Apa Itu Pengampunan Menurut Alkitab dan Cara Mengampuni
Pendahuluan
Ada satu nama yang masih membuat dadamu terasa sesak. Mungkin nama seorang ayah yang pergi. Mungkin rekan kerja yang menikam dari belakang dan naik jabatan karena itu. Mungkin nama orang yang dulu kamu percaya sepenuhnya, lalu ternyata berbohong selama bertahun-tahun. Dan setiap kali kamu mendengar khotbah tentang pengampunan, ada suara kecil di dalam hati yang protes: jadi lukaku tidak penting?
Justru sebaliknya. Alkitab menganggap luka itu begitu nyata sehingga ia menyebutnya dengan bahasa yang tegas: utang. Ada sesuatu yang benar-benar diambil darimu, dan itu bukan khayalanmu.
Di halaman ini kita akan menelusuri apa sesungguhnya pengampunan menurut Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, membongkar empat kesalahpahaman yang paling sering melumpuhkan orang percaya, dan turun ke tanah yang paling sulit: bagaimana caranya mengampuni ketika hati belum mau.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca pengampunan bukan pertama-tama sebagai urusan perasaan, melainkan sebagai urusan utang. Kata-kata Alkitab untuk mengampuni berasal dari dunia keuangan dan pengadilan: melepaskan, menghapus catatan, membatalkan tagihan, tidak lagi memperhitungkan. Yesus Kristus sendiri mengajar kita berdoa "ampunilah kesalahan-kesalahan kami" dengan gambar seorang hamba yang punya utang tak terbayar.
Mengapa sudut pandang ini penting? Karena ia membebaskan kita dari tuntutan yang tidak pernah Allah berikan. Kamu tidak dipanggil untuk melupakan, tidak dipanggil untuk berpura-pura tidak sakit, tidak dipanggil untuk langsung merasa hangat. Kamu dipanggil untuk melepaskan hak menagih, dan menyerahkan perkaranya kepada Hakim yang adil.
Apa kata Alkitab tentang pengampunan?
Alkitab tidak pernah mendefinisikan pengampunan dalam kalimat kamus; ia menunjukkannya dalam tindakan. Namun kalau kita mendengarkan kosakatanya, arahnya jelas. Dalam Perjanjian Lama dipakai kata-kata yang berarti mengangkat dan membawa pergi, seolah beban dipindahkan dari punggung seseorang. Dalam Perjanjian Baru kata yang paling sering muncul secara harfiah berarti melepaskan atau membiarkan pergi, kata yang di dunia dagang dipakai untuk pembatalan utang.
Karena itu Yesus Kristus mengajar doa Bapa kami dengan kata "kesalahan" yang sejajar dengan "utang", dan ketika Petrus bertanya soal batas, Yesus langsung menjawab dengan angka yang meledak. "Kemudian, Petrus datang dan berkata kepada Yesus, 'Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku yang berdosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?' Yesus berkata kepadanya, 'Aku berkata kepadamu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.'" Itu Matius 18:21-22. Petrus sudah merasa murah hati; rabi-rabi pada zamannya mengajarkan tiga kali cukup, dan ia menawarkan dua kali lebih banyak. Yesus tidak menaikkan kuota, Dia menghapus buku tagihannya. Dan langsung sesudahnya Dia bercerita tentang hamba yang diampuni utang sepuluh ribu talenta, jumlah yang mustahil dibayar seumur hidup, tetapi yang mencengkeram leher rekannya karena seratus dinar.
Cerita itu membawa kita ke inti: pengampunan manusia selalu merupakan gema dari pengampunan yang lebih besar. Paulus menulis dalam Efesus 4:32, "Dan, jadilah ramah seorang terhadap yang lain, penuh belas kasihan, saling mengampuni sama seperti Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu." Perhatikan kata "sama seperti". Ukurannya bukan besarnya lukamu, tetapi besarnya pengampunan yang sudah kamu terima. Hal yang sama diulang dalam Kolose 3:13, "Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." Dua kali Paulus menaruh salib sebagai patokan, bukan perasaan kita.
Lalu bagaimana dengan pengampunan dari pihak Allah? Di sana bahasa Alkitab menjadi sangat konkret. Mazmur 103:12 berkata, "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita." Pemazmur tidak memilih utara dan selatan, karena utara dan selatan punya ujung; kalau kamu terus berjalan ke utara, pada satu titik kamu mulai bergerak ke selatan. Timur dan barat tidak pernah bertemu. Catatan utang itu tidak dipindahkan ke lemari lain, ia dibawa ke tempat yang tidak bisa dijangkau lagi.
Dan pintu masuknya sederhana, meski tidak murahan. 1 Yohanes 1:9 mengatakan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Yohanes tidak menulis "setia dan berbelaskasihan", tetapi "setia dan adil". Allah tidak mengampuni dengan mengabaikan keadilan; Dia mengampuni karena utangnya sudah dibayar di kayu salib. Kolose 2:14 menyebut salib sebagai tempat "surat hutang" itu dihapuskan dan dipakukan.
Pengampunan bukan utang yang dilupakan, tetapi utang yang dibayar.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Sejak halaman-halaman pertama, Alkitab bercerita tentang manusia yang berutang dan Allah yang menutupi. Ketika Adam dan Hawa bersembunyi dengan daun, Allah sendiri membuat pakaian dari kulit binatang; ada yang harus mati agar rasa malu tertutup. Ketika Yusuf akhirnya berdiri di depan kakak-kakaknya yang pernah menjualnya, ia tidak berkata bahwa perbuatan mereka tidak seberapa. Ia berkata dalam Kejadian 50:19, "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?" Itulah kalimat pengampunan yang paling jernih di Perjanjian Lama: Yusuf menolak duduk di kursi hakim yang bukan miliknya. Lalu ia menambahkan dalam Kejadian 50:20, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan."
Hukum Taurat kemudian membangun seluruh sistem di sekitar pemindahan utang. Pada Hari Raya Pendamaian, dosa umat ditumpangkan ke atas kepala kambing yang dilepas ke padang gurun, dan darah dipercikkan di ruang mahakudus. Ibrani 9:22 merangkum logikanya, "tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan." Menarik sekali bahwa Israel juga diperintahkan mengadakan tahun penghapusan utang setiap tujuh tahun dan tahun Yobel setiap lima puluh tahun, ketika tanah kembali dan orang yang terjerat dibebaskan. Ekonomi bangsa itu sendiri dirancang untuk mengajarkan bahwa pembebasan datang dari Allah yang membebaskan.
Para nabi lalu berani mengucapkan hal yang hampir mengejutkan. Yesaya 43:25 menaruh kalimat ini di mulut Allah: "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pelanggaranmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." Mikha 7:19 menutup kitabnya dengan gambar Allah "melemparkan segala dosa kami ke dalam tubir-tubir laut". Yeremia menubuatkan perjanjian baru yang berpuncak pada janji, "sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka" (Yeremia 31:34).
Semuanya bertemu di sebuah bukit di luar Yerusalem. Di sana Yesus Kristus berkata, "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34). Dia mengucapkannya bukan setelah para penyalib menyesal, melainkan ketika paku masih menembus tangan-Nya. Dan perhatikan kepada siapa Dia berbicara: bukan kepada para prajurit, tetapi kepada Bapa. Dia memindahkan perkara itu dari tangan-Nya ke tangan Hakim yang benar. Efesus 1:7 menjelaskan hasilnya, "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya."
Sejak itu benang merah ini menjadi warna gereja. Stefanus yang dilempari batu berseru, "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" (Kisah Para Rasul 7:60), memakai bahasa pembukuan yang sama: jangan catatkan ini ke rekening mereka. Dan Alkitab ditutup dengan dunia di mana semua utang sudah selesai dibereskan, di mana Wahyu 21:4 berkata Allah "akan menghapus segala air mata dari mata mereka".
Kesalahpahaman yang umum
"Mengampuni berarti melupakan." Ini mungkin beban paling berat yang pernah dipikulkan orang Kristen kepada dirinya sendiri. Kalau kamu masih ingat, kamu merasa gagal mengampuni. Tetapi Alkitab tidak pernah menyuruh kita menghapus ingatan. Yusuf ingat dengan detail apa yang terjadi di sumur itu; ia menyebutkannya terus terang di Kejadian 50:20. Ketika Allah berkata "Aku tidak mengingat-ingat dosamu" di Yesaya 43:25, itu bukan pernyataan tentang daya ingat yang melemah, sebab Allah tahu segala sesuatu. Itu bahasa pengadilan: perkara ini tidak akan diangkat lagi sebagai dakwaan. Mengampuni bukan amnesia, melainkan keputusan untuk tidak memakai ingatan itu sebagai senjata tagihan.
"Aku baru bisa mengampuni kalau hatiku sudah tidak sakit." Perasaan hampir selalu datang paling belakang, dan itu tidak apa-apa. Kolose 3:13 berbentuk perintah, bukan undangan untuk menunggu suasana hati yang tepat, dan perintah selalu ditujukan kepada kehendak. Yesus Kristus di Getsemani berkata jujur bahwa jiwa-Nya sangat sedih, lalu tetap berjalan ke Golgota. Kamu bisa mengambil keputusan melepaskan sementara luka masih terasa berdenyut. Yang sering terjadi adalah keputusan itu perlu diulang, kadang setiap hari, sampai hati menyusul. Di situlah tujuh puluh kali tujuh kali dari Matius 18:21-22 juga berlaku ke dalam: bukan hanya tujuh puluh kali tujuh untuk pelanggaran baru, tetapi juga untuk luka lama yang datang lagi setiap pagi.
"Mengampuni berarti hubungan harus pulih seperti dulu dan semua akibat dibatalkan." Alkitab membedakan pengampunan dari pemulihan hubungan. Pengampunan bisa satu arah; rekonsiliasi selalu butuh dua pihak, dan biasanya butuh pertobatan yang nyata. Karena itu Lukas 17:3 berbunyi, "Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia." Ada teguran di sana, bukan hanya senyum. Melepaskan hak menagih juga tidak sama dengan mencabut batas yang sehat atau menutupi kejahatan. Daud diampuni, tetapi akibat perbuatannya tetap berjalan dalam keluarganya. Roma 12:19 berkata, "Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, saudara-saudaraku yang kekasih, tetapi serahkanlah hal itu kepada murka Allah." Perhatikan: yang dilarang adalah membalas sendiri, bukan berharap keadilan. Melaporkan kekerasan kepada pihak berwenang bukan kegagalan mengampuni; itu justru menyerahkan perkara kepada saluran yang Allah tetapkan.
"Kalau aku tidak mengampuni, keselamatanku hilang." Matius 6:14-15 memang tegas: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Ayat ini bukan sedang mengajarkan bahwa pengampunan Allah dibeli dengan perbuatan kita. Seluruh Perjanjian Baru bersaksi bahwa kita diampuni karena darah Kristus, bukan karena prestasi rohani kita. Yang Yesus tunjukkan adalah hal lain: hati yang benar-benar sudah menerima pembatalan utang sepuluh ribu talenta tidak mungkin selamanya mencengkeram leher orang yang berutang seratus dinar kepadanya. Kalau tanganmu tetap terkepal, pertanyaannya bukan "apakah aku cukup rajin mengampuni", melainkan "apakah aku sudah benar-benar mengerti berapa besar utangku yang dihapus". Itulah sebabnya Matius 18 ditutup dengan peringatan tentang mengampuni "dengan segenap hatimu".
Menghidupinya hari ini
Mari kita turun ke tanah. Kalau pengampunan adalah soal utang, maka langkah pertamanya justru bukan berdoa "Tuhan, tolong aku merasa baik-baik saja", melainkan menyebutkan tagihannya dengan jujur. Ambil waktu sendirian dan katakan di hadapan Allah dengan kalimat yang konkret: dia mengambil rasa amanku sebagai anak; dia mengambil delapan tahun hidupku; dia mengambil nama baikku di kantor; dia mengambil uang yang seharusnya untuk sekolah anak-anakku. Alkitab tidak takut pada bahasa seperti ini; setengah dari Kitab Mazmur berisi orang-orang yang menyebutkan kerugian mereka dengan lantang di hadapan Tuhan.
Sesudah itu baru datang tindakan pelepasan. Katakan dengan sadar: aku tidak akan menagih ini lagi, tidak dari dia dan tidak dari hidup. Aku serahkan perkara ini kepada Engkau, ya Tuhan, dan aku tidak mau lagi duduk di kursi hakim yang bukan milikku. Inilah kalimat Yusuf, "aku inikah pengganti Allah?", diucapkan ulang dengan bahasa kita sendiri.
Bentuknya berbeda-beda di setiap situasi. Dalam pernikahan yang terluka karena perselingkuhan, pengampunan berarti berhenti memakai peristiwa itu sebagai alat tekanan dalam setiap pertengkaran berikutnya, sementara kepercayaan dibangun kembali dengan pelan dan dengan pertolongan orang bijak. Terhadap orang tua yang sudah meninggal dan tidak pernah minta maaf, pengampunan dilakukan sepenuhnya di hadapan Allah, karena pihak lain sudah tidak bisa dijangkau. Terhadap rekan kerja yang masih duduk di meja sebelah, pengampunan sering kelihatan sangat kecil dan sangat mahal: menyapanya duluan, tidak menyebarkan cerita, mendoakan namanya sekali sehari walaupun dengan gigi terkatup. Dalam soal uang, kadang pengampunan sangat literal, yaitu memutuskan bahwa utang itu tidak akan ditagih lagi dan hubungan lebih berharga daripada nominalnya.
Dan ada satu meja yang paling sering terlupakan: mejamu sendiri. Banyak orang Kristen mengampuni orang lain tetapi menyimpan buku tagihan atas namanya sendiri, membacanya ulang setiap malam. Untuk itu 1 Yohanes 1:9 diberikan. Bawa dosa itu ke terang, sebut namanya, dan terimalah bahwa Allah yang setia dan adil sudah menghapusnya sejauh timur dari barat. Kamu tidak lebih suci daripada Allah kalau kamu terus menagih apa yang sudah Dia lunasi.
Cermin
Kamu tahu nama itu. Sejak paragraf pertama halaman ini, nama itu sudah muncul di kepalamu, dan mungkin kamu berharap ada satu ayat yang membuat kamu tidak perlu berurusan dengannya.
Tidak ada ayat seperti itu. Tetapi ada kabar yang lebih baik daripada jalan keluar.
Coba jujur: sejauh mana energimu habis untuk menjaga buku tagihan itu? Ada orang yang bertahun-tahun menyusun argumen sempurna untuk perdebatan yang tidak pernah terjadi, di kamar mandi, di jalan tol, di tempat tidur pukul dua pagi. Ada yang bekerja terlalu keras hanya untuk membuktikan sesuatu kepada seseorang yang bahkan tidak memperhatikan. Ada yang tidak bisa menikmati liburannya sendiri karena kalimat lama masih berputar. Dendam memang terasa seperti kekuatan, padahal ia adalah pekerjaan tanpa upah; kamu yang menjaga gudang, sementara pihak lain tidur nyaman.
Dan ada satu pertanyaan yang lebih tajam lagi. Di buku siapa namamu tertulis? Suami yang kata-katanya menyayat, ibu yang perbandingannya melukai anaknya sampai dewasa, atasan yang mempermainkan kebutuhan orang, teman yang menghilang saat dibutuhkan. Kita semua berdiri di kedua sisi meja itu.
Justru di situ Injil masuk. Di kayu salib Yesus Kristus tidak berpura-pura bahwa utang kita kecil. Dia membayarnya. Karena itu Efesus 4:32 tidak berkata "ampunilah karena luka itu tidak seberapa", melainkan "sama seperti Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu". Kamu tidak diminta memberi dari kantong yang kosong. Kamu diminta memberi dari kelimpahan yang sudah kamu terima.
Mungkin hari ini kamu belum bisa merasakan apa pun. Mulailah dengan satu kalimat yang bisa kamu ucapkan dengan sungguh-sungguh: Tuhan, aku belum mau, tetapi aku bersedia mulai.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sangat cepat mengerti soal utang, jauh lebih cepat daripada yang kita sangka. Kalau seorang anak memecahkan mainan kesayangan temannya, ia langsung tahu ada sesuatu yang harus dibereskan, dan ia tahu rasanya perut mual saat menunggu tanggapan.
Cara paling sederhana adalah lewat gambar papan tulis. Tulis di papan atau di kertas hal-hal yang pernah dilakukan seseorang kepada anak itu, misalnya "mencoret bukuku" atau "mengatai aku". Lalu tanyakan: bagaimana rasanya kalau tulisan ini dibiarkan terus terpasang di dinding kamarmu? Sesudah itu ambil penghapus atau lap, dan hapus semuanya sampai bersih. Itulah pengampunan: bukan berkata bahwa hal itu tidak terjadi, tetapi memutuskan bahwa daftarnya tidak dipasang lagi. Lalu jelaskan bagian yang paling penting: Allah melakukan itu bagi kita lebih dulu, dan Yesus Kristus sendiri yang membayar harganya di kayu salib. Mazmur 103:12 bisa diceritakan dengan sangat sederhana, dengan menunjuk arah matahari terbit dan matahari terbenam, lalu bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berjalan dari yang satu ke yang lain.
Anak juga perlu mendengar bahwa ia boleh berkata "aku sakit hati", dan bahwa mengampuni tidak berarti ia harus diam saja kalau ada yang jahat kepadanya. Anak-anak selalu perlu tahu bahwa mereka boleh bercerita kepada orang dewasa yang aman.
Untuk pendalaman yang sesuai usia, tersedia penjelasan khusus tentang pengampunan bagi anak prasekolah tiga sampai enam tahun, anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun, dan remaja dua belas tahun ke atas, masing-masing dengan bahasa, contoh, dan pertanyaan renungan yang cocok untuk tahap mereka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti pengampunan menurut Alkitab?
Pengampunan dalam Alkitab berarti melepaskan hak untuk menagih. Kata Ibrani yang dipakai berarti mengangkat dan membawa pergi beban, sedangkan kata Yunani yang paling sering muncul berarti melepaskan atau membatalkan, kata yang dipakai untuk menghapus utang dalam catatan pembukuan. Karena itu Kolose 2:14 berbicara tentang surat utang yang dihapuskan dan dipakukan pada salib. Pengampunan bukan berarti pelanggaran itu dianggap tidak ada; justru pelanggarannya diakui nyata, lalu utangnya dinyatakan tidak akan ditagih lagi kepada orang tersebut.
Apakah saya harus mengampuni orang yang tidak minta maaf?
Ya, dalam arti melepaskan dendam dan menyerahkan perkaranya kepada Allah. Contoh paling jelas adalah Lukas 23:34, ketika Yesus Kristus berkata, "Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat," sementara para penyalib belum menyesal sama sekali. Stefanus melakukan hal serupa dalam Kisah Para Rasul 7:60. Namun perlu dibedakan: melepaskan hak menagih bisa kamu lakukan sendiri, sedangkan pemulihan hubungan yang penuh membutuhkan pertobatan dari pihak yang bersalah, seperti tersirat dalam Lukas 17:3.
Apa arti tujuh puluh kali tujuh kali dalam Matius 18:21-22?
Angka itu bukan kuota yang harus dihitung sampai habis. Petrus menawarkan tujuh kali, sudah lebih murah hati daripada ajaran umum pada zamannya, dan Yesus menjawab dengan angka yang begitu besar sehingga tidak mungkin dicatat lagi. Maksudnya jelas: pengampunan orang percaya tidak berhenti pada nomor tertentu. Bila kamu masih menghitung, kamu sebenarnya masih memegang buku tagihan. Perumpamaan yang menyusul dalam Matius 18 menegaskan alasannya, yaitu bahwa kita sendiri sudah dibebaskan dari utang yang jauh lebih besar.
Apakah mengampuni sama dengan melupakan?
Tidak. Alkitab tidak pernah memerintahkan kita menghapus ingatan. Yusuf tetap ingat dengan jelas apa yang dilakukan kakak-kakaknya dan menyebutkannya dalam Kejadian 50:20, tetapi ia menolak menuntut balas. Ketika Allah berkata dalam Yesaya 43:25 bahwa Ia tidak mengingat-ingat dosa kita, itu bahasa pengadilan, artinya perkara itu tidak akan diangkat lagi sebagai dakwaan. Mengampuni berarti berhenti memakai ingatan itu sebagai alat tagihan, senjata, atau bahan tekanan dalam hubungan.
Bagaimana cara mengampuni kalau hati saya masih sangat sakit?
Mulailah dari kehendak, bukan dari perasaan. Sebutkan di hadapan Allah dengan jujur apa yang hilang darimu, jangan dikecilkan. Lalu ucapkan keputusan untuk melepaskan hak menagih dan menyerahkan perkaranya kepada Tuhan, seperti Roma 12:19 mengajarkan. Bersiaplah mengulangi keputusan itu berkali-kali, karena luka lama biasanya kembali. Doakan orang itu, meski awalnya terasa kaku. Perasaan biasanya datang paling belakang, kadang berbulan-bulan kemudian, dan itu bukan tanda kegagalan.
Apakah Matius 6:14-15 berarti keselamatan saya hilang kalau saya tidak mengampuni?
Ayat itu tidak mengajarkan bahwa pengampunan Allah dibeli dengan perbuatan kita, karena seluruh Perjanjian Baru bersaksi bahwa kita diampuni oleh darah Kristus. Yang ditunjukkan Yesus adalah hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara menerima dan memberi. Hati yang benar-benar sadar telah dibebaskan dari utang yang mustahil tidak mungkin selamanya mencengkeram orang lain. Kalau kamu menemukan dirimu keras kepala menolak melepaskan, ayat ini memanggilmu kembali ke salib, bukan mengundangmu bekerja lebih keras.
Apakah saya harus tetap berhubungan dengan orang yang menyakiti saya?
Tidak selalu. Alkitab memerintahkan pengampunan, tetapi tidak memerintahkan kita menempatkan diri kembali di tempat yang berbahaya. Amsal berulang kali menasihati kita untuk berhati-hati terhadap orang yang berbahaya, dan Lukas 17:3 memasukkan teguran sebagai bagian dari kasih. Dalam kasus kekerasan fisik, pelecehan, atau kejahatan, melapor kepada pihak berwenang bukan bentuk pembalasan pribadi melainkan menyerahkan perkara kepada saluran yang Allah tetapkan. Pengampunan hati bisa berjalan bersamaan dengan batas yang tegas dan jarak yang aman.
Apa arti Mazmur 103:12 tentang timur dan barat?
Pemazmur memilih arah yang tidak pernah bertemu. Kalau kamu berjalan terus ke utara, pada satu titik kamu akan mulai bergerak ke selatan, karena ada kutub. Timur dan barat tidak punya titik pertemuan seperti itu. Karena itu gambaran "sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita" berbicara tentang jarak yang tidak bisa dijembatani lagi. Dosamu tidak dipindahkan ke lemari lain untuk dibuka kembali suatu hari; ia dibawa pergi ke tempat yang tidak dapat dijangkau.
Bagaimana kalau dosa saya terasa terlalu besar untuk diampuni?
1 Yohanes 1:9 memberi dasar yang jauh lebih kuat daripada perasaan kita: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Perhatikan kata "adil". Allah tidak mengampuni dengan mengabaikan keadilan, melainkan karena utang itu sudah dibayar penuh di kayu salib. Karena harganya bukan usaha kita, besar kecilnya dosa kita tidak menentukan. Yang menentukan adalah nilai pembayaran Kristus, dan itu tidak pernah kurang.
Apa bedanya pengampunan dan pemulihan hubungan?
Pengampunan adalah keputusan satu pihak untuk melepaskan hak menagih, dan itu bisa kamu lakukan tanpa kehadiran orang lain, bahkan jika ia sudah meninggal. Pemulihan hubungan melibatkan dua pihak dan membutuhkan pengakuan, pertobatan, serta kepercayaan yang dibangun ulang dari waktu ke waktu. Karena itu kamu bisa sudah sungguh-sungguh mengampuni sambil belum siap kembali dekat. Efesus 4:32 memanggil kita kepada sikap hati yang lembut; membangun kembali kedekatan adalah proses yang butuh kejujuran dan kadang pendampingan orang bijak.
Bagaimana cara mengampuni diri sendiri menurut Alkitab?
Alkitab tidak memakai istilah "mengampuni diri sendiri", karena secara ketat kita bukan hakim atas diri kita. Yang ditawarkan Alkitab lebih kokoh: berhenti menagih apa yang sudah Allah lunasi. Bawa dosanya ke terang, akui secara spesifik, lalu terima putusan Allah dalam 1 Yohanes 1:9 sebagai kata terakhir, bukan perasaanmu. Kalau perlu, lakukan langkah nyata seperti meminta maaf atau mengganti kerugian. Sesudah itu, setiap kali tuduhan lama datang, jawablah dengan salib, bukan dengan pembelaan diri.
Apakah Allah selalu mengampuni, tanpa syarat apa pun?
Pengampunan Allah ditawarkan dengan sangat murah hati, tetapi tidak tanpa jalan. Jalannya adalah Kristus, dan pintu masuknya adalah pengakuan serta pertobatan, seperti dinyatakan dalam 1 Yohanes 1:9. Yang tidak ada dalam Alkitab adalah gagasan bahwa dosa dianggap tidak penting; setiap dosa yang diampuni adalah dosa yang dibayar. Ibrani 9:22 mengatakan, "tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan." Jadi pengampunan Allah itu gratis bagi kita, tetapi sangat mahal bagi Dia.
Sebagai penutup
Kalau ada satu hal yang perlu kamu bawa dari halaman ini, biarlah itu ini: pengampunan menurut Alkitab bukan berpura-pura bahwa lukamu kecil, melainkan memindahkan buku tagihan dari tanganmu ke tangan Allah. Kamu tidak menghapus sejarah, kamu berhenti menjadi penagihnya. Kamu tidak berpura-pura tidak sakit, kamu menolak duduk di kursi hakim yang bukan milikmu. Dan kamu bisa melakukannya bukan karena kekuatan moral yang hebat, tetapi karena namamu sendiri pernah ada di buku itu, dan Yesus Kristus sudah membayar seluruhnya.
Kalau kamu mau melanjutkan perenungan ini, bacalah Matius 18 secara utuh dalam satu tarikan napas, dari pertanyaan Petrus sampai kalimat terakhir tentang mengampuni dengan segenap hati. Lalu baca Mazmur 103 dengan suara keras dan berhentilah lama di ayat 12. Sesudah itu, tulis satu nama di kertas, doakan nama itu, dan simpanlah kertasnya sebagai pengingat bahwa pelepasan biasanya bukan satu peristiwa besar, melainkan keputusan kecil yang kamu perbarui setiap hari, tujuh puluh kali tujuh kali.
