Kitab Lukas: Injil tentang Yesus Sahabat Orang Berdosa dan Kaum Terpinggirkan
Pendahuluan
Bayangkan sebuah buku harian seorang tabib yang rajin mencatat. Di dalamnya bukan resep obat, melainkan daftar tamu: seorang pemungut cukai yang licik, seorang perempuan yang namanya dibisikkan orang dengan nada merendahkan, gembala-gembala yang bau kandang, seorang perwira asing, seorang penjahat yang sedang sekarat di kayu salib. Semua orang ini punya satu kesamaan: mereka duduk semeja dengan Yesus, atau setidaknya Yesus berhenti untuk mereka. Itulah Injil Lukas.
Ada tiga Injil lain yang menceritakan Yesus, dan masing-masing indah dengan caranya sendiri. Tetapi Lukas menulis dengan mata seorang penyelidik dan hati seorang perawat. Ia ingin Anda tahu bahwa cerita ini benar-benar terjadi, dan bahwa cerita ini dari awal sampai akhir berpihak pada orang yang merasa paling tidak pantas ada di dalamnya.
Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulisnya, kapan dan mengapa ia menulis, bagaimana kitab ini dibangun, apa tema-tema besarnya, ayat-ayat kuncinya, dan bagaimana membacanya dengan hati yang terbuka.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Injil Lukas dari satu sudut yang sering terlewat: meja makan. Lukas menceritakan Yesus yang hampir selalu sedang menuju sebuah jamuan, sedang duduk di sebuah jamuan, atau sedang bercerita tentang jamuan. Di dunia kuno, meja adalah pernyataan paling keras tentang siapa yang Anda anggap setara. Karena itu, setiap kali Yesus mengulurkan tangan ke piring bersama orang berdosa, Ia sedang mengumumkan Injil tanpa perlu berkhotbah. Kita akan menelusuri kitab ini sebagai rangkaian undangan makan yang terus memperlebar daftar tamu, sampai puncaknya di Emaus, ketika roti dipecahkan dan mata dua murid terbuka.
Apa kata Alkitab tentang Injil Lukas?
Lukas sendiri yang memberi tahu kita mengapa ia menulis. Ia tidak mulai dengan silsilah atau dengan suara nubuat, melainkan dengan sebuah kalimat panjang yang terdengar seperti pembukaan laporan resmi. Ia mengakui bahwa sudah ada banyak orang yang berusaha menyusun cerita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di tengah mereka, dan bahwa cerita itu diwariskan oleh "mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman". Lalu ia menulis: "Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, Teofilus yang mulia," (Lukas 1:3). Kata "menyelidiki dengan seksama" dan "dengan teratur" bukan hiasan. Lukas sedang berkata: saya sudah mewawancarai, membandingkan, menelusuri. Iman Kristen tidak dibangun di atas suasana hati, melainkan di atas peristiwa yang bisa ditelusuri.
Tujuannya disebut di ayat berikutnya: supaya Teofilus mengetahui bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadanya sungguh benar. Jadi kitab ini lahir dari kasih pastoral kepada satu orang yang butuh kepastian, dan lewat dia, kepada jutaan orang yang butuh hal yang sama.
Isi beritanya diumumkan lebih dulu oleh malaikat kepada para gembala, orang-orang yang pekerjaannya membuat mereka sulit menjaga kemurnian ritual dan karena itu sering dipandang sebelah mata: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Lukas 2:11). Perhatikan kepada siapa kabar itu pertama kali dipercayakan. Bukan kepada imam besar, bukan kepada penguasa Roma, melainkan kepada pekerja malam di padang. Lukas sudah memberi isyarat sejak pasal kedua: Allah memulai dari pinggir.
Ketika Yesus dewasa membuka pelayanan-Nya di rumah ibadat Nazaret, Ia membaca dari gulungan Yesaya, dan Lukas mengutipnya panjang: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas," (Lukas 4:18). Inilah pidato program Yesus dalam Injil ini. Bukan kebetulan bahwa semua kategori yang disebut adalah orang yang tidak punya daya tawar: miskin, tawanan, buta, tertindas.
Dan seluruh maksud kedatangan-Nya diringkas di rumah seorang kepala pemungut cukai, sesudah Yesus menerobos gerutuan orang banyak untuk menumpang makan di sana: "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10). Kalimat ini diucapkan bukan di mimbar, melainkan di ruang makan Zakheus. Itulah cara Lukas berteologi.
Anugerah selalu punya alamat: nama, wajah, dan kursi di meja.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Injil Lukas tidak jatuh dari langit. Ia adalah simpul yang mengikat janji lama dengan penggenapannya. Sejak Kejadian, Allah berjanji kepada Abraham bahwa melalui keturunannya semua kaum di muka bumi akan diberkati. Perjanjian Lama lalu menyimpan kejutan demi kejutan: Rahab perempuan sundal Yerikho diselamatkan, Rut perempuan Moab menjadi nenek moyang Daud, Naaman panglima Aram disembuhkan, Niniwe yang kejam bertobat karena Yunus. Ada garis yang terus mengarah keluar, melewati pagar Israel, menuju bangsa-bangsa. Lukas menangkap garis itu dan menariknya sampai ujung: silsilah Yesus dalam Injil ini tidak berhenti di Abraham seperti pada Matius, melainkan terus mundur sampai Adam. Yesus bukan hanya Mesias Israel; Ia adalah Adam yang baru bagi seluruh umat manusia.
Nyanyian-nyanyian di dua pasal pertama terdengar seperti Perjanjian Lama yang hidup kembali. Maria bernyanyi dengan kata-kata Hana, ibu Samuel: "Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;" (Lukas 1:52). Simeon memeluk bayi itu dan menyebut-Nya "terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (Lukas 2:32). Nubuat Yesaya tentang hamba Tuhan, hukum Tahun Yobel dalam Imamat 25 yang membebaskan budak dan mengembalikan tanah, kerinduan para nabi akan gembala yang mencari domba yang hilang dalam Yehezkiel 34: semuanya berkumpul dan mendapat wajah di dalam Yesus dari Nazaret.
Yesus sendiri yang menegaskan hal ini sesudah bangkit. Dalam perjalanan ke Emaus, kepada dua murid yang hancur harapannya, "Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi." (Lukas 24:27). Ini pernyataan kunci untuk cara kita membaca Alkitab. Perjanjian Lama bukan lampiran yang membosankan; ia adalah tunangan yang menunggu, dan Kristus adalah mempelai yang datang. Dan menariknya, pelajaran Alkitab terbesar dalam sejarah itu berakhir di sebuah meja makan, ketika Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, dan mata kedua murid terbuka.
Ke depan, benang ini berlanjut ke Kisah Para Rasul, jilid kedua karya Lukas, yang dibuka dengan sapaan yang sama kepada Teofilus. Injil menceritakan apa yang Yesus mulai kerjakan dan ajarkan; Kisah Para Rasul menceritakan apa yang Ia lanjutkan kerjakan melalui Roh Kudus di dalam gereja, dari Yerusalem sampai Roma. Dua kitab, satu alur: Allah yang terus memperlebar meja-Nya.
Struktur dan tema utama
Lukas menyusun kitabnya dengan rapi, persis seperti yang ia janjikan di Lukas 1:3. Bagian pertama, pasal 1 sampai 2, adalah kisah kelahiran yang paling lengkap dalam Alkitab: Zakharia dan Elisabet, kabar kepada Maria, kunjungan ke rumah Elisabet, kelahiran Yohanes, kelahiran Yesus di palungan, gembala-gembala, Simeon dan Hana, dan Yesus berumur dua belas tahun di Bait Allah. Suasananya penuh nyanyian dan penuh orang-orang kecil yang setia.
Bagian kedua, pasal 3 sampai 9:50, berisi persiapan dan pelayanan di Galilea: pembaptisan, pencobaan di padang gurun, khotbah di Nazaret, pemanggilan murid-murid, mukjizat, dan pengakuan Petrus. Di sinilah meja mulai berbicara. Lewi si pemungut cukai mengadakan perjamuan besar bagi Yesus, dan orang Farisi protes. Seorang perempuan berdosa membasahi kaki Yesus dengan air matanya ketika Ia sedang makan di rumah Simon. Musuh-musuh-Nya memberi Dia julukan yang mereka maksudkan sebagai hinaan, tetapi yang ternyata menjadi ringkasan Injil: "sahabat pemungut cukai dan orang berdosa" (Lukas 7:34).
Bagian ketiga adalah jantung kitab ini, pasal 9:51 sampai 19:27, sering disebut "perjalanan ke Yerusalem". Lukas menulis bahwa Yesus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan sejak saat itu setiap langkah punya tujuan: salib. Di sepanjang perjalanan sepuluh pasal ini Lukas menaruh harta karun yang tidak ada di Injil lain: orang Samaria yang murah hati, Marta dan Maria, sahabat yang mengetuk tengah malam, orang kaya yang bodoh, perumpamaan perjamuan besar, domba yang hilang, dirham yang hilang, anak yang hilang, bendahara yang tidak jujur, orang kaya dan Lazarus, hakim yang tidak benar, orang Farisi dan pemungut cukai, dan akhirnya Zakheus. Perhatikan betapa banyak dari kisah-kisah itu berlangsung di sekitar makanan dan undangan.
Bagian keempat, pasal 19:28 sampai 23, adalah pekan terakhir di Yerusalem: masuk kota dengan tangisan Yesus atas Yerusalem, pengajaran di Bait Allah, Perjamuan Terakhir, Getsemani, pengadilan, dan penyaliban. Bagian kelima, pasal 24, adalah kebangkitan: kubur yang kosong, jalan ke Emaus, penampakan kepada murid-murid, dan kenaikan.
Tema-tema besarnya saling menjalin. Roh Kudus disebut jauh lebih sering di sini daripada di Matius dan Markus. Doa muncul di setiap titik penting; Yesus berdoa sebelum memilih murid, sebelum bertanya siapa Aku menurut kamu, di atas gunung, di Getsemani, di kayu salib. Sukacita dan pujian meledak berulang kali. Sikap terhadap harta dibahas dengan sangat tajam, sampai terasa mengganggu. Perempuan mendapat tempat yang mencolok, dari Maria dan Elisabet sampai perempuan-perempuan yang membiayai pelayanan Yesus dari kekayaan mereka. Dan di atas semuanya: keselamatan bagi yang hilang.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat merangkum denyut kitab ini. Yang pertama adalah manifesto Nazaret: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas," (Lukas 4:18). Yesus membaca Yesaya 61 lalu berkata bahwa nas itu genap pada hari itu juga. Kemiskinan yang dimaksud bukan hanya soal dompet, dan kebutaan bukan hanya soal mata; tetapi juga tidak boleh dirohanikan sampai kehilangan daging dan tulangnya. Yesus benar-benar menyembuhkan tubuh, benar-benar menyentuh orang kusta, benar-benar duduk semeja dengan mereka yang dijauhi. Anugerah dalam Lukas selalu punya bentuk yang bisa diraba.
Yang kedua adalah gambaran terindah tentang hati Allah dalam seluruh Alkitab: "Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." (Lukas 15:20). Dalam budaya Timur, seorang bapa terhormat tidak berlari; berlari berarti menyingkapkan kaki dan mempermalukan diri. Bapa ini memilih dipermalukan agar anaknya tidak dipermalukan. Ia melihat dari jauh, artinya ia sudah menunggu lama. Dan ia memeluk sebelum anak itu sempat menyelesaikan pidato pertobatannya yang sudah dihafal. Perhatikan bahwa cerita ini berakhir dengan pesta makan, dan konflik terakhirnya justru tentang siapa yang mau masuk ke ruang makan itu.
Yang ketiga adalah kalimat misi: "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (Lukas 19:10). Kata "mencari" mengubah segalanya. Agama umumnya mengajarkan manusia mencari Allah; Lukas mengatakan Allah yang turun mencari manusia, memanggil nama Zakheus dari bawah pohon ara, dan mengundang diri-Nya sendiri masuk ke rumah orang yang paling dibenci sekota. Keselamatan datang ke rumah itu bukan karena Zakheus lebih dulu membenahi hidupnya, tetapi kemurahan Yesus melahirkan perubahan yang nyata sampai ke rekening dan daftar orang yang pernah ia peras.
Yang hilang tidak dicari-cari kesalahannya; yang hilang dicari.
Panduan praktis membaca Injil Lukas
Kalau Anda baru pertama kali membaca kitab ini, jangan mulai dengan mencicil satu dua ayat. Bacalah seperti sebuah kisah. Sediakan waktu untuk melahap pasal 1 dan 2 dalam satu duduk, lalu rasakan kontras antara istana Kaisar Agustus dan sebuah palungan di Betlehem. Sesudah itu bacalah Lukas 4:16-30 dengan perlahan, karena di situ Yesus mengumumkan program-Nya dan hampir dibunuh karenanya.
Untuk membaca seluruh kitab, dua puluh empat pasal bisa diselesaikan dalam empat minggu dengan satu pasal per hari kerja. Minggu pertama, pasal 1 sampai 6: kelahiran, pembaptisan, dan awal pelayanan. Minggu kedua, pasal 7 sampai 12. Minggu ketiga, pasal 13 sampai 18, inti perjalanan ke Yerusalem. Minggu keempat, pasal 19 sampai 24, dari Zakheus sampai kebangkitan. Sesudah selesai, lanjutkan langsung ke Kisah Para Rasul; Anda akan merasakan bahwa ceritanya belum berhenti.
Ada cara membaca yang cocok dengan sudut pandang panduan ini: catatlah setiap kali makanan, meja, atau undangan muncul. Tandai siapa yang diundang, siapa yang protes, dan apa yang Yesus katakan di situ. Anda akan terkejut betapa sering hal itu terjadi, dan betapa konsisten arahnya.
Tiga pertanyaan yang baik untuk dibawa setiap hari: apa yang pasal ini ungkapkan tentang siapa Yesus; siapa orang yang paling tidak diperhitungkan dalam kisah ini dan bagaimana Ia memperlakukan mereka; di mana saya berdiri, sebagai anak bungsu yang pulang atau sebagai anak sulung yang berdiri di luar rumah sambil marah. Tutup dengan doa singkat yang jujur, seperti doa pemungut cukai di Lukas 18:13.
Cermin
Anda mungkin merasa aman ketika membaca tentang anak yang hilang, karena Anda tahu Anda tidak menghambur-hamburkan warisan di negeri jauh. Tetapi perumpamaan itu punya dua anak, dan yang satunya adalah orang yang rajin, patuh, tidak pernah melanggar perintah, dan justru berdiri di luar rumah sambil menolak masuk ke pesta. Lukas memaksa kita bertanya: siapa yang tidak ingin Anda temui di ruang makan gereja Anda? Nama siapa yang membuat Anda diam-diam berpikir bahwa mereka terlalu jauh, terlalu kotor, terlalu berbeda?
Kitab ini juga menyentuh dompet Anda dengan tidak sopan. Orang kaya yang bodoh membangun lumbung dan mati pada malam itu juga. Orang kaya berpakaian ungu makan mewah setiap hari sementara Lazarus berbaring di depan pintunya, dan masalahnya bukan bahwa ia jahat, melainkan bahwa ia tidak melihat. Lukas bertanya kepada Anda: siapa yang berbaring di depan pintu hidup Anda, dan sudah berapa lama Anda melangkahinya tanpa menoleh?
Dan kalau Anda sedang berada di sisi yang lain, jika Anda merasa seperti gembala yang tidak diundang ke mana-mana, seperti janda Nain yang kehilangan segalanya, seperti perempuan yang namanya dipakai orang sebagai bahan gosip, seperti penjahat yang sadar bahwa hukumannya setimpal, dengarlah ini. Di kayu salib, ketika paku baru saja menembus tangan-Nya, Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Doa pertama-Nya di Golgota bukan untuk diri-Nya sendiri, melainkan untuk orang-orang yang sedang membunuh-Nya. Jika pengampunan-Nya bisa menjangkau algojo, pengampunan itu bisa menjangkau Anda hari ini, dengan segala hal yang Anda sembunyikan.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak menangkap Injil Lukas dengan sangat cepat, karena kitab ini penuh cerita yang bisa dibayangkan: bayi di palungan, gembala yang lari ke Betlehem, orang Samaria yang berhenti menolong padahal yang lain lewat begitu saja, seorang ayah yang berlari memeluk anaknya yang bau kandang babi, dan seorang laki-laki pendek yang memanjat pohon agar bisa melihat Yesus.
Cara paling sederhana menjelaskannya: Injil Lukas adalah buku yang ditulis oleh seorang dokter bernama Lukas, dan isinya adalah kisah nyata tentang Yesus yang suka berteman dengan orang-orang yang tidak punya teman. Banyak orang waktu itu berpikir Tuhan hanya sayang kepada orang pintar, kaya, dan sopan. Yesus menunjukkan bahwa Tuhan mencari justru mereka yang merasa paling tertinggal, seperti gembala yang mencari satu dombanya yang hilang sampai ketemu. Dan ketika ketemu, ia tidak memarahi; ia memanggul domba itu dan mengadakan pesta.
Untuk anak yang lebih besar, tambahkan bahwa Lukas menulis setelah bertanya kepada banyak saksi mata, jadi ini bukan dongeng, melainkan laporan yang bisa dipercaya.
Tersedia penjelasan khusus yang disusun untuk berbagai usia: versi bergambar dan sangat sederhana untuk anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun, versi cerita dengan pertanyaan diskusi untuk anak usia 7 sampai 12 tahun, dan versi yang lebih mendalam bagi remaja usia 12 tahun ke atas yang mulai bertanya apakah semua ini benar-benar terjadi dan apa artinya bagi hidup mereka.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis Injil Lukas?
Kitab ini tidak menyebut nama penulisnya di dalam teks, tetapi kesaksian gereja mula-mula sejak abad kedua konsisten menunjuk Lukas, rekan sepelayanan Paulus. Paulus menyebutnya "tabib Lukas yang kekasih" dalam Kolose 4:14, dan menyebut namanya juga dalam Filemon 1:24 serta 2 Timotius 4:11. Dalam Kisah Para Rasul ada bagian-bagian yang tiba-tiba memakai kata "kami", yang menunjukkan bahwa penulisnya ikut serta dalam perjalanan Paulus. Dari cara Paulus membedakannya dari rekan-rekan yang bersunat, banyak penafsir menyimpulkan Lukas adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan orang Yahudi.
Kapan Injil Lukas ditulis?
Tidak ada tanggal pasti, dan para ahli terbagi dua. Sebagian memperkirakan sekitar tahun 60 sampai 62 Masehi, dengan alasan Kisah Para Rasul berakhir saat Paulus masih ditahan di Roma dan belum menceritakan kematiannya maupun jatuhnya Yerusalem tahun 70. Sebagian lain memperkirakan sekitar tahun 75 sampai 85 Masehi, karena nubuat Yesus tentang Yerusalem yang dikepung terdengar sangat rinci. Bagaimanapun, kitab ini ditulis dalam satu generasi setelah peristiwanya, saat para saksi mata yang disebut di Lukas 1:2 masih bisa ditanyai.
Siapa Teofilus yang disapa dalam Lukas 1:3?
Namanya berarti "sahabat Allah" atau "yang dikasihi Allah". Sebutan "yang mulia" biasanya dipakai untuk pejabat berkedudukan tinggi, sehingga besar kemungkinan ia orang sungguhan, mungkin seorang bangsawan Romawi yang baru percaya atau sedang menyelidiki iman Kristen, dan barangkali juga penyandang dana penyalinan naskah. Ada juga yang menduga nama itu mewakili setiap pembaca yang mengasihi Allah. Yang jelas, Lukas menulis agar satu orang ini memperoleh kepastian bahwa ajaran yang ia terima sungguh dapat dipercaya.
Apa perbedaan Injil Lukas dengan Matius, Markus, dan Yohanes?
Matius menulis terutama bagi pembaca Yahudi dan menekankan Yesus sebagai penggenap nubuat serta Raja Mesias. Markus menulis padat dan cepat, menonjolkan Yesus sebagai Hamba yang bertindak. Yohanes berbeda sendiri, dengan percakapan panjang dan penekanan pada keilahian Kristus. Lukas menulis dengan gaya seorang sejarawan bagi dunia yang lebih luas, memberi perhatian khusus kepada orang miskin, perempuan, orang bukan Yahudi, dan mereka yang dianggap berdosa. Kira-kira separuh isi Injil Lukas tidak ditemukan di Injil lain.
Mengapa Injil Lukas disebut Injil bagi kaum terpinggirkan?
Karena mereka bukan sekadar muncul sekilas, melainkan menjadi pusat cerita. Kabar kelahiran diberikan kepada gembala, bukan penguasa. Program pelayanan Yesus di Lukas 4:18 disusun seluruhnya di sekitar orang miskin, tawanan, buta, dan tertindas. Pahlawan sebuah perumpamaan justru orang Samaria yang dibenci. Yang pulang dibenarkan dari Bait Allah adalah pemungut cukai, bukan orang Farisi. Perempuan-perempuan disebut namanya dan diakui sebagai pendukung pelayanan Yesus. Pola ini terlalu konsisten untuk disebut kebetulan.
Perumpamaan apa saja yang hanya ada di Injil Lukas?
Beberapa kisah paling dikenal dalam kekristenan hanya tercatat di sini: orang Samaria yang murah hati, anak yang hilang beserta dirham dan domba yang hilang, orang kaya yang bodoh dengan lumbungnya, orang kaya dan Lazarus, hakim yang tidak benar dan janda yang gigih, sahabat yang mengetuk tengah malam, bendahara yang tidak jujur, serta orang Farisi dan pemungut cukai yang berdoa di Bait Allah. Tanpa Lukas, gambaran kita tentang kemurahan Allah dan tentang bahaya cinta uang akan jauh lebih miskin.
Apakah benar Lukas seorang dokter, dan apakah itu terlihat dalam tulisannya?
Paulus secara eksplisit menyebutnya tabib dalam Kolose 4:14. Meskipun kosakata medis pada zaman itu tidak selalu khas profesi tertentu, perhatian Lukas terhadap penderitaan tubuh memang mencolok: ia sering mencatat berapa lama seseorang sakit, membedakan jenis penyakit, dan menaruh empati pada orang lumpuh, kusta, bungkuk, serta perempuan yang pendarahan bertahun-tahun. Yang lebih penting daripada gelarnya adalah cara pandangnya; ia melihat manusia seutuhnya, tubuh dan jiwa, seperti seorang perawat yang tidak pernah menganggap orang sebagai kasus.
Apa hubungan Injil Lukas dengan Kisah Para Rasul?
Keduanya adalah satu karya dalam dua jilid, ditulis oleh orang yang sama dan ditujukan kepada Teofilus yang sama. Kisah Para Rasul 1:1 secara terbuka menyebut "bukuku yang pertama", yaitu Injil Lukas. Jilid pertama menceritakan apa yang Yesus kerjakan dan ajarkan sampai kenaikan-Nya; jilid kedua menceritakan bagaimana pekerjaan itu berlanjut melalui Roh Kudus di dalam gereja, dari Yerusalem sampai ke Roma. Digabungkan, keduanya merupakan bagian terbesar dari Perjanjian Baru menurut jumlah kata.
Apa arti Lukas 19:10 bagi orang percaya hari ini?
Ayat itu berbunyi bahwa Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan diucapkan di rumah Zakheus, seorang penipu kaya yang baru saja diterima Yesus. Artinya, inisiatif keselamatan ada pada Kristus, bukan pada kelayakan kita. Anda tidak perlu memperbaiki diri lebih dulu agar layak dicari. Tetapi ayat ini juga menetapkan agenda bagi gereja: jika Tuhan kita adalah pencari, maka jemaat yang hanya sibuk melayani dirinya sendiri sedang kehilangan arah. Dicari oleh Dia selalu berujung pada ikut mencari bersama Dia.
Mengapa Yesus disebut sahabat orang berdosa?
Julukan itu awalnya hinaan. Dalam Lukas 7:34 Yesus mengutip tuduhan lawan-lawan-Nya yang menyebut Dia pelahap, peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka memakainya untuk mendiskreditkan Dia, sebab makan bersama seseorang berarti menerima orang itu sebagai setara. Yesus tidak membantah faktanya; Ia hanya menolak kesimpulan mereka. Ia menegaskan bahwa orang sehat tidak memerlukan tabib, dan bahwa Ia datang memanggil orang berdosa supaya bertobat. Hinaan itu pun berubah menjadi salah satu nama-Nya yang paling manis bagi kita.
Apakah Lukas menyaksikan sendiri pelayanan Yesus?
Tidak, dan ia jujur mengakuinya. Dalam Lukas 1:2 ia membedakan dirinya dari "mereka, yang dari semula adalah saksi mata", lalu menjelaskan bahwa ia menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya. Ia bekerja seperti seorang peneliti yang mengumpulkan kesaksian langsung, termasuk kemungkinan besar dari orang-orang yang mengenal Maria, karena rincian kelahiran dan isi hati Maria hanya ada dalam Injil ini. Justru karena itu tulisannya berharga: ia tidak berpura-pura, ia memverifikasi.
Bagaimana cara terbaik mulai membaca Injil Lukas?
Bacalah sebagai satu kisah utuh, bukan potongan ayat. Mulailah dengan pasal 1 dan 2 dalam satu duduk, lalu lanjutkan satu pasal per hari sehingga seluruh kitab selesai dalam sekitar empat minggu. Berilah perhatian khusus pada bagian perjalanan ke Yerusalem, pasal 9:51 sampai 19:27, karena di situlah sebagian besar pengajaran unik Lukas berada. Tanyakan setiap hari siapa yang Yesus dekati dan siapa yang protes. Setelah pasal 24, lanjutkan ke Kisah Para Rasul agar ceritanya terasa utuh.
Sebagai penutup
Kalau ada satu gambar yang layak Anda bawa pulang dari kitab ini, biarlah itu gambar sebuah meja. Meja Lewi yang penuh rekan pemungut cukai. Meja Simon orang Farisi yang diguncang oleh air mata seorang perempuan. Meja Zakheus, yang ditumpangi Yesus di tengah gerutuan sekota. Meja pesta untuk anak yang pulang dengan bau kandang babi. Meja Perjamuan Terakhir, tempat Ia memberikan tubuh-Nya sendiri. Dan meja kecil di Emaus, tempat roti dipecahkan dan mata terbuka.
Semua meja itu mengarah ke satu hal: Allah yang tidak menunggu kita layak, melainkan datang mencari dan mengundang. Injil ini tidak berteriak; ia mengundang.
Langkah berikutnya sederhana. Ambil waktu, buka Lukas pasal 15, dan bacalah pelan-pelan sampai kalimat tentang bapa yang berlari itu benar-benar menembus. Lalu tanyakan dengan jujur di hadapan Tuhan: apakah saya sedang berjalan pulang, atau sedang berdiri di luar rumah sambil menolak masuk. Kedua-duanya diundang. Pintunya masih terbuka, dan kursinya masih kosong.
