Kitab Nehemia: Membangun Kembali Tembok di Tengah Tantangan dan Ejekan
Pendahuluan
Bayangkan seorang pria berdiri di depan puing-puing. Malam hari, di atas punggung keledai, ia menyusuri sisa tembok kota yang hangus: batu-batu berserakan, pintu gerbang tinggal arang, dan di kejauhan terdengar suara anjing. Ia tidak membawa pasukan. Ia tidak membawa arsitek. Yang ia bawa hanyalah beberapa surat dari raja Persia dan hati yang sudah berminggu-minggu menangis. Seratus empat puluh tahun setelah Yerusalem dihancurkan, kota itu masih terbuka seperti luka yang tak pernah ditutup.
Dari situlah Kitab Nehemia bermula. Bukan dari kemenangan, melainkan dari kabar buruk yang membuat seorang juru minuman raja duduk dan menangis.
Di halaman ini Anda akan menemukan latar belakang kitab ini, siapa penulisnya, kapan peristiwanya terjadi, bagaimana strukturnya dibangun, apa tema-tema utamanya, dan mengapa akhir kitab ini justru terasa pahit. Dan yang terpenting: mengapa tembok yang selesai dalam lima puluh dua hari ternyata bukan akhir cerita.
Sudut pandang panduan ini
Kebanyakan tulisan tentang Nehemia menjadikannya buku pegangan kepemimpinan: visi, strategi, delegasi, selesai. Panduan ini mengambil jalan lain. Kita akan membaca Nehemia dari dua suara yang terus terdengar di sepanjang kitab: suara ejekan dari luar, dan suara kekecewaan di akhir. Sanbalat menertawakan tembok itu sebelum batu pertama diletakkan. Dan ketika tembok akhirnya berdiri megah, pasal terakhir memperlihatkan umat yang kembali melanggar janji mereka sendiri. Tembok selesai, hati belum. Justru di titik itulah Nehemia berhenti sebagai teladan dan mulai menjadi penunjuk jalan kepada Kristus, satu-satunya yang sanggup membangun kembali hati manusia.
Apa kata Alkitab tentang Kitab Nehemia?
Kitab Nehemia membuka dirinya dengan sebuah judul yang jujur: "Riwayat Nehemia bin Hakhalya." Ini catatan pribadi, semacam memoar, ditulis sebagian besar dalam bentuk "aku". Kita mendengar isi hatinya, doa-doanya yang pendek, bahkan keluhan-keluhannya. Tidak banyak kitab dalam Perjanjian Lama yang membiarkan kita sedekat ini dengan batin seorang hamba Allah.
Semuanya dimulai dengan kabar dari Yerusalem yang dibawa Hanani, saudara Nehemia: tembok roboh, gerbang terbakar, penduduk hidup dalam kehinaan. Reaksi Nehemia bukan rapat darurat, melainkan air mata. "Ketika kudengar berita ini, aku duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit" (Nehemia 1:4). Perhatikan urutannya. Sebelum ada rencana, ada ratapan. Sebelum ada tembok, ada lutut yang bertelut. Nehemia tidak sekadar prihatin dengan keadaan bangsanya; ia mengaku dosa bangsanya sebagai dosanya sendiri: "aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa."
Empat bulan kemudian, di hadapan Raja Artahsasta, wajahnya tidak bisa menyembunyikan dukanya. Sang raja bertanya, dan di tengah pertanyaan itu Nehemia "berdoa kepada Allah semesta langit" sebelum menjawab. Doa secepat napas, di tengah percakapan yang bisa membuatnya kehilangan nyawa.
Setibanya di Yerusalem, setelah tiga hari diam dan satu malam menyelidiki reruntuhan sendirian, ia akhirnya bicara: "Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela" (Nehemia 2:17). Ada dua hal indah di sini. Pertama, "kita". Ia yang baru datang dari istana Susan menyebut kemalangan itu sebagai kemalangan bersama. Kedua, alasannya: "supaya kita tidak lagi dicela." Bagi Nehemia, reruntuhan Yerusalem bukan sekadar masalah keamanan; itu noda pada nama Allah di hadapan bangsa-bangsa.
Lalu pekerjaan dimulai, dan hasilnya mengejutkan: "Demikianlah kami membangun tembok itu dan seluruh tembok itu telah selesai sampai setengah tingginya, karena seluruh rakyat bekerja dengan segenap hati" (Nehemia 4:6). Kuncinya ada di kalimat terakhir. Bukan karena peralatan yang canggih atau tenaga ahli, melainkan karena hati rakyat ada di dalam pekerjaan itu. Pasal 3 mencatat nama-nama yang tidak kita kenal: tukang emas, tukang minyak wangi, para imam, bahkan anak-anak perempuan Salum. Mereka membangun "di depan rumahnya sendiri". Allah membangun kota-Nya dengan orang-orang biasa yang mengerjakan bagian yang paling dekat dengan hidup mereka.
Dan sejak awal, ejekan mengiringi. Sanbalat tertawa: "Apa yang dilakukan orang-orang Yahudi yang lemah ini?" Tobia menambahi: kalau seekor serigala naik ke atasnya, tembok batu itu pasti roboh. Ejekan selalu lebih murah daripada batu.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Nehemia berdiri di ujung sejarah Perjanjian Lama. Secara kronologis, ia termasuk peristiwa terakhir yang dicatat dalam kanon Ibrani. Setelah kitab ini, tinggal suara Maleakhi, lalu empat ratus tahun sunyi sampai malaikat berbicara kepada Zakharia di Bait Allah.
Untuk memahami tempatnya, kita harus mundur. Allah berjanji kepada Abraham akan memberi tanah dan keturunan. Daud menerima janji tentang takhta yang kekal. Tetapi umat itu berulang kali mengkhianati perjanjian, sampai Yerusalem dihancurkan Babel pada tahun 586 sebelum Masehi. Lalu Allah menggerakkan hati Koresh, raja Persia, dan gelombang demi gelombang orang buangan pulang: Zerubabel membangun kembali Bait Allah, Ezra membawa pulang hukum Taurat, dan Nehemia datang membangun tembok. Bait Allah tanpa kota yang aman adalah bait yang rapuh; umat tanpa firman adalah umat yang kosong. Ketiganya dibutuhkan.
Tetapi inilah yang membuat Nehemia begitu penting bagi seluruh alur Alkitab: semua yang kembali itu tidak menghasilkan pembaruan yang bertahan. Doa pengakuan dosa yang panjang di pasal 9 berakhir dengan kalimat yang menyayat: "Sesungguhnya, kami sekarang menjadi budak. Ya, kami menjadi budak di tanah yang Kauberikan kepada nenek moyang kami." Mereka pulang ke tanah perjanjian, tetapi masih hidup di bawah kuasa asing. Mereka membangun tembok, tetapi tidak bisa membangun hati.
Di sinilah nubuat para nabi bergema: Yeremia berbicara tentang perjanjian baru yang ditulis di dalam hati, Yehezkiel tentang hati batu yang diganti hati daging. Nehemia memperlihatkan dengan gamblang mengapa perjanjian baru itu mutlak perlu.
Perjanjian Baru menggenapi gambar ini dengan cara yang mengejutkan. Yesus Kristus datang bukan untuk memperbaiki tembok, melainkan untuk merobohkan satu tembok dan menjadi dasar bangunan baru. Paulus menulis bahwa Dia "telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" antara Yahudi dan bukan Yahudi (Efesus 2:14), dan bahwa kita "dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, sedangkan Kristus Yesus sendiri menjadi batu penjuru" (Efesus 2:20). Umat Allah yang sejati bukan lagi kota berbenteng di Yudea, melainkan bait yang hidup dari batu-batu hidup (1 Petrus 2:5). Dan di akhir Alkitab, Wahyu memperlihatkan Yerusalem baru dengan tembok yang berkilauan dan gerbang yang tidak pernah ditutup, karena tidak ada lagi musuh yang perlu ditakuti.
Nehemia menutup gerbang pada hari Sabat untuk melindungi umat. Kristus membuka gerbang untuk menyambut dunia.
Nehemia membangun tembok; Kristus membangun hati.
Struktur dan tema utama
Kitab Nehemia terdiri dari tiga belas pasal yang terbagi rapi menjadi tiga gerakan besar, dan setiap gerakan punya nada tersendiri.
Bagian pertama, pasal 1 sampai 7, adalah kisah pembangunan tembok. Dibuka dengan doa Nehemia di Susan pada bulan Kislew tahun kedua puluh Raja Artahsasta I, yaitu sekitar tahun 445 sebelum Masehi. Nehemia adalah juru minuman raja, jabatan yang jauh lebih penting daripada kedengarannya: ia mencicipi anggur raja, berarti ia dipercaya dengan nyawa raja. Dari jabatan itu ia memohon izin pulang, lalu tiba di Yerusalem, memeriksa reruntuhan pada malam hari, menggerakkan rakyat, dan membagi pekerjaan menurut keluarga dan wilayah. Di tengahnya muncul ancaman dari luar: ejekan Sanbalat orang Horon, Tobia orang Amon, dan Gesyem orang Arab, lalu rencana penyerangan, lalu intrik dan fitnah. Dan di tengah semua itu muncul krisis dari dalam pada pasal 5, yang sering terlewat: orang-orang kaya Yahudi memeras saudara-saudara mereka sendiri dengan bunga utang sampai anak-anak mereka harus dijual sebagai budak. Nehemia marah besar, menuntut pengembalian, bahkan melepaskan haknya sendiri atas tunjangan bupati selama dua belas tahun. Tembok selesai dalam lima puluh dua hari (Nehemia 6:15), dan bahkan musuh-musuh mengakui bahwa pekerjaan itu "dilakukan oleh karena pertolongan Allah".
Bagian kedua, pasal 8 sampai 10, adalah jantung rohani kitab ini, dan di sini Nehemia mundur ke belakang panggung. Ezra sang ahli kitablah yang tampil. Seluruh rakyat berkumpul di halaman depan Pintu Gerbang Air, dan dari pagi sampai tengah hari firman dibacakan, lalu dijelaskan sehingga rakyat mengerti. Mereka menangis mendengar Taurat, merayakan Hari Raya Pondok Daun yang sudah lama diabaikan, mengaku dosa dalam doa panjang di pasal 9 yang menelusuri seluruh sejarah Israel, dan akhirnya menandatangani perjanjian tertulis. Urutan ini patut diperhatikan: tembok dulu, baru firman? Bukan. Firman yang menjadikan tembok itu bermakna. Benteng tanpa Taurat hanyalah batu.
Bagian ketiga, pasal 11 sampai 13, mengurus kehidupan sehari-hari: siapa yang tinggal di dalam kota, daftar para imam dan orang Lewi, dan perayaan pentahbisan tembok dengan dua paduan suara besar yang berjalan berlawanan arah di atas tembok sampai bertemu di Bait Allah. Lalu, tepat ketika kita mengira kitab ini akan berakhir dengan sukacita, pasal 13 datang seperti ember air dingin. Nehemia kembali ke Persia, dan ketika ia datang lagi beberapa tahun kemudian, semuanya sudah bobrok: Tobia sang musuh mendapat kamar di pelataran Bait Allah, orang Lewi tidak diberi bagian sehingga mereka kembali ke ladang, Sabat diinjak-injak oleh perdagangan, dan perkawinan campur merusak identitas umat.
Tema-tema yang mengikat semuanya: doa yang terus-menerus, "tangan Allahku yang murah" sebagai penjelasan atas setiap keberhasilan, firman yang dibacakan dan dimengerti, pertobatan yang berbentuk perubahan nyata, dan sebuah permohonan yang diulang-ulang: ingatlah aku, ya Allahku.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat merangkum seluruh gerak kitab ini, dan ketiganya bersentuhan dengan sudut pandang panduan ini.
Yang pertama, Nehemia 2:17: "Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela." Nehemia tidak memulai dengan menyemangati, melainkan dengan mengajak melihat. Banyak orang hidup bertahun-tahun di tengah reruntuhan sampai tidak lagi menyadarinya. Langkah pertama pembaruan adalah berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Lalu ia menyebut dirinya bagian dari masalah itu, bukan penyelamat dari luar.
Yang kedua, Nehemia 6:3: "Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang! Untuk apa pekerjaan ini terhenti oleh sebab aku meninggalkannya dan pergi kepada kamu!" Ini jawaban Nehemia atas undangan "berunding" di dataran Ono, yang sebenarnya adalah jebakan pembunuhan. Empat kali mereka mengirim undangan; empat kali ia menjawab dengan kalimat yang sama. Ada godaan yang tidak perlu dilawan dengan argumen, melainkan cukup dengan penolakan untuk turun. Ejekan, fitnah, surat terbuka yang menuduhnya ingin jadi raja, bahkan nabi palsu yang disewa untuk menakut-nakutinya agar bersembunyi di Bait Allah: semua dirancang supaya ia berhenti membangun. Nehemia mengerti bahwa musuh tidak selalu ingin menghancurkan Anda; sering kali cukup baginya membuat Anda berhenti.
Yang ketiga, Nehemia 8:10 (dalam Terjemahan Baru dinomori 8:11): "Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" Ayat ini sering dikutip lepas dari konteksnya. Konteksnya adalah rakyat yang menangis karena baru sadar betapa jauh mereka dari firman Allah. Dan jawabannya bukan "jangan terlalu serius", melainkan: hari ini kudus, maka rayakanlah, bagikanlah kepada yang tidak punya apa-apa, dan jangan biarkan dukacita menenggelamkan kamu. Kata "perlindungan" di sini berarti benteng, kubu pertahanan. Tembok batu akhirnya selesai; tetapi benteng yang sesungguhnya adalah sukacita karena Tuhan. Lucunya, kitab yang begitu sibuk dengan tembok justru memberi tahu kita bahwa perlindungan terbaik bukan terbuat dari batu.
Panduan membaca kitab Nehemia dalam tujuh langkah
Bacalah kitab ini dalam tiga minggu, bukan tiga bulan; alurnya akan hilang kalau dicicil terlalu lama. Mulailah dengan membaca pasal 1 dan 2 dalam satu duduk, lalu berhenti dan perhatikan betapa panjang jarak antara doa Nehemia di bulan Kislew dan percakapannya dengan raja di bulan Nisan. Empat bulan menunggu. Tanyakan pada diri sendiri doa apa yang Anda sudah berhenti mendoakan karena belum dijawab dalam empat bulan.
Langkah kedua: bacalah pasal 3 dengan sabar, meski terasa seperti daftar telepon. Garis bawahi kalimat "di depan rumahnya" dan "dengan segenap hati". Pasal ini adalah penghormatan Allah kepada pekerja-pekerja yang tidak terkenal.
Ketiga: bacalah pasal 4 sampai 6 sekaligus, dan buat catatan tentang setiap bentuk serangan yang muncul: ejekan, ancaman kekerasan, keletihan, ketakutan, konflik internal, fitnah, dan nabi palsu. Perhatikan bagaimana Nehemia menjawab masing-masing. Hampir selalu dengan dua hal: doa dan tindakan praktis.
Keempat: bacalah pasal 5 pelan-pelan secara terpisah. Ini pasal tentang uang, bunga pinjaman, dan keadilan di antara saudara seiman. Kalau pembaruan rohani tidak menyentuh dompet, Nehemia akan mempertanyakannya.
Kelima: bacalah pasal 8 sampai 10 dengan Alkitab terbuka di sebelah Imamat 23 dan Ulangan, karena di sinilah firman kembali menjadi pusat. Doa di pasal 9 sangat baik dibaca dengan suara keras sebagai doa Anda sendiri.
Keenam: bacalah pasal 13 tanpa buru-buru menyimpulkan. Biarkan rasa kecewanya bekerja. Kitab ini sengaja berakhir dengan nada menggantung.
Ketujuh: tutup dengan membaca Efesus 2 dan Wahyu 21. Barulah Anda akan melihat ke mana sebenarnya seluruh pekerjaan batu itu menunjuk.
Cermin
Mungkin Anda mengenali Sanbalat tanpa pernah membaca namanya. Suara yang berkata, "untuk apa repot-repot." Rekan kerja yang menertawakan kejujuran Anda. Keluarga yang berkomentar sinis ketika Anda mulai serius dengan iman. Atau, yang paling sering, suara di dalam kepala Anda sendiri yang menghitung: tembok ini terlalu tinggi, batu ini terlalu berat, kamu terlalu terlambat memulai.
Perhatikan apa yang tidak dilakukan Nehemia. Ia tidak membalas ejekan dengan ejekan. Ia tidak menulis surat panjang untuk membela diri. Ia berdoa, menaruh penjaga, dan terus menyusun batu dengan satu tangan sambil memegang senjata dengan tangan yang lain. Ejekan bukan tanda kegagalan, melainkan tanda pekerjaan.
Tetapi ada cermin kedua di kitab ini, dan yang ini lebih menyakitkan. Pasal 13 bukan tentang musuh di luar, melainkan tentang umat yang lupa pada janji yang baru saja mereka tanda tangani. Mereka tidak dikalahkan oleh Sanbalat; mereka terkikis oleh kebiasaan. Sedikit demi sedikit gerbang dibuka pada hari Sabat, sedikit demi sedikit orang Lewi dibiarkan kelaparan, sedikit demi sedikit Tobia mendapat kamar di dalam Bait Allah. Begitulah kebanyakan dari kita runtuh. Bukan dalam satu malam dramatis, melainkan melalui kompromi-kompromi kecil yang tampaknya masuk akal pada saat itu.
Jadi tanyakan dengan jujur: ruang mana dalam hidup Anda yang dulu Anda bersihkan, tetapi sekarang sudah diisi kembali oleh sesuatu yang tidak semestinya ada di sana? Komitmen mana yang pernah Anda buat dengan air mata di sebuah retret, lalu diam-diam Anda tinggalkan? Nehemia menutup gerbang dan menempatkan penjaga. Kadang kasih karunia bekerja persis seperti itu: menuntut kita menutup sesuatu dengan tegas, bukan karena Allah ingin mempersempit hidup kita, melainkan karena Dia tahu apa yang menyelinap masuk ketika gerbang dibiarkan terbuka.
Dan ketika Anda sadar Anda lebih mirip umat di pasal 13 daripada Nehemia di pasal 6, di situlah Injil mulai terdengar indah.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak suka membangun. Itulah pintu masuk terbaik ke kitab ini. Ceritakan kepada mereka tentang sebuah kota yang temboknya hancur, seperti istana balok yang dirobohkan, sehingga semua orang di dalamnya merasa takut dan malu. Lalu ada seorang bapak bernama Nehemia yang tinggal jauh sekali, di istana raja. Ketika ia mendengar kabar itu, ia menangis dan berdoa kepada Allah. Dan Allah membuat hati raja menjadi baik, sehingga Nehemia boleh pulang untuk membangun kembali.
Ceritakan juga bagian yang paling disukai anak-anak: ada orang-orang jahat yang menertawakan pekerjaan itu. Mereka berkata tembok itu akan roboh kalau seekor serigala naik ke atasnya. Tetapi Nehemia tidak ikut bertengkar. Ia hanya berkata, "Aku sedang mengerjakan pekerjaan yang besar, aku tidak bisa turun." Lalu semua orang bekerja bersama-sama: tukang emas, tukang minyak wangi, para imam, bahkan anak-anak perempuan. Masing-masing membangun bagian di depan rumahnya sendiri. Dan dalam lima puluh dua hari, tembok itu selesai.
Tutuplah dengan kabar baiknya: tembok bisa dibangun manusia, tetapi hati yang rusak hanya bisa dibangun kembali oleh Yesus.
Penjelasan yang lebih khusus sesuai usia tersedia terpisah, baik untuk anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun yang membutuhkan cerita pendek dengan banyak gambar, untuk anak usia sekolah 7 sampai 12 tahun yang sudah bisa mengikuti alur sejarahnya, maupun untuk remaja 12 tahun ke atas yang justru akan tertarik pada pasal 5 dan pasal 13, tentang keadilan, uang, dan mengapa kitab ini berakhir dengan kekecewaan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis kitab Nehemia?
Bagian terbesar kitab ini jelas berasal dari Nehemia sendiri, karena ditulis dalam bentuk "aku" dan diberi judul "Riwayat Nehemia bin Hakhalya". Ini semacam memoar pribadi, lengkap dengan doa-doa spontan dan luapan emosinya. Namun di dalamnya terdapat juga daftar-daftar resmi dan bagian yang berpusat pada Ezra, sehingga banyak penafsir meyakini seorang penyusun kemudian menggabungkan catatan Nehemia dengan dokumen-dokumen lain. Dalam kanon Ibrani, Ezra dan Nehemia bahkan dihitung sebagai satu kitab, yang menunjukkan bahwa keduanya sejak awal dibaca sebagai satu kisah pemulihan.
Kapan peristiwa dalam kitab Nehemia terjadi?
Kitab ini memberi penanggalan yang cukup rinci. Nehemia menerima kabar tentang Yerusalem pada bulan Kislew tahun kedua puluh pemerintahan Raja Artahsasta I, lalu menghadap raja pada bulan Nisan tahun yang sama, sekitar tahun 445 sebelum Masehi. Ia melayani sebagai bupati selama dua belas tahun, kembali ke Susan pada tahun ketiga puluh dua pemerintahan raja, sekitar 433 sebelum Masehi, lalu datang lagi beberapa waktu kemudian untuk melakukan pembaruan yang dicatat dalam pasal 13. Dengan demikian, kitab ini mencakup kurang lebih dua dekade.
Berapa lama tembok Yerusalem dibangun?
Lima puluh dua hari, menurut Nehemia 6:15. Angka ini terdengar mustahil bagi sebuah kota yang hancur, tetapi perlu diingat bahwa mereka membangun di atas fondasi lama dan memakai batu-batu yang sudah ada di tempat itu, dan bahwa seluruh penduduk dibagi menurut wilayah untuk mengerjakan bagian di dekat rumah masing-masing. Bahkan musuh-musuh mereka mengakui bahwa pekerjaan secepat itu hanya mungkin terjadi dengan pertolongan Allah. Kecepatan itu sendiri menjadi kesaksian.
Siapa Sanbalat, Tobia, dan Gesyem?
Mereka adalah para pejabat di wilayah sekitar Yehuda yang kehilangan pengaruh bila Yerusalem kembali kuat. Sanbalat tampaknya adalah gubernur Samaria, dan namanya muncul juga dalam dokumen papirus dari Elefantine di Mesir, yang menguatkan latar sejarah kitab ini. Tobia disebut "orang Amon", punya banyak koneksi perkawinan dengan keluarga terpandang di Yerusalem, dan belakangan bahkan mendapat kamar di pelataran Bait Allah. Gesyem adalah pemimpin Arab di selatan. Ketiganya bergerak dari ejekan, lalu ancaman kekerasan, lalu fitnah dan intrik politik.
Apa hubungan kitab Ezra dan kitab Nehemia?
Keduanya menceritakan masa pemulihan setelah pembuangan Babel dan dalam kanon Ibrani dihitung sebagai satu kitab. Ezra lebih berfokus pada pemulihan ibadah dan pembangunan kembali Bait Allah serta pengajaran Taurat, sedangkan Nehemia berfokus pada pembangunan kembali tembok kota dan penataan kehidupan masyarakat. Keduanya bahkan bertemu dalam Nehemia 8, ketika Ezra membacakan Taurat di depan rakyat sementara Nehemia berdiri di sampingnya sebagai bupati. Firman dan benteng bekerja bersama di sana.
Mengapa Nehemia berdoa sebelum menjawab pertanyaan raja?
Karena menunjukkan wajah murung di hadapan raja Persia bisa berakibat fatal, dan karena permintaan yang hendak ia ajukan menyangkut keputusan politik yang sebelumnya pernah dibatalkan raja itu sendiri. Dalam situasi genting itu Nehemia menyisipkan doa singkat di tengah percakapan, hanya beberapa detik, sebelum membuka mulut. Ini salah satu gambaran paling indah tentang hidup berdoa dalam Alkitab: doa panjang berminggu-minggu di kamar, lalu doa sepanjang satu tarikan napas di ruang takhta.
Apa arti "sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu"?
Kata yang diterjemahkan "perlindungan" berarti benteng atau tempat berkubu. Ucapan ini disampaikan kepada orang-orang yang menangis karena baru menyadari betapa jauh mereka dari firman Allah. Mereka tidak disuruh melupakan dosa mereka, melainkan diberi tahu bahwa dukacita tidak boleh menjadi kata terakhir pada hari yang kudus bagi Tuhan. Sukacita di sini bukan suasana hati yang dibuat-buat, melainkan kekuatan yang lahir dari mengetahui bahwa Tuhan menerima mereka kembali. Karena itu mereka merayakan dan berbagi makanan dengan yang kekurangan.
Apakah Nehemia seorang nabi atau raja?
Bukan keduanya. Nehemia adalah seorang awam, pejabat sipil, juru minuman raja Persia yang kemudian diangkat menjadi bupati Yehuda. Ia tidak pernah menerima penglihatan kenabian dan tidak pernah mengklaim berbicara atas nama Allah seperti Yesaya atau Yeremia. Justru itulah salah satu daya tarik kitab ini: Allah memakai seorang administrator, seorang yang terbiasa dengan surat izin, perhitungan kayu, dan jadwal kerja, untuk melakukan pekerjaan rohani yang besar. Panggilan tidak selalu berbentuk mimbar.
Mengapa kitab Nehemia berakhir dengan nada kecewa?
Karena kitab ini jujur. Pasal 13 memperlihatkan bahwa perjanjian yang ditandatangani dengan sungguh-sungguh di pasal 10 sudah dilanggar hanya beberapa tahun kemudian: Sabat diperdagangkan, orang Lewi ditelantarkan, dan musuh mendapat tempat di rumah Allah. Akhir yang menggantung ini berfungsi sebagai tanda tanya besar di ujung Perjanjian Lama. Tembok bisa diperbaiki manusia, tetapi hati tidak. Kitab ini menutup pintunya dengan kerinduan akan perjanjian baru yang dijanjikan para nabi dan digenapi dalam Yesus Kristus.
Benarkah Nehemia memukuli orang dan mencabuti rambut mereka?
Ya, Nehemia 13:25 mencatat tindakan keras itu terhadap orang-orang yang menikahi perempuan asing dan membiarkan anak-anak mereka tidak lagi bisa berbahasa Yahudi. Kita perlu membacanya dalam konteks hukum perjanjian lama dan ancaman nyata lenyapnya identitas umat Allah, bukan sebagai contoh yang boleh ditiru dalam cara menegur orang. Perjanjian Baru menuntut cara lain: menegur dengan lemah lembut, dalam roh kasih. Alkitab mencatat perbuatan tokoh-tokohnya dengan jujur, termasuk yang keras dan tidak nyaman, tanpa selalu menyetujuinya.
Apa makna doa "ingatlah kepadaku, ya Allahku"?
Kalimat ini muncul beberapa kali, antara lain dalam Nehemia 13:14: "Ya Allahku, ingatlah kepadaku karena hal itu dan janganlah hapuskan segala perbuatan bakti yang telah kulakukan terhadap rumah Allahku dan segala pelayanan di dalamnya!" Nehemia bukan sedang menuntut upah, melainkan menyerahkan hidupnya kepada penilaian Allah di tengah banyaknya tuduhan manusia terhadapnya. Ia bekerja tanpa penonton yang adil, dan ia menitipkan segalanya pada ingatan Allah. Bagi orang percaya hari ini, ini doa yang sehat ketika pelayanan kita tidak dilihat atau disalahpahami.
Bagaimana kitab Nehemia menunjuk kepada Yesus Kristus?
Melalui kontras, bukan sekadar kemiripan. Nehemia meninggalkan istana raja untuk menolong bangsanya; Kristus meninggalkan kemuliaan untuk menyelamatkan kita. Nehemia melepaskan haknya atas tunjangan bupati; Kristus melepaskan jauh lebih banyak. Nehemia membangun tembok pemisah untuk melindungi; Kristus merobohkan tembok permusuhan untuk mempersatukan. Dan ketika tembok Nehemia tetap tidak sanggup menjaga hati umat, Kristus datang untuk menulis hukum Allah di dalam hati itu sendiri. Kitab ini membuat kita haus akan Juruselamat yang bekerja lebih dalam daripada batu.
Sebagai penutup
Kitab Nehemia kerap dijadikan buku panduan untuk meraih sukses. Tetapi bacalah sampai kalimat terakhirnya, dan Anda akan menemukan sesuatu yang jauh lebih jujur dan jauh lebih menghibur. Ya, ada tembok yang selesai dalam lima puluh dua hari. Ya, ada ejekan yang tidak sanggup menghentikan pekerjaan Allah, dan ada seorang hamba yang menjawab empat kali dengan kalimat yang sama: aku tidak bisa turun. Tetapi di ujung semua itu, ada juga seorang pria tua yang berjalan kembali ke kota yang ia bangun dan mendapati kompromi sudah bersarang di mana-mana. Ia menutup gerbang, membersihkan Bait Allah, dan berdoa: ingatlah aku.
Tembok selesai, hati belum.
Itulah mengapa kitab ini begitu penting berdiri di ujung Perjanjian Lama. Ia menyiapkan kita untuk Yesus Kristus, yang tidak hanya memperbaiki yang runtuh, melainkan menciptakan yang baru. Bacalah kitab ini perlahan dengan panduan tujuh langkah di atas, lalu lanjutkan ke Efesus 2 dan Wahyu 21. Dan di tengah pekerjaan Anda sendiri hari ini, sekecil apa pun bagiannya, ingatlah bahwa Allah masih membangun, dan bahwa suara yang menertawakan tidak pernah memegang batu.
