Arti Mimpi Menurut Alkitab: Apakah Tuhan Masih Berbicara Lewat Mimpi?
Pendahuluan
Jam tiga pagi. Anda terbangun dengan jantung berdebar, keringat di pelipis, dan satu gambar yang menempel di kepala: seseorang yang sudah lama meninggal berdiri di ujung tempat tidur dan mengatakan sesuatu yang tidak sempat Anda dengar sampai habis. Anda ambil ponsel, buka mesin pencari, dan mengetik tiga kata: arti mimpi menurut Alkitab. Yang muncul justru campuran: daftar simbol, angka-angka, tafsir yang saling bertentangan, dan di antaranya satu dua ayat yang dikutip sepotong.
Pertanyaan Anda sebenarnya sederhana dan jujur: apakah Tuhan baru saja berbicara kepada saya, atau ini hanya otak saya yang kelelahan?
Halaman ini akan menelusuri setiap tempat penting di mana Alkitab berbicara tentang mimpi, dari Kejadian sampai Wahyu. Anda akan menemukan satu pola yang mengejutkan, pola yang jarang disebut, dan pola itu akan mengubah cara Anda menanggapi mimpi Anda sendiri.
Sudut pandang panduan ini
Hampir semua tulisan tentang mimpi berusaha menjawab pertanyaan "apa artinya?". Panduan ini sengaja mengambil arah lain. Dalam Alkitab, tidak pernah sekali pun Tuhan memberikan kamus simbol kepada umat-Nya. Yang Ia berikan selalu Diri-Nya sendiri sebagai penafsir, dan selalu ada perintah yang harus ditaati sesudahnya. Mimpi dalam Alkitab bukan teka-teki untuk dipecahkan, melainkan panggilan untuk ditaati; dan isinya hampir tidak pernah tentang nasib pribadi si pemimpi, melainkan tentang rencana Allah menyelamatkan banyak orang. Karena itu pertanyaan yang tepat bukan "apa arti mimpi saya?", tetapi "kepada siapa saya membawa mimpi ini, dan apa yang harus saya lakukan sekarang?"
Apa kata Alkitab tentang mimpi?
Alkitab tidak menganggap mimpi sebagai hal sepele, tetapi juga tidak pernah memperlakukannya sebagai sumber kebenaran yang berdiri sendiri. Mimpi muncul puluhan kali, dalam tiga bentuk yang berbeda: mimpi yang jelas dari Allah, mimpi yang lahir dari kesibukan dan kecemasan manusia, dan mimpi palsu yang dipakai untuk menyesatkan.
Mulailah dari rumah tangga yang berantakan di Kejadian 37. "Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sejak itu makin bencilah mereka kepadanya" (Kejadian 37:5). Perhatikan: mimpi itu benar-benar dari Allah, tetapi akibat langsungnya bukan damai sejahtera melainkan kebencian. Mimpi dari Tuhan tidak otomatis membuat hidup Anda nyaman. Yusuf harus menunggu lebih dari dua dekade, melewati sumur, perbudakan, fitnah, dan penjara, sebelum mimpi itu masuk akal.
Dan ketika akhirnya ia berdiri di hadapan penguasa paling berkuasa di dunia saat itu, inilah yang keluar dari mulutnya: "Yusuf menyahut kepada Firaun: 'Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun'" (Kejadian 41:16). Di sinilah seluruh teologi mimpi dalam Alkitab terkunci rapat. Yusuf tidak berkata, "Saya ahli." Ia berkata, "Saya bukan siapa-siapa, Allah yang berbicara." Sebelumnya ia sudah bertanya kepada dua tahanan, "Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi?" (Kejadian 40:8). Tafsiran bukan keterampilan yang bisa dipelajari dari buku; tafsiran adalah pemberian.
Daniel mengulang hal yang persis sama di istana Babel, di tengah para ahli nujum yang kehabisan akal: "Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang" (Daniel 2:28). Dua orang buangan, dua kerajaan kafir, satu pengakuan yang sama. Mimpi memang nyata, tetapi kuncinya ada di sorga, bukan di tangan penafsir.
Allah juga berbicara lewat mimpi kepada orang yang Ia kasihi secara pribadi. "Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: 'Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu'" (1 Raja-raja 3:5). Perhatikan bentuknya: bukan simbol yang harus ditebak, melainkan percakapan yang jelas dan sebuah undangan. Salomo tidak perlu menafsirkan apa pun; ia hanya perlu menjawab dengan jujur.
Tetapi Alkitab segera memasang pagar. "Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat," demikian Ulangan 13:1 membuka. Lanjutannya mengejutkan: sekalipun tanda itu benar-benar terjadi, jika pemimpi itu menarik umat untuk mengikuti allah lain, umat dilarang mendengarkan dia. Mimpi yang akurat tidak sama dengan mimpi yang benar. Ukurannya bukan apakah mimpi itu menjadi kenyataan, melainkan apakah mimpi itu membawa Anda kepada Tuhan yang sejati.
Bilangan 12:6 menegaskan bahwa mimpi memang salah satu cara Allah menyatakan diri kepada nabi, tetapi dalam konteks yang sama Musa dibedakan: dengan dia Allah berbicara berhadapan muka. Ada hierarki di sini. Mimpi berada di tingkat yang lebih samar daripada firman yang jelas. Yeremia 23:28 mempertajamnya dengan satu kalimat yang pedas: "Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? demikianlah firman TUHAN."
Jerami bukan gandum. Mimpi bukan firman.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Telusuri mimpi dari halaman pertama sampai terakhir, dan Anda akan melihat garis yang bergerak ke satu arah. Di Kejadian, Allah berbicara dalam mimpi kepada orang-orang di luar perjanjian: Abimelekh diperingatkan agar tidak menyentuh Sara, Laban dicegah berbuat jahat kepada Yakub. Yakub sendiri bermimpi melihat tangga yang menghubungkan bumi dengan sorga, dan ia bangun dengan gemetar karena sadar Tuhan ada di tempat itu. Dalam setiap kasus, isi mimpi bukan ramalan nasib pribadi, melainkan perlindungan atas janji Allah.
Pola itu berlanjut. Seorang prajurit Midian bermimpi tentang roti jelai yang menggulingkan kemah, dan Gideon yang ketakutan mendengarnya secara kebetulan, lalu bangkit berperang. Firaun bermimpi tentang tujuh sapi, dan seluruh kawasan terselamatkan dari kelaparan, termasuk keluarga kecil yang kelak menjadi Israel. Nebukadnezar bermimpi tentang patung raksasa, dan seluruh sejarah kerajaan dunia digambarkan runtuh di hadapan sebuah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia. Setiap kali, mimpi melayani sesuatu yang jauh lebih besar daripada si pemimpi.
Lalu Perjanjian Baru dibuka, dan mimpi muncul kembali tepat di titik paling genting dalam sejarah keselamatan. Seorang tukang kayu di Nazaret hampir membatalkan pernikahannya diam-diam. "Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: 'Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus'" (Matius 1:20). Sekali lagi: bukan simbol, melainkan perintah yang terang; bukan tentang masa depan Yusuf, melainkan tentang Anak yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Dalam dua pasal pertama Injil Matius, Yusuf menerima empat kali bimbingan lewat mimpi, dan setiap kali ia bangun lalu langsung melakukannya. Orang-orang majus pun diperingatkan dalam mimpi agar tidak kembali kepada Herodes. Bahkan istri Pilatus, seorang perempuan kafir, menderita karena mimpi tentang Orang benar itu.
Sesudah kebangkitan, sesuatu berubah. Mimpi tidak hilang, tetapi tempatnya bergeser. Ibrani 1:1-2 menjelaskan mengapa: "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya." Allah yang dulu berbisik lewat tangga, sapi, dan patung, kini berdiri di hadapan kita dengan wajah manusia. Mimpi adalah jerami; Kristus adalah gandumnya.
Dan justru di situlah janji Pentakosta terdengar begitu indah, bukan sebagai langkah mundur melainkan sebagai limpahan: "Akan terjadi pada hari-hari terakhir, demikianlah firman Allah, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orang tuamu akan mendapat mimpi" (Kisah Para Rasul 2:17). Yang dulu hanya dialami segelintir nabi dan raja, kini terbuka bagi seluruh umat, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, hamba dan tuan. Namun isinya tetap sama arahnya: Roh yang dicurahkan itu adalah Roh yang memuliakan Kristus.
Kesalahpahaman yang umum
Kesalahpahaman pertama, dan yang paling merusak di tanah air kita, adalah anggapan bahwa mimpi punya arti baku yang bisa dicari di daftar. Mimpi ular berarti ini, gigi copot berarti itu, air keruh berarti anu, lengkap dengan angka. Alkitab tidak pernah menyediakan sistem semacam itu, dan bukan karena lupa. Ketika Yusuf dan Daniel menafsir, mereka menolak kredit dan menunjuk ke sorga. Jika ada kamus mimpi yang sah, Yusuf tidak perlu berkata, "Bukan sekali-kali aku." Memakai buku tafsir mimpi, primbon, atau tabel angka untuk membaca masa depan bukan sekadar tidak akurat; itu memindahkan kepercayaan Anda dari Pribadi kepada sistem. Ulangan 18 menyebut praktik meramal, bertenung, dan bertanya kepada arwah sebagai kekejian bagi Tuhan, dan larangan itu lahir dari kasih: Allah tidak mau anak-anak-Nya hidup diperbudak oleh ketakutan terhadap tanda-tanda.
Kesalahpahaman kedua: setiap mimpi punya makna rohani. Alkitab justru realistis. Pengkhotbah mengamati bahwa mimpi datang bersama banyak kesibukan, seperti perkataan bodoh datang bersama banyak kata. Artinya, sebagian besar mimpi Anda adalah pantulan dari hari yang padat, tubuh yang lelah, tontonan sebelum tidur, obat yang Anda minum, atau kecemasan yang belum Anda bereskan. Yesaya menggambarkan orang lapar yang bermimpi makan lalu bangun dengan perut tetap kosong. Menolak menafsir setiap mimpi bukan tanda kurang rohani; itu tanda hikmat.
Kesalahpahaman ketiga: kalau mimpi itu terjadi, berarti pasti dari Tuhan. Ulangan 13:1 dan ayat-ayat sesudahnya meruntuhkan logika ini sampai ke akar. Seorang pemimpi bisa saja memberitahukan tanda yang kemudian benar-benar terjadi, namun jika ia menarik hati umat kepada allah lain, perintahnya jelas: jangan dengarkan dia. Tuhan sedang menguji apakah kita mengasihi Dia dengan segenap hati. Keakuratan bukan jaminan kebenaran. Itulah sebabnya 1 Tesalonika 5:19-21 memberi keseimbangan yang sehat: "Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik."
Kesalahpahaman keempat, di kutub yang berlawanan: Tuhan sudah tidak pernah lagi memakai mimpi, titik. Kisah Para Rasul 2:17 tidak mengizinkan kita berkata begitu. Allah tetap berdaulat, dan di banyak tempat di dunia, termasuk di negeri-negeri yang tertutup bagi Injil, kesaksian tentang orang yang didatangi dalam mimpi lalu mencari orang Kristen untuk bertanya bukanlah dongeng. Namun perhatikan: mimpi-mimpi itu tidak menggantikan Injil, melainkan mengantar orang kepada Injil. Mimpi membuka pintu; firman yang masuk dan menyelamatkan.
Menghidupinya hari ini
Bayangkan Anda bangun dengan mimpi yang terasa berat. Langkah pertama bukan membuka internet, melainkan membuka mulut dalam doa. Bawa mimpi itu kepada Tuhan sebelum Anda membawanya kepada siapa pun. Katakan apa adanya: "Tuhan, saya tidak mengerti. Kalau ini dari-Mu, buatlah jelas. Kalau ini hanya kelelahan saya, tolong tenangkan hati saya." Yusuf tidak mencari jawaban di tempat lain; ia menunjuk kepada Allah. Anda boleh melakukan hal yang sama.
Langkah kedua: ujilah isinya dengan Alkitab, bukan dengan perasaan. Apakah pesannya selaras dengan karakter Allah yang dinyatakan dalam Kristus? Apakah ia menuntun Anda kepada pertobatan, pengampunan, kesucian, keberanian untuk mengasihi? Atau ia menanam rasa takut, kecurigaan terhadap pasangan, keinginan cepat kaya, kebanggaan rohani bahwa Anda lebih istimewa daripada orang lain? Roh Kudus tidak pernah berbicara bertentangan dengan firman yang Ia ilhamkan sendiri.
Langkah ketiga: perhatikan apakah ada tindakan yang jelas. Inilah tanda khas mimpi alkitabiah. Yusuf di Nazaret bangun lalu mengambil Maria sebagai istrinya. Ia bangun lalu berangkat ke Mesir malam itu juga. Daniel bangun lalu memberitakan kebenaran kepada raja, dengan risiko nyawa. Jika sebuah mimpi hanya membuat Anda penasaran, berputar-putar, dan terus mencari tafsir baru, itu bukan buah yang dihasilkan Roh. Tetapi jika mimpi itu mendorong Anda menelepon ayah yang sudah lima tahun tidak Anda sapa, membereskan utang yang Anda sembunyikan, atau akhirnya berkata jujur kepada pasangan Anda, taatilah, dan Anda tidak perlu tahu semua simbolnya.
Langkah keempat: ujilah bersama orang lain. Yusuf muda bercerita kepada saudara-saudaranya dengan cara yang kurang bijak dan menuai kebencian. Ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk berbagi. Carilah satu dua orang percaya yang dewasa, gembala atau pemimpin kelompok sel, dan ujilah bersama mereka. Kedewasaan rohani jarang tumbuh sendirian.
Dan jika mimpi itu terus datang sebagai mimpi buruk, pertimbangkan juga tubuh Anda. Kurang tidur, trauma yang belum terproses, kecemasan, dan beban kerja yang tidak manusiawi bisa menampakkan diri di malam hari. Memperbaiki jam tidur, mencari bantuan konseling, dan menutup hari dengan Mazmur bukan solusi duniawi; itu cara menghormati tubuh yang Tuhan percayakan.
Cermin
Mari jujur sebentar. Ketika Anda mengetik "arti mimpi menurut Alkitab" tadi malam, apa yang sebenarnya Anda cari? Kalau Anda jujur, mungkin bukan Tuhan. Mungkin kepastian. Anda ingin tahu apakah pernikahan itu akan bertahan, apakah hasil lab minggu depan aman, apakah usaha yang sedang goyang akan diselamatkan, apakah anak Anda yang jauh di rantau baik-baik saja. Mimpi terasa seperti bocoran dari masa depan, dan Anda lelah hidup tanpa jaminan.
Tuhan mengerti kelelahan itu. Tetapi lihatlah apa yang Ia lakukan. Kepada Salomo Ia tidak berkata, "Inilah bocoran masa depanmu." Ia berkata, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." Ia menawarkan Diri-Nya, bukan jadwal hidup Anda. Dan kepada Yusuf di Nazaret Ia tidak menjelaskan bagaimana semuanya akan berakhir; Ia hanya berkata, jangan takut, ambil dia, berangkatlah. Satu langkah, dalam gelap, dengan tangan-Nya yang memegang.
Di sinilah mimpi bisa menjadi berhala yang halus. Anda berdoa, tidak mendapat jawaban yang cepat, lalu diam-diam berharap Tuhan mengirim mimpi supaya Anda tidak perlu berjalan dengan iman. Namun Allah justru ingin membentuk Anda menjadi orang yang percaya ketika langit diam. Yusuf menunggu lebih dari dua puluh tahun, dan selama bertahun-tahun itu mimpinya tampak seperti lelucon kejam. Allah tidak sedang terlambat; Ia sedang membentuk seorang penyelamat bagi banyak nyawa.
Allah menjawab lebih sering daripada yang kita kira.
Jadi pertanyaannya bukan apakah Tuhan masih berbicara lewat mimpi. Pertanyaannya: ketika Ia sudah berbicara sejelas-jelasnya lewat Anak-Nya, di dalam Alkitab yang mungkin berdebu di rak Anda, apakah Anda mendengarkan? Anda mencari pesan malam hari sementara surat cinta-Nya terbuka lebar di siang hari.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak bertanya tentang mimpi lebih sering daripada orang dewasa, biasanya sambil menangis di tengah malam. Dan pertanyaan mereka sering tajam: "Apakah mimpiku tadi dari Tuhan?" atau "Kalau aku mimpi buruk, berarti Tuhan marah ya?"
Cara paling sederhana menjelaskannya kira-kira begini. Otak kita seperti dapur yang tetap bekerja walaupun kita sedang tidur. Semua yang kita lihat, dengar, dan rasakan seharian diaduk-aduk di sana, dan kadang keluarlah gambar-gambar lucu atau menakutkan yang kita sebut mimpi. Sebagian besar mimpi hanyalah itu, dan tidak perlu ditakuti. Tetapi Alkitab bercerita bahwa dahulu Tuhan beberapa kali memakai mimpi untuk menyampaikan pesan penting, misalnya ketika Ia menyuruh Yusuf membawa bayi Yesus pergi ke tempat yang aman. Yang paling penting untuk ditekankan kepada anak: Tuhan tidak pernah tidur, dan Ia menjaga mereka sepanjang malam, baik ketika mimpi mereka indah maupun ketika menakutkan. Ajari mereka berdoa singkat sebelum tidur dan sesudah bangun dari mimpi buruk.
Hindari dua ekstrem: menakut-nakuti anak dengan tafsir rohani yang berlebihan, dan menertawakan ketakutan mereka seolah tidak penting. Dengarkan dulu, lalu bawa mereka kepada Yesus yang menenangkan badai.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus yang disesuaikan dengan usia: versi untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan bahasa gambar yang sangat sederhana, versi untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun yang mulai mengenal kisah Yusuf dan Daniel, serta versi untuk remaja dua belas tahun ke atas yang siap mendiskusikan pertanyaan yang lebih kritis tentang penyataan Allah dan cara menguji suara-suara di sekitar mereka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah Tuhan masih berbicara lewat mimpi di zaman sekarang?
Ya, Allah tetap berdaulat dan bisa memakai mimpi, sebagaimana dijanjikan dalam Kisah Para Rasul 2:17 bahwa pada hari-hari terakhir Roh-Nya dicurahkan dan orang-orang tua akan mendapat mimpi. Namun sejak Kristus datang, mimpi tidak lagi menjadi sarana utama penyataan. Ibrani 1:1-2 menegaskan bahwa Allah kini berbicara melalui Anak-Nya. Jadi mimpi mungkin terjadi, tetapi selalu berada di bawah otoritas Alkitab dan tidak pernah boleh menambah atau mengubah apa yang sudah difirmankan.
Apa arti mimpi menurut Alkitab secara umum?
Alkitab tidak memberikan satu arti baku untuk mimpi, melainkan tiga kemungkinan sumber. Ada mimpi yang jelas berasal dari Allah dan selalu disertai pesan yang terang serta tindakan yang harus dilakukan, seperti pada Matius 1:20. Ada mimpi yang lahir dari kesibukan, kecemasan, dan kondisi tubuh, seperti diamati Pengkhotbah. Dan ada mimpi palsu yang menyesatkan, yang diperingatkan dalam Ulangan 13:1 serta Yeremia 23. Karena itu mimpi harus diuji, bukan langsung ditafsirkan.
Bagaimana cara mengetahui apakah sebuah mimpi berasal dari Tuhan?
Ujilah dengan tiga saringan. Pertama, isinya harus selaras dengan Alkitab dan dengan karakter Allah yang dinyatakan dalam Yesus Kristus; Roh Kudus tidak pernah bertentangan dengan firman yang Ia ilhamkan. Kedua, arahnya harus membawa Anda lebih dekat kepada Tuhan, bukan kepada ketakutan, keserakahan, atau kesombongan rohani. Ketiga, biasanya ada ketaatan konkret yang dituntut, bukan sekadar rasa penasaran. Ujilah juga bersama orang percaya yang dewasa, sesuai nasihat 1 Tesalonika 5:19-21.
Apa arti mimpi bertemu orang yang sudah meninggal menurut Alkitab?
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa orang yang sudah meninggal mengunjungi kita lewat mimpi, dan dengan tegas melarang segala usaha menghubungi arwah. Mimpi semacam ini paling sering merupakan cara hati dan otak memproses kehilangan, kerinduan, atau rasa bersalah yang belum selesai, dan itu wajar serta manusiawi. Yang Tuhan tawarkan bukan kontak dengan yang telah pergi, melainkan penghiburan dari Kristus yang mengalahkan maut. Jika mimpi itu terus mengganggu, bicarakan dukacita Anda dengan gembala atau konselor.
Apakah Alkitab menjelaskan arti mimpi ular, gigi copot, atau air?
Tidak ada satu pun daftar simbol semacam itu dalam Alkitab. Simbol-simbol yang muncul dalam mimpi Firaun atau Nebukadnezar selalu dijelaskan langsung oleh Allah melalui hamba-Nya untuk situasi tertentu, bukan sebagai kode universal yang berlaku bagi semua orang di segala zaman. Yusuf sendiri berkata bahwa Allahlah yang menerangkan arti mimpi, bukan keahlian manusia. Karena itu mencocokkan mimpi Anda dengan daftar arti simbol bukan cara alkitabiah, melainkan praktik yang dipinjam dari ramalan.
Bolehkah orang Kristen memakai buku tafsir mimpi atau primbon?
Tidak. Ulangan 18 menggolongkan praktik meramal, bertenung, dan mencari petunjuk dari sumber-sumber gaib sebagai sesuatu yang dibenci Tuhan, dan larangan itu lahir dari kasih-Nya agar umat-Nya tidak hidup diperbudak ketakutan. Memakai buku mimpi, tabel angka, atau primbon memindahkan kepercayaan Anda dari Pribadi Allah kepada sebuah sistem. Jika Anda pernah terlibat, bawalah itu kepada Tuhan dalam pengakuan; Dia mengampuni dengan murah hati dan sanggup memerdekakan hati yang pernah terikat.
Mengapa saya sering mimpi buruk, apakah itu serangan iblis?
Belum tentu. Mimpi buruk paling sering berkaitan dengan stres, kurang tidur, trauma yang belum terproses, konsumsi obat tertentu, atau tontonan sebelum tidur, dan hal-hal itu perlu ditangani dengan bijak serta tidak perlu dirohanikan berlebihan. Sekalipun demikian, Alkitab memang mengenal adanya peperangan rohani, sehingga berdoa, menutup hari dengan Mazmur, dan menyerahkan ketakutan kepada Tuhan sangatlah tepat. Jika mimpi buruk terjadi terus-menerus dan mengganggu kesehatan, mencari bantuan medis atau konseling adalah langkah yang bertanggung jawab.
Apa bedanya mimpi dan penglihatan dalam Alkitab?
Mimpi terjadi saat seseorang tertidur, sedangkan penglihatan umumnya dialami dalam keadaan sadar atau setengah sadar, seperti ketika Petrus melihat kain terbentang di Kisah Para Rasul 10. Bilangan 12:6 menyebut keduanya berdampingan sebagai cara Allah menyatakan diri kepada nabi. Perbedaannya lebih pada keadaan tubuh si penerima daripada pada bobot pesannya. Keduanya sama-sama berada di bawah otoritas firman yang tertulis dan sama-sama harus diuji dengan Alkitab.
Apakah mimpi bisa menjadi nubuat tentang masa depan?
Dalam Alkitab hal itu memang terjadi, misalnya mimpi Yusuf tentang berkas gandum dan mimpi Nebukadnezar tentang patung besar yang dijelaskan dalam Daniel 2:28. Namun perlu diperhatikan bahwa nubuat-nubuat itu melayani rencana keselamatan Allah bagi banyak orang, bukan rasa ingin tahu pribadi tentang jodoh, rezeki, atau umur. Alkitab juga memperingatkan bahwa sebuah ramalan bisa saja menjadi kenyataan namun tetap menyesatkan, seperti ditegaskan Ulangan 13:1 dan ayat-ayat sesudahnya. Keakuratan bukan ukuran kebenaran.
Apa yang harus saya lakukan setelah mendapat mimpi yang terasa dari Tuhan?
Mulailah dengan berdoa dan menuliskannya apa adanya, tanpa menambah tafsiran. Lalu bandingkan isinya dengan Alkitab dan tanyakan apakah ada ketaatan yang jelas yang dituntut, misalnya mengampuni seseorang, berhenti dari dosa tertentu, atau mengambil langkah yang selama ini Anda tunda. Bagikan kepada satu atau dua orang percaya yang dewasa untuk diuji bersama. Jika tidak ada kejelasan, simpanlah dalam hati dan serahkan kepada Tuhan; Maria pun menyimpan banyak perkara dan merenungkannya.
Mengapa Yusuf dibenci saudara-saudaranya karena mimpinya?
Kejadian 37:5 mencatat bahwa setelah Yusuf menceritakan mimpinya, saudara-saudaranya makin membencinya. Mimpi itu sendiri benar dan berasal dari Allah, tetapi isinya menyatakan bahwa mereka akan tunduk kepadanya, dan cara Yusuf muda menyampaikannya menambah rasa sakit hati di keluarga yang sudah pincang oleh pilih kasih ayahnya. Kisah ini mengajarkan dua hal sekaligus: pesan dari Tuhan tidak otomatis membuat hidup lebih mudah, dan hikmat tentang kapan harus berbicara sama pentingnya dengan isi yang dibicarakan.
Apakah mimpi tentang Yesus berarti saya pasti diselamatkan?
Keselamatan tidak pernah didasarkan pada pengalaman mimpi, melainkan pada iman kepada Yesus Kristus dan karya-Nya di kayu salib. Banyak kesaksian dari berbagai belahan dunia menceritakan orang yang didatangi dalam mimpi lalu tergerak mencari orang Kristen dan akhirnya mendengar Injil, dan hal itu patut disyukuri. Namun perhatikan polanya: mimpi membuka pintu, Injillah yang menyelamatkan. Jika Anda bermimpi tentang Yesus, jadikan itu dorongan untuk membaca Alkitab, bertobat, dan mengikut Dia secara nyata.
Bagaimana cara berdoa sebelum tidur supaya hati tenang?
Serahkan hari Anda kepada Tuhan dengan jujur: akui apa yang gagal, syukuri apa yang baik, dan lepaskan apa yang tidak bisa Anda kendalikan. Mazmur 4 dan Mazmur 121 sangat menolong untuk dibaca pelan sebelum memejamkan mata, karena keduanya mengingatkan bahwa Dia yang menjaga Anda tidak terlelap. Bagi anak-anak, doa singkat yang sama setiap malam membangun rasa aman. Tidur sendiri adalah tindakan iman, sebab di situ Anda mengakui bahwa dunia tetap berjalan tanpa Anda pegang.
Sebagai penutup
Alkitab memperlakukan mimpi dengan serius tanpa pernah menyerahkan kemudi kepadanya. Dari Yusuf di sumur sampai Yusuf di Nazaret, dari istana Babel sampai ruang atas di Yerusalem, polanya tidak berubah: tafsiran itu milik Allah, dan mimpi yang benar selalu berujung pada ketaatan dan pada rencana-Nya menyelamatkan banyak orang. Tidak ada kamus simbol, tidak ada tabel angka, tidak ada jalan pintas untuk menghindari iman. Yang ada adalah Pribadi yang berkata, "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu," dan yang pada akhirnya memberikan Anak-Nya sendiri.
Jika malam ini Anda kembali terbangun dengan gambar yang mengganggu, Anda tahu harus ke mana. Bukan ke mesin pencari lebih dulu, melainkan kepada Dia yang tidak pernah tertidur. Lalu bukalah Alkitab Anda. Mulailah dari Kejadian 37 sampai 50 dan lihat bagaimana Allah bekerja selama dua puluh tahun lewat kegelapan, lalu bacalah Matius 1 dan 2 dan perhatikan seorang tukang kayu yang bangun dan langsung taat.
Dia sudah berbicara. Pertanyaannya, apakah kita mendengar.
