Doa Syafaat: Arti, Contoh Alkitab, dan Cara Mendoakan Orang Lain
Pendahuluan
Pukul sebelas malam, sebuah pesan masuk: "Tolong doakan ya, besok hasil lab ibu keluar." Anda membalas dengan cepat, "Siap, didoakan," lalu meletakkan ponsel dan tertidur. Besok paginya Anda baru sadar: Anda tidak pernah benar-benar berdoa. Atau mungkin Anda pernah berlutut untuk orang lain dan justru kehabisan kata, karena rasanya doa Anda terlalu kecil untuk masalah sebesar itu. Siapa Anda, sampai berani membawa nama orang lain ke hadapan Allah?
Pertanyaan itu bukan tanda iman yang lemah. Justru di situlah pintu masuk untuk memahami salah satu rahasia paling melegakan dalam Alkitab. Di halaman ini Anda akan menelusuri apa arti doa syafaat, bagaimana tema ini mengalir dari Abraham sampai Wahyu, empat kesalahpahaman yang sering membuat orang berhenti berdoa, dan cara yang sangat praktis untuk mulai mendoakan orang lain, malam ini juga.
Sudut pandang panduan ini
Banyak tulisan tentang doa syafaat memperlakukannya seperti teknik: cukup pakai formula yang tepat, cukup keras, cukup lama, maka Tuhan akan bergerak. Panduan ini mengambil sudut pandang yang berbeda dan lebih tua: doa syafaat bukan doa yang Anda mulai, melainkan doa yang sudah berlangsung sebelum Anda membuka mulut. Kristus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara, dan Roh Kudus berdoa di dalam kita dengan keluhan yang tak terucapkan. Syafaat kita adalah ikut masuk ke dalam percakapan yang sudah berjalan di surga. Itu mengubah segalanya: Anda tidak sedang membujuk Allah yang enggan, Anda sedang berdiri di samping Anak-Nya yang sudah lebih dulu menyebut nama itu.
Apa kata Alkitab tentang doa syafaat?
Kata "syafaat" dalam bahasa Indonesia berasal dari akar yang berarti menjadi perantara, menengahi, berbicara untuk kepentingan orang lain. Dalam Alkitab, doa syafaat berarti membawa orang lain, bukan diri sendiri, ke hadapan Allah. Anda berdiri di antara dua pihak: Allah yang kudus dan manusia yang membutuhkan.
Gambaran pertamanya muncul begitu awal, saat Abraham menawar untuk Sodom. "Abraham datang mendekat dan berkata: 'Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?'" (Kejadian 18:23-24). Perhatikan dua hal. Pertama, Abraham mendekat; syafaat selalu lahir dari keakraban, bukan dari jarak. Kedua, Abraham tidak sedang mendoakan keluarganya sendiri saja, melainkan sebuah kota yang jahat. Dan yang paling menarik: Allah sendiri yang membuka percakapan itu dengan berkata, "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?" Syafaat Abraham adalah tanggapan terhadap undangan Allah, bukan interupsi terhadap rencana-Nya.
Gambaran kedua lebih dramatis. Israel baru saja menyembah anak lembu emas, dan Musa berdiri di celah: "Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: 'Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat?'" Musa lalu memohon, "Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri." Dan ayat terakhir perikop itu mengguncang: "Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya" (Keluaran 32:11-14). Musa tidak membawa argumen tentang kebaikan Israel, sebab tidak ada. Ia membawa nama Allah dan janji Allah. Itulah tulang punggung syafaat alkitabiah: kita berdoa dengan meminjam firman Allah sendiri kembali kepada-Nya.
Dari sana, syafaat berubah dari peristiwa luar biasa menjadi kewajiban sehari-hari. Samuel yang sudah tua berpamitan kepada bangsa yang menolak kepemimpinannya, dan berkata: "Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus" (1 Samuel 12:23). Bacalah pelan-pelan. Berhenti mendoakan orang disebut dosa. Bukan kelalaian kecil, bukan sekadar kurang rohani. Samuel punya alasan manusiawi untuk berhenti: mereka menyakiti hatinya. Ia tetap berdoa, karena baginya mendoakan umat adalah bagian dari ketaatan, bukan bagian dari suasana hati.
Dan ada ayat yang paling membuat hati teriris dalam seluruh tema ini. Allah berkata melalui nabi-Nya: "Aku mencari di antara mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya" (Yehezkiel 22:30). Dalam bahasa Ibrani, gambarannya adalah seseorang yang berdiri di celah tembok kota yang jebol, memunggungi reruntuhan, menghadap musuh. Allah mencari orang seperti itu. Ia tidak menemukannya. Sebuah bangsa runtuh bukan hanya karena banyak orang berbuat jahat, melainkan juga karena tidak ada satu pun yang berdiri di celah.
Di Perjanjian Baru, syafaat menjadi perintah terbuka bagi semua orang percaya: "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan" (1 Timotius 2:1-2). Paulus menaruhnya di urutan pertama, bukan terakhir. Dan cakupannya luas sekali: "untuk semua orang", termasuk penguasa kafir yang menganiaya jemaat.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kalau Anda menarik garis dari Kejadian sampai Wahyu, syafaat bukan tema sampingan, melainkan salah satu urat nadi cerita besar Alkitab.
Di Perjanjian Lama, syafaat melekat pada jabatan. Imam membawa nama kedua belas suku di tutup dada ketika masuk ke tempat kudus; setiap kali ia melangkah masuk, dua belas nama ikut masuk bersamanya. Nabi, yang biasa kita bayangkan hanya menyampaikan firman kepada umat, ternyata juga menyampaikan umat kepada Allah. Kejadian 20:7 menyebut Abraham nabi justru dalam konteks doa: "dia akan berdoa untuk engkau, maka engkau tetap hidup." Amos melihat penglihatan tentang belalang dan langsung memotongnya dengan permohonan, "Tuhan ALLAH, berikanlah kiranya pengampunan!" Daniel membaca nubuat Yeremia lalu berdoa dengan mengaku dosa bangsanya seolah-olah dosanya sendiri, "kami telah berbuat dosa". Nehemia mendengar kabar tembok Yerusalem runtuh dan menangis berhari-hari sebelum berani menghadap raja. Ayub mempersembahkan korban untuk anak-anaknya setiap pagi, berjaga-jaga kalau-kalau mereka berdosa dalam hati, dan di akhir kitab justru doanya bagi ketiga sahabat yang menyakitinya itulah yang membuka pemulihannya.
Tetapi semua syafaat itu bocor di satu titik: sang pengantara sendiri butuh pengantara. Musa tetap mati di luar tanah perjanjian. Imam harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri lebih dahulu. Dan Yehezkiel 22:30 menutup dengan kalimat paling sunyi: Allah tidak menemukan seorang pun.
Sampai ada Seorang yang berdiri di celah itu dan tidak beranjak.
Yesaya 53:12 sudah menubuatkannya tentang Hamba yang menderita: Ia "menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak". Di kayu salib nubuat itu terdengar dengan telinga: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34). Dan satu malam sebelumnya, dalam doa-Nya yang paling panjang, Yesus menyebut nama Anda tanpa menyebutkannya: "Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka" (Yohanes 17:20). Anda percaya karena ada orang yang memberitakan Injil kepada Anda; orang itu percaya karena ada yang memberitakan kepadanya; rantai itu terus mundur sampai ke ruang atas di Yerusalem. Anda ada di dalam doa itu.
Dan doa itu belum selesai. Ibrani 7:25 berkata tentang Kristus: "Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka." Roma 8:34 menyebut Dia "yang malah menjadi Pembela bagi kita". Di surga, pada saat Anda membaca kalimat ini, ada satu Suara yang sedang menyebut nama Anda. Di bumi, Roh Kudus melakukan pekerjaan yang sama di dalam dada kita. Dan di akhir Alkitab, doa-doa itu tidak hilang: Wahyu 5:8 menyebut cawan emas "penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus", dan Wahyu 8:4 melukiskan bagaimana asapnya naik ke hadapan Allah. Tidak satu pun doa syafaat yang pernah Anda naikkan menguap sia-sia. Semuanya tersimpan.
Kesalahpahaman yang umum
Kesalahpahaman pertama: syafaat adalah cara membujuk Allah yang enggan. Gambarannya seolah Allah sedang mengangkat tangan hendak memukul, lalu kita menariknya dari belakang. Tetapi perhatikan kembali Kejadian 18. Siapa yang memulai percakapan? Allah. Siapa yang memberi tahu Abraham lebih dahulu? Allah. Dalam Keluaran 32 pun, Allah berkata kepada Musa, "Biarkanlah Aku," sebuah kalimat yang justru membuka celah bagi Musa untuk tidak membiarkan-Nya. Allah bukan sedang dirayu dari luar; Dia sedang menarik hamba-Nya masuk ke dalam hati-Nya. Syafaat tidak mengubah karakter Allah, tetapi Allah memang berkenan memakai doa sebagai sarana nyata untuk menggenapi kehendak-Nya.
Kesalahpahaman kedua: syafaat hanya untuk orang-orang rohani tingkat tinggi. Banyak jemaat diam-diam berpikir bahwa yang berhak berdoa bagi orang lain adalah pendeta, penatua, atau "pendoa syafaat" yang punya karunia khusus. Padahal Paulus menulis nasihat 1 Timotius 2:1-2 untuk seluruh jemaat, dan Yakobus 5:16 berkata, "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." Kata "saling" meniadakan hierarki. Epafras, seorang jemaat biasa dari Kolose, dipuji Paulus karena "selalu bergumul dalam doanya untuk kamu" (Kolose 4:12). Ia bukan rasul. Ia hanya orang yang berdoa.
Kesalahpahaman ketiga: Kristus satu-satunya Pengantara, jadi syafaat kita tidak ada gunanya. Memang benar 1 Timotius 2:5 menegaskan hanya ada satu Pengantara antara Allah dan manusia. Tetapi lihat di mana ayat itu berdiri: hanya tiga ayat setelah perintah menaikkan doa syafaat untuk semua orang. Paulus jelas tidak melihat pertentangan. Kristus adalah Pengantara yang menebus, satu-satunya yang membuka jalan masuk. Syafaat kita bukan jalan masuk kedua; itu adalah hak istimewa anak-anak yang sudah dibawa masuk melalui jalan itu. Kita tidak menggantikan karya-Nya, kita bergabung dalam doa-Nya.
Kesalahpahaman keempat: doa yang kuat diukur dari kata-kata yang tepat. Dari sinilah lahir kebiasaan mengulang-ulang kalimat seperti mantra, atau diam membisu karena merasa tidak sanggup merangkai kalimat rohani. Paulus justru berkata sebaliknya: "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus" (Roma 8:26-27). Ketidaktahuan kita bukan penghalang doa; itu justru titik di mana Roh Kudus mulai bekerja. Allah menyelidiki hati, bukan menilai tata bahasa.
Menghidupinya hari ini
Mulailah dari yang paling dekat dan paling sulit: orang yang membuat Anda kesal. Yesus berkata, "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Ada atasan yang memotong bonus Anda tanpa penjelasan, ada kerabat yang menyebarkan cerita tentang rumah tangga Anda, ada mantan sahabat yang memblokir nomor Anda. Doakan nama itu dengan spesifik, bukan dengan kalimat samar seperti "Tuhan, ubahkan dia." Minta kebaikan konkret untuk hidupnya. Anda akan menemukan hal aneh: sulit sekali tetap membenci seseorang yang namanya Anda bawa ke hadapan Allah setiap hari.
Lalu berhentilah mengucapkan "didoakan ya" tanpa mendoakan. Cara paling sederhana untuk menyembuhkan kebiasaan ini adalah berdoa saat itu juga, dalam hati, sebelum jempol Anda selesai mengetik balasan. Dua kalimat sudah cukup. Syafaat yang pendek tetapi sungguh jauh lebih berharga daripada janji panjang yang tidak pernah ditebus.
Di rumah, pertimbangkan apa yang dilakukan Ayub setiap pagi bagi anak-anaknya. Anda mungkin tidak bisa mengawasi anak remaja Anda di sekolah, tidak bisa mengendalikan apa yang muncul di layar ponselnya, tidak bisa memilihkan teman-temannya. Tetapi Anda bisa menyebut namanya setiap pagi sebelum ia bangun. Banyak orang tua yang merasa gagal karena tidak bisa melindungi anaknya dari segala hal; padahal senjata yang paling jauh jangkauannya justru ada di tangan mereka.
Di tempat kerja dan di ruang publik, 1 Timotius 2:1-2 memberi tugas yang jarang kita ambil: mendoakan pemerintah, termasuk yang kebijakannya Anda tidak setujui. Paulus menulis itu di bawah kaisar Roma, bukan di bawah pemimpin yang saleh. Mengeluh tentang penguasa jauh lebih mudah dan jauh lebih cepat viral daripada mendoakan mereka, tetapi hanya satu dari dua kebiasaan itu yang diperintahkan Alkitab.
Terakhir, bangun struktur sederhana supaya syafaat tidak bergantung pada ingatan. Satu buku catatan kecil, atau satu catatan di ponsel, berisi nama-nama dan tanggal. Tulis juga jawabannya ketika datang. Efesus 6:18 menyebutnya "permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus", dan ketekunan semacam itu hampir selalu butuh bantuan daftar, bukan hanya perasaan. Doakan dengan firman: ambil satu kalimat dari Mazmur atau dari surat Paulus, dan sebutkan nama orang itu di dalamnya. Itulah yang dilakukan Musa ketika ia mengingatkan Allah akan janji-Nya sendiri.
Cermin
Mari jujur sebentar, hanya Anda dan Tuhan. Berapa nama yang benar-benar Anda doakan minggu ini, selain nama Anda sendiri?
Doa kita sering menyempit seukuran kekhawatiran kita: cicilan, kesehatan, pekerjaan, masa depan anak. Semua itu sah untuk didoakan, Tuhan tidak pernah menganggapnya remeh. Tetapi ada sesuatu yang rusak dalam hati kita kalau daftar doa kita tidak pernah keluar dari lingkaran kepentingan sendiri. Samuel berkata bahwa berhenti mendoakan orang lain adalah dosa terhadap Tuhan. Kalimat itu tidak nyaman karena memang tidak dimaksudkan untuk nyaman.
Mungkin Anda sedang terlalu lelah. Pekerjaan menuntut, tubuh ngilu, malam terlalu pendek. Justru di sinilah kabar baik sudut pandang panduan ini terasa: Anda tidak sedang memikul beban doa sendirian. Kristus sudah berdoa untuk Anda sebelum Anda lahir, dan Dia sedang berdoa untuk Anda sekarang. Roh Kudus mengerjakan di dalam diri Anda apa yang tidak sanggup Anda rangkai. Syafaat Anda yang terbata-bata bukan permulaan dari nol; itu nada kecil yang bergabung dengan paduan suara yang sudah menggema.
Dan mungkin Anda sedang berada di sisi yang lain: Anda yang butuh didoakan, yang malu mengaku sedang hancur, yang menutupi kelelahan dengan senyum di gereja. Yakobus menulis tentang saling mengaku dosa dan saling mendoakan untuk orang seperti Anda. Kesendirian rohani sering bukan karena tidak ada yang peduli, melainkan karena kita tidak pernah berani meminta.
Tuhan masih mencari orang yang mau berdiri di celah. Ia mencari di keluarga Anda, di kantor Anda, di komplek tempat Anda tinggal. Pertanyaannya bukan apakah Anda cukup rohani. Pertanyaannya apakah Anda mau berdiri di sana.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kepada anak-anak, doa syafaat bisa dijelaskan tanpa satu pun istilah sulit. Katakan begini: doa biasanya tentang apa yang kita butuhkan, tetapi ada doa khusus yang isinya tentang orang lain. Kita membawa nama teman, kakak, nenek, atau guru kepada Tuhan, seperti membawa seorang teman ke rumah ayah supaya ia ikut diperhatikan. Ceritakan Abraham yang berani berbicara kepada Tuhan demi satu kota, atau Musa yang memohon supaya bangsanya tidak dihukum. Lalu tunjukkan puncaknya: Yesus berdoa untuk orang-orang yang menyakiti Dia, dan di dalam Yohanes 17:20 Dia bahkan berdoa untuk anak-anak yang percaya kepada-Nya hari ini, termasuk mereka.
Sertakan sesuatu yang bisa mereka lakukan, bukan hanya dengar. Ajak mereka menyebut satu nama setiap malam sebelum tidur, misalnya teman yang sedang sakit atau anak baru di sekolah yang belum punya teman. Anak-anak jauh lebih cepat percaya bahwa doa itu nyata daripada orang dewasa, dan mereka jarang khawatir soal kata-kata yang tepat.
Setiap usia butuh pendekatan yang berbeda. Untuk anak prasekolah usia 3 sampai 6 tahun, syafaat paling baik dikenalkan lewat gambar dan kebiasaan sederhana sebelum tidur. Untuk anak sekolah dasar usia 7 sampai 12 tahun, cerita Abraham, Musa, dan Samuel bisa dibahas lebih utuh, lengkap dengan pertanyaan mereka yang tajam tentang keadilan Tuhan. Untuk remaja usia 12 tahun ke atas, tema ini bisa dibawa ke ranah yang lebih jujur: mendoakan orang yang mem-bully, mendoakan orang tua yang sedang bertengkar, mendoakan diri sendiri yang sedang ragu. Penjelasan khusus untuk setiap kelompok usia tersedia terpisah, supaya Anda tidak perlu menerjemahkan sendiri semuanya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti doa syafaat sebenarnya?
Doa syafaat berarti berdoa untuk kepentingan orang lain, bukan untuk diri sendiri. Kata "syafaat" menunjuk pada tindakan menengahi atau menjadi perantara: Anda berdiri di antara Allah dan seseorang yang membutuhkan, lalu membawa kebutuhan orang itu ke hadapan Tuhan. Istilah ini muncul langsung dalam 1 Timotius 2:1-2, di mana Paulus menasihatkan jemaat menaikkan permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur untuk semua orang. Jadi syafaat bukan jenis doa yang lebih tinggi atau lebih mistis, melainkan doa yang arah perhatiannya keluar dari diri sendiri.
Apa bedanya doa biasa, doa permohonan, dan doa syafaat?
Perbedaannya terletak pada siapa yang Anda bawa. Doa secara umum mencakup semua bentuk percakapan dengan Allah, termasuk pujian, pengakuan dosa, dan ucapan syukur. Doa permohonan adalah ketika Anda meminta sesuatu untuk diri Anda sendiri, misalnya hikmat atau kesembuhan. Doa syafaat adalah ketika yang Anda minta itu untuk orang lain. Ketiganya disebut berdampingan dalam Efesus 6:18 dan 1 Timotius 2:1-2, jadi tidak ada yang lebih rohani dari yang lain. Hidup doa yang sehat memuat ketiganya secara seimbang.
Siapa saja contoh pendoa syafaat dalam Alkitab?
Abraham menawar bagi Sodom dalam Kejadian 18:23-24. Musa memohon bagi Israel setelah dosa anak lembu emas dalam Keluaran 32:11-14. Samuel menyebut berhenti mendoakan umat sebagai dosa dalam 1 Samuel 12:23. Ayub mempersembahkan korban bagi anak-anaknya dan berdoa bagi sahabat-sahabatnya. Daniel mengaku dosa bangsanya, Nehemia menangis bagi Yerusalem, Stefanus berdoa bagi orang yang melemparinya dengan batu, dan Epafras bergumul dalam doa bagi jemaat Kolose. Semua itu bermuara pada Yesus Kristus, Sang Pengantara yang berdoa di Yohanes 17 dan yang hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita.
Apakah doa syafaat bisa mengubah keputusan Tuhan?
Keluaran 32:14 memang berkata, "Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya." Alkitab memakai bahasa manusiawi untuk menggambarkan hubungan yang nyata. Namun karakter dan rencana Allah tidak berubah-ubah mengikuti suasana hati kita. Yang terjadi adalah Allah berkenan memakai doa umat-Nya sebagai sarana sungguhan untuk menggenapi kehendak-Nya. Doa bukan tuas untuk memaksa Allah, melainkan cara Allah melibatkan kita. Ia tidak berubah karena kita mendesak; Ia memang sejak semula ingin bertindak melalui orang yang mau berdiri di celah.
Bagaimana cara berdoa syafaat untuk orang lain dengan benar?
Mulailah dengan menyebut nama orang itu dan situasinya secara konkret, lalu doakan dengan firman Tuhan, bukan hanya dengan perasaan Anda. Ambil satu janji atau doa dari Alkitab, misalnya dari Mazmur atau dari doa Paulus bagi jemaat, lalu sisipkan nama orang itu ke dalamnya. Berdoalah dengan tekun, bukan sekali lalu dilupakan, dan catat jawaban yang datang. Yang paling penting, ingat bahwa Anda tidak sedang membujuk Allah yang jauh; Anda bergabung dengan doa Kristus yang sudah lebih dulu menyebut nama itu.
Apakah doa syafaat harus panjang dan keras supaya didengar?
Tidak. Yesus justru memperingatkan agar kita tidak bertele-tele seperti orang yang mengira doanya dikabulkan karena banyak kata. Nehemia berdoa dalam hati, hanya sekejap, di depan raja, dan Allah menjawab. Panjang atau pendek, berbisik atau bersuara, bukan itu ukurannya. Roma 8:26-27 bahkan menegaskan bahwa Roh Kudus berdoa bagi kita dengan keluhan yang tidak terucapkan, ketika kita sendiri tidak tahu harus berkata apa. Kesungguhan hati dan ketekunan jauh lebih berarti daripada volume suara.
Apa maksud "berdiri di celah" dalam Yehezkiel 22:30?
Gambaran aslinya diambil dari kota berbenteng yang temboknya jebol. Seseorang harus berdiri tepat di lubang itu untuk menahan musuh masuk, dengan risiko nyawa sendiri. Dalam terjemahan Indonesia, kalimat Yehezkiel 22:30 berbunyi Allah mencari "seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku". Artinya Allah mencari seseorang yang bersedia berdiri di antara penghukuman dan bangsa yang berdosa, lalu berdoa. Tragedi ayat itu adalah kalimat penutupnya: Allah tidak menemukan seorang pun. Kebutuhan itu akhirnya dipenuhi sempurna oleh Kristus.
Benarkah Yesus masih berdoa untuk kita sekarang?
Benar, dan ini salah satu kebenaran paling menghibur dalam Perjanjian Baru. Ibrani 7:25 berkata, "Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka," dan Roma 8:34 menyebut Dia "yang malah menjadi Pembela bagi kita". Karya penebusan di salib sudah selesai sekali untuk selamanya, tetapi pelayanan-Nya sebagai Pengantara terus berlangsung di hadapan Bapa. Dalam Yohanes 17:20 Ia bahkan berdoa untuk orang-orang yang akan percaya melalui pemberitaan para murid, termasuk Anda. Iman Anda hari ini adalah jawaban atas doa Yesus.
Mengapa doa syafaat saya terasa tidak dijawab?
Penantian bukan berarti penolakan. Monica berdoa bertahun-tahun bagi anaknya, Agustinus, sebelum pertobatan itu datang. Allah kadang menjawab dengan "ya", kadang "belum", kadang dengan sesuatu yang lebih dalam daripada permintaan kita. Yang pasti, Wahyu 5:8 melukiskan doa orang-orang kudus tersimpan dalam cawan emas di hadapan takhta; tidak satu pun hilang. Ketika jawaban belum terlihat, pegang dua hal: Roh Kudus sedang berdoa sesuai kehendak Allah di dalam Anda (Roma 8:26-27), dan ketekunan dalam syafaat sendiri sedang mengerjakan sesuatu di dalam hati Anda.
Apakah kita boleh mendoakan orang yang belum percaya?
Boleh, bahkan diperintahkan. 1 Timotius 2:1-2 menyuruh kita menaikkan doa syafaat "untuk semua orang", dan konteksnya justru mencakup penguasa Roma yang menganiaya jemaat. Abraham mendoakan kota yang jahat, Stefanus mendoakan orang yang membunuhnya, dan Paulus menulis bahwa keinginan hatinya adalah keselamatan bangsanya. Mendoakan orang yang belum percaya bukan sekadar diperbolehkan; itu salah satu bentuk kasih yang paling praktis. Sebutkan nama mereka, mintalah supaya hati mereka terbuka, dan tetaplah berdoa meski belum ada tanda apa pun.
Apakah doa syafaat sama dengan peperangan rohani?
Keduanya berkaitan tetapi tidak identik. Efesus 6 memang menempatkan doa di akhir uraian tentang perlengkapan senjata Allah, jadi syafaat memang bagian dari perjuangan rohani. Namun syafaat alkitabiah tidak pernah digambarkan sebagai teknik untuk mengusir kuasa gelap dengan formula tertentu, melainkan sebagai permohonan yang rendah hati kepada Allah yang berdaulat. Bahayanya muncul ketika syafaat diubah menjadi pertunjukan kekuatan atau kalimat yang diulang seperti mantra. Fokus Alkitab selalu pada Pribadi yang kita mintai tolong, bukan pada kuasa pendoanya.
Apakah berhenti mendoakan seseorang itu dosa?
Samuel memakai kata yang tegas: "Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu" (1 Samuel 12:23). Konteksnya penting: bangsa itu baru saja menolak kepemimpinannya, sehingga ia punya alasan untuk berhenti. Ayat ini tidak dimaksudkan untuk membebani Anda dengan rasa bersalah karena lupa satu nama, tetapi untuk menolak sikap sengaja berhenti mendoakan seseorang karena kecewa, marah, atau merasa percuma. Jika Anda sadar sudah melakukan itu, jalan pulangnya sederhana: akui kepada Tuhan dan sebut nama itu lagi hari ini.
Sebagai penutup
Kalau ada satu hal yang perlu Anda bawa pulang dari halaman ini, biarlah ini: doa syafaat Anda tidak pernah menjadi suara pertama dalam ruangan itu. Sebelum Anda menyebut nama ibu Anda, nama anak Anda, nama kota ini, Kristus sudah lebih dulu menyebutnya, dan Roh Kudus sedang mengeluh di dalam dada Anda dengan bahasa yang tidak sanggup Anda rangkai. Itu sebabnya syafaat bukan beban bagi yang kuat, melainkan hak istimewa bagi yang lemah.
Tuhan masih mencari orang yang mau berdiri di celah, dan celah itu biasanya tidak jauh: sebuah rumah tangga yang retak, seorang rekan kerja yang kehilangan harapan, seorang anak yang sedang menjauh dari iman. Anda tidak perlu menunggu sampai merasa cukup rohani.
Mulailah malam ini, dengan satu nama.
Untuk melangkah lebih jauh, bacalah pelan-pelan Yohanes 17 dan bayangkan diri Anda disebut dalam ayat 20; lalu bacalah Roma 8:26-39 dan biarkan kebenaran tentang Roh dan Kristus yang berdoa itu meneduhkan hati Anda. Setelah itu, tulis satu daftar kecil berisi lima nama, dan bertekunlah selama empat puluh hari. Kemungkinan besar, orang pertama yang berubah adalah Anda sendiri.
