Siapa Rasul Yohanes: Murid yang Dikasihi Yesus dan Penulis Kitab Wahyu
Pendahuluan
Bayangkan seorang pemuda nelayan di tepi Danau Galilea. Tangannya kasar oleh tali jala, suaranya keras, temperamennya cepat panas. Ketika sebuah desa Samaria menolak Yesus, dialah yang mengusulkan agar api turun dari langit membakar habis kampung itu. Enam puluh tahun kemudian, seorang tua yang sama duduk di sebuah pulau pembuangan dan menulis kalimat yang akan dihafal gereja sepanjang zaman: Allah adalah kasih.
Di antara dua titik itu terbentang seluruh kisah Rasul Yohanes. Bukan kisah orang suci yang lahir lembut, melainkan kisah seorang keras kepala yang dibentuk ulang oleh kasih yang tidak pernah melepaskannya. Pada halaman ini Anda akan menelusuri hidupnya dari perahu ayahnya sampai ke pulau Patmos, melihat kelemahannya dengan jujur, dan menemukan mengapa justru dialah yang paling berani menyebut dirinya "murid yang dikasihi Yesus".
Sudut pandang panduan ini
Kebanyakan tulisan menggambarkan Yohanes sebagai "rasul kasih" sejak halaman pertama, seolah ia memang terlahir lembut. Panduan ini mengambil jalan lain: kita membaca hidupnya sebagai kisah temperamen yang ditebus. Yesus memberinya julukan "anak guruh", dan guruh itu nyata, ambisius, cemburu, penuh api. Yang mengubahnya bukan tekad pribadi, melainkan puluhan tahun bersandar pada dada Tuhan yang mengasihinya lebih dulu. Karena itu Yohanes tidak pernah menyebut dirinya "murid yang mengasihi Yesus", melainkan "murid yang dikasihi Yesus". Perbedaan satu kata itu adalah seluruh Injil, dan kita akan terus kembali kepadanya.
Apa kata Alkitab tentang Rasul Yohanes?
Yohanes muncul pertama kali di Alkitab sebagai seorang nelayan muda di Galilea, anak Zebedeus, adik atau kakak dari Yakobus. Keluarganya bukan keluarga miskin: ayahnya punya perahu dan orang-orang upahan (Markus 1:20), dan ibunya, yang kemungkinan besar bernama Salome, kelak ikut melayani Yesus dengan hartanya. Panggilannya tercatat singkat namun menentukan dalam Matius 4:21-22: "Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia."
Perhatikan apa yang ditinggalkan: perahu, artinya penghasilan; ayah, artinya jaminan sosial dan masa depan keluarga. Yohanes tidak sedang mencari guru rohani. Ia sedang memperbaiki jala ketika Suara itu memanggil namanya. Kekristenan dimulai bukan dengan pencarian manusia, melainkan dengan panggilan Allah.
Tidak lama kemudian kita mengenal sisi lain dari pemuda ini. Markus 3:17 mencatat nama kehormatan yang sekaligus merupakan diagnosis: "Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh,". Yesus melihat tepat ke dalam karakter mereka dan menamainya. Guruh itu bukan pujian murahan. Dalam Lukas 9:54 kedua bersaudara ini bertanya, "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Beberapa ayat sebelumnya Yohanes melaporkan dengan bangga bahwa ia melarang seseorang mengusir setan "karena ia bukan pengikut kita" (Lukas 9:49). Dan dalam Markus 10:35-37 ia bersama saudaranya meminta kursi di kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan-Nya, permintaan yang membuat sepuluh murid lain marah besar.
Yesus memanggil orang bukan karena mereka sudah jadi.
Namun Yohanes juga termasuk lingkaran paling dalam. Bersama Petrus dan Yakobus, ia hadir saat anak Yairus dibangkitkan, saat Yesus dimuliakan di atas gunung, dan saat Yesus bergumul di Getsemani. Ia duduk paling dekat pada Perjamuan Terakhir, seperti ditulisnya sendiri dalam Yohanes 13:23: "Seorang di antara murid-murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya, di sebelah kanan-Nya." Dalam Injil keempat, Yohanes tidak pernah menuliskan namanya sendiri. Ia menyebut dirinya hanya dengan satu identitas: yang dikasihi.
Di bawah salib, ketika hampir semua murid lari, ia berdiri di sana. Yohanes 19:26-27 mencatat: "Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'Ibu, inilah, anakmu!' Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'Inilah ibumu!' Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya." Yesus yang sedang sekarat memikirkan ibu-Nya, dan mempercayakannya kepada si anak guruh. Guruh itu rupanya sudah mulai dijinakkan.
Setelah kebangkitan, Yohanes berlari ke kubur bersama Petrus, melihat kain kafan terlipat, "dan ia melihatnya dan percaya" (Yohanes 20:8). Di tepi danau, dialah yang pertama mengenali sosok di pantai: "Itu Tuhan." (Yohanes 21:7). Ia belajar mengenali Yesus bukan dengan api, melainkan dengan kedekatan.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Hidup Yohanes tidak melayang sendirian di abad pertama. Ia berdiri di dalam satu cerita panjang yang dimulai jauh sebelum ia lahir.
Perjanjian Lama penuh dengan kerinduan yang tidak terpenuhi: manusia ingin melihat Allah, tetapi tidak sanggup. Musa memohon untuk melihat kemuliaan Allah dan dijawab bahwa tidak ada orang yang dapat memandang wajah-Nya dan tetap hidup. Yesaya melihat Tuhan di atas takhta dan berseru celaka. Yehezkiel tersungkur melihat penglihatan kemuliaan. Daniel melihat "seorang seperti anak manusia" datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan kekal. Sepanjang Perjanjian Lama, kemah suci dan Bait Allah berdiri sebagai tanda bahwa Allah ingin berdiam di tengah umat-Nya, tetapi selalu ada tabir, selalu ada jarak.
Yohanes-lah yang menulis kalimat yang mematahkan jarak itu: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran." (Yohanes 1:14). Kata "diam" di situ berakar pada gambaran kemah. Kemah Allah akhirnya berdiri, bukan dari kulit domba jantan, melainkan dari daging dan darah. Dan Yohanes bukan hanya melihat, ia menyandar di dada kemah itu.
Dari situ mengalir seluruh teologinya. Dalam surat pertamanya ia menegaskan bahwa iman Kristen berdiri di atas kesaksian panca indera: "Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus." (1 Yohanes 1:3). Perhatikan arah kalimatnya: kesaksian menghasilkan persekutuan, dan persekutuan dengan orang percaya ternyata adalah persekutuan dengan Allah sendiri. Kerinduan Perjanjian Lama untuk tinggal bersama Allah digenapi di dalam Kristus dan dibagikan kepada jemaat biasa di Asia Kecil.
Dan benang itu berakhir di tangan Yohanes juga. Di Patmos ia melihat Daniel 7 menjadi hidup: Anak Manusia berdiri di tengah kaki dian, rambut-Nya putih seperti bulu, mata-Nya seperti nyala api. Pada akhir penglihatannya, kemah itu menjadi kota: Allah berdiam bersama manusia, air mata dihapus, maut tidak ada lagi. Si anak guruh yang dulu ingin menurunkan api atas sebuah desa akhirnya menulis tentang api penghakiman yang sesungguhnya, dan tentang Anak Domba yang disembelih sebagai satu-satunya jawaban atasnya.
Dari kemah di padang gurun sampai kota yang bercahaya.
Inti hidupnya
Tiga momen menentukan arah seluruh hidup Yohanes, dan ketiganya berurusan dengan guruh di dalam dadanya.
Yang pertama adalah permintaan kursi kemuliaan dalam Markus 10:35-37. Yohanes dan Yakobus datang kepada Yesus, yang baru saja berbicara tentang penderitaan dan salib, lalu meminta jabatan. Jawaban Yesus tidak mematahkan mereka, melainkan mengarahkan mereka: dapatkah kamu minum cawan yang harus Kuminum? Mereka menjawab ya, dengan percaya diri yang khas anak muda. Yang mengharukan adalah bahwa jawaban itu kelak menjadi kenyataan. Yakobus menjadi rasul pertama yang mati syahid, dipenggal oleh Herodes (Kisah Para Rasul 12:2). Yohanes meminum cawannya dengan cara lain: hidup panjang, penganiayaan, pembuangan, dan kehilangan hampir semua kawan seangkatannya. Ambisi tidak dibuang, ia ditebus dan dialihkan.
Momen kedua terjadi di kaki salib, dalam Yohanes 19:26-27. Di sini kita melihat apa yang sudah dikerjakan tiga tahun kebersamaan. Murid yang dulu ingin menghanguskan sebuah desa kini berdiri diam di tempat paling berbahaya di Yerusalem, cukup dekat untuk mendengar suara Yesus yang serak. Dan tanggung jawab yang diterimanya bukan jabatan megah, melainkan seorang janda tua yang harus dirawat sampai mati. Kemuliaan yang dulu ia minta berupa takhta; kemuliaan yang Yesus berikan berupa sebuah rumah, dapur, dan ibu angkat. Sejak hari itu, teologi Yohanes tidak pernah bisa dipisahkan dari kasih yang praktis. Ia tahu dari pengalaman bahwa mengasihi berarti membuka pintu rumah.
Momen ketiga adalah Patmos. Yohanes 1:9 dari kitab terakhir Alkitab berbunyi: "Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus." (Wahyu 1:9). Ia tidak memperkenalkan diri sebagai rasul senior atau pemimpin gereja terakhir yang masih hidup. Ia menyebut dirinya saudara dan sekutu dalam kesusahan. Pada usia tua, di sebuah pulau karang, terasing dari jemaat-jemaat yang ia gembalakan, ia menerima penglihatan terbesar yang pernah diberikan kepada manusia. Dan reaksinya bukan kemenangan, melainkan tersungkur seperti orang mati sampai tangan kanan Yesus menyentuhnya dan berkata, "Jangan takut!"
Di antara ketiga momen itu, ada satu pergeseran yang perlahan tetapi pasti: dari ingin berkuasa, menjadi mau merawat, lalu menjadi bersedia menderita bersama. Guruh tidak dibungkam, ia diubah menjadi suara yang memanggil gereja kembali kepada kasih dan kebenaran.
Yang kita pelajari dari Yohanes
Pelajaran pertama: identitas Anda ditentukan oleh kasih Allah, bukan oleh prestasi Anda. Yohanes menulis Injilnya puluhan tahun setelah Paskah, setelah menjadi tokoh besar yang dihormati di seluruh gereja. Ia punya segudang kredensial yang bisa ia tulis. Yang ia pilih hanya satu: murid yang dikasihi Yesus. Itu bukan klaim bahwa Yesus lebih menyayangi dia daripada yang lain; itu pengakuan seorang tua yang akhirnya mengerti bahwa satu-satunya hal yang layak dibanggakan adalah kasih yang ia terima dengan cuma-cuma. Kalau Anda menyusun daftar tentang diri Anda hari ini, kata apa yang berdiri di baris pertama?
Pelajaran kedua: keberanian lahir dari kebersamaan dengan Yesus, bukan dari pendidikan atau bakat. Kisah Para Rasul 4:13 mencatat reaksi Mahkamah Agama terhadap Petrus dan Yohanes: "Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus." Nelayan Galilea berdiri di hadapan lembaga paling berkuasa di Yudaisme dan tidak mundur. Penjelasannya hanya satu dan diberikan oleh para pendakwa sendiri: mereka pernah bersama Yesus. Kedekatan itulah mata air keberaniannya, dan mata air itu tidak pernah ditutup bagi kita.
Pelajaran ketiga: perubahan karakter memakan waktu, dan itu bukan kegagalan. Perhatikan ironi yang indah ini. Dalam Lukas 9, Yohanes ingin api turun atas sebuah desa Samaria. Dalam Kisah Para Rasul 8:14, ketika Samaria menerima firman Allah, justru Petrus dan Yohanes yang diutus ke sana, kali ini membawa doa dan Roh Kudus, bukan api. Allah tidak menghapus siapa Yohanes; Ia mengarahkan ulang. Orang yang paling keras dalam membela kebenaran menjadi orang yang paling lembut dalam menuliskan kasih, dan dalam surat-suratnya kedua hal itu tidak pernah dipisahkan. Kalau Anda sudah bertahun-tahun bergumul dengan sifat yang sama, kisah Yohanes memberi napas: Yesus bekerja dalam ukuran dekade, bukan hari.
Cermin
Anda mungkin membaca ini sambil diam-diam menyusun daftar nilai diri. Pekerjaan yang belum juga naik pangkat. Pelayanan yang tidak diperhatikan. Tubuh yang mulai menua lebih cepat daripada yang Anda terima. Rekening yang tidak pernah tenang. Malam-malam sepi di rumah yang terlalu senyap. Dan di dalam hati Anda ada pertanyaan yang jarang diucapkan: apakah saya cukup dikasihi?
Yohanes pernah mencoba menjawabnya seperti kita: dengan meminta kursi. Ia ingin posisi di kanan dan kiri Yesus, ingin kepastian bahwa ia dihitung. Yesus tidak mencerca ambisinya, tetapi juga tidak memberinya apa yang ia minta. Yang Yesus berikan justru sesuatu yang kelihatan jauh lebih kecil: kedekatan di meja, tempat di kaki salib, seorang ibu untuk dirawat, dan sebuah pulau untuk belajar bertahan.
Mungkin itu juga yang sedang Anda terima. Bukan panggung, melainkan ruang tamu. Bukan pengakuan, melainkan orang tua yang harus Anda antar ke dokter setiap bulan. Bukan terobosan, melainkan ketekunan.
Dan kalau Anda jujur, ada guruh dalam diri Anda juga. Kemarahan yang meledak kepada anak padahal pemicunya atasan. Kecemburuan terhadap teman yang hidupnya tampak lebih mulus. Keinginan diam-diam agar orang yang menyakiti Anda mengalami api dari langit. Yohanes tidak menulis surat-suratnya dari atas menara moral. Ia menulisnya sebagai orang yang pernah menjadi seperti Anda dan diubah dengan sabar.
Maka pertanyaan yang ditinggalkannya bukan "seberapa besar kasihmu kepada Yesus", sebab jawaban kita akan selalu memalukan. Pertanyaannya adalah: beranikah Anda menyebut diri Anda, hari ini, dengan nama yang sama seperti yang dipakainya? Murid yang dikasihi Yesus. Bukan karena Anda sudah berubah, melainkan supaya Anda mulai berubah.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak langsung menangkap sesuatu dalam kisah Yohanes yang sering luput dari orang dewasa: dia adalah sahabat dekat Yesus. Mulailah dari situ. Ceritakan tentang seorang nelayan muda yang sedang membetulkan jalanya ketika Yesus lewat dan memanggil namanya, lalu ia langsung ikut. Ceritakan bahwa Yohanes dulu gampang marah, sampai Yesus menjulukinya "anak guruh", persis seperti suara petir yang menggelegar. Anak-anak akan tertawa dan mengangguk, karena mereka tahu rasanya ingin membalas teman yang jahat.
Lalu ceritakan bagian yang mengubah segalanya: Yohanes duduk paling dekat dengan Yesus saat makan malam terakhir, dan ketika semua orang lari, ia tetap berdiri di dekat salib. Dari situ anak-anak bisa belajar bahwa Yesus tidak menunggu kita menjadi anak baik dulu sebelum mengasihi kita. Yesus mengasihi lebih dulu, dan kasih itulah yang membuat Yohanes berubah menjadi orang yang paling banyak berbicara tentang kasih.
Untuk anak yang lebih besar, tambahkan bagian Patmos: seorang kakek yang dibuang ke pulau karena tidak mau berhenti bercerita tentang Yesus, dan di sanalah ia melihat penglihatan tentang langit baru dan bumi baru tanpa air mata.
Faith.network menyediakan penjelasan khusus tentang Rasul Yohanes untuk tiga kelompok usia, yaitu balita dan prasekolah (3 sampai 6 tahun), anak sekolah dasar (7 sampai 12 tahun), serta remaja (12 tahun ke atas), dengan bahasa, pertanyaan, dan penerapan yang disesuaikan untuk masing-masing usia.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa sebenarnya Rasul Yohanes dalam Alkitab?
Rasul Yohanes adalah salah satu dari dua belas murid Yesus, anak Zebedeus dan saudara Yakobus, seorang nelayan dari Galilea yang dipanggil Yesus saat sedang membereskan jala bersama ayahnya. Bersama Petrus dan Yakobus, ia termasuk lingkaran terdekat Yesus dan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang tidak dilihat murid lain, seperti pemuliaan di atas gunung dan pergumulan di Getsemani. Gereja mula-mula secara konsisten menyebutnya sebagai penulis Injil Yohanes, tiga surat Yohanes, dan Kitab Wahyu, sehingga tulisannya mencakup hampir seperlima Perjanjian Baru.
Apakah Rasul Yohanes benar-benar "murid yang dikasihi Yesus"?
Ya, dan sebutan itu muncul beberapa kali dalam Injil keempat, misalnya dalam Yohanes 13:23 dan Yohanes 19:26-27. Penulis Injil itu tidak pernah menyebut namanya sendiri, sebuah kebiasaan yang masuk akal kalau ia memang orangnya. Sebutan tersebut bukan klaim bahwa Yesus pilih kasih, melainkan cara seorang tua memandang dirinya setelah puluhan tahun: bukan sebagai rasul hebat, melainkan sebagai orang yang hidupnya ditentukan oleh kasih yang ia terima. Siapa pun yang percaya kepada Kristus sesungguhnya boleh memakai nama yang sama.
Mengapa Yesus menyebut Yohanes dan Yakobus "anak-anak guruh"?
Markus 3:17 mencatat bahwa Yesus memberi kedua bersaudara itu nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh. Julukan itu menggambarkan temperamen mereka yang meledak-ledak dan penuh semangat. Buktinya terlihat ketika mereka ingin menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan sebuah desa Samaria yang menolak Yesus, dan ketika mereka meminta kursi kemuliaan di kanan dan kiri Yesus. Menariknya, Yesus tidak membuang sifat itu, melainkan membentuknya. Semangat yang sama kelak membuat Yohanes berani berdiri di hadapan Mahkamah Agama dan bertahan di pembuangan.
Apakah Rasul Yohanes menulis Kitab Wahyu?
Penulis Kitab Wahyu memperkenalkan diri empat kali dengan nama Yohanes, antara lain dalam Wahyu 1:9, dan menyatakan dirinya berada di pulau Patmos karena firman Allah dan kesaksian Yesus. Bapa-bapa gereja awal seperti Yustinus Martir dan Ireneus mengenalnya sebagai Rasul Yohanes, dan itulah pandangan yang dipegang gereja sepanjang sejarah. Sebagian ahli modern menunjuk perbedaan gaya bahasa antara Wahyu dan Injil Yohanes, tetapi perbedaan itu wajar mengingat genre penglihatan apokaliptik sangat berbeda dari narasi Injil, dan bisa saja melibatkan juru tulis yang berbeda.
Kitab apa saja dalam Alkitab yang ditulis oleh Yohanes?
Secara tradisional lima kitab dikaitkan dengan Rasul Yohanes, yaitu Injil Yohanes, Surat 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, dan Kitab Wahyu. Injilnya menyoroti siapa Yesus sebagai Firman yang menjadi manusia dan ditulis supaya pembaca percaya dan beroleh hidup. Surat-suratnya menjawab ajaran sesat yang menyangkal bahwa Kristus sungguh datang sebagai manusia, sekaligus menegaskan bahwa iman sejati selalu tampak dalam kasih yang nyata. Wahyu menutup seluruh Alkitab dengan penglihatan tentang Kristus yang menang dan dunia yang dibarui.
Apa bedanya Rasul Yohanes dan Yohanes Pembaptis?
Keduanya orang yang sama sekali berbeda meski namanya sama, sebab Yohanes termasuk nama yang umum pada masa itu. Yohanes Pembaptis adalah anak Zakharia dan Elisabet, kerabat Yesus, yang tampil di padang gurun memanggil orang bertobat dan membaptis Yesus di Sungai Yordan, lalu dipenggal atas perintah Herodes sebelum Yesus disalibkan. Rasul Yohanes adalah anak Zebedeus, nelayan Galilea, salah satu dari dua belas murid, yang hidup sampai usia tua dan menulis beberapa kitab Perjanjian Baru. Menariknya, Injil keempat menyebut Yohanes Pembaptis cukup sering, tetapi tidak pernah menyebut nama penulisnya sendiri.
Mengapa Yesus menitipkan Maria kepada Yohanes dan bukan kepada saudara-saudara-Nya?
Pada saat penyaliban, saudara-saudara Yesus secara jasmani belum percaya kepada-Nya, seperti terlihat dalam Yohanes 7:5. Dengan menyerahkan Maria kepada murid yang dikasihi-Nya, Yesus memastikan ibu-Nya dirawat oleh seseorang yang seiman, sekaligus menunjukkan bahwa di dalam Dia terbentuk keluarga baru yang diikat oleh iman, bukan hanya oleh darah. Yohanes 19:26-27 mencatat bahwa sejak saat itu murid itu menerima Maria di dalam rumahnya. Inilah potret kasih Kristen yang paling konkret: tanggung jawab sehari-hari atas orang yang membutuhkan.
Di mana pulau Patmos dan mengapa Yohanes berada di sana?
Patmos adalah pulau karang kecil di Laut Aegea, sekitar enam puluh kilometer dari pesisir Asia Kecil, yang digunakan pemerintah Romawi sebagai tempat pengasingan. Wahyu 1:9 menjelaskan bahwa Yohanes berada di sana oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus, artinya ia dibuang karena pemberitaannya, kemungkinan besar pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus menjelang akhir abad pertama. Yang luar biasa adalah bahwa justru di tempat pengasingan itu Allah membuka tirai surga baginya, sehingga pembuangan menjadi ruang penyataan.
Bagaimana Rasul Yohanes meninggal?
Alkitab tidak mencatat kematiannya. Tradisi gereja yang kuat dan konsisten mengatakan bahwa Yohanes dibebaskan dari Patmos, kembali ke Efesus, dan meninggal di sana dalam usia sangat lanjut, mungkin sekitar tahun sembilan puluhan akhir, sebagai satu-satunya rasul yang tidak mati syahid. Ada cerita yang beredar bahwa pada masa tuanya ia terus mengulang nasihat yang sama kepada jemaat, yaitu supaya mereka saling mengasihi. Ucapan Yesus dalam Yohanes 21:22-23 sempat menimbulkan desas-desus bahwa murid itu tidak akan mati, dan Yohanes sendiri yang meluruskannya.
Benarkah Yohanes murid yang paling muda?
Alkitab tidak menyebutkan usia para murid, jadi ini kesimpulan tidak langsung. Dugaan bahwa Yohanes paling muda muncul karena ia selalu disebut setelah Yakobus, yang biasanya menandakan ia adik, dan karena ia hidup jauh lebih lama daripada rasul-rasul lain, sampai akhir abad pertama. Jika ia berusia belasan akhir atau dua puluhan awal saat dipanggil, maka ia sudah sangat tua ketika menulis dari Patmos. Yang pasti, Alkitab menampilkan rentang hidupnya sebagai bukti bahwa Allah sanggup membentuk seseorang sepanjang puluhan tahun.
Mengapa Injil Yohanes begitu berbeda dari Matius, Markus, dan Lukas?
Ketiga Injil pertama banyak memakai bahan dan urutan yang mirip, sementara Yohanes memilih tujuh mujizat sebagai tanda, menyoroti pelayanan Yesus di Yerusalem, dan mencatat percakapan panjang yang tidak ada di tempat lain, seperti dengan Nikodemus dan perempuan Samaria. Ia menulis paling akhir, ketika Injil lain sudah beredar, sehingga ia melengkapi, bukan mengulang. Tujuannya dinyatakan terbuka dalam Yohanes 20:31: supaya pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan dengan percaya memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Apa maksud "Allah adalah kasih" dalam surat Yohanes?
Dalam 1 Yohanes 4:8 Yohanes menulis bahwa barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Maksudnya bukan bahwa setiap perasaan hangat adalah Allah, melainkan bahwa kasih adalah hakikat diri Allah yang paling terang terlihat di salib, ketika Ia mengutus Anak-Nya menjadi pendamaian bagi dosa kita. Karena itu dalam surat-suratnya kasih dan kebenaran tidak pernah dipisahkan: ia mengecam keras ajaran yang menyangkal Kristus, dan dalam napas yang sama memerintahkan jemaat saling mengasihi dengan perbuatan, bukan hanya dengan perkataan.
Apakah Rasul Yohanes pernah berbuat salah?
Cukup sering, dan Alkitab tidak menyembunyikannya. Ia melarang orang mengusir setan hanya karena orang itu bukan bagian dari kelompoknya. Ia ingin api turun membinasakan desa Samaria. Ia meminta kursi kemuliaan di saat Yesus sedang berbicara tentang salib, sehingga membuat murid-murid lain marah. Dan seperti yang lain, ia pun tercerai-berai pada malam penangkapan. Kejujuran Alkitab tentang kelemahannya justru menjadi penghiburan: orang yang kemudian dikenal sebagai rasul kasih bukanlah orang yang lahir sempurna, melainkan orang yang dibentuk oleh kasih selama puluhan tahun.
Sebagai penutup
Kalau Anda hanya mengingat satu hal dari seluruh halaman ini, ingatlah kalimat yang tidak pernah ditulis Yohanes. Ia tidak pernah menyebut dirinya murid yang mengasihi Yesus, padahal ia punya alasan: ia meninggalkan perahu, ia berdiri di kaki salib, ia merawat Maria, ia dibuang ke Patmos karena tidak mau diam. Semua itu nyata. Namun ketika ia memilih satu nama untuk dirinya, ia memilih yang pasif: yang dikasihi. Di sanalah guruh akhirnya menemukan rumahnya.
Itulah inti kabar baik yang ia wariskan. Perubahan tidak dimulai dari seberapa kuat kita mencintai Allah, melainkan dari seberapa dalam kita membiarkan diri dicintai oleh-Nya. Yohanes membutuhkan enam puluh tahun untuk sampai di sana; Anda dan saya mungkin juga.
Langkah berikutnya sederhana. Bacalah Injil Yohanes dari awal sampai akhir dalam beberapa hari, perhatikan setiap kali penulisnya bersembunyi di balik sebutan "murid yang dikasihi", lalu lanjutkan ke 1 Yohanes dan rasakan betapa lembutnya seorang bekas anak guruh menyapa jemaatnya dengan sebutan anak-anakku. Dan ketika Anda sampai di Wahyu, ingatlah bahwa penglihatan terbesar itu diberikan kepada orang tua yang kesepian di pulau karang, supaya Anda tahu: tempat terasing pun tidak pernah di luar jangkauan kasih-Nya.
