dalam urusan pernikahan dan upah, lalu kelak ditipu oleh anak-anaknya sendiri dengan jubah berlumuran darah, cara yang mirip dengan tipuannya terhadap Ishak. Allah berdaulat memakai bahkan kegagalan kita untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi itu tidak pernah menghapus tanggung jawab moral atau konsekuensi yang menyakitkan.
Apa makna pergumulan Yakub di sungai Yabok?
Peristiwa itu adalah perjumpaan dengan Allah sendiri dalam wujud manusia, sebab Yakub kemudian menamai tempat itu Pniel, yang berarti ia telah melihat Allah muka dengan muka. Pergumulan itu bukan pertandingan kekuatan, melainkan proses penaklukan: Allah bisa mengalahkannya kapan saja, terbukti dari satu sentuhan yang membuat pangkal pahanya terpelecok. Yakub "menang" justru ketika ia berhenti mengandalkan diri dan hanya berpegang sambil menangis memohon berkat, seperti ditegaskan Hosea 12:5. Dari situlah ia menerima nama baru dan luka permanen pada saat yang bersamaan.
Mengapa nama Yakub diubah menjadi Israel?
Nama baru itu menandai identitas yang baru. Dalam Kejadian 32:28 dinyatakan bahwa namanya tidak lagi Yakub melainkan Israel, karena ia telah bergumul melawan Allah dan manusia dan ia menang. Nama Israel umumnya dipahami sebagai "ia bergumul dengan Allah" atau "Allah berkuasa". Penggantian ini diteguhkan sekali lagi dalam Kejadian 35:10 ketika ia kembali ke Betel. Sejak saat itu seluruh bangsa keturunannya dipanggil dengan nama tersebut, sehingga setiap kali Alkitab menyebut Israel, ada gema tentang seorang penipu yang ditaklukkan oleh anugerah.
Mengapa Alkitab masih menyebutnya Yakub setelah namanya diganti?
Karena perubahan rohani bersifat nyata tetapi bertahap. Setelah Pniel, teks Kejadian tetap bergantian memakai Yakub dan Israel, dan itu bukan kelalaian penulis melainkan potret kejujuran. Ia masih pilih kasih terhadap Yusuf, masih pasif dalam krisis keluarganya, masih tenggelam dalam kesedihan yang menolak dihibur. Nama lama menggambarkan asal usulnya, nama baru menggambarkan panggilan dan masa depannya. Orang percaya hidup dalam ketegangan yang sama: sudah diberi identitas baru dalam Kristus, namun masih bergumul dengan kebiasaan lama yang belum sepenuhnya mati.
Berapa anak Yakub dan siapa saja ibunya?
Yakub mempunyai dua belas anak laki-laki dan sedikitnya satu anak perempuan bernama Dina. Lea melahirkan Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar, dan Zebulon; Rahel melahirkan Yusuf dan Benyamin; Bilha, hamba Rahel, melahirkan Dan dan Naftali; sedangkan Zilpa, hamba Lea, melahirkan Gad dan Asyer. Dari keluarga yang penuh persaingan dan luka inilah terbentuk dua belas suku Israel. Alkitab tidak menyembunyikan bahwa poligami dan favoritisme di rumah Yakub menghasilkan kepahitan berkepanjangan, termasuk penjualan Yusuf oleh saudara-saudaranya sendiri.
Apa hubungan mimpi tangga di Betel dengan Yesus Kristus?
Di Betel, Yakub melihat tangga yang berdiri di bumi dengan ujungnya mencapai langit, dan malaikat-malaikat Allah turun naik di situ, lalu ia menyebut tempat itu pintu gerbang sorga. Yesus mengambil gambaran itu dan menerapkannya pada diri-Nya dalam Yohanes 1:51, ketika Ia berkata bahwa Natanael akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia. Artinya, hubungan antara sorga dan bumi bukanlah sebuah benda atau tempat suci, melainkan sebuah Pribadi. Yesus Kristus adalah jalan terbuka yang dulu hanya dilihat Yakub dalam mimpi.
Mengapa Ibrani 11:21 menyoroti Yakub yang bersandar pada tongkatnya?
Ayat itu berbunyi: "Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu ia sujud menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya." Penulis Ibrani memilih momen ini karena di sanalah iman Yakub paling murni terlihat. Ia sedang sekarat di negeri asing, tetapi ia membagikan berkat perjanjian kepada generasi berikutnya seolah tanah Kanaan sudah pasti menjadi milik mereka. Tongkat itu mengingatkan pada pinggul yang tidak pernah sembuh, sehingga ibadahnya yang terakhir dilakukan dengan bertumpu pada tanda kelemahannya.
Bagaimana akhir hidup Yakub dan di mana ia dikuburkan?
Yakub pindah ke Mesir pada usia seratus tiga puluh tahun setelah mengetahui Yusuf masih hidup, dan ia tinggal di tanah Gosyen selama tujuh belas tahun hingga meninggal pada usia seratus empat puluh tujuh tahun. Sebelum wafat ia memberkati kedua cucunya, Efraim dan Manasye, serta menyampaikan nubuat atas kedua belas anaknya, termasuk kata-kata tentang tongkat kerajaan yang tidak akan beranjak dari Yehuda. Sesuai permintaannya, jenazahnya dibawa kembali ke Kanaan dan dikuburkan di gua Makhpela, bersama Abraham, Sara, Ishak, Ribka, dan Lea.
Apakah Yakub termasuk pahlawan iman atau penipu?
Keduanya, dan justru di situlah kekuatan kisahnya. Alkitab mencatat tipu dayanya tanpa kosmetik, tetapi juga menempatkannya dalam daftar saksi iman di Ibrani 11. Yang membuatnya pahlawan bukan karakternya yang bersih, melainkan kegigihannya memegang Allah sampai ia sendiri ditaklukkan. Kehausannya akan berkat salah arah pada awalnya, namun Allah tidak memadamkan kehausan itu, melainkan mengarahkannya ke tempat yang benar. Hidupnya menjadi bukti bahwa orang bisa berubah bukan dengan tekad yang lebih keras, melainkan dengan perjumpaan yang melumpuhkan kesombongannya.
Sebagai penutup
Dari tangan yang mencengkeram tumit sampai tangan yang bersandar pada tongkat: itulah perjalanan seorang manusia yang Allah kejar selama lebih dari seratus tahun. Yakub tidak pernah menjadi tokoh teladan dalam arti klasik. Ia tetap manusia yang rumit, penuh kelemahan, dengan keluarga yang berantakan dan kenangan yang pahit. Tetapi ia menjadi Israel, dan nama itu melekat pada satu bangsa, pada perjanjian Allah, bahkan pada nama diri Allah sendiri.
Kalau ada satu hal yang perlu Anda bawa pulang dari halaman ini, biarlah itu ini: berkat yang paling Anda butuhkan tidak bisa direbut, hanya bisa diterima, dan sering kali tangan kita baru cukup terbuka untuk menerimanya setelah dipatahkan. Yang pincang karena Allah berjalan paling jauh.
Untuk melanjutkan, bacalah Kejadian 25 sampai 35 dalam satu duduk supaya alur hidupnya terasa utuh, lalu bandingkan dengan Hosea 12 dan Roma 9 untuk melihat bagaimana Alkitab sendiri menafsirkan kisah ini. Setelah itu, kembalilah ke Yohanes 1:51 dan tanyakan dengan jujur: apakah saya masih memanjat, atau sudah bersandar pada Dia yang menjadi tangga itu?
