Kitab Markus: Injil tentang Yesus Sang Hamba yang Penuh Kuasa
Pendahuluan
Bayangkan sebuah rumah di pinggiran Roma, sekitar tahun 60-an. Lampu minyak kecil. Beberapa keluarga Kristen berkumpul diam-diam karena berkumpul terlalu ramai bisa berbahaya. Beberapa di antara mereka baru saja kehilangan saudara seiman: ada yang dipenjara, ada yang mati. Lalu seseorang membuka sebuah gulungan dan mulai membaca dengan suara pelan: "Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah." Tidak ada silsilah panjang, tidak ada kisah kelahiran di Betlehem, tidak ada paduan suara malaikat. Langsung. Cepat. Seperti orang yang punya kabar terlalu penting untuk ditunda.
Itulah Injil Markus. Kitab terpendek di antara keempat Injil, tetapi mungkin yang paling berdetak kencang. Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulisnya, kapan dan untuk siapa ditulis, bagaimana kitab ini disusun, apa tema-tema besarnya, dan yang terpenting: mengapa kitab yang berlari ini selalu berlari ke satu arah, yaitu kayu salib di Golgota.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Injil Markus dari kaki salib, bukan dari pintu masuk. Markus memang memperlihatkan kuasa Yesus yang meledak-ledak: setan diusir, badai diredakan, orang mati dibangkitkan. Tetapi Markus tidak pernah membiarkan kita mengagumi kuasa itu secara terpisah dari penderitaan. Dalam kitab ini, tidak ada satu pun manusia yang benar-benar mengerti siapa Yesus sampai mereka melihat Dia mati. Pengakuan manusia yang pertama dan paling utuh justru keluar dari mulut seorang perwira Romawi yang berdiri di depan mayat-Nya. Jadi kita akan membaca Markus mundur, dari Markus 15:39 ke Markus 1:1, dan menemukan bahwa di sini kuasa dan pengorbanan bukan dua hal yang bertentangan. Salib adalah tempat kuasa itu paling terang.
Apa kata Alkitab tentang Injil Markus?
Markus membuka kitabnya dengan sebuah kalimat yang sebenarnya adalah judul seluruh buku: "Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah" (Markus 1:1). Perhatikan dua gelar itu. "Kristus" berarti Mesias, Yang Diurapi, Raja yang dinanti-nantikan Israel selama ratusan tahun. "Anak Allah" berarti Dia bukan sekadar utusan, melainkan Dia yang datang dari dalam hati Allah sendiri. Markus menaruh kedua gelar itu di kalimat pertama supaya pembaca tahu jawabannya sejak awal, lalu sepanjang enam belas pasal berikutnya ia menunjukkan bahwa orang-orang di dalam cerita justru paling lambat menangkapnya.
Kata "Injil" sendiri, euangelion dalam bahasa Yunani, bukan istilah agama yang lembut. Di dunia Romawi, kata itu dipakai untuk kabar kemenangan: seorang pelari datang dari medan perang dan mengumumkan bahwa pertempuran sudah dimenangkan. Markus memakai kata itu dengan sengaja. Ia tidak sedang menawarkan nasihat hidup. Ia sedang mengumumkan bahwa sesuatu telah terjadi, di luar kita, tanpa bantuan kita, dan sekarang segalanya berubah.
Isi pengumuman itu dirangkum dalam khotbah pertama Yesus: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Markus 1:15). Empat kalimat pendek, dan di dalamnya ada seluruh tatanan iman Kristen. Waktunya telah genap: penantian panjang sejak para nabi sudah berakhir. Kerajaan Allah sudah dekat: pemerintahan Allah tidak lagi jauh di langit, melainkan sudah masuk ke dalam sejarah dalam diri Yesus. Bertobatlah: berbaliklah, ubah arah hidupmu. Percayalah kepada Injil: sandarkan seluruh berat hidupmu pada kabar itu. Urutannya penting. Pertobatan bukan syarat yang harus kita penuhi supaya Allah mau datang; Allah sudah datang, dan justru karena itu kita berbalik.
Lalu Markus bergerak cepat. Dalam satu pasal saja Yesus dibaptis, dicobai, memanggil murid-murid, mengusir roh jahat, menyembuhkan ibu mertua Petrus, dan melayani satu kota penuh. Kata kecil "segera" muncul berulang kali, lebih dari empat puluh kali dalam kitab ini. Kesannya seperti kamera di bahu yang mengikuti Yesus dari rumah ke rumah, dari danau ke bukit, nyaris tanpa napas.
Tetapi di tengah kecepatan itu, Markus menanam sebuah pertanyaan yang tidak mau pergi. Setelah Yesus meredakan badai, murid-murid berkata, "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?" (Markus 4:41). Pertanyaan itu menggantung sampai pasal delapan, ketika Yesus sendiri yang mengajukannya: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!" (Markus 8:29). Itu puncak paruh pertama kitab ini. Dan justru di situ Markus membelokkan semuanya: segera sesudah pengakuan Petrus, Yesus mulai berbicara tentang penderitaan, penolakan, dan kematian-Nya. Petrus menegur Dia. Yesus menegur Petrus balik. Rupanya, menyebut gelar yang benar belum berarti mengerti jalan yang benar.
Pusat teologis kitab ini terletak di sebuah kalimat yang diucapkan ketika murid-murid sedang bertengkar soal siapa yang paling besar: "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45). Di sinilah judul kitab ini terpenuhi. Sang Anak Allah yang berkuasa atas setan, penyakit, laut, dan maut, memilih memakai seluruh kuasa itu untuk satu hal: menyerahkan diri-Nya.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Markus tidak memulai dengan Yesus. Ia memulai dengan nabi. Sebelum satu pun mujizat terjadi, ia menulis: "Seperti ada tertulis dalam kitab nabi Yesaya: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu" (Markus 1:2). Itu kutipan gabungan dari Maleakhi 3:1 dan Yesaya 40:3. Pesannya jelas: apa yang terjadi di Galilea bukan kejadian baru yang terlepas dari masa lalu, melainkan babak akhir dari cerita yang sudah dimulai ribuan tahun sebelumnya.
Gelar favorit Markus untuk Yesus adalah "Anak Manusia", dipakai belasan kali. Bagi telinga modern gelar itu terdengar merendah, seolah hanya berarti "manusia biasa". Padahal akarnya ada di Daniel 7, di mana seorang "seperti anak manusia" datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan serta kerajaan yang tidak akan lenyap. Jadi ketika Yesus menyebut diri-Nya Anak Manusia yang harus menderita, Ia sedang menyatukan dua gambaran yang selama ini tidak pernah disatukan orang: Raja surgawi dari Daniel, dan Hamba yang menderita dari Yesaya.
Gambaran hamba itu mengalir deras di latar belakang. Yesaya 42:1 berbunyi: "Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa." Bandingkan dengan suara dari sorga saat Yesus dibaptis: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mu Aku berkenan" (Markus 1:11). Markus sedang memberi isyarat kepada pembaca yang mengenal Kitab Suci: Dia inilah Hamba itu.
Dan Hamba itu menderita. Yesaya 53:5 sudah melukiskannya jauh sebelumnya: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Kata "tebusan bagi banyak orang" di Markus 10:45 berdiri tepat di atas ayat-ayat itu. Markus tidak menjelaskan panjang lebar bagaimana penebusan bekerja, seperti yang nanti dilakukan Paulus dalam Roma. Ia cukup memperlihatkannya: tirai Bait Suci terbelah, jalan masuk kepada Allah terbuka lebar, dan yang pertama kali mengenali Dia di situ justru seorang asing, bukan orang Yahudi.
Di sinilah seluruh Alkitab bertemu. Perjanjian Lama penuh dengan korban yang harus diulang setiap tahun, imam yang masuk ke ruang mahakudus dengan gemetar, dan janji tentang seorang Hamba yang akan menanggung kesalahan banyak orang. Markus memperlihatkan bahwa semua itu bermuara pada satu peristiwa di luar tembok Yerusalem. Dan dari sana, arah ceritanya langsung membalik ke luar, kepada segala bangsa, sampai kalimat terakhir yang kita kenal: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Markus 16:15).
Perjanjian Lama menunggu; Markus mengumumkan penantian itu selesai.
Struktur dan tema utama
Siapa yang menulis kitab ini? Teksnya sendiri tidak menyebut nama penulis, tetapi kesaksian gereja mula-mula sangat seragam. Papias, seorang uskup dari awal abad kedua, mencatat bahwa Markus adalah penafsir Petrus dan menuliskan dengan cermat apa yang diingatnya dari khotbah-khotbah rasul itu. Nama lengkapnya kemungkinan besar Yohanes Markus, yang kita jumpai dalam Kisah Para Rasul 12:12 sebagai anak Maria, pemilik rumah tempat jemaat berdoa di Yerusalem. Dialah yang ikut Paulus dan Barnabas lalu mundur di tengah jalan sehingga menimbulkan perselisihan tajam, dan dialah juga yang belakangan disebut Paulus sebagai orang yang berguna untuk pelayanan. Petrus memanggilnya "Markus, anakku" dalam 1 Petrus 5:13.
Ada sesuatu yang menghangatkan hati di situ. Injil tentang Hamba yang penuh kuasa ditulis oleh seorang yang pernah gagal dan dipulihkan, berdasarkan kesaksian seorang rasul yang pernah menyangkal Tuhannya tiga kali. Tidak heran kitab ini begitu jujur tentang kebebalan murid-murid.
Kapan ditulis? Kebanyakan penafsir menempatkannya antara tahun 55 dan 70 Masehi, dengan kecenderungan pada akhir 60-an, sekitar masa penganiayaan Nero di Roma. Beberapa ciri mendukung sasaran pembaca non-Yahudi di Roma: Markus menjelaskan adat istiadat Yahudi yang dianggapnya tidak dikenal pembaca, menerjemahkan kata-kata Aram seperti "Talita kum" dan "Eloi, Eloi, lama sabakhtani", dan memakai beberapa istilah pinjaman dari bahasa Latin. Ia menulis untuk orang-orang yang sedang takut, yang bertanya-tanya mengapa mengikut Mesias malah membawa salib.
Bangunan kitabnya sederhana tetapi cerdas, dan engselnya ada di pasal delapan. Paruh pertama, pasal 1 sampai 8, berkisar di Galilea dan menjawab pertanyaan "Siapakah Dia?" Di sini bertumpuk mujizat: pengusiran setan, penyembuhan, pengampunan dosa, penggandaan roti, berjalan di atas air. Setiap peristiwa menaikkan tekanan sampai pertanyaan itu tidak bisa dihindari lagi, dan Petrus meledak dengan jawabannya di Markus 8:29.
Lalu arah kamera berubah. Paruh kedua, pasal 8 sampai 16, adalah perjalanan menuju Yerusalem dan menjawab pertanyaan "Mesias macam apa Dia?" Tiga kali Yesus menubuatkan penderitaan dan kebangkitan-Nya, dan tiga kali murid-murid salah paham: ada yang menegur Dia, ada yang bertengkar soal kebesaran, ada yang minta kursi di kiri dan kanan-Nya. Setiap kali, Yesus menjawab dengan ajaran tentang pelayanan dan penyangkalan diri. Penyembuhan dua orang buta, di Betsaida pada pasal 8 dan Bartimeus pada pasal 10, membingkai bagian ini seperti dua tanda kurung: murid-murid sendiri adalah orang buta yang sedang dipulihkan penglihatannya secara bertahap.
Dari pasal 11 sampai 16, waktu melambat secara dramatis. Kitab yang tadinya berlari sekarang hampir berhenti: kira-kira sepertiga isinya hanya mencakup satu minggu terakhir. Itulah sebabnya seorang penafsir pernah menyebut Markus sebagai kisah sengsara dengan pengantar yang panjang. Kecepatan di awal bukan tanpa tujuan; ia menyeret kita ke Golgota.
Tema-tema besarnya saling terkait. Pertama, kuasa Yesus atas segala kekuatan yang merusak ciptaan. Kedua, apa yang sering disebut "rahasia Mesias": berkali-kali Yesus melarang orang menyebarkan siapa Dia, sebab gelar Mesias tanpa salib hanya akan melahirkan kesalahpahaman politis. Ketiga, kebebalan murid-murid, yang digambarkan tanpa kosmetik apa pun. Keempat, panggilan untuk mengikut: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku" (Markus 8:34). Dan kelima, belas kasihan yang menggerakkan segalanya, seperti ketika Ia melihat orang banyak "seperti domba yang tidak mempunyai gembala" (Markus 6:34).
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat memegang seluruh bangunan Markus, dan ketiganya hanya bisa dibaca dengan benar jika kita berdiri di kaki salib.
Yang pertama, Markus 8:29: "Ia bertanya kepada mereka: 'Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?' Maka jawab Petrus: 'Engkau adalah Mesias!'" Ini titik balik kitab ini. Petrus benar, seratus persen benar, dan beberapa kalimat kemudian ia dicap sebagai suara Iblis karena menolak jalan salib. Pelajaran yang keras dan menyembuhkan: kita bisa memiliki teologi yang tepat dan hati yang sama sekali belum tunduk. Jawaban yang benar tentang Yesus belum tentu berarti penyerahan diri kepada Yesus. Pertanyaan itu, "apa katamu", tidak bisa diwakilkan kepada orang tua, gembala, atau tradisi keluarga.
Yang kedua, Markus 10:45: "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Kalimat ini diucapkan ketika Yakobus dan Yohanes baru saja melobi posisi terhormat. Yesus tidak memarahi ambisi mereka dengan ceramah moral; Ia membalik definisi kebesaran itu sendiri. Kata "tebusan" dipakai untuk uang yang dibayarkan supaya seorang budak dibebaskan. Jadi ini bukan sekadar teladan pengorbanan yang indah. Ini transaksi penyelamatan: Dia membayar, kita dibebaskan. Keselamatan dalam Markus bukan hasil usaha murid-murid yang bebal itu, melainkan pemberian dari Hamba yang menyerahkan nyawa-Nya.
Yang ketiga, Markus 15:39: "Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: 'Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!'" Inilah klimaks yang disiapkan Markus sejak kalimat pertama kitabnya. Sepanjang enam belas pasal, setan-setan tahu siapa Yesus, suara dari sorga menyatakannya dua kali, tetapi tidak ada satu pun manusia yang mengucapkan gelar penuh itu, sampai seorang perwira Romawi, orang asing, bagian dari pasukan yang memakukan Dia, mengatakannya di depan salib. Ia tidak melihat mujizat. Ia hanya melihat cara Yesus mati. Dan itu cukup.
Yang pertama percaya adalah orang yang paling jauh.
Ayat keempat yang tidak boleh dilewatkan menutup kitab ini: "Lalu Ia berkata kepada mereka: 'Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk'" (Markus 16:15). Dari satu perwira asing di Golgota, lingkaran itu melebar ke seluruh bumi.
Cermin
Mari jujur sebentar. Anda mungkin tidak kesulitan percaya bahwa Yesus berkuasa. Yang sulit adalah percaya bahwa kuasa itu memilih jalan salib, dan bahwa Dia meminta Anda berjalan di jalan yang sama.
Markus menelanjangi sesuatu dalam diri kita. Kita ingin Mesias yang membereskan masalah keuangan, menyembuhkan tubuh yang sakit, memulihkan rumah tangga, dan memberi posisi yang selama ini kita incar. Yakobus dan Yohanes meminta kursi kiri dan kanan; kita meminta hal yang sama dengan bahasa doa yang lebih sopan. Lalu Yesus bertanya kepada kita seperti kepada mereka: sanggupkah kamu meminum cawan yang Kuminum?
Perhatikan di mana hal ini menggesek hidup Anda. Di tempat kerja, ketika melayani berarti membiarkan orang lain mendapat pujian atas pekerjaan Anda. Di rumah, ketika mengasihi pasangan atau orang tua yang sakit berarti waktu Anda habis tanpa ada yang melihat. Di soal uang, ketika kemurahan hati benar-benar mengurangi apa yang tersisa untuk diri sendiri. Di tubuh yang menua, ketika kekuatan berkurang dan Anda merasa tidak lagi berguna. Di kesepian yang Anda tutupi dengan kesibukan, karena diam membuat pertanyaan-pertanyaan lama kembali.
Tetapi di sinilah Markus juga membebaskan. Kitab ini dipenuhi orang-orang yang gagal: murid-murid yang tidak mengerti berulang kali, Petrus yang menyangkal, para perempuan yang lari ketakutan dari kubur. Tidak ada satu pun pahlawan manusia di sini. Satu-satunya yang setia adalah Dia yang berdoa di Getsemani, "janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki" (Markus 14:36). Kalau iman Anda terasa tipis hari ini, doa ayah yang anaknya kerasukan itu adalah milik Anda juga: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Markus 9:24). Markus tidak menuntut Anda menjadi murid yang kuat. Ia menunjukkan Hamba yang kuat yang menggendong murid-murid yang lemah.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak biasanya langsung jatuh cinta pada Injil Markus, karena di sini Yesus selalu bergerak. Ada badai yang tiba-tiba diam, ada anak perempuan yang dibangunkan dari kematian, ada lima ribu orang yang kenyang dari bekal satu anak laki-laki, ada orang buta yang berteriak-teriak sampai Yesus berhenti dan memanggilnya.
Cara paling sederhana menjelaskannya kepada anak: Markus adalah buku tentang Yesus yang sangat kuat tetapi sangat baik. Dia bisa melakukan apa saja, tetapi Dia memakai kuasa-Nya untuk menolong orang, bukan untuk menyuruh orang menyembah Dia. Dan pada akhirnya Dia memakai kuasa-Nya dengan cara yang paling mengejutkan: Dia rela mati supaya kita bisa berbaik kembali dengan Allah, lalu Dia bangkit karena kematian tidak bisa menahan Dia.
Untuk anak yang lebih kecil, cukup gambaran "Yesus yang kuat dan penuh kasih" tanpa terlalu banyak rincian tentang penyaliban. Untuk anak usia sekolah dasar, kisah-kisah dalam Markus bisa dipakai untuk menjelaskan apa arti mengikut Yesus setiap hari, termasuk saat sulit. Untuk remaja, pertanyaan Yesus di Markus 8:29, "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?", adalah pintu masuk yang luar biasa untuk membicarakan iman pribadi yang bukan sekadar warisan keluarga.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus yang disesuaikan untuk tiga kelompok usia, yaitu balita dan anak prasekolah 3 sampai 6 tahun, anak usia sekolah 7 sampai 12 tahun, dan remaja 12 tahun ke atas, sehingga Anda bisa memilih bahasa yang pas untuk anak di rumah atau di kelas Sekolah Minggu Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa penulis Injil Markus?
Kitab ini tidak menyebutkan nama penulisnya di dalam teks, tetapi kesaksian gereja mula-mula sejak awal abad kedua secara konsisten menunjuk Yohanes Markus, rekan sekerja Petrus dan Paulus. Papias mencatat bahwa Markus menulis dengan cermat apa yang diingatnya dari pengajaran Petrus. Markus bukan salah satu dari dua belas murid; ia generasi berikutnya. Kita mengenalnya dari Kisah Para Rasul sebagai anak Maria di Yerusalem, sepupu Barnabas, yang sempat mundur dari perjalanan misi lalu dipulihkan dan kemudian disebut Paulus sebagai orang yang berguna untuk pelayanan.
Kapan Injil Markus ditulis?
Sebagian besar penafsir menempatkan penulisannya antara tahun 55 dan 70 Masehi, dengan perkiraan yang paling banyak diterima pada akhir tahun 60-an, tidak lama sebelum atau sesudah kematian Petrus di Roma dan sebelum Bait Suci di Yerusalem dihancurkan pada tahun 70. Nada mendesak kitab ini, perhatiannya yang besar pada penderitaan dan penyangkalan diri, serta penjelasan tentang adat Yahudi bagi pembaca non-Yahudi, semuanya cocok dengan jemaat di Roma yang sedang mengalami tekanan berat pada masa pemerintahan Kaisar Nero.
Apakah benar Injil Markus ditulis paling awal dari keempat Injil?
Sebagian besar ahli Perjanjian Baru berpendapat demikian, karena hampir seluruh isi Markus muncul kembali dalam Matius dan Lukas, sering kali dengan urutan dan kata-kata yang mirip, sementara Markus jarang terasa seperti ringkasan dari keduanya. Pandangan ini disebut prioritas Markus. Perlu dicatat bahwa ini adalah kesimpulan studi perbandingan, bukan ajaran Alkitab itu sendiri, dan tradisi kuno sempat menempatkan Matius lebih dahulu. Bagaimanapun urutannya, keempat Injil sama-sama berotoritas penuh sebagai firman Allah.
Mengapa Injil Markus paling pendek di antara keempat Injil?
Markus hanya enam belas pasal karena ia memang tidak bermaksud menulis biografi lengkap. Ia menghilangkan silsilah, kisah kelahiran, dan banyak ajaran panjang seperti Khotbah di Bukit, lalu memusatkan perhatian pada tindakan Yesus dan terutama pada minggu terakhir hidup-Nya. Hampir sepertiga kitabnya hanya mencakup beberapa hari di Yerusalem. Pendeknya kitab ini bukan tanda kekurangan informasi, melainkan pilihan yang disengaja: Markus ingin pembacanya bergerak cepat menuju salib dan kubur yang kosong.
Apa arti "rahasia Mesias" dalam Injil Markus?
Istilah ini menunjuk pola yang berulang dalam Markus, yaitu Yesus melarang orang yang disembuhkan, roh-roh jahat, bahkan murid-murid-Nya sendiri untuk mengumumkan siapa Dia. Alasannya berkaitan dengan harapan zaman itu: banyak orang menantikan Mesias sebagai pembebas politik yang akan mengusir Romawi. Jika gelar itu tersebar sebelum salib, orang akan mengerti dengan cara yang keliru. Itulah sebabnya larangan tersebut berhenti setelah kematian Yesus, dan pengakuan penuh pertama justru diucapkan di depan salib oleh seorang perwira Romawi.
Mengapa Markus 16:9 sampai 20 sering diberi catatan khusus dalam Alkitab?
Karena naskah-naskah Yunani tertua dan paling dapat diandalkan mengakhiri Injil Markus pada ayat 8, sehingga banyak penerjemah menandai bagian penutup yang lebih panjang itu dengan catatan kaki atau kurung. Isi bagian tersebut selaras dengan kesaksian Injil lain tentang kebangkitan dan amanat pemberitaan, termasuk Markus 16:15, dan tidak mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab. Namun karena bukti naskahnya tidak sekuat bagian lain, para penafsir berhati-hati membangun ajaran khusus, misalnya tentang ular dan racun, hanya dari ayat-ayat ini.
Apa perbedaan Injil Markus dengan Matius, Lukas, dan Yohanes?
Matius menulis terutama bagi pembaca Yahudi dan menekankan Yesus sebagai penggenapan nubuat serta Raja yang mengajar. Lukas menulis dengan ketelitian seorang sejarawan dan menyoroti belas kasihan Yesus kepada orang miskin, perempuan, dan orang asing. Yohanes bergerak paling dalam secara teologis, dengan tujuh tanda dan ucapan "Akulah". Markus paling ringkas, paling cepat, dan paling menyoroti tindakan: Yesus sebagai Hamba yang berkuasa, yang jalan hidup-Nya mengarah lurus ke salib dan menuntut murid-murid-Nya berjalan di jalan yang sama.
Mengapa kata "segera" sering sekali muncul dalam Injil Markus?
Kata Yunani euthys muncul lebih dari empat puluh kali dalam kitab ini, jauh lebih sering daripada di Injil lain. Efeknya membuat pembaca merasa terseret dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya tanpa jeda. Secara teologis, kecepatan ini menyampaikan pesan bahwa Kerajaan Allah sudah masuk ke dunia dan tidak bisa ditahan lagi, sebagaimana diumumkan dalam Markus 1:15. Menariknya, kecepatan itu melambat drastis ketika kisah mencapai Yerusalem, seolah Markus ingin kita berhenti lama dan menatap salib.
Apa ayat pokok yang paling merangkum Injil Markus?
Banyak penafsir menunjuk Markus 10:45: "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Ayat ini menyatukan dua sisi yang ditekankan Markus, yaitu kuasa ilahi Yesus dan pelayanan-Nya yang berakhir di salib. Dua ayat lain yang sama pentingnya adalah Markus 1:1 sebagai judul seluruh kitab dan Markus 15:39 sebagai klimaksnya, ketika seorang manusia akhirnya mengakui Yesus sebagai Anak Allah.
Siapa pemuda yang melarikan diri dengan telanjang dalam Markus 14:51?
Markus mencatat bahwa ketika Yesus ditangkap, seorang muda yang hanya memakai kain lenan ikut mengikuti, lalu ketika orang hendak menangkapnya ia melepaskan kain itu dan lari telanjang. Nama pemuda itu tidak disebutkan. Sejak zaman gereja mula-mula banyak yang menduga ia adalah Markus sendiri, semacam tanda tangan rendah hati dari sang penulis. Dugaan itu tidak bisa dipastikan, tetapi detail kecil ini terasa seperti kenangan pribadi seorang saksi mata, dan cocok dengan kejujuran kitab ini tentang kegagalan manusia.
Mengapa Injil Markus berakhir dengan ketakutan para perempuan?
Markus 16:8 mencatat bahwa para perempuan lari dari kubur dengan gentar dan tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun karena takut. Akhir yang terasa terputus ini mungkin justru disengaja. Sepanjang kitab, Markus menunjukkan bahwa setiap orang gagal memahami Yesus, dan kini bola itu dilempar kepada pembaca: pesannya sudah sampai kepada Anda, jadi apa yang akan Anda lakukan? Ketakutan bukan akhir cerita, sebab malaikat sudah mengumumkan bahwa Ia telah bangkit dan menanti para murid di Galilea.
Bagaimana cara terbaik membaca Injil Markus untuk pertama kali?
Bacalah sekaligus dalam satu atau dua kali duduk, kalau bisa dengan suara agak keras, karena kitab ini memang ditulis untuk didengar jemaat. Setelah itu baca ulang secara perlahan dengan membaginya menjadi empat bagian: pasal 1 sampai 4, pasal 5 sampai 8, pasal 9 sampai 12, dan pasal 13 sampai 16. Tandai setiap kali muncul kata "segera", setiap kali Yesus menubuatkan penderitaan-Nya, dan setiap kali murid-murid salah paham. Berhentilah agak lama di Markus 8:29 dan Markus 15:39.
Sebagai penutup
Injil Markus adalah kitab yang berlari, tetapi ia berlari ke satu tempat saja: sebuah bukit di luar Yerusalem, tempat seorang perwira Romawi menatap seorang terhukum yang sudah mati dan berkata, "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!" Semua kuasa yang diperlihatkan Markus pada pasal-pasal awal, atas setan, penyakit, badai, dan kematian, bermuara di situ. Bukan karena kuasa itu kalah, melainkan karena di sanalah kuasa itu dipakai sepenuhnya untuk menebus kita.
Kalau Anda ingin melangkah lebih jauh, ambil waktu empat hari dan bacalah empat pasal setiap hari sambil menyimpan satu pertanyaan di hati: Mesias macam apa yang sebenarnya saya ikuti? Lalu kembalilah ke Markus 10:45 dan tanyakan bagian mana dari hidup Anda minggu ini yang sedang dipanggil untuk melayani, bukan dilayani. Sesudah itu, bacalah Markus 16:15 bukan sebagai perintah untuk orang lain, melainkan sebagai kabar yang terlalu baik untuk Anda simpan sendiri.
Yesus masih mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda hari ini: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
