Bersyukur Menurut Alkitab: Makna, Alasan, dan Cara Melatih Hati yang Penuh Syukur
Pendahuluan
Ada satu kebiasaan kecil yang mungkin Anda kenali: piring sudah kosong, perut sudah kenyang, dan baru kemudian Anda teringat bahwa tadi lupa berdoa. Atau ini: sakit yang berbulan-bulan akhirnya sembuh, dan dalam dua minggu Anda sudah tidak pernah menyebutnya lagi dalam doa. Bukan karena Anda tidak percaya Tuhan. Bukan karena Anda orang yang jahat. Hanya karena manusia punya satu penyakit yang sangat halus: kita cepat lupa.
Dan di titik inilah Alkitab berbicara tentang syukur dengan cara yang mungkin berbeda dari yang Anda duga. Syukur di dalam Alkitab bukan soal suasana hati yang cerah atau kepribadian yang optimis. Syukur adalah ingatan yang dilatih. Di halaman ini Anda akan menelusuri bagaimana tema syukur mengalir dari Kejadian sampai Wahyu, mengapa lawan dari syukur bukanlah keluhan melainkan lupa, kesalahpahaman apa yang sering membuat kita lelah, dan langkah-langkah nyata untuk melatih hati yang penuh syukur.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca tema syukur bukan sebagai emosi, tetapi sebagai ingatan. Perhatikanlah bahwa perintah syukur dalam Alkitab hampir selalu berdampingan dengan perintah untuk mengingat, dan peringatan tentang ketidaksyukuran hampir selalu berdampingan dengan peringatan supaya jangan lupa. "Jangan lupakan segala kebaikan-Nya," kata pemazmur kepada jiwanya sendiri. Artinya, ketidaksyukuran bukan terutama dosa orang yang bersungut-sungut; itu dosa orang yang pikun secara rohani. Sudut pandang ini penting karena ia membebaskan: jika syukur adalah perasaan, Anda hanya bisa menunggu. Jika syukur adalah ingatan, Anda bisa melatihnya, bahkan hari ini, bahkan dengan hati yang sedang berat.
Apa kata Alkitab tentang bersyukur?
Kata syukur dalam Perjanjian Lama berakar pada kata Ibrani yadah, yang secara harfiah berhubungan dengan gerakan tangan: mengulurkan, mengakui, menyatakan secara terbuka. Bersyukur berarti mengangkat tangan dan berkata di depan umum, "Ini bukan dari aku. Ini dari Tuhan." Dalam Perjanjian Baru kata Yunaninya eucharisteo, dari akar charis yang berarti kasih karunia. Syukur adalah kasih karunia yang kembali kepada Pemberinya. Jadi dari sisi bahasa saja sudah jelas: syukur adalah pengakuan, bukan suasana hati.
Mazmur 100:4 memberi kita gambarannya yang paling gamblang: "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!" Syukur di sini adalah pintu masuk. Ia adalah arah gerak, bukan perasaan yang menemani gerak. Orang Israel tidak menunggu sampai merasa cukup rohani untuk masuk ke pelataran Bait Allah; mereka berjalan masuk sambil bersyukur, dan hati mereka menyusul langkah kaki mereka. Ada pelajaran besar di situ bagi kita yang sering menunda ibadah sampai hati terasa "pas".
Lalu Mazmur 103:2 membuka mesin di balik syukur itu: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan jangan lupakan segala kebaikan-Nya!" Perhatikan dua hal. Pertama, pemazmur sedang berbicara kepada dirinya sendiri; ia memerintah jiwanya. Kedua, perintah itu bukan "rasakanlah" melainkan "jangan lupakan". Ayat berikutnya lalu merinci apa yang tidak boleh dilupakan: pengampunan, penyembuhan, penebusan hidup dari lobang kubur, mahkota kasih setia. Syukur lahir ketika daftar itu dibacakan ulang. Tanpa pengulangan, kebaikan Tuhan yang paling besar pun akan terasa seperti kabar lama.
Dalam Perjanjian Baru, syukur menjadi tanda pengenal orang yang hidup di dalam Kristus. Paulus menulis dari kondisi yang jauh dari nyaman: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (1 Tesalonika 5:18). Kalimat ini sering dikutip setengah. Bagian keduanya yang justru melegakan: syukur bukan beban yang kita pikul sendiri, melainkan kehendak Allah di dalam Kristus Yesus. Artinya, dasar syukur kita bukan keadaan yang selalu baik, melainkan Kristus yang tidak pernah berubah.
Paulus juga menghubungkan syukur dengan kekuatiran: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Filipi 4:6). Ada tiga kata di sana: doa, permohonan, ucapan syukur. Yang ketiga itulah yang mengubah nada kedua yang pertama. Doa tanpa syukur cepat berubah menjadi daftar keluhan yang panjang. Doa dengan syukur mengingatkan kita bahwa Pribadi yang kita datangi hari ini adalah Pribadi yang sudah menolong kita kemarin.
Dan syukur tidak berhenti di menit-menit doa. Kolose 3:17 menariknya ke seluruh hidup: "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." Mencuci piring, mengirim surel, menyusui bayi di jam dua malam, menutup kios. Semuanya bisa menjadi tempat mengingat.
Syukur adalah ingatan yang diucapkan dengan suara.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kisah Alkitab dimulai dengan kelimpahan. Di Kejadian, taman itu penuh; hampir setiap pohon boleh dimakan. Jatuhnya manusia justru dimulai dengan ketidaksyukuran: satu pohon yang tidak diberikan terasa lebih besar daripada seluruh taman yang diberikan. Ular tidak mengajak Hawa membenci Allah; ia hanya mengajaknya lupa betapa baik Allah itu. Sejak halaman itu, ketidaksyukuran selalu punya bentuk yang sama, yaitu memandang satu hal yang tidak ada sampai semua hal yang ada menjadi tidak terlihat.
Karena itu seluruh Perjanjian Lama dipenuhi perlengkapan untuk mengingat. Israel keluar dari Mesir, lalu diberi Paskah supaya setiap tahun anak-anak bertanya dan orang tua bercerita ulang. Mereka melewati Yordan, lalu diperintahkan mengangkat dua belas batu sebagai tanda. Musa memperingatkan mereka dalam Ulangan 8 bahwa bahaya terbesar bukan padang gurun, melainkan tanah yang subur: setelah rumah-rumah bagus dibangun dan kawanan kambing bertambah, hati bisa menjadi tinggi dan lupa kepada Tuhan yang memberi semuanya. Kemakmuran ternyata lebih sering membuat orang lupa daripada penderitaan.
Mazmur adalah buku latihan ingatan itu. Mazmur 136:1 membuka nyanyian panjang dengan refrein yang diulang dua puluh enam kali: "Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." Bangsa itu menyebut ulang penciptaan, keluaran, padang gurun, kemenangan, semuanya dengan satu jawaban yang sama. Mazmur 116:12 bahkan mengubah ingatan menjadi pertanyaan pribadi: "Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebaikan-Nya kepadaku?" Ibadah Israel penuh korban syukur, karena syukur di Alkitab selalu punya wujud, bukan hanya niat dalam hati.
Lalu datanglah Yesus Kristus, dan seluruh garis ini berkumpul pada satu meja. Pada malam sebelum Ia disalibkan, Ia mengambil roti dan mengucap syukur. Lukas 22:19 mencatat: "Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: 'Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.'" Di sini syukur dan ingatan menyatu sempurna. Gereja menamai sakramen ini Ekaristi, yang secara harfiah berarti pengucapan syukur, dan perintah yang menyertainya adalah perintah untuk mengingat. Tidak ada latihan syukur yang lebih murni daripada Perjanjian Kudus: tangan menerima sesuatu yang tidak dibayar, mulut mengucap syukur, hati mengingat salib.
Perjanjian Baru lalu memperluasnya ke seluruh hidup jemaat. Efesus 5:20 menyebut syukur sebagai buah dari hati yang dipenuhi Roh: "dan ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita." Kolose 2:7 berbicara tentang hati yang melimpah dengan syukur sebagai tanda iman yang berakar. Dan di ujung Alkitab, ketika segala sesuatu digenapi, syukur tidak lenyap; ia menjadi nyanyian kekal. Wahyu 7:12 mencatat pujian para malaikat dan orang-orang kudus: "Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan adalah bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!" Kita tidak sedang belajar sebuah kebiasaan sementara. Kita sedang berlatih untuk bahasa yang akan kita pakai selamanya.
Kesalahpahaman yang umum
Kesalahpahaman pertama: bersyukur berarti berpura-pura semuanya baik. Banyak orang Kristen merasa bersalah karena hatinya sedih, lalu memaksakan senyum rohani yang tidak jujur. Alkitab tidak pernah meminta itu. Kitab Mazmur, buku syukur yang terbesar, juga adalah buku ratapan yang terbesar. Mazmur 88 berakhir dalam kegelapan tanpa penyelesaian. Yeremia menulis seluruh kitab Ratapan. 1 Tesalonika 5:18 berkata "dalam segala hal", bukan "untuk segala hal". Kita tidak diminta bersyukur bahwa anak kita meninggal, bahwa pekerjaan hilang, bahwa tubuh dijamah penyakit. Kita diminta bersyukur di dalam situasi itu, kepada Allah yang tetap baik di tengahnya. Ratapan yang jujur dan syukur yang tulus bisa keluar dari mulut yang sama, bahkan di hari yang sama.
Kesalahpahaman kedua: syukur adalah perasaan yang harus muncul lebih dulu. Inilah sebabnya banyak orang menunggu bertahun-tahun untuk sesuatu yang seharusnya mereka latih hari ini. Lihatlah bagaimana pemazmur bekerja di Mazmur 103:2: ia tidak menunggu jiwanya bergerak, ia memerintah jiwanya bergerak. Ia berbicara kepada dirinya sendiri dan menyebut ulang daftar kebaikan Tuhan sampai hatinya menyusul. Perasaan sering datang sebagai penumpang, bukan sebagai pengemudi. Kalau Anda menunggu merasa bersyukur sebelum mengucap syukur, Anda sedang menyerahkan hidup rohani Anda kepada cuaca batin yang tidak pernah stabil.
Kesalahpahaman ketiga: syukur adalah cara menawar berkat dari Tuhan. Ada pengajaran yang menjadikan syukur semacam kunci: bersyukurlah, maka Tuhan akan memberi lebih banyak. Motifnya mungkin baik, tetapi akhirnya syukur berubah menjadi transaksi, dan Allah berubah menjadi mesin. Filipi 4:6 justru menjanjikan sesuatu yang lain: bukan barang yang kita minta, tetapi damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, yang memelihara hati dan pikiran kita. Syukur tidak memaksa tangan Tuhan; syukur menenangkan hati kita sambil kita menunggu tangan-Nya.
Kesalahpahaman keempat: berterima kasih kepada manusia sudah cukup. Kita memang harus berterima kasih kepada orang tua, pasangan, rekan kerja, tetangga. Namun Alkitab menyebut ketidaksyukuran kepada Allah sebagai akar kegelapan pikiran manusia dalam Roma 1:21: mereka mengenal Allah, tetapi tidak memuliakan dan tidak mengucap syukur kepada-Nya. Yakobus 1:17 mengingatkan asal segala sesuatu: "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan dan tidak ada bayangan karena pertukaran." Rasa syukur yang berhenti pada pemberi kedua, dan tidak sampai kepada Pemberi pertama, adalah ingatan yang setengah jalan.
Menghidupinya hari ini
Kalau syukur adalah ingatan yang dilatih, maka ia membutuhkan latihan yang nyata, bukan sekadar niat. Mulailah dengan yang paling sederhana: sebutkan dengan suara. Bukan "aku bersyukur untuk banyak hal", tetapi "Tuhan, terima kasih untuk pekerjaan yang masih ada bulan ini, untuk obat yang cocok, untuk telepon dari sahabat kemarin sore." Ingatan yang samar tidak menghasilkan syukur; ingatan yang spesifik menghasilkan syukur. Inilah sebabnya Mazmur 103 tidak berhenti di ayat 2 tetapi merinci satu per satu apa yang telah Tuhan lakukan.
Kedua, buatlah tanda. Israel mengangkat batu; Anda bisa menulis. Satu buku catatan kecil, tiga baris setiap malam, tentang apa yang Tuhan lakukan hari itu. Dalam enam bulan buku itu akan menjadi bukti yang sulit dibantah ketika hati Anda berbisik bahwa Tuhan tidak pernah menolong. Banyak orang kehilangan keyakinan bukan karena Tuhan berhenti bekerja, melainkan karena mereka tidak pernah mencatat apa pun.
Ketiga, letakkan syukur di depan permohonan. Coba ubah urutan doa Anda sesuai Filipi 4:6: sebelum menyampaikan daftar kebutuhan, sebutkan dulu doa-doa yang sudah dijawab. Untuk hati yang cemas, ini bukan trik psikologis, melainkan teologi: Allah yang kita percayai malam ini adalah Allah yang sudah setia tahun lalu.
Keempat, bawalah syukur ke tempat kerja dan rumah. Kolose 3:17 tidak memberi pengecualian untuk hari Senin. Ketika Anda membuka laptop, membuka warung, mengangkat cucian, atau mengantar anak sekolah, satu kalimat pendek sudah cukup: "Tuhan Yesus, ini kulakukan dalam nama-Mu, dan terima kasih Engkau memberi aku tangan untuk mengerjakannya." Pekerjaan yang biasa berubah bukan karena isinya berubah, tetapi karena ingatan Anda tentang siapa yang memberikannya berubah.
Kelima, jangan lewatkan meja Tuhan. Perjamuan Kudus adalah latihan syukur bersama yang dirancang oleh Yesus sendiri. Datanglah dengan sengaja, bukan sekadar mengikuti antrean. Dan keenam, biarkan syukur menjadi murah hati. 2 Korintus 9:15 menutup dua pasal tentang memberi dengan seruan, "Syukur kepada Allah oleh karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!" Tangan yang ingat sudah menerima banyak akan lebih mudah terbuka untuk memberi.
Ingatan yang dicatat lebih kuat daripada perasaan yang berubah.
Cermin
Saya ingin bertanya langsung kepada Anda. Kapan terakhir kali Anda berterima kasih kepada Tuhan untuk sesuatu yang sudah lama Anda miliki? Bukan hal baru, bukan jawaban doa minggu ini, tetapi hal lama: rumah yang sudah biasa, pasangan yang sudah Anda kenal luar dalam, tubuh yang masih berfungsi, gereja yang setiap Minggu Anda kritik dalam hati. Sering kali kita masih bersyukur untuk yang baru, tetapi sudah berhenti bersyukur untuk yang ada. Dan di situlah lupa mulai bekerja.
Lukas 17:16 mungkin menyentuh bagian yang tidak nyaman. Sepuluh orang kusta disembuhkan; sepuluh orang berjalan pulang dengan kulit yang bersih. Hanya satu yang berbalik: "lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria." Sembilan orang lainnya tidak melakukan kejahatan besar. Mereka hanya melanjutkan hidup. Mereka mendapatkan kesembuhan tetapi kehilangan perjumpaan. Itu bisa terjadi pada kita: doa dijawab, lalu kita terlalu sibuk menikmati jawabannya sampai lupa kembali kepada yang menjawab.
Mungkin uang Anda sedang sempit, dan mulut Anda penuh hitungan. Mungkin tubuh Anda nyeri setiap pagi, dan Anda sudah lupa bahwa kaki itu masih bisa berjalan. Mungkin Anda kesepian di rumah yang ramai, atau lelah mengurus orang tua yang sakit, atau merasa hidup Anda hanya berputar antara jam kerja dan tagihan. Syukur tidak meminta Anda berbohong tentang semua itu. Syukur meminta Anda berhenti sebentar dan berbalik, seperti orang Samaria itu, untuk mengingat siapa yang selama ini menopang Anda tanpa Anda sadari.
Anda tidak perlu hati yang sempurna untuk mulai. Anda hanya perlu satu kalimat jujur malam ini: "Tuhan, terima kasih." Lalu satu lagi besok.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak belajar syukur bukan dari khotbah, tetapi dari kebiasaan yang mereka lihat. Kalau Anda ingin menjelaskan tema ini secara sederhana, mulailah dari pengalaman mereka sendiri. Tanyakan bagaimana rasanya ketika mereka memberi hadiah kepada seseorang dan orang itu langsung memakainya tanpa menoleh, tanpa berkata apa pun. Lalu jelaskan bahwa Tuhan memberi kita sangat banyak: udara, makanan, keluarga, mata untuk melihat, dan yang paling besar, Tuhan Yesus yang datang menyelamatkan kita. Bersyukur berarti berbalik kepada Tuhan dan berkata, "Terima kasih, aku tahu ini dari Engkau."
Kisah sepuluh orang kusta dalam Lukas 17 hampir selalu berhasil untuk anak-anak, karena ceritanya konkret dan mudah dihitung: sepuluh sembuh, satu kembali. Dari situ anak bisa memahami tanpa dijelaskan panjang bahwa Tuhan senang ketika kita tidak lupa. Untuk anak yang lebih besar, Mazmur 103:2 bisa menjadi ayat hafalan yang kuat, terutama bagian "jangan lupakan segala kebaikan-Nya", karena semua anak mengerti apa itu lupa.
Latihan yang paling mudah adalah membuat ritual keluarga: saat makan malam, setiap orang menyebut satu hal yang ia syukuri hari itu, termasuk orang tuanya. Anak-anak perlu mendengar ayah dan ibu bersyukur, bukan hanya diminta bersyukur. Dan jangan takut membiarkan mereka mengeluh dahulu; tunjukkan bahwa kita boleh jujur kepada Tuhan lalu tetap berterima kasih.
Di Faith.network tersedia penjelasan yang disesuaikan untuk berbagai usia, yaitu untuk anak prasekolah 3 sampai 6 tahun, anak usia sekolah 7 sampai 12 tahun, dan remaja 12 tahun ke atas, sehingga Anda bisa memilih bahasa yang paling cocok untuk anak Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti bersyukur menurut Alkitab?
Bersyukur menurut Alkitab berarti mengakui secara terbuka bahwa apa yang kita miliki berasal dari Tuhan, lalu mengembalikan pengakuan itu kepada-Nya dalam kata dan perbuatan. Kata Ibraninya berhubungan dengan gerakan mengulurkan tangan dan menyatakan di depan umum, sedangkan kata Yunaninya berakar pada kata kasih karunia. Jadi syukur bukan sekadar perasaan senang, melainkan tindakan mengingat dan mengucapkan. Mazmur 103:2 menyatukan keduanya: "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan jangan lupakan segala kebaikan-Nya!"
Mengapa kita harus mengucap syukur dalam segala hal?
Karena dasar syukur kita bukan keadaan, melainkan Pribadi. 1 Tesalonika 5:18 berkata: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." Frasa "di dalam Kristus Yesus" itu kuncinya. Karena Kristus sudah menanggung dosa kita dan tidak akan pernah menarik kembali kasih-Nya, selalu ada sesuatu yang benar untuk disyukuri, bahkan ketika situasi di sekeliling kita sedang runtuh. Syukur bukan penilaian atas keadaan hari ini, melainkan pengakuan atas Allah yang tidak berubah.
Apakah bersyukur berarti saya tidak boleh sedih atau mengeluh kepada Tuhan?
Tidak. Alkitab memberi ruang yang sangat luas untuk kesedihan yang jujur. Sepertiga kitab Mazmur adalah ratapan, Yeremia menulis seluruh kitab tentang duka, dan Yesus sendiri menangis di depan kubur Lazarus. Perbedaannya terletak pada arah: keluhan yang berbahaya adalah keluhan yang berbicara tentang Tuhan di belakang-Nya, sedangkan ratapan yang sehat berbicara kepada Tuhan langsung. Anda boleh menumpahkan kekecewaan dan tetap mengucap syukur di kalimat berikutnya, karena keduanya sama-sama bentuk kepercayaan.
Apa perbedaan antara bersyukur dan memuji Tuhan?
Keduanya berdekatan dan sering muncul bersama, seperti dalam Mazmur 100:4: "Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!" Secara sederhana, syukur menyoroti apa yang Tuhan lakukan bagi kita, sedangkan pujian menyoroti siapa Tuhan itu pada diri-Nya sendiri. Syukur berangkat dari pengalaman, pujian berangkat dari karakter Allah. Dalam praktiknya, syukur yang dipelihara hampir selalu berkembang menjadi pujian, karena semakin kita mengingat pemberian-Nya, semakin kita mengagumi Pemberinya.
Mengapa hanya satu dari sepuluh orang kusta yang kembali mengucap syukur?
Lukas tidak menjelaskan alasannya, tetapi ia memberi satu petunjuk penting. Lukas 17:16 mencatat: "lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu seorang Samaria." Orang yang kembali justru yang paling tidak diharapkan secara agamawi. Sembilan yang lain tidak melakukan kejahatan; mereka hanya melanjutkan hidup dan menikmati kesembuhan tanpa kembali kepada Penyembuh. Itulah bentuk ketidaksyukuran yang paling umum, bukan penolakan yang kasar, melainkan kesibukan yang membuat kita lupa berbalik.
Bagaimana cara bersyukur ketika hidup terasa sangat berat?
Mulailah dari yang paling kecil dan paling pasti, bukan dari yang paling besar. Sebut satu hal konkret hari itu: obat yang masih ada, satu teman yang menelepon, napas yang masih diberikan. Lalu sebut satu hal yang tidak bergantung pada keadaan Anda, misalnya pengampunan dosa di dalam Kristus. Filipi 4:6 mengizinkan kita menyampaikan segala keinginan kita kepada Allah, tetapi menyarankan kita membawanya "dengan ucapan syukur", sehingga permohonan kita lahir dari ingatan akan kesetiaan-Nya, bukan dari ketakutan yang buta.
Apakah 1 Tesalonika 5:18 berarti saya harus bersyukur untuk hal-hal buruk?
Bacalah kata-katanya dengan teliti: "Mengucap syukurlah dalam segala hal." Perintahnya adalah bersyukur di dalam setiap situasi, bukan bersyukur bahwa setiap situasi itu baik. Alkitab tidak pernah menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang indah, dan Anda tidak perlu berkata bahwa penyakit, kekerasan, atau kematian adalah hal yang patut disukai. Yang kita syukuri di tengah penderitaan adalah kehadiran Allah, penyertaan-Nya, dan kemampuan-Nya menghasilkan kebaikan dari hal-hal yang paling gelap.
Apakah Tuhan marah kalau saya lupa bersyukur?
Allah tidak menjadi kurang bila kita lupa, dan hubungan kita dengan-Nya tidak bergantung pada nilai rapor syukur kita, melainkan pada karya Kristus. Namun Alkitab tetap menganggap ketidaksyukuran serius, karena Roma 1:21 menempatkannya di akar kegelapan hati manusia: mengenal Allah tetapi tidak memuliakan dan tidak mengucap syukur kepada-Nya. Lupa bersyukur bukan pelanggaran kecil yang sepele, tetapi juga bukan alasan untuk hidup dalam rasa bersalah. Sikap terbaiknya sederhana: akui, lalu kembalilah, seperti orang Samaria itu.
Apa hubungan antara bersyukur dan kekuatiran?
Filipi 4:6 menaruh keduanya dalam satu tarikan napas: "Janganhlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." Kekuatiran hidup dari bayangan masa depan, sedangkan syukur hidup dari bukti masa lalu. Ketika Anda menyebut ulang apa yang sudah Tuhan lakukan, kecemasan tidak selalu langsung hilang, tetapi ia kehilangan kursi kemudi. Itulah sebabnya ayat berikutnya berbicara tentang damai sejahtera yang memelihara hati dan pikiran kita di dalam Kristus Yesus.
Bagaimana melatih hati yang penuh syukur setiap hari?
Latihlah ingatan, bukan suasana hati. Sebutkan hal-hal yang spesifik, bukan yang umum; tuliskan tiga hal setiap malam sehingga Anda punya catatan yang bisa dibaca ulang ketika hati sedang gelap; dahulukan syukur sebelum daftar permohonan dalam doa; dan hubungkan syukur dengan pekerjaan sehari-hari seperti dianjurkan Kolose 3:17, supaya semua yang Anda lakukan dengan perkataan atau perbuatan dilakukan dalam nama Tuhan Yesus sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa. Dua minggu latihan sederhana ini biasanya sudah mengubah nada doa Anda.
Apakah ucapan syukur harus diucapkan dengan kata-kata, atau cukup dalam hati?
Dalam hati sudah berarti, tetapi Alkitab jelas mendorong syukur yang keluar. Kata Ibrani untuk syukur berhubungan dengan pengakuan terbuka, korban syukur di Bait Allah selalu berwujud nyata, dan Efesus 5:20 menyuruh kita mengucap syukur "senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita". Syukur yang diucapkan menguatkan orang lain yang mendengarnya, terutama anak-anak dan saudara seiman yang sedang lemah, dan sekaligus menanamkan ingatan itu lebih dalam ke dalam hati kita sendiri.
Mengapa Perjamuan Kudus disebut ucapan syukur?
Karena kata Ekaristi berasal dari kata Yunani eucharisteo yang berarti mengucap syukur, dan itulah tepatnya yang Yesus lakukan di malam terakhir-Nya. Lukas 22:19 mencatat: "Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: 'Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.'" Di meja itu syukur dan ingatan menyatu: kita menerima sesuatu yang tidak kita bayar, mengucap syukur, dan mengingat salib. Perjamuan Kudus adalah sekolah syukur bagi seluruh jemaat.
Apakah orang yang bersyukur akan diberkati lebih banyak oleh Tuhan?
Alkitab memang berkata bahwa syukur memuliakan Allah dan mendatangkan damai sejahtera, tetapi syukur bukan alat tawar-menawar untuk mendapatkan berkat materi. Jika kita bersyukur supaya Tuhan memberi lebih banyak, syukur itu berubah menjadi investasi dan Allah diperlakukan sebagai mesin. Filipi 4:6 dan 4:7 menjanjikan sesuatu yang lebih dalam daripada tambahan barang, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Berkat terbesar dari hati yang bersyukur adalah kepuasan di dalam Tuhan sendiri, yang tidak bisa diambil oleh keadaan apa pun.
Sebagai penutup
Kalau ada satu hal yang ingin saya tinggalkan di ingatan Anda, itu adalah kalimat pemazmur kepada jiwanya sendiri: jangan lupakan segala kebaikan-Nya. Syukur di dalam Alkitab bukan bakat kepribadian dan bukan hasil dari hidup yang mulus. Ia adalah ingatan yang dirawat, diucapkan, dan diulang sampai menjadi cara kita memandang segala sesuatu. Itulah sebabnya Tuhan memberi umat-Nya begitu banyak sarana untuk mengingat: hari raya, batu peringatan, mazmur dengan refrein yang diulang, dan akhirnya meja Perjamuan dengan pesan "perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku".
Anda tidak perlu menunggu hati yang sempurna. Mulailah dari mana Anda berada malam ini, dengan satu kalimat yang spesifik dan jujur. Lalu perdalam dengan membaca Mazmur 103 dan Mazmur 100 perlahan-lahan, satu ayat setiap hari, dan renungkan Filipi 4:6 sampai 4:7 bersama daftar doa Anda sendiri. Perhatikan apa yang terjadi setelah sebulan. Bukan keadaan Anda yang pertama-tama berubah, melainkan ingatan Anda; dan hati yang ingat adalah hati yang lebih sulit dicuri oleh ketakutan.
