Kitab Alkitab

Kitab 1 Korintus: Jawaban Paulus bagi Jemaat yang Bermasalah

Pendahuluan

Bayangkan sebuah gereja rumah di kota pelabuhan. Ada pengusaha kaya yang datang lebih awal dan sudah kenyang makan, sementara buruh pelabuhan baru tiba setelah gelap dan tidak kebagian roti. Ada yang bangga karena bisa berbicara dengan bahasa yang tak dimengerti orang lain. Ada yang membawa perkara saudaranya ke pengadilan kota. Ada yang masih mampir ke kuil untuk makan malam bersama kerabat, dan ada yang menuduh mereka tidak kudus. Di antara mereka berdiri empat nama yang dipakai sebagai bendera: Paulus, Apolos, Kefas, Kristus.

Jemaat itu nyata. Namanya Korintus. Dan surat yang kita kenal sebagai 1 Korintus adalah jawaban seorang rasul yang mencintai jemaat yang bikin pusing kepala. Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulisnya, kapan dan dari mana ditulis, bagaimana kitab ini disusun, apa tema-tema besarnya, ayat-ayat kuncinya, tempatnya dalam kanon, dan panduan praktis untuk membacanya sendiri.

Sudut pandang panduan ini

Banyak ringkasan memperlakukan 1 Korintus sebagai daftar nasihat untuk tiga belas masalah yang tidak saling berhubungan. Panduan ini membacanya lewat dua poros yang menyatukan seluruh surat: salib dan tubuh. Salib membalikkan ukuran kehebatan yang dipakai kota Korintus, dan karena itu membongkar perpecahan, kesombongan rohani, dan persaingan karunia. Tubuh membuat iman tidak bisa melayang di udara: ada tubuh Anda sendiri, ada tubuh jemaat, dan ada tubuh Kristus yang dibangkitkan. Pegang dua poros ini, dan surat yang tadinya terasa seperti kumpulan teguran akan terdengar seperti satu khotbah yang utuh.

Apa kata Alkitab tentang kitab 1 Korintus?

Surat ini memperkenalkan dirinya sendiri sejak kalimat pertama: Paulus, rasul Kristus Yesus, bersama Sostenes, menulis kepada jemaat Allah di Korintus. Yang menarik, sebelum satu pun masalah disebut, Paulus menyebut mereka "mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus, orang-orang yang dipanggil menjadi orang-orang kudus". Jemaat yang paling berantakan dalam Perjanjian Baru justru disapa sebagai orang kudus. Itu bukan sanjungan kosong; itu dasar dari seluruh teguran yang menyusul. Paulus tidak menuntut mereka menjadi milik Kristus; ia menuntut mereka hidup sesuai dengan kenyataan bahwa mereka sudah menjadi milik Kristus.

Permohonan utama surat ini muncul di 1 Korintus 1:10: "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." Perhatikan atas dasar apa ia memohon: "demi nama Tuhan kita Yesus Kristus". Persatuan bukan soal cocok-cocokan selera, melainkan soal siapa yang namanya dipakai saat mereka dibaptis.

Lalu Paulus melakukan sesuatu yang tidak diduga. Ia tidak langsung menengahi pertikaian antar kelompok. Ia malah berkhotbah tentang salib. "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah" (1 Korintus 1:18). Inilah pisau bedah Paulus. Perpecahan di Korintus lahir dari kerinduan akan status: guru yang paling hebat, retorika yang paling memukau, karunia yang paling mengesankan. Salib menghancurkan seluruh pasar status itu, sebab di sana Allah memilih jalan yang di mata kota pelabuhan itu tampak memalukan. Siapa yang sungguh mengerti salib tidak lagi punya alasan untuk memamerkan apa pun.

Dari poros salib, Paulus bergerak ke poros tubuh. Kekudusan di Korintus bukan topik abstrak, sebab kota itu penuh rumah pelacuran dan sebagian jemaat berpikir tubuh adalah urusan sementara yang tidak penting. Jawaban Paulus mengejutkan: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?" (1 Korintus 6:19). Tubuh bukan bungkus yang akan dibuang; tubuh adalah tempat kediaman Allah.

Dari tubuh pribadi, Paulus melangkah ke tubuh bersama: "Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya" (1 Korintus 12:27). Dan dari tubuh jemaat, ia melangkah ke tubuh yang dibangkitkan: "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang pertama dari orang-orang yang telah meninggal" (1 Korintus 15:20).

Salib mengubah ukuran; kebangkitan mengubah tujuan.

Jadi apa kata Alkitab tentang kitab ini? Bahwa Injil tidak berhenti di keyakinan batin. Injil masuk ke meja makan, ke tempat tidur, ke dompet, ke jadwal kebaktian, ke cara kita memperlakukan orang yang kita anggap lebih rendah. 1 Korintus adalah Injil yang turun ke lantai.

Korintus: kota, jemaat, dan surat yang lahir dari pertanyaan

Korintus bukan kota tua yang tenang. Kota lamanya dihancurkan Roma pada tahun 146 sebelum Kristus, lalu dibangun kembali sebagai koloni Romawi pada tahun 44 sebelum Kristus. Artinya, saat Paulus datang, kota itu baru berumur kurang dari seabad: kota pendatang, kota orang-orang yang sedang naik, penuh bekas budak yang berhasil menjadi kaya. Letaknya di tanah sempit antara dua laut dengan dua pelabuhan, Lekhaion di barat dan Kengkrea di timur, sehingga barang dan manusia dari seluruh Mediterania mengalir lewat sana. Ada permainan Istmia yang terkenal, ada kuil-kuil, ada Akrokorintus yang menjulang dengan kuil Afrodit. Budayanya budaya kehormatan: siapa yang punya pelindung, siapa yang bisa berpidato indah, siapa yang mampu menjamu.

Paulus sampai di sana sekitar tahun 50, dan Kisah Para Rasul 18 mencatat ia tinggal satu setengah tahun. Ia bekerja sebagai tukang kemah bersama Akwila dan Priskila, berdebat di rumah ibadat, lalu pindah ke rumah Titius Yustus. Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya. Ketika perkara dibawa kepada Galio, wali negeri Akhaya, tuduhan itu ditolak. Catatan tentang Galio inilah yang memberi kita salah satu titik tanggal paling pasti dalam seluruh Perjanjian Baru, sekitar tahun 51 sampai 52.

Beberapa tahun kemudian Paulus berada di Efesus dalam perjalanan misinya yang ketiga. Dari sanalah surat ini ditulis, sekitar tahun 54 atau 55, sebab ia berkata bahwa ia akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta dan berencana lewat Makedonia. Kepenulisan Paulus atas surat ini praktis tidak pernah diperdebatkan, baik oleh gereja awal maupun oleh para ahli modern; Klemens dari Roma sudah mengutipnya pada akhir abad pertama.

Yang penting dipahami, surat ini adalah bagian dari percakapan yang sudah berjalan. Paulus menyebut sebuah surat sebelumnya yang tidak kita miliki lagi. Ia mendapat laporan lisan dari orang-orang Kloe tentang perpecahan. Ia juga kedatangan Stefanus, Fortunatus, dan Akhaikus, dan sepertinya menerima daftar pertanyaan tertulis dari jemaat. Itu sebabnya mulai pasal 7 muncul pola "Tentang..." yang berulang: tentang hal kawin, tentang daging persembahan berhala, tentang karunia Roh, tentang pengumpulan uang. Paruh pertama surat menjawab kabar buruk yang sampai ke telinga Paulus; paruh kedua menjawab pertanyaan yang mereka ajukan sendiri. Dan dari awal sampai akhir, jawabannya selalu digali dari sumber yang sama: Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan.

Benang merah yang mengalir dalam Alkitab

1 Korintus terasa sangat "Yunani" karena membahas pengadilan kota, daging pasar, dan perlombaan atletik. Tetapi cara Paulus berpikir seluruhnya berakar di Perjanjian Lama.

Ketika ia meruntuhkan kesombongan rohani, ia mengutip Yeremia: siapa yang mau bermegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan. Ketika ia menyebut hikmat dunia yang digagalkan Allah, ia memakai Yesaya 29. Ketika ia menyuruh jemaat membuang dosa dari tengah-tengah mereka, ia memakai gambar Paskah dan roti tak beragi: ragi yang sedikit mengkhamiri seluruh adonan, dan Kristus adalah anak Paskah yang telah disembelih. Ketika ia memperingatkan jemaat yang terlalu percaya diri tentang kebebasan mereka, ia membawa mereka ke padang gurun: Israel keluar dari Mesir, melewati laut, makan manna, minum dari batu, dan tetap jatuh. Peringatan padang gurun itulah yang langsung mendahului janji terkenal ini: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya" (1 Korintus 10:13).

Tema bait suci juga datang dari Perjanjian Lama. Dahulu kemuliaan Allah tinggal di Kemah Suci lalu di Bait Suci Yerusalem. Paulus berkata jemaat adalah bait Allah, dan lebih berani lagi, tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus. Tempat kediaman Allah telah berpindah dari batu ke manusia.

Puncak benang merah itu ada di pasal 15. Di sana Paulus menaruh Adam dan Kristus berhadapan: oleh manusia pertama datang kematian, oleh satu Manusia datang kebangkitan. Dan kata yang ia pakai untuk Kristus, "yang pertama dari orang-orang yang telah meninggal", adalah istilah panen dari hukum Taurat. Dalam Imamat, berkas pertama dibawa kepada Tuhan sebagai tanda bahwa seluruh panen akan segera masuk. Kebangkitan Yesus bukan keajaiban tunggal yang terpencil; itu berkas pertama. Lalu Paulus mengakhiri pasal itu dengan menggabungkan Yesaya dan Hosea, menyanyikan kematian yang kehilangan sengatnya.

Dengan kata lain, surat yang lahir dari kekacauan sebuah jemaat kota pelabuhan ternyata membentang dari Taman Eden sampai kebangkitan terakhir. Dan pusatnya satu: Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan, dasar yang tidak bisa diganti oleh siapa pun.

Struktur dan tema utama

Secara garis besar, 1 Korintus terdiri dari enam belas pasal yang bisa dibaca dalam lima gerakan besar.

Gerakan pertama, pasal 1 sampai 4, adalah tentang perpecahan dan hikmat salib. Paulus mendengar jemaat terbelah dalam kubu-kubu yang memuja guru favorit. Ia tidak membela diri, malah bersyukur karena hanya sedikit orang yang ia baptis sendiri. Ia menegaskan bahwa ia datang tanpa kata-kata hikmat yang memikat, dan bertekad tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus yang disalibkan. Para pemberita hanyalah pelayan, pengurus, bahkan sampah dunia; yang memberi pertumbuhan adalah Allah, dan dasar bangunan hanya satu.

Gerakan kedua, pasal 5 sampai 6, menangani kasus-kasus yang masuk ke telinga Paulus: percabulan terang-terangan yang dibiarkan, anggota jemaat yang saling menyeret ke pengadilan kota, dan laki-laki yang mendatangi pelacur sambil berdalih bahwa segala sesuatu halal. Di sinilah poros tubuh muncul tajam. Paulus mengingatkan bahwa mereka dulu memang seperti itu, tetapi sudah disucikan, dikuduskan, dibenarkan.

Gerakan ketiga, pasal 7 sampai 11, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Pasal 7 tentang pernikahan, kelajangan, dan panggilan masing-masing. Pasal 8 sampai 10 tentang daging persembahan berhala, dengan prinsip yang mengguncang budaya hak: pengetahuan boleh benar, tetapi kasih yang membangun, dan orang kuat rela membatasi haknya demi yang lemah. Paulus memakai dirinya sebagai contoh, melepaskan hak untuk dibiayai agar Injil tidak terhalang. Pasal 11 mengatur ibadah: soal penutup kepala dalam konteks kehormatan di kota itu, dan Perjamuan Tuhan yang mereka nodai dengan perilaku kelas sosial.

Gerakan keempat, pasal 12 sampai 14, membahas karunia Roh. Paulus menolak membuat tangga prestise rohani dan memakai gambar tubuh: banyak anggota, satu tubuh, saling membutuhkan. Di tengahnya ia menyelipkan pasal 13, bukan sebagai puisi pernikahan, melainkan sebagai pukulan bagi jemaat yang berkarunia tetapi dingin. Pasal 14 menarik kesimpulan praktis: dalam ibadah, yang membangun orang lain lebih berharga daripada yang mengesankan diri sendiri.

Gerakan kelima, pasal 15, adalah puncak teologis: kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang percaya, lengkap dengan pengakuan iman paling awal yang kita miliki. Pasal 16 menutup dengan hal-hal yang sangat membumi: pengumpulan uang untuk orang-orang kudus di Yerusalem, rencana perjalanan, salam, dan seruan Aram "Maranata".

Perhatikan polanya. Surat ini bergerak dari salib di awal menuju kebangkitan di akhir, dan di antara keduanya setiap masalah dibedah dengan dua alat yang sama. Itulah sebabnya 1 Korintus tidak pernah ketinggalan zaman: masalahnya berganti nama, tetapi akarnya, yaitu kehausan akan status dan pemisahan antara iman dan tubuh, tidak pernah benar-benar hilang.

Ayat-ayat kunci dari kitab ini

Tiga ayat pantas dibaca lambat-lambat, karena masing-masing memegang satu poros surat ini.

Yang pertama, 1 Korintus 1:18: "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah." Kata "kebodohan" di sini bukan hinaan Paulus kepada orang lain, melainkan pengakuan jujur tentang bagaimana salib terdengar di telinga dunia yang mengukur segalanya dengan kekuatan. Seorang terhukum yang mati di kayu adalah lambang kegagalan total. Namun justru di titik yang paling tidak mengesankan itu Allah bekerja. Ayat ini menjadi kunci karena memberi Paulus sebuah tolok ukur baru: jika Allah menyelamatkan lewat jalan yang tampak hina, maka semua perlombaan gengsi di dalam jemaat kehilangan alasannya.

Yang kedua, 1 Korintus 13:4: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." Bacalah ayat ini sebagai cermin bagi jemaat Korintus, bukan sebagai hiasan undangan pernikahan. Mereka tidak sabar terhadap yang lemah, pelit di meja Perjamuan, cemburu pada karunia orang lain, gemar memegahkan diri, dan sombong karena pengetahuan. Setiap sifat kasih yang Paulus sebut persis membalik satu penyakit mereka. Kasih di sini bukan perasaan hangat, melainkan cara memperlakukan orang yang tidak memberi keuntungan apa pun bagi kita. Dan karena kasih adalah satu-satunya hal yang bertahan sampai kekekalan, kasih juga satu-satunya ukuran kedewasaan yang sah.

Yang ketiga, 1 Korintus 15:20: "Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang pertama dari orang-orang yang telah meninggal." Dua kata "tetapi yang benar" datang setelah serangkaian kalimat gelap: jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan dan iman kita. Lalu Paulus membalik seluruh ruangan dengan satu fakta. Ia menyebut Kristus buah pertama, yang berarti kebangkitan kita bukan harapan samar tetapi panen lanjutan. Itu sebabnya pasal ini berakhir dengan dorongan untuk berdiri teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan, sebab jerih payah kita tidak sia-sia. Kebangkitan tidak membuat kita melamun tentang surga; kebangkitan membuat tangan kita tidak berhenti bekerja.

Panduan membaca kitab 1 Korintus

Cara paling melelahkan membaca surat ini adalah memetik satu ayat sehari tanpa konteks. Cara paling memuaskan adalah membacanya seperti surat: sekali duduk dulu, lalu bagian demi bagian.

Mulailah dengan membaca seluruh enam belas pasal dalam satu atau dua kali duduk, tanpa catatan, hanya untuk mendengar nada suara Paulus: marah, lembut, menggoda, memohon, bergantian. Setelah itu baca Kisah Para Rasul 18 supaya Anda melihat wajah-wajah di balik surat ini.

Pekan pertama, tinggal di pasal 1 sampai 4 dan tanyakan satu hal setiap hari: ukuran kehebatan siapa yang sedang saya pakai? Catat setiap kali Paulus menyebut salib, hikmat, dan kemegahan.

Pekan kedua, baca pasal 5 sampai 11 dengan pertanyaan tentang tubuh dan kebebasan. Di mana saya berkata "ini hakku" padahal kasih meminta saya mengalah? Bacalah pasal 8 sampai 10 sebagai satu kesatuan, jangan dipotong, sebab contoh Paulus tentang dirinya sendiri di pasal 9 adalah jantung argumennya.

Pekan ketiga, masuk ke pasal 12 sampai 14. Baca pasal 13 dua kali: sekali untuk diri sendiri, sekali dengan mengganti kata "kasih" dengan nama Anda, dan lihat di mana kalimatnya terasa tidak jujur.

Pekan keempat, habiskan waktu di pasal 15 dan 16. Hafalkan ayat 20 dan ayat terakhir pasal itu. Lalu kembali ke 1 Korintus 1:10 dan tanyakan: setelah semua ini, bagaimana saya bisa menjadi orang yang membangun persatuan di jemaat saya, bukan yang menambah perpecahan?

Jika Anda membaca bersama kelompok kecil, satu aturan sederhana sangat menolong: setiap kali menemukan teguran, cari dulu alasan teologisnya sebelum membahas penerapannya. Paulus hampir selalu memberi alasan, dan alasan itulah yang mengubah hati, bukan larangannya.

Cermin

Mari jujur sebentar. Surat ini ditulis kepada orang-orang yang yakin mereka rohani. Itu bagian yang paling menggelisahkan: Korintus bukan jemaat yang dingin dan kosong. Mereka penuh karunia, penuh pengetahuan, penuh semangat ibadah. Dan tepat di sanalah Paulus harus berkata bahwa tanpa kasih, semuanya nol.

Jadi pertanyaannya bukan apakah Anda aktif. Pertanyaannya: siapa yang Anda anggap lebih rendah? Di gereja Anda, ada tidak orang yang Anda lewati saat bersalaman karena ia tidak menambah apa pun pada hidup Anda? Di kantor, apakah Anda membangun reputasi dengan cara yang membuat orang lain terlihat kecil? Di rumah, apakah kesabaran Anda habis justru pada orang-orang yang paling dekat, sementara di depan jemaat Anda tampak manis?

Lalu soal tubuh. 1 Korintus 6:19 menutup pintu bagi semua alasan yang kita simpan rapi: bahwa apa yang saya lakukan dengan tubuh saya adalah urusan pribadi, bahwa yang penting hati saya tulus, bahwa toh tidak ada yang tahu. Paulus menjawab dengan satu kalimat pendek: kamu bukan milik kamu sendiri. Itu menyakitkan bagi kita yang hidup di zaman otonomi penuh. Tetapi coba dengar lagi, dan ada kelegaan di dalamnya. Anda tidak perlu mengurus hidup Anda sendirian. Tubuh yang letih, yang sakit, yang Anda malu lihat di cermin, bukan barang bekas yang akan dibuang. Itu bait Roh Kudus, dan akan dibangkitkan.

Dan tentang pencobaan yang Anda rasa terlalu berat: 1 Korintus 10:13 tidak menjanjikan hidup tanpa tekanan, melainkan jalan ke luar yang selalu Allah sediakan. Masalahnya bukan Allah tidak menyediakan pintu; masalahnya kita sering tidak mau melewatinya karena ada harga yang harus dibayar.

Allah selalu menyediakan pintu; kita yang sering enggan keluar.

Dijelaskan untuk anak-anak

Kepada anak-anak, 1 Korintus bisa diperkenalkan dengan gambar yang sangat sederhana: sebuah keluarga besar yang sedang bertengkar, lalu mendapat surat dari orang yang sangat menyayangi mereka. Paulus seperti ayah yang jauh di kota lain, mendengar anak-anaknya saling berebut dan saling menyombongkan diri, lalu menulis surat panjang untuk mengingatkan mereka siapa mereka sesungguhnya.

Dua gambar dalam surat ini sangat mudah dipahami anak. Yang pertama, gambar tubuh: tangan tidak bisa berkata kepada kaki, "Aku tidak membutuhkanmu." Mata tidak lebih penting daripada telinga. Begitu juga di gereja, tidak ada orang yang tidak dibutuhkan, dan tidak ada orang yang boleh merasa paling penting. Yang kedua, gambar kasih dari pasal 13: kasih itu sabar, kasih itu mau mengalah, kasih itu tidak suka pamer. Anak-anak bisa langsung menguji itu di rumah, saat berbagi mainan atau mengantre.

Untuk anak yang lebih besar, kebangkitan di pasal 15 bisa dijelaskan dengan gambar panen: Yesus adalah buah pertama yang dipetik, tanda bahwa panen besar akan datang. Karena Yesus hidup, kita juga akan hidup.

Di Faith.network tersedia penjelasan khusus menurut usia, untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan cerita dan gambar sederhana, untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun dengan konteks kota Korintus dan penerapan sehari-hari, dan untuk remaja dua belas tahun ke atas yang mulai bergumul dengan tubuh, identitas, dan tekanan pertemanan. Pilih yang sesuai dengan anak Anda, lalu bacalah bersama, bukan sendirian.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa yang menulis kitab 1 Korintus?

Rasul Paulus, dan ia menyebut dirinya secara terbuka di ayat pertama bersama Sostenes sebagai rekan pengirim. Kepenulisan Paulus atas surat ini hampir tidak pernah dipertanyakan sepanjang sejarah gereja, baik oleh bapa-bapa gereja awal maupun oleh para ahli modern. Gaya bahasanya, cara ia berdebat, dan hubungan pribadinya yang hangat sekaligus tegas dengan jemaat itu sangat khas Paulus. Ia menulis sebagai pendiri jemaat Korintus, bukan sebagai pengamat luar, dan itu menjelaskan mengapa nadanya kadang terdengar seperti seorang ayah yang kecewa tetapi tidak pernah berhenti mengasihi.

Kapan dan dari mana kitab 1 Korintus ditulis?

Surat ini ditulis dari Efesus, sekitar tahun 54 atau 55, saat Paulus berada dalam perjalanan misinya yang ketiga. Petunjuknya ada di dalam surat itu sendiri: Paulus berkata ia akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, lalu berencana pergi melalui Makedonia. Penanggalan ini cukup kokoh karena bisa dikaitkan dengan catatan Kisah Para Rasul 18 tentang Galio, wali negeri Akhaya, yang menjabat sekitar tahun 51 sampai 52. Jadi surat ini ditulis kira-kira tiga sampai empat tahun setelah jemaat Korintus berdiri.

Ada berapa pasal dalam kitab 1 Korintus dan apa isi pokoknya?

Ada enam belas pasal. Pasal 1 sampai 4 membahas perpecahan jemaat dan hikmat salib. Pasal 5 dan 6 menangani percabulan serta perkara hukum antar anggota jemaat. Pasal 7 berbicara tentang pernikahan dan kelajangan. Pasal 8 sampai 10 tentang daging persembahan berhala, kebebasan, dan pembatasan hak demi kasih. Pasal 11 mengatur ibadah dan Perjamuan Tuhan. Pasal 12 sampai 14 membahas karunia Roh dengan pasal kasih di tengahnya. Pasal 15 menjelaskan kebangkitan, dan pasal 16 menutup dengan pengumpulan dana, rencana perjalanan, dan salam.

Apa masalah utama jemaat Korintus?

Akarnya satu: kehausan akan status. Jemaat itu hidup di kota yang mengukur manusia dari kehormatan, kekayaan, dan kemampuan berbicara, dan cara berpikir itu masuk ke dalam gereja. Akibatnya muncul kubu-kubu di sekitar guru favorit, kesombongan karena pengetahuan, pemisahan kelas sosial di Perjamuan Tuhan, dan persaingan karunia rohani. Masalah moral seperti percabulan dan perkara di pengadilan juga tumbuh dari akar yang sama, yaitu keyakinan bahwa kebebasan dan hak pribadi lebih penting daripada kasih. Paulus menjawab semuanya dengan salib.

Apa arti "tubuhmu adalah bait Roh Kudus"?

Dalam 1 Korintus 6:19 Paulus memakai gambar Bait Suci Yerusalem, tempat kemuliaan Allah tinggal dan yang dijaga kekudusannya dengan sangat ketat. Ia berkata bahwa sejak Roh Kudus diam di dalam orang percaya, tubuh kita sendirilah tempat kediaman itu. Maka apa yang kita lakukan dengan tubuh bukan urusan netral atau pribadi semata. Ayat itu ditutup dengan alasan yang paling menentukan: kita bukan milik kita sendiri, karena kita telah dibeli dan harganya telah dibayar. Kekudusan tubuh lahir dari kepemilikan, bukan dari aturan.

Apakah benar Allah tidak akan memberi pencobaan melebihi kekuatan kita?

1 Korintus 10:13 memang berkata Allah tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita, tetapi perhatikan konteksnya. Paulus baru saja memakai kisah Israel di padang gurun sebagai peringatan bagi orang yang merasa kuat. Jadi ayat ini bukan jaminan bahwa hidup kita tidak akan berat; banyak orang percaya memikul beban yang jelas melebihi kemampuan mereka sendiri. Yang dijanjikan adalah kesetiaan Allah dan adanya jalan ke luar dari pencobaan, sehingga kita sanggup menanggungnya. Janji itu bertumpu pada karakter Allah, bukan pada ketangguhan kita.

Apa bedanya kitab 1 Korintus dan 2 Korintus?

1 Korintus menjawab laporan dan pertanyaan tentang kekacauan praktis di jemaat: perpecahan, moralitas, ibadah, karunia, kebangkitan. Nadanya korektif dan penuh pengajaran. 2 Korintus ditulis tidak lama kemudian, setelah hubungan Paulus dengan jemaat itu memburuk dan sebagian orang menyerang kewibawaannya sebagai rasul. Karena itu 2 Korintus jauh lebih pribadi dan emosional; di sana Paulus membela pelayanannya, berbicara tentang penderitaan, kelemahan, penghiburan, dan pengumpulan dana. Jika 1 Korintus menata rumah, 2 Korintus memulihkan hubungan di dalam rumah itu.

Mengapa 1 Korintus 13 disebut pasal kasih?

Karena seluruh pasal itu menggambarkan kasih dengan cara yang sangat konkret, dimulai dari 1 Korintus 13:4 yang menyebut kasih itu sabar dan murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, dan tidak sombong. Namun pasal ini bukan puisi romantis. Letaknya tepat di tengah pembahasan karunia Roh, sebagai teguran bagi jemaat yang bangga akan kemampuan rohani tetapi gagal memperlakukan satu sama lain dengan hormat. Paulus berkata karunia yang paling mengesankan pun tidak berarti apa-apa tanpa kasih, sebab kasih adalah satu-satunya yang bertahan selamanya.

Apakah karunia-karunia Roh dalam 1 Korintus masih berlaku hari ini?

Orang Kristen yang sama-sama setia pada Alkitab berbeda pendapat tentang hal ini, dan baik untuk mengakuinya dengan jujur. Sebagian meyakini karunia seperti bahasa roh dan nubuat terus diberikan sepanjang zaman; sebagian lain meyakini karunia tanda itu khas masa para rasul. Yang pasti dan tidak diperdebatkan adalah maksud Paulus: karunia diberikan oleh Roh yang satu, dibagikan menurut kehendak-Nya, dan tujuannya membangun jemaat, bukan menaikkan gengsi pribadi. Ukuran yang ia berikan jelas, yaitu kasih dan ketertiban, dan ukuran itu berlaku bagi semua pihak.

Apa arti "yang pertama dari orang-orang yang telah meninggal" dalam 1 Korintus 15:20?

Paulus memakai istilah panen dari Perjanjian Lama. Dalam Taurat, hasil pertama dari ladang dibawa kepada Tuhan sebagai tanda bahwa seluruh panen akan menyusul. Dengan menyebut Kristus sebagai yang pertama dari orang-orang yang telah meninggal, Paulus mengatakan bahwa kebangkitan Yesus bukan peristiwa tunggal yang terpisah, melainkan permulaan dari kebangkitan semua orang yang menjadi milik-Nya. Itu sebabnya iman Kristen tidak berhenti pada harapan bahwa jiwa kita selamat; yang dijanjikan adalah tubuh yang dibangkitkan dalam dunia yang dibarui.

Mengapa Paulus membahas penutup kepala perempuan di pasal 11?

Di Korintus, pakaian kepala membawa pesan sosial yang kuat tentang kehormatan, status, dan kesopanan dalam pertemuan umum. Paulus sedang menangani situasi di mana cara berpakaian saat berdoa dan bernubuat justru menimbulkan keributan dan rasa dipermalukan, bukan membangun. Karena itu banyak penafsir membedakan prinsip yang tetap, yaitu hormat, ketertiban, dan kepedulian pada kesan yang kita tinggalkan dalam ibadah, dari penerapan budaya yang terikat zaman itu. Yang jelas, pasal yang sama menegaskan bahwa perempuan pun berdoa dan bernubuat di tengah jemaat.

Apakah Paulus pernah menulis surat lain kepada jemaat Korintus yang hilang?

Ya, kemungkinan besar demikian. Dalam 1 Korintus 5 Paulus menyinggung sesuatu yang sudah ia tulis sebelumnya kepada mereka, dan surat itu tidak ada dalam Alkitab kita. Dalam 2 Korintus ia juga menyebut sebuah surat yang ia tulis dengan hati yang sangat sedih. Hal ini tidak mengganggu keyakinan kita pada Alkitab: Allah memelihara tulisan yang Ia maksudkan menjadi firman bagi seluruh gereja sepanjang zaman, bukan setiap catatan administratif seorang rasul. Yang kita miliki cukup, dan itu diberikan dengan tujuan.

Bagaimana cara terbaik mulai membaca kitab 1 Korintus?

Bacalah lebih dulu Kisah Para Rasul 18 untuk mengenal kota dan orang-orangnya, lalu baca seluruh surat dalam satu atau dua kali duduk agar Anda menangkap alur dan nadanya. Setelah itu kembali per bagian: pasal 1 sampai 4, pasal 5 sampai 6, pasal 7 sampai 11, pasal 12 sampai 14, lalu pasal 15 sampai 16. Jangan memotong pasal 8 sampai 10 dan jangan mencabut pasal 13 dari konteksnya. Setiap kali menemukan teguran, cari dulu alasan teologis yang Paulus berikan sebelum bertanya apa yang harus Anda lakukan.

Sebagai penutup

Jemaat yang paling berantakan dalam Perjanjian Baru menerima surat yang paling kaya tentang salib, tubuh, kasih, dan kebangkitan. Itu bukan kebetulan. Paulus tidak menyusun daftar peraturan untuk menertibkan orang Korintus; ia menancapkan dua pasak di tengah kekacauan mereka. Pasak pertama adalah salib, yang mencabut seluruh dasar kesombongan rohani dan membuat persatuan menjadi mungkin. Pasak kedua adalah tubuh, yang menolak membiarkan iman kita menjadi urusan batin semata: tubuh Anda milik Allah, jemaat adalah tubuh Kristus, dan Kristus yang dibangkitkan adalah buah pertama dari panen yang pasti datang.

Jika Anda ingin melanjutkan, mulailah dengan tujuh ayat yang kita bahas di halaman ini dan renungkan satu per satu selama seminggu: 1 Korintus 1:10, 1 Korintus 1:18, 1 Korintus 6:19, 1 Korintus 10:13, 1 Korintus 12:27, 1 Korintus 13:4, dan 1 Korintus 15:20. Lalu bacalah seluruh surat sekali lagi dengan satu pertanyaan sederhana di hati: di mana hidup saya masih diukur dengan timbangan Korintus, dan bukan dengan timbangan salib? Jawabannya mungkin tidak nyaman, tetapi di sanalah kasih karunia biasanya mulai bekerja.

Bagikan halaman ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter
Ayat harian

Bacaan dan renungan di kotak masuk Anda setiap pagi

Setiap pagi Anda menerima bacaan Alkitab dengan renungan singkat untuk mengawali hari Anda. Sudah 6.080 orang membaca bersama.

Anda akan menerima email konfirmasi terlebih dahulu. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja dengan satu klik.

6.744
Bagian Alkitab yang dibuka bersama
Sudah 6 renungan baru hari ini

Dinding perenungan

Apa yang menyentuh Anda dalam Kitab Suci? Apa yang bisa kami doakan? Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan?

Wawasan Editorial pada 1 KORINTUS 2:3

Paulus, rasul besar itu, mengaku: "Aku ada bersamamu dalam kelemahan, dalam ketakutan, dan dengan sangat gentar." Bukan panggung penuh percaya…

Doa Editorial pada RUT 1:12

Tuhan, ada saat aku merasa pintu sudah tertutup dan waktuku habis, seperti Naomi yang tak lagi melihat jalan ke depan.…

Wawasan Editorial pada 1 RAJA-RAJA 20:10

Ben-Hadad menyombongkan jumlah pasukannya: "Kiranya para ilah menghukum aku, bahkan lebih lagi, jika debu Samaria cukup untuk digenggam oleh setiap…

Wawasan Editorial pada KISAH PARA RASUL 26:10

Perhatikan satu kata kecil yang Paulus pakai: "aku memenjarakan banyak orang kudus." Ia menyebut mereka orang kudus, bukan sesat, bukan…

Syukur Editorial pada MARKUS 2:22

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau tidak menuang anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua. Engkau tidak sekadar menambal hidupku,…

Doa Editorial pada YESAYA 15:6

Tuhan, ada musim ketika semua yang dulu hijau dalam hidupku mengering, dan aku tidak tahu harus mencari air ke mana.…

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun studi Alkitab dan renungan. Seluruh isi dihasilkan dari teks Alkitab itu sendiri dan diperiksa setiap hari oleh kontrol mutu otomatis yang independen: sampel acak dari setiap situs bahasa dinilai berdasarkan kesetiaan pada Kitab Suci, kutipan Alkitab yang harfiah, bahasa dan kejelasan, serta hasilnya dipublikasikan tanpa disunting. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan yang tanpa cela dan kesalahan tetap dapat terjadi. Tidak ada yang di platform ini yang merupakan nasihat profesional, dan tidak ada hak yang dapat diturunkan dari isinya. Selalu uji apa yang Anda baca dengan Alkitab itu sendiri, dan gunakan Faith.network sebagai pelengkap, bukan pengganti, studi Alkitab pribadi, doa, dan kehidupan jemaat lokal Anda. Sanggahan lengkap dan Ketentuan Penggunaan kami berlaku. Lihat pemeriksaan mutu harian kami

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami
Perusahaan?