Kitab Mazmur: Kitab Doa dan Pujian Umat Allah
Pendahuluan
Ada satu buku di rumah banyak orang Kristen yang halamannya paling lecek. Bukan bagian Injil, bukan surat-surat Paulus, melainkan bagian tengah Alkitab yang bertuliskan Mazmur. Halaman itu lecek karena dibuka di ruang tunggu rumah sakit, di kamar kos pada pukul dua pagi, di pemakaman, dan juga di ibadah Minggu ketika seluruh jemaat menyanyi dengan suara pecah. Kitab Mazmur adalah tempat orang percaya lari ketika kata-kata mereka sendiri habis.
Yang jarang disadari: Mazmur bukan sekadar kumpulan kutipan penghiburan. Ia adalah sebuah kitab yang tersusun rapi, dengan alur, dengan arah, dengan tujuan. Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulisnya, kapan dan dalam situasi apa mazmur-mazmur ini lahir, bagaimana kelima jilidnya dibangun, apa tema-tema besarnya, bagaimana Yesus Kristus berdiri di pusatnya, dan bagaimana Anda bisa mulai membacanya besok pagi.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Kitab Mazmur bukan sebagai bank ayat penghiburan, melainkan sebagai sebuah perjalanan. Kitab ini dibuka dengan seorang yang merenungkan Taurat siang dan malam, lalu segera terjun ke dalam jeritan "berapa lama lagi, TUHAN", melewati lembah kekelaman dan reruntuhan Yerusalem, dan baru pada napas terakhirnya berseru: "Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!" Dari "mengapa" menuju "Haleluya". Urutan itu bukan kebetulan; itu adalah pedagogi Allah. Ia tidak menyuruh umat-Nya melompati kesedihan untuk sampai pada pujian. Ia menuntun mereka melewatinya. Itulah lensa yang akan kita pakai di seluruh halaman ini.
Apa kata Alkitab tentang Kitab Mazmur?
Kitab Mazmur adalah kumpulan seratus lima puluh nyanyian dan doa yang dikumpulkan selama kurang lebih seribu tahun. Judul Ibraninya adalah Tehillim, yang berarti "pujian-pujian"; judul Yunaninya, Psalmoi, menunjuk pada nyanyian yang diiringi alat musik petik. Kedua nama itu sudah memberi tahu kita dua hal sekaligus: ini adalah buku ibadah, dan ini adalah buku yang dinyanyikan, bukan sekadar dibaca dalam hati.
Siapa penulisnya? Judul-judul kecil di atas banyak mazmur menyebut nama-nama: tujuh puluh tiga mazmur dikaitkan dengan Daud, dua belas dengan Asaf sang pemimpin pujian, sebelas dengan bani Korah, dua dengan Salomo, satu dengan Musa (Mazmur 90), dan masing-masing satu dengan Heman dan Etan. Sekitar lima puluh mazmur tidak menyebut nama sama sekali. Jadi Kitab Mazmur bukan karya satu orang, melainkan buku nyanyian sebuah umat, dari zaman padang gurun sampai zaman pulang dari pembuangan. Mazmur 137 masih basah oleh air mata Babel, sementara Mazmur 90 sudah berumur berabad-abad sebelumnya. Bentuk finalnya kemungkinan besar disusun oleh para Lewi setelah masa pembuangan, sekitar abad kelima sampai keempat sebelum Kristus.
Apa yang dikatakan kitab ini tentang dirinya sendiri? Perhatikan pintu masuknya. Mazmur 1:1-3 berkata: "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." Mazmur ini sengaja diletakkan di depan sebagai pintu gerbang. Sebelum Anda mendengar satu pun keluhan atau sorak-sorai, Anda diberi tahu bahwa seluruh perjalanan ini berakar pada firman Allah. Doa yang sehat lahir dari mendengarkan lebih dulu.
Dan di jantung kitab ini, Mazmur 119:105 mengulang keyakinan yang sama dengan gambaran berbeda: "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." Pelita zaman itu hanya menerangi satu langkah di depan, bukan seluruh peta perjalanan. Itulah cara Allah membimbing umat-Nya dalam kitab ini: cukup terang untuk langkah berikutnya, tidak lebih.
Lalu ke mana perjalanan ini bermuara? Ke Mazmur 150:6: "Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!" Itu kalimat penutup seluruh kitab, dan tidak ada satu pun permohonan tersisa di sana. Semua keluhan sudah dibawa, semua air mata sudah dituangkan, dan yang tinggal hanyalah napas yang memuji. Namun perhatikan: kalimat itu berada di halaman terakhir, bukan halaman pertama. Antara Mazmur 1 dan Mazmur 150 terbentang ratusan doa yang jujur, marah, bingung, malu, dan putus asa.
Jalan menuju Haleluya justru melewati lembah kekelaman.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kitab Mazmur berdiri persis di tengah Alkitab, dan itu bukan hanya soal posisi fisik. Dalam susunan Alkitab Ibrani, Mazmur adalah kitab pertama dari bagian ketiga yang disebut Tulisan-tulisan, sehingga seluruh bagian itu kadang disebut saja "kitab Mazmur". Karena itulah Yesus dapat merangkum seluruh Perjanjian Lama dengan tiga kata dalam Lukas 24:44: "Ia berkata kepada mereka: 'Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.'"
Mazmur menerima warisan Taurat dan menjadikannya nyanyian. Mazmur menampung teriakan para nabi dan menjadikannya doa. Mazmur mengambil sejarah Israel, keluaran dari Mesir, perjanjian dengan Daud, kehancuran Bait Allah, dan mengubahnya menjadi liturgi yang bisa diucapkan ulang oleh setiap generasi.
Dalam Perjanjian Baru, Mazmur adalah kitab Perjanjian Lama yang paling sering dikutip. Petrus memberitakan kebangkitan dengan mengutip Mazmur 16, penulis Ibrani membangun seluruh argumennya tentang keimaman Kristus di atas Mazmur 110, dan Yesus sendiri menerapkan Mazmur 118 pada diri-Nya: "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru."
Tetapi hubungan yang paling dalam bukan soal kutipan. Yesus tidak hanya mengutip Mazmur; Ia menghidupinya. Perjalanan dari "mengapa" menuju "Haleluya" itu Ia tempuh sendiri sampai habis. Di kayu salib Ia berseru dengan kata-kata pembuka Mazmur 22: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Itu bukan improvisasi keputusasaan; itu adalah doa umat Allah yang paling gelap, diucapkan oleh Anak Allah dengan sepenuh tubuh-Nya. Dan napas terakhir-Nya adalah kalimat dari Mazmur 31:6: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."
Yesus mati sambil berdoa dengan Kitab Mazmur. Ia juga menyanyikannya; sebelum ke Taman Getsemani, Markus 14:26 mencatat: "Sesudah mereka menyanyikan nyanyian pujian, pergilah mereka ke Bukit Zaitun." Nyanyian itu hampir pasti bagian dari Mazmur Hallel, mazmur Paskah.
Maka ketika Anda membuka Kitab Mazmur, Anda tidak sedang masuk ke buku doa orang lain. Anda masuk ke buku doa Tuhan Anda sendiri. Ia sudah lebih dulu mengucapkan kata-kata ini, sampai tuntas, sampai ke dasar lembah, dan Ia keluar di sisi lain dalam kebangkitan. Itulah sebabnya "Haleluya" di Mazmur 150 bukan optimisme kosong. Itu adalah kepastian yang sudah dibayar.
Struktur dan tema utama
Kitab Mazmur dibagi menjadi lima jilid, dan pembagian itu ada di dalam teks Alkitab sendiri. Jilid pertama mencakup Mazmur 1 sampai 41, jilid kedua Mazmur 42 sampai 72, jilid ketiga Mazmur 73 sampai 89, jilid keempat Mazmur 90 sampai 106, dan jilid kelima Mazmur 107 sampai 150. Setiap jilid ditutup dengan rumusan pujian singkat, dan seluruh kitab ditutup oleh Mazmur 150 sebagai satu doksologi raksasa. Banyak penafsir Yahudi kuno melihat kelima jilid ini sebagai gema dari kelima kitab Musa: Taurat adalah firman Allah kepada umat, Mazmur adalah jawaban umat kepada Allah.
Alur kelima jilid itu bercerita. Jilid satu dan dua didominasi mazmur Daud, dan nadanya banyak berupa ratapan pribadi: dikejar musuh, difitnah, sakit, bergumul dengan dosa. Jilid kedua ditutup dengan catatan yang hampir seperti tanda titik: "Sekianlah doa-doa Daud bin Isai." Jilid tiga adalah bagian paling gelap dalam seluruh kitab, penuh mazmur Asaf, berisi keheranan atas kemakmuran orang fasik dan kehancuran Sion, dan berpuncak di Mazmur 89 yang meratap karena mahkota Daud terlempar ke tanah. Di titik ini kitab ini seolah kehabisan napas.
Jawabannya datang di jilid empat, yang dibuka justru dengan mazmur tertua, doa Musa: "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun." Ketika kerajaan Daud runtuh, umat diingatkan bahwa sebelum ada raja pun, Allah sudah menjadi tempat perlindungan. Lalu bergemalah rangkaian mazmur yang berseru: "TUHAN adalah Raja." Tahta di Yerusalem boleh kosong; tahta di sorga tidak pernah kosong.
Jilid lima adalah jilid pemulihan dan pujian. Di sana ada Mazmur 119 dengan seratus tujuh puluh enam ayat pujian bagi firman Allah, ada rangkaian Nyanyian Ziarah (Mazmur 120 sampai 134) yang dinyanyikan para peziarah sambil mendaki ke Yerusalem, dan ada lima mazmur penutup yang semuanya dibuka dan ditutup dengan "Haleluya".
Di dalam kerangka itu mengalir beberapa jenis dan tema besar. Ratapan adalah kelompok terbesar, sekitar sepertiga dari seluruh kitab, dan hampir semuanya berbelok pada satu titik menuju kepercayaan. Ada mazmur pujian yang merayakan penciptaan dan karya penyelamatan; mazmur syukur setelah pertolongan datang; mazmur kepercayaan seperti Mazmur 23; mazmur raja yang berbicara tentang keturunan Daud dan akhirnya tentang Mesias; mazmur hikmat dan Taurat yang mengajar jalan hidup; serta mazmur ziarah dan liturgi Bait Allah.
Tema yang mengikat semuanya adalah hesed, kasih setia Allah yang tidak bisa dipatahkan oleh keadaan. Kata itu muncul lebih dari seratus kali dalam kitab ini. Umat boleh berubah, kerajaan boleh runtuh, tubuh boleh melemah, tetapi kasih setia-Nya tetap turun-temurun. Struktur kitab ini pada akhirnya mengajarkan satu hal: kejujuran yang paling gelap sekalipun tidak akan membawa Anda keluar dari jangkauan kasih setia itu.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Mazmur 23:1-6 mungkin adalah teks Alkitab yang paling banyak dihafal di dunia: "Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." Yang sering luput: mazmur ini tidak berkata bahwa domba dilindungi dari lembah. Ia dituntun melaluinya. Dan justru di ayat empat, di tengah kegelapan itu, bahasanya berubah dari "Ia" menjadi "Engkau". Pembicaraan tentang Allah berubah menjadi pembicaraan dengan Allah. Penderitaan tidak menjauhkan sang pemazmur; penderitaan mendekatkannya.
Mazmur 51:10, yang dalam penomoran Terjemahan Baru tercatat sebagai Mazmur 51:12 karena judul mazmur ikut dihitung, berbunyi: "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" Ini doa Daud setelah dosanya dengan Batsyeba terbongkar. Kata kerja "jadikan" di sini adalah kata yang dipakai dalam Kejadian 1 untuk penciptaan dari ketiadaan. Daud tidak meminta perbaikan; ia meminta penciptaan. Ia tahu bahwa hatinya bukan mesin yang bisa diservis, melainkan reruntuhan yang hanya bisa dibangun ulang oleh Allah sendiri. Inilah salah satu doa pertobatan paling jujur dalam Alkitab, dan ia diletakkan di tengah buku nyanyian ibadah, bukan disembunyikan.
Mazmur 100:1-5 menutup rangkaian ini dengan undangan: "Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun." Perhatikan kata "sebab" di ayat lima. Pujian dalam Mazmur tidak pernah menjadi perintah kosong; ia selalu punya alasan, dan alasannya bukan perasaan kita, melainkan karakter Allah.
Panduan membaca Kitab Mazmur
Cara paling mudah untuk tersesat di kitab ini adalah membacanya dari Mazmur 1 sampai 150 seperti membaca novel. Alurnya memang ada, tetapi kepadatan emosinya terlalu tinggi untuk dilahap sekaligus. Ada cara yang lebih baik.
Mulailah dengan satu mazmur sehari, dibaca dua kali. Bacaan pertama untuk memahami: apa yang terjadi pada orang ini, kepada siapa ia berbicara, ke mana perasaannya bergerak. Bacaan kedua untuk mendoakan: ucapkan ulang kalimat-kalimat itu kepada Allah sebagai doa Anda sendiri, dengan suara pelan kalau perlu. Kitab Mazmur ditulis untuk mulut, bukan hanya untuk mata.
Kalau Anda ingin rute yang teratur, sebuah pola lama dari gereja masih sangat berguna: lima mazmur setiap hari, sehingga seluruh kitab selesai dalam sebulan. Pada tanggal satu Anda membaca Mazmur 1 sampai 5, tanggal dua Mazmur 6 sampai 10, dan seterusnya. Mazmur 119 yang panjang bisa dipecah menjadi bagian-bagian delapan ayat sesuai huruf abjad Ibraninya. Pola ini memaksa Anda membaca mazmur yang tidak Anda pilih sendiri, dan justru di situlah kekuatannya. Anda akan mendoakan ratapan pada hari Anda sedang bahagia, dan itu melatih hati Anda untuk ikut merasakan penderitaan saudara seiman. Anda akan mendoakan pujian pada hari Anda hancur, dan itu menahan Anda supaya perasaan tidak menjadi satu-satunya kebenaran.
Untuk masa-masa tertentu, ada peta kecil yang bisa membantu. Ketika Anda takut, bacalah Mazmur 27, Mazmur 46, dan Mazmur 91. Ketika Anda bersalah, bacalah Mazmur 32, Mazmur 51, dan Mazmur 130. Ketika Allah terasa jauh, bacalah Mazmur 13, Mazmur 42, dan Mazmur 88, dan jangan buru-buru mencari akhir yang manis; Mazmur 88 memang berakhir gelap, dan Allah mengizinkan doa seperti itu ada di dalam Alkitab-Nya. Ketika Anda bersyukur, bacalah Mazmur 103, Mazmur 116, dan Mazmur 145. Ketika Anda ingin menyembah bersama jemaat, bacalah Mazmur 95 sampai 100.
Satu kebiasaan terakhir yang mengubah banyak orang: bacalah Kitab Mazmur dengan mengingat Yesus Kristus. Tanyakan pada setiap mazmur, bagaimana Ia mendoakan ini. Ratapan menjadi lebih dalam ketika Anda sadar Ia pernah mengucapkannya di Golgota. Pujian menjadi lebih pasti ketika Anda ingat Ia hidup untuk memimpin nyanyian umat-Nya.
Cermin
Mari jujur sebentar. Kemungkinan besar Anda punya versi iman yang sopan. Versi yang bisa dibawa ke gereja, yang mengangguk saat khotbah, yang menulis "Tuhan itu baik" di media sosial, sementara di dalam dada ada kemarahan yang belum pernah Anda ucapkan kepada siapa pun, apalagi kepada Allah. Mungkin karena pekerjaan yang tidak kunjung membaik, doa untuk kesembuhan yang tidak dijawab, pernikahan yang dingin, rekening yang tidak pernah cukup sampai akhir bulan, atau kesepian yang tidak sopan dibicarakan di persekutuan.
Kitab Mazmur mengganggu kesopanan itu. Kitab ini memperlihatkan bahwa Allah sendiri yang menyediakan kata-kata untuk marah, bingung, dan menuntut. "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?" itu bukan doa orang murtad; itu ayat Alkitab. Allah tidak menunggu Anda tenang dulu sebelum boleh datang. Ia menunggu Anda datang, apa adanya.
Allah tidak takut pada kejujuran anak-anak-Nya.
Tetapi kitab ini juga tidak membiarkan Anda berhenti di sana. Hampir setiap ratapan berbelok. Bukan karena keadaan berubah, melainkan karena sang pemazmur mulai mengingat siapa Allah. Di situlah Mazmur menantang Anda dari sisi lain: berapa lama Anda mau tinggal di keluhan tanpa pernah membawanya kepada Allah dan membiarkan Dia menjawab? Curhat kepada teman, kepada layar ponsel, kepada diri sendiri, itu semua berputar di lingkaran yang sama. Mazmur mengajak Anda memutar badan.
Dan kalau hari ini hidup Anda sedang lapang, kitab ini punya teguran yang berbeda. Bacalah Mazmur 88 sampai habis dan biarkan hati Anda terlatih untuk menangis bersama mereka yang sedang tidak baik-baik saja. Umat Allah menyanyi bersama, termasuk menyanyikan lagu yang bukan lagu kita sendiri.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kepada anak-anak, Kitab Mazmur paling mudah dijelaskan sebagai buku nyanyian dan buku doa milik keluarga besar Allah. Anda bisa mengatakan begini: bayangkan sebuah buku tebal berisi seratus lima puluh lagu yang ditulis oleh banyak orang selama ratusan tahun. Ada lagu untuk hari yang senang, ketika ingin melompat dan bertepuk tangan bagi Allah. Ada lagu untuk hari yang sedih, ketika air mata keluar dan tidak ada yang mengerti. Ada lagu untuk hari ketika kita berbuat salah dan ingin minta maaf kepada Allah. Semuanya boleh dinyanyikan, karena Allah senang mendengar suara anak-anak-Nya, bukan hanya suara yang bagus.
Untuk anak yang lebih kecil, gambaran gembala di Mazmur 23 hampir selalu berhasil. Allah seperti gembala yang tahu nama setiap domba, tahu di mana rumput hijau, dan tidak pernah meninggalkan dombanya walaupun jalannya gelap. Untuk anak yang lebih besar, ceritakan bahwa Daud menulis banyak mazmur ketika ia sedang dikejar musuh dan bersembunyi di gua, jadi lagu-lagu ini lahir dari hidup yang nyata, bukan dari ruangan yang nyaman.
Yang penting untuk ditanamkan: kita tidak perlu berpura-pura di hadapan Allah. Doa yang jujur adalah doa yang Ia sukai.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Kitab Mazmur untuk berbagai usia, yaitu untuk anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun, untuk anak sekolah dasar usia tujuh sampai dua belas tahun, dan untuk remaja usia dua belas tahun ke atas. Pilihlah yang sesuai dengan anak Anda, lalu bacalah satu mazmur pendek bersama sebelum tidur. Kebiasaan sederhana itu bisa bertahan seumur hidup.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis Kitab Mazmur?
Kitab Mazmur bukan karya satu penulis. Judul-judul di atas mazmur mengaitkan tujuh puluh tiga mazmur dengan Daud, dua belas dengan Asaf, sebelas dengan bani Korah, dua dengan Salomo, satu dengan Musa, serta masing-masing satu dengan Heman dan Etan. Sekitar lima puluh mazmur tidak menyebutkan penulis. Daud memang tokoh sentral, dan tradisi menyebut kitab ini "Mazmur Daud" karena perannya yang besar dalam menata ibadah Israel, tetapi kitab ini sesungguhnya adalah buku nyanyian sebuah bangsa yang terkumpul selama sekitar seribu tahun.
Ada berapa pasal dalam Kitab Mazmur?
Kitab Mazmur terdiri dari seratus lima puluh mazmur, sehingga menjadi kitab dengan pasal terbanyak dalam Alkitab. Panjangnya sangat beragam. Mazmur 117 hanya dua ayat, sedangkan Mazmur 119 memiliki seratus tujuh puluh enam ayat dan menjadi pasal terpanjang dalam seluruh Alkitab. Mazmur 119 disusun sebagai akrostik, yaitu dua puluh dua bagian yang masing-masing terdiri dari delapan ayat dan mengikuti urutan huruf abjad Ibrani. Struktur itu bukan pamer keterampilan sastra, melainkan cara mengatakan bahwa firman Allah cukup dari A sampai Z.
Mengapa Kitab Mazmur dibagi menjadi lima jilid?
Pembagian lima jilid sudah ada di dalam teks Alkitab sendiri, ditandai oleh rumusan pujian di akhir Mazmur 41, 72, 89, 106, dan seluruh Mazmur 150 sebagai penutup besar. Para rabi kuno melihat pembagian ini sebagai gema dari lima kitab Taurat Musa. Kalau Taurat adalah firman Allah yang turun kepada umat-Nya, maka Mazmur adalah jawaban umat yang naik kembali kepada Allah. Susunan itu juga membentuk alur cerita, bergerak dari ratapan pribadi yang berat menuju pujian yang meluap di jilid terakhir.
Apa arti kata "Sela" dalam Mazmur?
"Sela" muncul lebih dari tujuh puluh kali dalam Kitab Mazmur dan artinya tidak diketahui dengan pasti. Dugaan yang paling banyak diterima adalah bahwa kata ini merupakan petunjuk musik atau liturgi, mungkin tanda jeda instrumental, perubahan nada, atau saat jemaat berhenti sejenak untuk merenung. Bagi pembaca masa kini, memperlakukannya sebagai undangan untuk berhenti sebentar adalah praktik yang baik. Ketika Anda menemui kata itu, tarik napas, ulangi kalimat sebelumnya dalam hati, dan biarkan isinya turun dari pikiran ke hati sebelum melanjutkan bacaan.
Mazmur mana yang paling terkenal dan mengapa?
Mazmur 23 adalah yang paling dikenal di seluruh dunia. Alasannya sederhana: dalam enam ayat, mazmur ini menyentuh hampir seluruh kebutuhan manusia, yaitu makanan, istirahat, arah hidup, perlindungan dalam bahaya, kehormatan di hadapan musuh, dan rumah yang kekal. Gambaran gembala juga langsung dimengerti oleh anak kecil maupun orang tua yang sedang sekarat. Yang membuatnya kuat bukan keindahan puisinya saja, melainkan pengakuan di ayat empat bahwa Allah tetap beserta bahkan ketika jalannya melewati lembah kekelaman.
Apakah benar Mazmur 22 bernubuat tentang penyaliban Yesus?
Mazmur 22 dibuka dengan kalimat yang diucapkan Yesus di kayu salib, dan isinya memuat gambaran yang mengejutkan miripnya dengan peristiwa penyaliban: tulang-tulang yang terlepas, kehausan yang hebat, tangan dan kaki yang tertembus, serta pakaian yang dibagi dengan undian. Perjanjian Baru secara terbuka membaca mazmur ini sebagai digenapi dalam Kristus. Yang tidak boleh dilupakan adalah bagian keduanya, karena mazmur ini berbalik menjadi pujian besar di tengah jemaat. Pola dari jeritan menuju sorak-sorai itu persis pola salib dan kebangkitan.
Bagaimana dengan mazmur yang berisi kutukan terhadap musuh?
Mazmur-mazmur ini, yang sering disebut mazmur imprekasi seperti Mazmur 69 dan Mazmur 137, memang mengejutkan. Namun perhatikan apa yang sebenarnya terjadi di sana: sang pemazmur tidak membalas dendam, melainkan menyerahkan kemarahannya kepada Allah dan meminta Dia yang menegakkan keadilan. Itu justru langkah iman, bukan langkah kekerasan. Dalam terang Kristus yang menyuruh kita mengasihi musuh, doa-doa ini kita pakai untuk membawa kejahatan yang nyata ke hadapan Hakim yang adil, sambil melepaskan hak kita untuk membalas sendiri.
Apa perbedaan antara Kitab Mazmur dan Kitab Amsal?
Keduanya termasuk kitab hikmat, tetapi arah bicaranya berbeda. Kitab Amsal umumnya berbicara dari Allah kepada manusia, berisi nasihat praktis tentang cara hidup yang bijak dalam pekerjaan, perkataan, uang, dan hubungan. Kitab Mazmur berbicara dari manusia kepada Allah, berisi doa, ratapan, syukur, dan pujian. Amsal melatih kepala dan tangan Anda; Mazmur melatih hati dan mulut Anda. Membaca keduanya bersamaan memberi keseimbangan yang sehat, karena hikmat tanpa doa menjadi kering, dan doa tanpa hikmat mudah kehilangan arah.
Mengapa penomoran ayat Mazmur berbeda dengan Alkitab bahasa Inggris?
Perbedaan itu terjadi karena banyak mazmur memiliki judul kecil di bagian atas, misalnya "Mazmur Daud" atau petunjuk untuk pemimpin biduan. Dalam teks Ibrani dan dalam Terjemahan Baru, judul itu dihitung sebagai ayat satu atau bahkan ayat satu dan dua, sedangkan sebagian besar terjemahan Inggris tidak menghitungnya. Akibatnya, ayat yang di Alkitab Inggris disebut Mazmur 51:10 muncul sebagai Mazmur 51:12 dalam Terjemahan Baru. Isinya sama persis; hanya nomornya bergeser satu atau dua ayat.
Bagaimana cara mulai membaca Kitab Mazmur setiap hari?
Mulailah kecil dan konsisten. Ambil satu mazmur setiap pagi, baca perlahan dua kali, lalu ucapkan satu kalimat dari mazmur itu kepada Allah sebagai doa Anda sendiri. Kalau Anda ingin menyelesaikan seluruh kitab, pola lama membaca lima mazmur sehari akan membawa Anda menuntaskannya dalam sebulan. Jangan lewati mazmur yang terasa tidak cocok dengan suasana hati Anda, sebab justru mazmur itulah yang memperluas hati Anda untuk berdoa bersama seluruh umat Allah, bukan hanya untuk diri sendiri.
Apakah Mazmur 23 hanya cocok dibaca di pemakaman?
Tidak. Mazmur 23 memang sering dibacakan di pemakaman, dan itu pantas, tetapi isinya sebagian besar berbicara tentang kehidupan sehari-hari: makan, minum, beristirahat, berjalan, dan menghadapi orang yang memusuhi kita. Lembah kekelaman hanya satu ayat dari enam ayat. Mazmur ini sesungguhnya adalah mazmur untuk hari Senin pagi, untuk kantor, untuk dapur, untuk ruang tunggu dokter. Membacanya hanya saat kematian datang berarti menyimpan makanan lezat di lemari sampai basi.
Apa arti kata "Haleluya"?
"Haleluya" berasal dari dua kata Ibrani yang berarti "pujilah TUHAN". Bentuknya adalah perintah jamak, jadi sebenarnya kata ini bukan seruan pribadi melainkan ajakan kepada orang lain: mari, bersama-sama, pujilah Dia. Kata ini muncul terutama di jilid kelima Kitab Mazmur dan membingkai lima mazmur terakhir, yang masing-masing dibuka dan ditutup dengan seruan itu. Ketika Anda mengucapkan "Haleluya", Anda sedang menyerukan undangan, bukan sekadar mengungkapkan perasaan Anda sendiri kepada Allah.
Bolehkah orang Kristen marah kepada Allah dalam doa?
Kitab Mazmur menunjukkan bahwa kemarahan dan kebingungan boleh dibawa langsung kepada Allah, bukan disembunyikan dari-Nya. Sekitar sepertiga mazmur adalah ratapan, dan sebagian di antaranya sangat keras, termasuk pertanyaan mengapa Allah seakan tidur atau melupakan umat-Nya. Bedanya dengan sungut-sungut adalah arah bicaranya: pemazmur berbicara kepada Allah, bukan tentang Allah di belakang punggung-Nya. Kejujuran itulah bentuk kepercayaan, sebab hanya kepada Pribadi yang kita percayai kita berani berkata sejujur itu.
Sebagai penutup
Kitab Mazmur tidak pernah menjanjikan jalan pintas. Ia tidak mengajarkan bahwa iman berarti selalu ceria, dan ia juga tidak membiarkan Anda menetap selamanya di keluhan. Ia menyediakan jalan, dan jalan itu punya arah: dari "mengapa Engkau meninggalkan aku" menuju "biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN". Perjalanan itu sudah ditempuh sampai tuntas oleh Yesus Kristus, yang mendoakan mazmur-mazmur ini dengan tubuh-Nya sendiri di kayu salib dan bangkit di ujungnya. Karena itu, ketika Anda membuka kitab ini, Anda tidak sedang berdoa sendirian.
Ambil satu mazmur besok pagi, mungkin Mazmur 1 atau Mazmur 23, dan bacalah dua kali: sekali untuk mengerti, sekali untuk mengucapkannya kembali kepada Allah. Lalu teruskan besoknya. Pelan-pelan Anda akan menyadari bahwa kata-kata kuno itu mulai terdengar seperti kata-kata Anda sendiri, dan bahwa hati yang sebelumnya bisu perlahan menemukan suaranya.
Allah memberi umat-Nya kata-kata untuk kembali kepada-Nya.