Kitab Hakim-Hakim: Siklus Kejatuhan Israel dan Kesetiaan Allah yang Tak Berubah
Pendahuluan
Bayangkan sebuah grafik yang digambar di papan tulis. Garisnya naik sedikit, lalu turun. Naik lagi, turun lebih dalam. Naik sebentar, lalu jatuh jauh lebih rendah dari sebelumnya. Di akhir papan, garis itu hampir menyentuh dasar. Itulah Kitab Hakim-Hakim. Banyak orang mengingatnya sebagai kumpulan kisah seru: Gideon dengan tiga ratus orangnya, Debora yang berani, Simson yang kuat. Tapi kalau Anda membacanya dari pasal satu sampai pasal dua puluh satu tanpa berhenti, Anda tidak akan merasa terhibur. Anda akan merasa ngeri. Dan justru di situlah kitab ini mulai berbicara.
Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulisnya, kapan kisah-kisah ini terjadi, bagaimana kitab ini dibangun, apa tema besarnya, dan mengapa kitab paling gelap dalam Perjanjian Lama ini justru menjadi salah satu kesaksian paling terang tentang kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Kitab Hakim-Hakim dari belakang ke depan. Ayat terakhirnya, "setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri," bukan penutup yang kebetulan; itu diagnosisnya. Karena itu kita tidak akan memperlakukan kitab ini sebagai galeri pahlawan iman yang bisa kita tiru, melainkan sebagai grafik yang terus menurun, di mana satu-satunya garis yang tetap lurus adalah kesetiaan Allah. Hakim-Hakim bukan kitab tentang manusia-manusia hebat yang menyelamatkan Israel. Ini kitab tentang bangsa yang semakin rusak dan Allah yang anehnya tidak pernah pergi. Sudut pandang itu mengubah segalanya, termasuk cara Anda membaca hidup Anda sendiri.
Apa kata Alkitab tentang Kitab Hakim-Hakim?
Kitab Hakim-Hakim menempati ruang antara dua dunia. Di belakangnya ada Kitab Yosua, dengan tanah yang dibagi dan janji yang digenapi. Di depannya ada Kitab 1 Samuel, dengan raja pertama dan Bait Allah yang akan datang. Di antaranya ada kurang lebih tiga setengah abad yang kacau, ketika Israel sudah berada di tanah perjanjian tetapi belum sungguh-sungguh hidup sebagai umat perjanjian.
Penulisnya tidak menyebut nama. Tradisi Yahudi kuno mengaitkan kitab ini dengan Samuel, dan memang ada petunjuk bahwa penyusunnya hidup pada masa awal kerajaan: kalimat "pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel" hanya masuk akal ditulis oleh seseorang yang sudah mengenal masa ketika raja ada. Catatan dalam Hakim-hakim 1:21 bahwa orang Yebus masih tinggal bersama bani Benyamin di Yerusalem menunjukkan kitab ini disusun sebelum Daud merebut kota itu. Jadi gambarannya kira-kira begini: seorang penyusun yang hidup pada abad kesebelas sebelum Masehi menoleh ke belakang, mengumpulkan ingatan-ingatan dari suku-suku yang tersebar, dan menyusunnya bukan sebagai kronik, melainkan sebagai khotbah.
Khotbah itu dirangkum di pasal dua, bagian yang sering dilewati pembaca karena tidak ada aksinya, padahal di sanalah kunci seluruh kitab. "Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal. Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN" (Hakim-hakim 2:11-12). Perhatikan urutannya: bukan ateisme, melainkan perpindahan kasih. Mereka tidak berhenti beribadah; mereka hanya beribadah kepada yang lain. Dan kata "menyakiti hati TUHAN" memberi tahu kita bahwa ini bukan soal pelanggaran aturan, melainkan soal hati yang dikhianati.
Lalu datang kalimat yang mengubah arah segalanya. "Maka TUHAN membangkitkan hakim-hakim, yang menyelamatkan mereka dari tangan perampok itu" (Hakim-hakim 2:16). Kata "maka" di situ seharusnya mustahil. Secara logika perjanjian, yang pantas menyusul pengkhianatan adalah penghukuman total. Yang datang justru pembebasan. Allah tidak menunggu Israel memperbaiki diri; Ia membangkitkan penolong.
Dan supaya kita tidak salah paham bahwa pembebasan itu lahir dari pertobatan yang tulus, penulis melanjutkan: "Setiap kali apabila TUHAN membangkitkan seorang hakim bagi mereka, maka TUHAN menyertai hakim itu dan menyelamatkan mereka dari tangan musuh mereka selama hakim itu hidup; sebab TUHAN berbelas kasihan mendengar rintihan mereka karena orang-orang yang mendesak dan menindas mereka. Tetapi apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka, dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya; dalam hal apapun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu" (Hakim-hakim 2:18-19).
Bacalah ulang bagian terakhirnya. "Lebih jahat dari nenek moyang mereka." Itulah sebabnya Hakim-Hakim bukan lingkaran yang berputar di tempat, melainkan spiral yang menurun. Setiap putaran berakhir lebih rendah. Yang mereka rintihkan pun bukan dosa mereka, melainkan penderitaan mereka. Mereka menjerit karena sakit, bukan karena menyesal. Dan Allah tetap menjawab.
Belas kasihan-Nya tidak menunggu kita pantas menerimanya.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kalau Hakim-Hakim dibaca sebagai grafik menurun, maka pertanyaan besar yang ditinggalkannya adalah: siapa yang akan menghentikan penurunan ini? Kitab ini sendiri memberi jawaban setengah jadi, dan jawaban setengah jadi itulah yang mendorong seluruh Alkitab maju.
Jawaban pertama adalah "raja". Empat kali dalam lima pasal terakhir kita membaca bahwa tidak ada raja di Israel, dan dua kali ditambahkan bahwa setiap orang berbuat sesuka hatinya. Kitab Rut, yang secara sadar dibuka dengan kalimat "pada zaman para hakim memerintah," menjadi semacam napas segar di tengah kegelapan itu dan berakhir dengan silsilah yang bermuara pada Daud. Lalu 1 dan 2 Samuel memberi kita raja itu. Tetapi Daud pun berzinah, Salomo pun menyembah ilah lain, dan grafik menurun kembali sampai pembuangan. Raja manusia ternyata bukan obatnya.
Jawaban kedua adalah "penyelamat yang dibangkitkan Allah". Pola Hakim-Hakim sangat jelas: umat tidak menyelamatkan diri sendiri, Allah mengirim seseorang. Dan setiap hakim adalah bayangan yang retak dari Penyelamat sejati. Otniel menang, tetapi mati. Debora bernubuat, tetapi tidak bisa mengubah hati. Gideon mengalahkan Midian, lalu membuat efod yang menjadi jerat. Simson menyelamatkan sambil menghancurkan dirinya sendiri. Semuanya berjasa, semuanya gagal, semuanya mati, dan sesudah mereka mati bangsa itu jatuh lagi.
Perjanjian Baru mengangkat nama-nama ini tanpa menyembunyikan cacat mereka. "Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi," tulis penulis Surat Ibrani (Ibrani 11:32). Nama-nama yang paling bermasalah dalam Perjanjian Lama berdiri dalam daftar iman. Bukan karena hidup mereka bersih, melainkan karena pada satu titik mereka mempercayai Allah yang memanggil mereka. Itu sendiri sudah merupakan kabar baik yang keras.
Lalu datang Yesus Kristus. Ia adalah Hakim yang tidak memerlukan hakim berikutnya, Raja yang tidak mati lalu meninggalkan umat-Nya tanpa pemimpin. Dalam Hakim-Hakim, Roh TUHAN "menghinggapi" seseorang sementara waktu untuk satu tugas; dalam Kristus, Roh Kudus diam di dalam umat-Nya selamanya. Simson membunuh lebih banyak musuh pada waktu matinya daripada pada waktu hidupnya; Yesus mengalahkan dosa dan maut lewat kematian-Nya, tetapi Ia bangkit, sehingga kemenangan-Nya tidak berhenti di kubur. Di sinilah spiral itu akhirnya patah. Bukan karena Israel akhirnya belajar, melainkan karena Allah akhirnya datang sendiri.
Struktur dan tema utama
Kitab ini dibangun dalam tiga bagian yang sengaja disusun untuk memperlihatkan penurunan itu.
Bagian pertama, pasal 1 sampai 3:6, adalah pendahuluan ganda. Pasal 1 mencatat apa yang gagal dilakukan suku-suku Israel: daftar panjang "tidak menghalau penduduk" yang semakin lama semakin pasrah. Yehuda masih berjuang, Benyamin gagal, Manasye membiarkan, dan di ujung daftar, Dan malah terdesak ke pegunungan. Pasal 2 memberi tafsir teologis atas kegagalan itu, lengkap dengan pola yang sudah kita baca: dosa, penindasan, rintihan, penyelamatan, lalu kemerosotan baru.
Bagian kedua, pasal 3:7 sampai 16:31, berisi kisah dua belas hakim; enam diceritakan panjang dan enam hanya disebut sekilas. Urutannya bukan sekadar kronologis, melainkan menurun secara kualitas. Otniel hampir tanpa cela. Ehud cerdik tetapi licik. Debora setia, tetapi Barak ragu dan kehormatan jatuh ke tangan perempuan asing. Gideon dipanggil dengan sapaan agung, "Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: 'TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani'" (Hakim-hakim 6:12), padahal saat itu ia sedang bersembunyi mengirik gandum di tempat pemerasan anggur karena takut. Sapaan itu bukan pujian atas apa yang Gideon sudah jadi, melainkan pernyataan tentang apa yang akan Allah kerjakan dalam dirinya. Namun bahkan Gideon berakhir dengan efod emas yang disembah seluruh Israel. Yefta menang lalu kehilangan anaknya sendiri karena nazar yang gegabah. Dan Simson, hakim terakhir, adalah orang Nazir yang melanggar hampir setiap sumpahnya, yang berperang bukan demi umat melainkan demi dendam pribadi.
Bagian ketiga, pasal 17 sampai 21, tidak memuat satu hakim pun. Dan itu disengaja. Di sini kita melihat ke mana arah bangsa itu tanpa kepemimpinan ilahi: seorang Lewi menjadi imam bayaran untuk patung curian, satu suku memusnahkan kota damai, seorang gundik diperkosa sampai mati dan tubuhnya dipotong menjadi dua belas bagian, perang saudara memusnahkan hampir seluruh Benyamin, dan masalah itu "diselesaikan" dengan menculik gadis-gadis Silo. Kitab ditutup tanpa pahlawan, tanpa doa, tanpa penyelesaian.
Dari struktur itu muncul temanya. Pertama, dosa tidak pernah berdiri diam; ia selalu bergerak turun. Kedua, kompromi dengan budaya sekitar jauh lebih berbahaya daripada serangan dari luar; yang menghancurkan Israel bukan pedang Midian, melainkan mezbah Baal. Ketiga, Allah memakai orang-orang yang tidak layak, bukan karena Ia kekurangan pilihan, melainkan supaya jelas siapa yang menyelamatkan. Keempat, dan yang paling penting, anugerah Allah bukan hadiah bagi pertobatan yang sempurna. Israel merintih karena sakit, bukan karena menyesal, dan Allah tetap membangkitkan penolong.
Satu-satunya garis lurus di seluruh kitab ini adalah Allah.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat memegang seluruh kitab ini, dan ketiganya harus dibaca bersama-sama.
Yang pertama adalah Hakim-hakim 2:16: "Maka TUHAN membangkitkan hakim-hakim, yang menyelamatkan mereka dari tangan perampok itu." Kata kerjanya aktif dan subjeknya tunggal: TUHAN yang membangkitkan. Hakim-hakim ini tidak mencalonkan diri, tidak dipilih oleh rakyat, tidak diwariskan secara turun-temurun. Mereka muncul karena Allah memutuskan untuk bertindak. Dalam bahasa Ibrani, kata "hakim" di sini lebih luas daripada pengertian kita tentang orang yang duduk di pengadilan; ia berarti seseorang yang memulihkan keadilan, yang memimpin, yang membebaskan. Ayat ini meletakkan dasar seluruh kitab: keselamatan selalu dimulai dari pihak Allah.
Yang kedua adalah Hakim-hakim 16:30: "Berkatalah Simson: 'Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini.' Lalu membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka runtuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya. Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya." Ini puncak sekaligus titik terendah. Simson akhirnya berdoa, dan Allah menjawab; tetapi kemenangan itu dibeli dengan kehancuran dirinya sendiri, di kuil ilah asing, dengan mata yang sudah dicungkil. Hakim terkuat dalam sejarah Israel mati sebagai budak yang buta. Kalau ini pahlawan terbaik yang bisa dihasilkan Israel, maka Israel membutuhkan Penyelamat dari tempat lain.
Yang ketiga adalah Hakim-hakim 21:25: "Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri." Kalimat ini sering dikutip sebagai kritik terhadap anarki politik, padahal persoalannya lebih dalam. Masalahnya bukan bahwa Israel tidak punya pemerintahan, melainkan bahwa mereka tidak lagi mengakui TUHAN sebagai Raja. "Benar menurut pandangannya sendiri" adalah kebalikan dari ungkapan yang berulang di awal setiap siklus, yaitu "jahat di mata TUHAN". Ada dua pasang mata dalam kitab ini, dan Israel memilih matanya sendiri. Ketika mata manusia menjadi ukuran terakhir kebenaran, hasilnya bukan kebebasan, melainkan kehancuran yang dibungkus bahasa agama.
Panduan membaca Kitab Hakim-Hakim
Kitab ini paling baik dibaca dalam empat tahap, bukan diacak sesuai kisah favorit.
Mulailah dengan pasal 1 dan 2 dalam satu duduk, dan baca pelan-pelan. Tandai setiap kali muncul kalimat "tidak menghalau" di pasal 1, lalu tandai lima kata kerja dalam pasal 2 yang menyusun seluruh pola kitab ini: melakukan yang jahat, dijual ke tangan musuh, berseru, dibangkitkan hakim, kembali berlaku jahat. Setelah itu Anda memegang peta untuk seluruh kitab.
Minggu kedua, bacalah pasal 3 sampai 8, kisah Otniel, Ehud, Debora, dan Gideon. Pertanyaan yang perlu Anda bawa bukan "apa yang bisa saya tiru dari tokoh ini", melainkan "apa yang Allah kerjakan di sini meskipun tokoh ini". Perhatikan bagaimana Gideon berulang kali meminta tanda, dan bagaimana Allah berulang kali bersabar.
Minggu ketiga, bacalah pasal 9 sampai 16, dari Abimelekh sampai Simson. Ini bagian tersulit. Jangan percepat. Perhatikan bagaimana kekerasan semakin pribadi, motif semakin egois, dan hubungan dengan Allah semakin tipis sampai Simson hampir tidak pernah menyebut nama TUHAN kecuali ketika ia membutuhkan sesuatu.
Minggu keempat, bacalah pasal 17 sampai 21 sekaligus, lalu segera lanjutkan dengan Kitab Rut dalam hari yang sama. Perbedaannya akan terasa seperti keluar dari ruangan pengap ke udara terbuka: di tengah zaman yang sama, ada seorang perempuan Moab yang setia, seorang laki-laki yang menebus, dan sebuah keluarga kecil yang darinya lahir raja. Tutuplah dengan membaca Ibrani 11:32-40, dan biarkan daftar nama itu mengejutkan Anda.
Cermin
Anda mungkin membaca Hakim-Hakim sambil menggeleng-geleng. Bagaimana mungkin satu bangsa bisa sebodoh itu, jatuh berkali-kali ke lubang yang sama? Tetapi tanyakan ini pada diri Anda: dosa apa yang sudah Anda akui lebih dari lima kali dan belum juga Anda tinggalkan? Pola apa dalam hidup Anda yang selalu kembali setiap kali tekanan mereda?
Israel tidak pernah mengumumkan bahwa mereka meninggalkan TUHAN. Mereka hanya menambahkan Baal, karena Baal mengurus hujan dan panen, dan panen adalah soal uang, dan uang adalah soal rasa aman. Hari ini kita tidak membangun mezbah, kita membuka aplikasi. Kita tetap berdoa, tetap ke gereja, tetapi keputusan besar tentang karier, utang, pacar, cara memperlakukan tubuh, cara mengisi malam ketika kesepian menyerang, semuanya diambil dengan ukuran "yang benar menurut pandangan saya sendiri". Itu bukan kemurtadan yang dramatis. Itu kompromi yang sopan, dan justru itulah yang menghancurkan Israel.
Perhatikan juga apa yang membuat Israel berseru kepada Allah: bukan rasa bersalah, melainkan rasa sakit. Kita pun sering begitu. Kita berdoa sungguh-sungguh ketika tagihan menumpuk, ketika hasil pemeriksaan dokter belum keluar, ketika pernikahan retak. Lalu tekanan reda, dan doa menipis. Kalau Anda mengenali diri Anda di situ, ada dua hal yang perlu Anda dengar sekaligus. Yang pertama: ya, hati Anda memang semudah itu berpaling, dan menyangkalnya tidak akan menolong Anda. Yang kedua, dan ini yang menentukan: Allah tetap datang. Ia datang bukan karena rintihan Anda cukup murni, melainkan karena Ia berbelas kasihan. Hakim-Hakim tidak mengajarkan Anda untuk berusaha lebih keras supaya layak ditolong. Kitab ini membongkar ilusi bahwa Anda bisa menyelamatkan diri sendiri, lalu menunjuk pada Raja yang tidak akan mati dan meninggalkan Anda.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak biasanya sudah mengenal Simson dan Gideon dari buku cerita, tetapi sering dalam bentuk yang menyesatkan: Simson sebagai pahlawan super berambut panjang, Gideon sebagai prajurit pemberani. Yang hilang justru intinya.
Cara sederhana untuk menjelaskannya begini. Umat Allah itu seperti anak yang berjanji akan menggenggam tangan ayahnya di keramaian, lalu melepaskannya begitu melihat sesuatu yang menarik. Ia tersesat, ketakutan, dan menangis. Lalu ayahnya datang mencari dan menggendongnya pulang. Besoknya hal yang sama terjadi lagi. Dan lagi. Pertanyaan yang paling penting bukan "mengapa anak itu nakal sekali", melainkan "mengapa ayahnya terus datang mencari". Itulah Kitab Hakim-Hakim. Allah terus datang mencari.
Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa menambahkan bahwa setiap penolong dalam kitab ini akhirnya meninggal, sehingga umat itu jatuh lagi, sampai Allah mengirim Yesus Kristus, Penolong yang bangkit dan tidak pernah pergi. Hindari memaksakan Simson sebagai teladan moral; ia bukan contoh yang baik, dan anak-anak akan segera menyadarinya sendiri.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus menurut usia, yaitu untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan bahasa gambar dan pengulangan sederhana, untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun dengan alur cerita dan pertanyaan diskusi, serta untuk remaja dua belas tahun ke atas yang sudah siap menghadapi sisi gelap kitab ini secara jujur. Pilihlah yang sesuai dengan anak Anda, dan bacalah bersama mereka, bukan sekadar membacakannya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis Kitab Hakim-Hakim?
Kitab ini tidak mencantumkan nama penulisnya. Tradisi Yahudi kuno, khususnya dalam Talmud, mengaitkannya dengan nabi Samuel, dan banyak penafsir menganggap itu masuk akal karena Samuel hidup tepat di persimpangan antara zaman para hakim dan zaman kerajaan. Yang pasti, penyusunnya bekerja setelah masa yang ia ceritakan, sebab ia berkali-kali menulis "pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel". Siapa pun dia, ia bukan sekadar pengumpul cerita; ia seorang teolog yang menyusun bahan-bahan lama menjadi satu pesan yang utuh dan tajam.
Kapan peristiwa dalam Kitab Hakim-Hakim terjadi?
Masa para hakim terbentang antara kematian Yosua dan pengurapan Saul sebagai raja, kira-kira dari abad keempat belas atau ketiga belas sampai abad kesebelas sebelum Masehi. Dalam Hakim-hakim 11:26 Yefta menyebut angka tiga ratus tahun, dan bila semua masa pemerintahan dijumlahkan, totalnya melebihi empat ratus tahun. Karena beberapa hakim kemungkinan besar memimpin di wilayah yang berbeda pada waktu yang bersamaan, banyak ahli memperkirakan keseluruhan masa ini sekitar tiga ratus lima puluh tahun.
Mengapa mereka disebut "hakim", padahal mereka berperang?
Kata Ibrani yang diterjemahkan "hakim" memiliki arti jauh lebih luas daripada pengertian modern tentang seorang pejabat pengadilan. Akar katanya berarti memulihkan keadilan, menegakkan tatanan, dan memerintah. Karena itu seorang hakim dalam kitab ini adalah pembebas, pemimpin, dan penengah sekaligus. Debora memang duduk mengadili perkara, tetapi Gideon, Yefta, dan Simson terutama dikenal sebagai penyelamat militer. Intinya sama: mereka dibangkitkan Allah untuk mengembalikan umat-Nya kepada keadaan yang benar.
Ada berapa hakim dalam Kitab Hakim-Hakim?
Umumnya dihitung dua belas hakim: Otniel, Ehud, Debora bersama Barak, Gideon, Tola, Yair, Yefta, Ebzan, Elon, Abdon, dan Simson; Samgar kadang dimasukkan sehingga jumlahnya menjadi tiga belas. Enam di antaranya diceritakan secara panjang, sementara yang lain hanya disebut dalam beberapa kalimat. Abimelekh, anak Gideon, tidak dihitung sebagai hakim karena ia merebut kekuasaan sendiri dan bukan dibangkitkan Allah. Samuel kemudian disebut sebagai hakim terakhir dalam Kitab 1 Samuel.
Apa itu siklus dosa dalam Kitab Hakim-Hakim?
Polanya dirumuskan dalam pasal 2 dan terdiri dari lima tahap: Israel melakukan yang jahat di mata TUHAN, Allah menyerahkan mereka ke tangan musuh, mereka berseru karena tertindas, Allah membangkitkan seorang hakim yang membebaskan mereka, lalu sesudah hakim itu mati mereka jatuh kembali, bahkan lebih buruk. Karena itu istilah "siklus" sebenarnya kurang tepat; yang terjadi bukan lingkaran yang berputar di tempat, melainkan spiral yang terus menurun, sebagaimana ditegaskan Hakim-hakim 2:19.
Apakah Simson benar-benar seorang pahlawan iman?
Hidup Simson penuh pelanggaran: ia menyentuh bangkai, berpesta minum, mengejar perempuan Filistin, dan membalas dendam demi kepentingan pribadi. Namun Ibrani 11:32 memasukkan namanya dalam daftar orang-orang beriman. Dasarnya bukan kualitas moralnya, melainkan kenyataan bahwa pada akhirnya ia berseru kepada Allah dan mempercayai bahwa Allah sanggup memakainya sekali lagi. Simson masuk daftar itu sebagai bukti anugerah, bukan sebagai contoh karakter. Ia memperlihatkan bahwa Allah tetap menyelesaikan rencana-Nya melalui orang yang hancur.
Apa arti "setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri"?
Kalimat penutup dalam Hakim-hakim 21:25 ini melukiskan masyarakat yang kehilangan ukuran kebenaran di luar dirinya sendiri. Ungkapan itu sengaja dikontraskan dengan frasa "jahat di mata TUHAN" yang membuka setiap siklus. Ada dua standar yang bersaing, yaitu pandangan Allah dan pandangan manusia, dan Israel memilih pandangannya sendiri. Hasilnya bukan kebebasan melainkan kekacauan, lengkap dengan kekerasan yang dibenarkan dengan bahasa agama. Persoalan terdalamnya adalah penolakan terhadap TUHAN sebagai Raja.
Mengapa Kitab Hakim-Hakim begitu penuh kekerasan?
Karena kitab ini memang dimaksudkan untuk membuat kita tidak nyaman. Penulisnya tidak sedang memuji kekerasan itu; ia sedang memperlihatkan apa yang terjadi ketika umat Allah hidup tanpa mengakui Allah. Kisah-kisah paling mengerikan justru ditempatkan di lima pasal terakhir, setelah semua hakim habis, sebagai kesimpulan yang pahit. Alkitab tidak menyensor kebusukan umatnya sendiri, dan kejujuran itu justru yang membuat kabar baik tentang anugerah terdengar nyata, bukan sekadar manis.
Apa hubungan Kitab Hakim-Hakim dengan Kitab Rut?
Kitab Rut dibuka dengan kalimat yang menempatkannya "pada zaman para hakim memerintah", jadi kedua kitab ini berbicara tentang periode yang sama. Namun nadanya sangat berbeda. Di mana Hakim-Hakim memperlihatkan kehancuran suku-suku Israel, Rut memperlihatkan kesetiaan yang tenang dalam sebuah keluarga kecil, termasuk dari seorang perempuan asing. Rut juga berakhir dengan silsilah yang menuju Daud, sehingga menjawab kerinduan akan raja yang digaungkan Hakim-Hakim. Membaca keduanya berurutan adalah pengalaman yang sangat kuat.
Benarkah Yefta mengorbankan anak perempuannya?
Teks dalam Hakim-hakim 11 memang berkata bahwa Yefta melakukan terhadap anaknya sesuai nazar yang telah diucapkannya, dan sebagian besar penafsir membacanya secara harfiah sebagai pengorbanan nyawa. Sebagian lain berpendapat anak itu dipersembahkan untuk hidup selibat seumur hidup, berdasarkan penekanan teks pada keperawanannya. Apa pun tafsirannya, kitab ini jelas tidak memuji tindakan itu. Nazar Yefta justru memperlihatkan betapa jauh pemahaman Israel tentang Allah telah tercemar oleh cara berpikir bangsa-bangsa di sekitarnya.
Mengapa Allah memakai orang-orang bermasalah seperti Gideon dan Yefta?
Justru itulah pesannya. Gideon sedang bersembunyi ketika disapa "ya pahlawan yang gagah berani" dalam Hakim-hakim 6:12, dan Yefta adalah anak seorang pelacur yang diusir keluarganya sendiri. Allah tidak memilih mereka karena mereka kuat, melainkan supaya jelas bahwa kekuatan itu bukan milik mereka. Bila para penyelamat itu sempurna, kita akan menyimpulkan bahwa keselamatan datang dari kualitas manusia. Dengan memakai orang-orang rapuh, Allah memastikan bahwa kemuliaan tetap menjadi milik-Nya.
Apa pesan Kitab Hakim-Hakim bagi orang Kristen hari ini?
Pesannya ada dua dan harus dipegang bersama-sama. Pertama, hati manusia, termasuk hati orang percaya, sanggup berpaling berulang kali ke hal yang sama, dan kompromi kecil dengan nilai-nilai di sekitar kita lebih berbahaya daripada tekanan dari luar. Kedua, kesetiaan Allah tidak bergantung pada kesetiaan kita. Ia tetap membangkitkan penolong bagi umat yang berseru hanya karena kesakitan. Itulah yang mengarahkan kita kepada Yesus Kristus, Penyelamat yang tidak mati lalu meninggalkan kita kembali ke titik awal.
Sebagai penutup
Kalau Anda menutup Kitab Hakim-Hakim dan merasa tidak puas, berarti Anda membacanya dengan benar. Kitab ini memang dirancang untuk berakhir tanpa jawaban: tanpa hakim, tanpa raja, tanpa doa, hanya sebuah kalimat dingin bahwa setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Rasa tidak puas itu adalah pintu. Ia mendorong Anda keluar dari kitab ini menuju Rut, menuju Samuel, menuju Daud, dan akhirnya menuju palungan di Betlehem dan kubur yang kosong di Yerusalem.
Bacalah kitab ini sekali lagi dengan satu pensil di tangan dan dua warna. Satu warna untuk setiap kali Israel berpaling, satu warna lagi untuk setiap kali Allah bertindak. Lihat mana yang lebih banyak. Lalu tanyakan pada diri sendiri siapa yang sebenarnya menjadi tokoh utama dalam kitab ini.
Grafik itu memang menurun. Tetapi di bawah grafik yang menurun ada tangan yang tidak pernah ditarik. Itulah sebabnya kitab paling gelap dalam Perjanjian Lama ternyata bercerita tentang terang yang tidak padam, dan mengapa cerita Anda sendiri, serapuh apa pun, belum selesai.
