Kitab Yesaya: Nubuat tentang Mesias dan Pengharapan bagi Umat Allah
Pendahuluan
Bayangkan sebuah ruang sidang. Kursi keras, udara yang terasa berat, dan seseorang yang duduk menunggu putusan dibacakan. Semua bukti sudah dibentangkan. Tidak ada lagi yang bisa dibantah. Yang tersisa hanya satu pertanyaan: apa yang akan diucapkan hakim?
Kitab Yesaya dibuka persis seperti itu. Langit dan bumi dipanggil sebagai saksi, Allah maju sebagai pihak yang mengajukan tuntutan, dan umat-Nya sendiri berdiri di kursi pesakitan. "Aku telah membesarkan anak-anak dan mengasuhnya, tetapi mereka memberontak terhadap Aku" (Yesaya 1:2). Enam puluh enam pasal kemudian, kitab yang sama ditutup dengan langit yang baru, bumi yang baru, dan sebuah undangan makan bersama.
Di halaman ini kamu akan menemukan bagaimana perjalanan itu terjadi: siapa Yesaya, kapan ia hidup, bagaimana kitabnya dibangun, apa tema-tema besarnya, dan mengapa Hakim yang menuntut umat-Nya justru menjadi Penebus yang memikul putusan itu sendiri.
Sudut pandang panduan ini
Banyak ulasan tentang Yesaya menyajikannya sebagai kumpulan nubuat indah yang dipetik lepas-lepas: satu ayat untuk kartu ucapan, satu ayat untuk Natal, satu ayat untuk Jumat Agung. Panduan ini membaca Yesaya sebagai satu drama persidangan yang utuh. Allah membuka perkara terhadap umat-Nya, mengajukan gugatan yang sama terhadap berhala dan bangsa-bangsa, lalu melakukan hal yang tidak pernah terjadi di ruang sidang mana pun: Sang Hakim turun dari kursi-Nya dan menanggung sendiri hukuman yang seharusnya jatuh ke atas terdakwa. Akibatnya, orang-orang yang tadinya berdiri sebagai pesakitan keluar dari ruangan itu bukan sebagai narapidana, melainkan sebagai saksi. Sudut pandang inilah yang akan kembali di setiap bagian.
Apa kata Alkitab tentang Kitab Yesaya?
Kitab ini memperkenalkan dirinya dengan sangat rapi: "Penglihatan yang telah dilihat Yesaya bin Amos tentang Yehuda dan Yerusalem dalam zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia, raja-raja Yehuda" (Yesaya 1:1). Empat nama raja itu adalah peta waktu. Yesaya melayani kira-kira dari tahun 740 sampai lewat tahun 700 sebelum Kristus, jadi sekitar empat puluh sampai lima puluh tahun. Ia bukan nabi kampung yang jauh dari pusat kekuasaan. Ia bergerak di Yerusalem, berbicara langsung kepada raja, menegur kebijakan politik, dan mengenal bahasa istana. Namanya sendiri sudah merupakan ringkasan pesannya: Yesaya berarti "TUHAN adalah keselamatan".
Zamannya adalah zaman ketakutan. Kerajaan Asyur bergerak seperti banjir dari utara, menelan kerajaan-kerajaan kecil satu demi satu. Samaria, ibu kota kerajaan Israel di utara, jatuh pada tahun 722 sebelum Kristus. Dua puluh tahun kemudian tentara Sanherib mengepung Yerusalem, dan peristiwa itu diceritakan panjang dalam Yesaya 36 sampai 39. Di tengah panik seperti itu, para pemimpin Yehuda melakukan apa yang selalu dilakukan orang panik: mencari sekutu, menandatangani perjanjian, membayar upeti, sambil tetap rajin membawa korban ke Bait Suci. Yesaya menyebut itu semua sebagai kesaksian palsu. Ibadah yang ramai tetapi tangan yang penuh darah, mezbah yang berasap tetapi anak yatim yang diabaikan, itulah pokok gugatan Allah dalam pasal-pasal pembuka. "Belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda" (Yesaya 1:17).
Lalu terjadi sesuatu yang mengubah arah seluruh persidangan. Di tengah dakwaan yang berat itu, Sang Penuntut mengucapkan tawaran yang tidak masuk akal secara hukum: "Marilah, baiklah kita berbantah! firman TUHAN. Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba" (Yesaya 1:18). Kata "berbantah" di situ memang kata ruang sidang. Allah tidak berkata, "Perkaranya ditutup." Ia berkata, "Mari kita bicarakan perkara ini sampai selesai," dan hasil pembicaraan itu bukan penjara, melainkan pemutihan. Kirmizi dan kesumba adalah pewarna yang tidak bisa dicuci; siapa pun di zaman itu tahu bahwa kain merah kesumba tetap merah sampai lusuh. Justru itu intinya. Yang mustahil dibersihkan manusia, dibersihkan Allah.
Panggilan Yesaya sendiri terjadi di ruangan yang sama sekali lain, tetapi bernuansa sama. Dalam pasal 6 ia melihat takhta, jubah yang memenuhi Bait Suci, dan serafim yang berseru: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam! Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" (Yesaya 6:3). Reaksi pertama Yesaya bukan kekaguman rohani, melainkan putusan atas dirinya sendiri: "Celakalah aku! aku binasa!" Ia tahu ia najis bibir di tengah bangsa yang najis bibir. Baru setelah bara dari mezbah menyentuh mulutnya dan kesalahannya dihapus, terdengar pertanyaan yang membuka seluruh pelayanannya: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka kataku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8).
Perhatikan urutannya. Pengampunan lebih dahulu, pengutusan sesudahnya. Terdakwa yang diampuni langsung diangkat menjadi juru bicara. Itulah pola yang akan diulang Yesaya sampai pasal terakhir, dan itulah sebabnya kitab ini tidak pernah berhenti pada penghukuman.
Yang tidak bisa dicuci manusia, dibersihkan Allah sendiri.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Yesaya tidak berdiri sendiri. Ia berbicara sebagai orang yang hafal sejarah umatnya: janji kepada Abraham, keluaran dari Mesir, perjanjian di Sinai, sumpah Allah kepada Daud bahwa takhtanya akan kokoh selamanya. Ketika Yesaya berbicara tentang tunas yang keluar dari tunggul Isai (Yesaya 11:1), ia sedang menyalakan kembali harapan yang tampaknya sudah tinggal tunggul: dinasti Daud yang lapuk, kecil, dan hampir habis. Ketika ia menggambarkan pembebasan dari Babel, ia memakai bahasa keluaran dari Mesir: jalan di padang gurun, air di tanah kering, umat yang dituntun keluar. Allah yang sama sedang mengerjakan hal yang sama sekali baru dengan cara yang sudah dikenal.
Di dalam Perjanjian Baru, Yesaya muncul di mana-mana. Bersama Kitab Mazmur, ia adalah kitab Perjanjian Lama yang paling sering dikutip, lebih dari enam puluh kali secara langsung dan ratusan kali dalam gema kalimat. Keempat Injil membuka pelayanan Yohanes Pembaptis dengan Yesaya 40:3 tentang suara yang berseru di padang gurun. Matius menutup kisah kelahiran Yesus dengan Yesaya 7:14: "Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel." Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya di Galilea, Matius mengutip nubuat Yesaya tentang terang yang terbit atas daerah yang gelap.
Puncaknya terjadi di rumah ibadat Nazaret. Yesus membuka kitab nabi Yesaya, membaca "Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara" (Yesaya 61:1), lalu menutup kitab itu dan berkata bahwa nas itu digenapi hari itu, di depan mata mereka. Di sini persidangan itu berbalik total. Yang diberitakan bukan lagi dakwaan, melainkan amnesti. Orang tawanan mendengar pintu dibuka.
Dan ketika Yesus mati, para penulis Perjanjian Baru tidak mencari-cari penjelasan; penjelasannya sudah tersedia sejak delapan abad sebelumnya. Filipus menjelaskan Injil kepada pejabat Etiopia justru dari Yesaya 53 (Kisah Para Rasul 8:32-35). Petrus menggambarkan salib dengan bahasa nabi itu: oleh bilur-bilur-Nya kita telah menjadi sembuh (1 Petrus 2:24). Paulus memakai Yesaya untuk menjelaskan mengapa Injil sampai kepada bangsa-bangsa lain. Dan pada halaman-halaman terakhir Alkitab, Yohanes melihat langit yang baru dan bumi yang baru, kota yang bercahaya, air mata yang dihapus dari setiap wajah; itu semua kosakata Yesaya 25, 60, dan 65.
Jadi benang merahnya jelas. Perkara yang dibuka di Yesaya 1 diselesaikan di kayu salib, dan putusan akhirnya diumumkan dalam ciptaan yang baru.
Struktur dan tema utama
Secara garis besar, Yesaya terbagi dalam tiga bagian besar. Pasal 1 sampai 39 berlatar krisis Asyur dan didominasi nada dakwaan serta seruan agar umat percaya kepada Allah, bukan kepada kuda dan kereta Mesir. Pasal 40 sampai 55 berbicara kepada umat yang sudah berada di pembuangan Babel, dan nadanya berubah menjadi penghiburan: "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu" (Yesaya 40:1). Pasal 56 sampai 66 berbicara kepada umat yang sudah pulang tetapi kecewa, karena kenyataan sehari-hari tidak semegah janji yang mereka dengar; di bagian ini muncul panggilan hidup benar, kritik terhadap ibadah yang kosong, dan penglihatan tentang ciptaan baru.
Bagian pertama sendiri masih bisa dipecah. Pasal 1 sampai 12 memusatkan perhatian pada Yehuda dan Yerusalem, dengan pasal 6 sebagai jantungnya dan Imanuel serta Raja dari keturunan Isai sebagai puncak pengharapannya. Pasal 13 sampai 23 berisi ucapan ilahi terhadap bangsa-bangsa: Babel, Asyur, Moab, Mesir, Tirus. Ini penting bagi angle kita, sebab di sini terlihat bahwa Allah bukan hakim lokal atas satu suku, melainkan Hakim seluruh bumi. Pasal 24 sampai 27 melebar menjadi penglihatan tentang seluruh bumi yang diadili dan kematian yang ditelan untuk selama-lamanya. Pasal 28 sampai 35 mengecam persekutuan politik dengan Mesir, dan pasal 36 sampai 39 memberi kisah nyata: Hizkia yang gemetar, doanya di Bait Suci, dan Yerusalem yang diselamatkan tanpa satu panah pun dilepaskan dari tembok kota.
Bagian kedua adalah salah satu bentangan sastra paling agung dalam Alkitab. Di sini Allah mengajukan gugatan-Nya bukan lagi kepada umat-Nya saja, tetapi kepada berhala-berhala. Ia menantang mereka ke pengadilan: kalau kamu memang allah, ajukanlah bukti, ceritakan apa yang akan terjadi, umumkanlah masa depan. Berhala-berhala bungkam, karena kayu dan logam tidak punya kesaksian. Lalu Allah berbalik kepada umat-Nya yang lemah dan berkata, "Kamu inilah saksi-saksi-Ku" (Yesaya 43:10). Terdakwa yang diampuni kini dipanggil ke kursi saksi. Di tengah bagian ini muncul empat nyanyian tentang Hamba TUHAN (Yesaya 42:1-9; 49:1-6; 50:4-9; 52:13-53:12), yang bergerak dari pengurapan, ke penolakan, ke penderitaan, dan berujung pada pembenaran banyak orang.
Beberapa tema mengikat semuanya. Yang pertama adalah kekudusan Allah; gelar "Yang Mahakudus, Allah Israel" adalah tanda tangan khas kitab ini. Yang kedua adalah kepercayaan: apakah umat akan bersandar pada Allah atau pada kekuatan politik. Yang ketiga adalah sisa umat, kelompok kecil yang selamat dan menjadi benih masa depan. Yang keempat adalah keadilan sosial yang tidak bisa dipisahkan dari ibadah. Yang kelima adalah keandalan firman Allah, dan itu dirumuskan dalam kalimat yang menjadi tumpuan seluruh kitab: "demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya" (Yesaya 55:11).
Kalimat itu bukan hiasan. Dalam ruang sidang, yang menentukan adalah apakah putusan hakim benar-benar dijalankan. Yesaya menjamin bahwa firman Allah bukan pengumuman yang menguap, melainkan putusan yang berjalan sampai selesai, baik ketika ia menghukum maupun ketika ia menyembuhkan.
Soal penulis, perlu dikatakan dengan jujur bahwa ada perdebatan panjang. Karena pasal 40 dan seterusnya berbicara seolah pembuangan Babel sudah berlangsung, dan bahkan menyebut nama Koresh, raja Persia, sebelum ia lahir (Yesaya 44:28; 45:1), sebagian ahli mengusulkan adanya penulis kedua dan ketiga dari lingkaran murid Yesaya. Tradisi ortodoks memegang kesatuan kitab ini di bawah nama dan otoritas Yesaya bin Amos, dan alasannya kuat: gulungan Yesaya dari Qumran memuatnya sebagai satu kitab tanpa jeda, kosakata khasnya mengalir dari awal sampai akhir, dan Perjanjian Baru mengutip pasal 6 maupun pasal 53 dengan sebutan yang sama, yaitu "nabi Yesaya" (Yohanes 12:38-41). Lebih dari itu, seluruh argumen pasal 40 sampai 48 justru bergantung pada kenyataan bahwa Allah sanggup mengumumkan hal yang belum terjadi. Kalau nama Koresh baru ditulis setelah ia berkuasa, gugatan Allah terhadap berhala kehilangan seluruh kekuatannya.
Ayat-ayat kunci dari kitab ini
Tiga ayat berikut adalah tiang penyangga kitab ini, dan ketiganya berbicara dalam bahasa persidangan.
Yang pertama, Yesaya 9:5, yang dalam banyak Alkitab berbahasa Inggris bernomor 9:6: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Ayat ini diucapkan di tengah pasal yang gelap, kepada daerah yang sudah dijarah tentara Asyur. Di ruang sidang yang penuh kabar buruk, Allah mengumumkan seorang bayi. Bukan jenderal, bukan koalisi, bukan strategi. Dan bayi itu memakai nama yang hanya bisa dipakai Allah sendiri: Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal. Delapan abad kemudian nama-nama itu punya wajah, dan wajah itu bernama Yesus Kristus.
Yang kedua, Yesaya 53:5: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Inilah momen ketika Hakim turun dari kursi-Nya. Perhatikan kata gantinya, karena di situlah seluruh Injil bersembunyi: pemberontakan kita, kejahatan kita, keselamatan bagi kita, tetapi tertikam dia, diremukkan dia, bilur-bilur dia. Pertukaran itu bukan kelalaian hukum, melainkan keadilan yang dipenuhi dengan cara yang tidak pernah dibayangkan siapa pun. Dosa tidak diabaikan; dosa ditanggung. Kirmizi dari Yesaya 1:18 menjadi putih justru karena ada darah yang tercurah di pasal 53.
Yang ketiga, Yesaya 40:31: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." Ayat ini biasa dikutip untuk memberi semangat, dan itu wajar. Tetapi latarnya jauh lebih berat daripada motivasi pagi hari. Ini diucapkan kepada orang buangan yang merasa perkaranya sudah kalah, yang berkata bahwa hidup mereka terlupakan Allah. "Menanti-nantikan" di sini bukan pasif; itu sikap orang yang tetap menaruh seluruh perkaranya di tangan Allah walaupun putusan belum kelihatan. Kekuatan yang dijanjikan bukan kekuatan untuk menghindari lelah, melainkan kekuatan baru yang terus disuplai di tengah perjalanan yang panjang.
Bukan janji hidup ringan, tetapi janji kekuatan yang diperbarui.
Panduan praktis membaca Kitab Yesaya
Enam puluh enam pasal terasa menakutkan kalau kamu mulai dari pasal 1 dan bertekad tidak berhenti sampai pasal 66. Ada cara yang lebih ramah.
Mulailah dari pasal 6. Bacalah panggilan Yesaya, lihat takhta itu, dan biarkan kata "Ini aku, utuslah aku" duduk dulu di hatimu selama beberapa hari. Sesudah itu bacalah pasal 1 dan 2, supaya kamu mengerti apa yang membuat Allah membuka perkara dengan umat-Nya. Lanjutkan ke pasal 7 sampai 12 untuk melihat Imanuel dan Raja dari tunggul Isai. Kalau kamu ingin mengerti latar sejarahnya secara utuh, bacalah pasal 36 sampai 39 bersama 2 Raja-raja 18 sampai 20; dua kisah itu berbicara satu sama lain.
Setelah itu masuk ke bagian yang paling menghibur. Bacalah pasal 40 secara utuh, sekali dalam hati dan sekali dengan suara nyaring; kitab ini ditulis untuk didengar. Kemudian ikuti keempat nyanyian tentang Hamba TUHAN dalam urutannya: pasal 42:1-9, pasal 49:1-6, pasal 50:4-9, dan pasal 52:13 sampai 53:12. Jangan buru-buru di pasal 53. Bacalah tujuh hari berturut-turut, satu ayat sehari, dan tuliskan setiap kata ganti "kita" yang kamu temukan. Lanjutkan ke pasal 55 sebagai undangan, dan pasal 61 sebagai pengumuman pembebasan yang dibacakan Yesus di Nazaret. Tutuplah dengan pasal 65 dan 66, lalu bacalah Wahyu 21 dan 22 sesudahnya, supaya kamu melihat bahwa kedua penglihatan itu memandang ke arah yang sama.
Untuk pembacaan sehari-hari, satu pasal per hari selama dua bulan sudah cukup. Bawalah tiga pertanyaan sederhana: apa yang dikatakan bagian ini tentang siapa Allah, apa yang dibongkarnya tentang hati manusia, dan ke arah mana ia menunjuk Kristus. Bila ada ucapan penghukuman terhadap bangsa-bangsa yang namanya sulit kamu lafalkan, jangan gugup. Tanyakan saja: kekuasaan apa yang di zamanku tampak mutlak, dan bagaimana kalau kekuasaan itu pun ternyata harus berdiri di hadapan Allah?
Cermin
Kamu mungkin datang ke Yesaya karena mencari Yesaya 40:31 untuk hari yang berat. Tidak apa-apa; ayat itu memang diberikan untuk hari-hari seperti itu. Tetapi izinkan kitab ini melakukan pekerjaannya yang lebih dalam, karena ia tidak hanya menghibur, ia juga membongkar.
Yesaya bertanya kepadamu tentang tempat kamu benar-benar bersandar. Yehuda beribadah dengan rajin dan sekaligus menandatangani perjanjian dengan Mesir, dan itu bukan cerita kuno. Kamu bisa ikut kebaktian setiap minggu dan tetap diam-diam yakin bahwa yang benar-benar menyelamatkan hidupmu adalah tabungan yang cukup, koneksi yang tepat, atau kemampuanmu bertahan tanpa mengeluh. Ketika keuangan goyang, apa yang pertama kali kamu buka: rekening atau Alkitab? Ketika anakmu bermasalah, siapa yang pertama kamu hubungi? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak dimaksudkan untuk membuatmu merasa bersalah, tetapi untuk menunjukkan di mana letak kursi sandaranmu yang sesungguhnya.
Yesaya juga menyentuh cara kamu beribadah. Pasal 1 dan pasal 58 mengatakan hal yang sama dengan keras: nyanyian yang tidak diikuti keadilan justru melelahkan Allah. Bagaimana kamu membayar upah orang yang bekerja untukmu? Bagaimana kamu berbicara tentang orang yang lebih miskin darimu di grup percakapan keluarga? Bagi Yesaya, tangan yang diangkat berdoa dan tangan yang menandatangani kontrak tidak boleh menjadi dua tangan yang berbeda.
Dan kalau kamu sedang lelah, dengarkan ini. Yesaya 1:18 masih berdiri: dosa yang paling melekat, yang paling kamu sesali, yang paling kamu sembunyikan bahkan dari orang yang tidur di sebelahmu, bukan dosa yang mustahil diputihkan. Kirmizi tetap kirmizi kalau kamu mencucinya sendiri. Karena itulah pasal 53 ditulis. Kamu tidak diminta membersihkan diri sebelum datang; kamu diminta datang dan berbantah dengan Allah sampai kamu mendengar putusan-Nya yang sebenarnya. Lalu, seperti Yesaya, kamu akan mendapati bahwa mulut yang telah dibersihkan tiba-tiba punya sesuatu untuk dikatakan.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kepada anak-anak, Yesaya bisa dijelaskan dengan sangat sederhana. Yesaya adalah seorang bapak yang bertugas menyampaikan pesan-pesan Allah kepada raja dan seluruh bangsanya, kira-kira tujuh ratus tahun sebelum Yesus lahir. Suatu hari ia melihat Allah duduk di takhta yang sangat besar dan sangat indah, dan ia merasa sangat kecil dan kotor. Tetapi Allah tidak mengusirnya. Allah membersihkan mulutnya, lalu bertanya siapa yang mau pergi membawa pesan-Nya, dan Yesaya menjawab, "Ini aku, utuslah aku."
Sesudah itu, hal yang paling menakjubkan: Allah memberi Yesaya bocoran tentang seorang Bayi yang akan lahir jauh di masa depan, seorang Raja Damai yang akan menolong semua orang. Yesaya juga menuliskan bahwa Raja itu akan disakiti supaya kita bisa disembuhkan. Ratusan tahun kemudian bayi itu lahir di Betlehem, dan nama-Nya Yesus. Jadi Yesaya seperti orang yang menggambar wajah Yesus jauh sebelum Yesus datang.
Anak yang lebih besar biasanya langsung bertanya bagaimana Yesaya bisa tahu. Itu pertanyaan bagus, dan jawabannya membuka percakapan indah tentang Allah yang memegang waktu dan tentang firman-Nya yang selalu terjadi seperti yang dijanjikan.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Kitab Yesaya untuk tiga kelompok umur: anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan bahasa gambar dan cerita pendek, anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun dengan penjelasan sejarah yang sederhana, dan remaja dua belas tahun ke atas yang siap membahas pertanyaan-pertanyaan yang lebih tajam tentang nubuat, penderitaan, dan panggilan hidup.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa yang menulis kitab Yesaya?
Kitab ini menyebut penulisnya sendiri: Yesaya bin Amos, seorang nabi yang melayani di Yerusalem pada masa raja Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia (Yesaya 1:1). Ia tampaknya berasal dari kalangan yang dekat dengan istana, karena ia berbicara langsung kepada raja dan memahami politik luar negeri Yehuda. Perjanjian Baru secara konsisten menyebut kitab ini sebagai tulisan "nabi Yesaya", termasuk ketika mengutip pasal 6 maupun pasal 53 dalam satu tarikan napas. Sebagian ahli modern mengusulkan keterlibatan murid-muridnya pada bagian akhir kitab, tetapi kesatuan pesan dan otoritasnya tetap terikat pada Yesaya.
Kapan kitab Yesaya ditulis?
Pelayanan Yesaya dimulai sekitar tahun 740 sebelum Kristus, pada tahun kematian raja Uzia, dan berlanjut setidaknya sampai masa pemerintahan Hizkia, jadi melewati tahun 701 sebelum Kristus ketika Yerusalem dikepung tentara Sanherib. Dengan demikian bahan kitab ini terbentuk sepanjang empat sampai lima dekade pelayanan, dan kemungkinan besar dikumpulkan serta disusun menjadi satu kitab oleh murid-muridnya sesudah itu. Bagian pasal 40 sampai 66 berbicara jauh ke depan, kepada umat yang akan berada di pembuangan Babel pada abad keenam sebelum Kristus.
Berapa pasal kitab Yesaya dan bagaimana pembagiannya?
Kitab Yesaya memiliki 66 pasal dan biasanya dibagi menjadi tiga bagian besar. Pasal 1 sampai 39 berlatar ancaman Asyur dan didominasi teguran, dakwaan, serta seruan agar umat percaya kepada Allah. Pasal 40 sampai 55 berisi penghiburan bagi umat di pembuangan, termasuk empat nyanyian tentang Hamba TUHAN. Pasal 56 sampai 66 berbicara kepada umat yang sudah pulang tetapi kecewa, dan memuncak pada janji langit yang baru dan bumi yang baru. Membaca kitab ini menurut tiga bagian tersebut membuat alurnya jauh lebih mudah diikuti.
Apa arti nama Yesaya?
Nama Yesaya berasal dari bahasa Ibrani Yesyayahu, yang berarti "TUHAN adalah keselamatan" atau "keselamatan dari TUHAN". Nama itu bukan kebetulan yang manis saja, sebab kata "selamat" dan "keselamatan" menjadi salah satu kata paling sering muncul dalam kitabnya. Sepanjang enam puluh enam pasal, Yesaya membongkar semua sumber keselamatan palsu, yaitu kekuatan militer, persekutuan politik, kekayaan, dan berhala, lalu mengarahkan umat kepada satu-satunya sumber yang sungguh menyelamatkan. Hidup dan nama nabi ini menyampaikan pesan yang sama.
Apakah benar kitab Yesaya ditulis oleh tiga orang berbeda?
Itu adalah usulan sebagian ahli sejak abad kedelapan belas, yang membagi kitab ini menjadi Yesaya pertama, kedua, dan ketiga, terutama karena pasal 40 dan seterusnya berbicara seolah pembuangan sudah berlangsung. Tradisi ortodoks memegang kesatuan kitab ini, dengan alasan yang kuat: gulungan Yesaya dari Qumran memuatnya sebagai satu kesatuan tanpa jeda, gaya dan kosakata khasnya mengalir dari awal sampai akhir, dan seluruh argumen pasal 41 sampai 48 justru bergantung pada kesanggupan Allah mengumumkan hal yang belum terjadi, termasuk nama Koresh.
Siapa Hamba TUHAN dalam Yesaya 53?
Dalam kitab Yesaya, gelar hamba kadang menunjuk kepada Israel sebagai umat yang dipanggil melayani Allah. Namun dalam Yesaya 52:13 sampai 53:12, Hamba itu jelas berbeda dari umat, sebab Ia menderita justru bagi umat itu, tanpa kesalahan pada diri-Nya sendiri. Perjanjian Baru membacanya secara langsung sebagai Yesus Kristus, dan pembacaan itu bukan tafsiran belakangan; Yesus sendiri memakai bahasa nas ini tentang diri-Nya, dan Filipus menjelaskan Injil kepada pejabat Etiopia tepat dari pasal ini dalam Kisah Para Rasul 8.
Apa arti Imanuel dalam Yesaya 7:14?
Imanuel berarti "Allah menyertai kita". Nama ini pertama-tama diberikan sebagai tanda kepada raja Ahas yang sedang panik menghadapi ancaman dua kerajaan tetangga: sebelum seorang anak yang segera dilahirkan itu cukup besar, ancaman itu sudah lewat. Tetapi nama itu terlalu besar untuk berhenti di situ, dan Matius 1:23 melihat penggenapan penuhnya dalam kelahiran Yesus dari seorang perawan. Dalam Yesus, Allah tidak hanya menolong dari kejauhan; Ia hadir sebagai manusia di tengah umat-Nya.
Mengapa kitab Yesaya disebut Injil Perjanjian Lama?
Sebutan itu muncul karena tidak ada kitab Perjanjian Lama lain yang menggambarkan karya keselamatan Kristus sejelas Yesaya: kelahiran-Nya, pengurapan-Nya oleh Roh, pelayanan-Nya kepada orang miskin dan remuk hati, penderitaan-Nya sebagai ganti orang berdosa, kematian-Nya di antara para pemberontak, dan kemuliaan-Nya sesudah itu. Ditambah lagi, Yesaya menawarkan keselamatan sebagai pemberian, bukan upah, seperti dalam undangan pasal 55 kepada orang yang tidak punya uang. Nada anugerah itulah yang membuat banyak pembaca merasa sedang membaca Injil sebelum Injil.
Apa makna Yesaya 40:31 tentang rajawali?
Ayat itu diucapkan kepada orang yang merasa perkaranya sudah kalah dan tenaganya sudah habis di pembuangan. Rajawali dipakai sebagai gambar karena burung itu naik dengan memanfaatkan arus udara, bukan dengan mengepakkan sayap sekuat-kuatnya. Itulah gambaran orang yang menanti-nantikan TUHAN: kekuatannya bukan dari dirinya sendiri, melainkan diberikan dan diperbarui. Janji di dalamnya bukan bahwa hidupmu akan menjadi ringan, tetapi bahwa kekuatan baru akan terus disuplai untuk perjalanan yang panjang, baik ketika kamu berlari maupun ketika kamu hanya sanggup berjalan.
Mengapa Yesus mengutip Yesaya 61:1 di Nazaret?
Karena nas itu adalah pengumuman resmi tentang siapa Dia dan apa yang datang bersama-Nya. Dalam Lukas 4, Yesus membaca tentang Roh yang mengurapi, kabar baik bagi orang sengsara, dan pembebasan bagi orang tawanan, lalu berkata bahwa nas itu digenapi pada hari itu. Dengan itu Ia menempatkan diri sebagai Sang Terurapi yang dinantikan, dan sekaligus menjelaskan bentuk pelayanan-Nya: bukan pemberontakan politik, melainkan pemulihan orang yang remuk. Kemarahan pendengarnya justru menunjukkan bahwa mereka mengerti klaim itu.
Apa hubungan Koresh dengan kitab Yesaya?
Koresh, raja Persia, disebut namanya dalam Yesaya 44:28 dan 45:1, jauh sebelum ia berkuasa. Ia bahkan disebut sebagai orang yang diurapi Allah untuk memerintahkan pembangunan kembali Yerusalem, dan kebijakannya pada tahun 538 sebelum Kristus memang mengizinkan orang-orang buangan pulang. Bagi kitab ini, penyebutan itu berfungsi sebagai bukti di ruang sidang: Allah Israel sanggup mengumumkan sejarah sebelum terjadi, sedangkan berhala-berhala bungkam. Sekaligus ini pengingat bahwa Allah dapat memakai penguasa yang tidak mengenal-Nya untuk menolong umat-Nya.
Apa perbedaan antara kitab Yesaya dan kitab Yeremia?
Keduanya nabi besar, tetapi zaman dan nadanya berbeda. Yesaya melayani di Yerusalem pada abad kedelapan sebelum Kristus, ketika ancaman datang dari Asyur dan kota itu masih diselamatkan. Yeremia melayani lebih dari seratus tahun kemudian, ketika Babel benar-benar meruntuhkan Yerusalem dan Bait Suci; ia menyaksikan kehancuran yang oleh Yesaya baru dinubuatkan. Karena itu Yesaya banyak berbicara tentang penghiburan dan pemulihan setelah penghukuman, sedangkan Yeremia banyak berbicara tentang air mata, ratapan, dan perjanjian baru yang dituliskan di dalam hati.
Ayat mana dalam kitab Yesaya yang paling sering dikutip?
Yang paling sering muncul dalam khotbah dan pelayanan sehari-hari adalah Yesaya 40:31 tentang kekuatan baru, Yesaya 41:10 tentang jangan takut, Yesaya 53:5 tentang bilur-bilur yang menyembuhkan, dan Yesaya 9:5 yang dibacakan hampir di setiap perayaan Natal. Dalam Perjanjian Baru, nas yang paling banyak dipakai adalah Yesaya 40:3 tentang suara yang berseru di padang gurun, Yesaya 6:9-10 tentang hati yang keras, dan seluruh pasal 53. Yang menarik, sebagian besar ayat favorit ini diucapkan kepada orang-orang yang sedang berada dalam keadaan paling putus asa.
Sebagai penutup
Kalau kamu hanya sempat mengingat satu hal dari halaman ini, ingatlah bentuk kitab ini: perkara dibuka, dakwaan dibacakan, terdakwa terdiam, dan kemudian Hakim itu sendiri berdiri, turun, dan memikul putusan itu di tubuh-Nya. "Marilah, baiklah kita berbantah!" bukan ancaman, melainkan pintu yang dibuka oleh Allah yang jauh lebih ingin mengampuni daripada yang kamu duga. Dan karena firman-Nya tidak pernah kembali dengan sia-sia, putusan pembebasan itu bukan wacana; ia berjalan sampai selesai, sampai ke langit dan bumi yang baru.
Bacalah kitab ini perlahan. Mulailah dari pasal 6, lalu pasal 40, lalu tujuh hari di pasal 53. Bawalah satu pertanyaan sederhana setiap kali: di ruang sidang ini, di mana aku berdiri, dan apa yang telah dilakukan Allah supaya aku bisa keluar dari sana sebagai saksi, bukan sebagai terhukum? Kalau kamu ingin melanjutkan, telusurilah keempat nyanyian tentang Hamba TUHAN, bandingkan dengan Lukas 4 dan Kisah Para Rasul 8, lalu tutup dengan Wahyu 21. Delapan abad sebelum Betlehem, Allah sudah menuliskan kabar baik-Nya. Ia masih membacakannya untukmu hari ini.