Takut akan Tuhan: Arti Sebenarnya, Tanda-Tandanya, dan Berkat yang Menyertainya
Pendahuluan
Pukul sebelas malam. Laporan keuangan sudah terbuka di layar, dan satu angka kecil saja bisa membuat semuanya "beres". Tidak ada yang akan tahu. Atasan tidak akan memeriksa, rekan kerja sudah pulang, dan sebenarnya semua orang di kantor itu melakukan hal yang sama. Yang menahan tangan Anda pada malam seperti itu bukanlah peraturan perusahaan, bukan pula rasa malu. Yang menahan tangan Anda adalah sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang oleh Alkitab disebut "takut akan Tuhan".
Banyak orang Kristen merasa tidak nyaman dengan ungkapan ini. Bukankah Allah itu kasih? Bukankah Yesus berkata "jangan takut"? Lalu mengapa Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, terus menerus memuji orang yang takut akan Tuhan dan menyebutnya permulaan dari segala hikmat?
Di halaman ini Anda akan menemukan apa arti sebenarnya dari takut akan Tuhan, bagaimana tema ini mengalir di seluruh Alkitab dan bermuara pada salib Kristus, kesalahpahaman apa saja yang perlu diluruskan, tanda-tandanya dalam hidup nyata, serta berkat-berkat yang dijanjikan kepada mereka yang memilikinya.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca takut akan Tuhan bukan sebagai rasa takut seorang budak terhadap cambuk, melainkan sebagai gentar seorang yang sudah diampuni. Ayat kuncinya adalah Mazmur 130:4: "Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang." Perhatikan logikanya yang mengejutkan: pengampunan tidak menghapus rasa takut, justru melahirkannya. Takut akan Tuhan yang sejati tidak tumbuh di bawah ancaman, melainkan di kaki salib, ketika kita melihat betapa mahalnya harga yang dibayar untuk dosa kita. Sudut pandang ini penting karena ia menyelamatkan kita dari dua jurang sekaligus: agama yang penuh ketakutan, dan kasih karunia yang murahan.
Apa kata Alkitab tentang takut akan Tuhan?
Alkitab tidak pernah memperlakukan takut akan Tuhan sebagai tema sampingan. Ia diletakkan di fondasi. Amsal 1:7 membuka seluruh kitab hikmat dengan kalimat yang menjadi pintu masuk: "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." Kata "permulaan" di sini bukan berarti tahap pemula yang nanti akan ditinggalkan, seolah-olah orang rohani yang sudah matang tidak lagi membutuhkannya. Yang dimaksud adalah titik awal, batu pertama, prinsip yang menentukan arah segalanya. Tanpa takut akan Tuhan, seseorang bisa sangat cerdas dan tetap bodoh; ia tahu banyak hal tetapi tidak tahu di hadapan Siapa ia hidup.
Mazmur 111:10 mengulangi hal yang sama dengan nuansa tambahan: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya." Dua kata kecil di tengah ayat itu sering terlewat: "yang melakukannya". Takut akan Tuhan bukan perasaan yang disimpan di dalam hati, melainkan sesuatu yang dikerjakan. Dan ujung ayat ini bukan ketakutan, melainkan puji-pujian. Orang yang takut akan Tuhan berakhir dengan mulut yang memuji, bukan dengan punggung yang membungkuk ketakutan.
Lalu apa isi dari takut akan Tuhan itu? Ulangan 10:12 memberi jawaban yang paling lengkap di seluruh Perjanjian Lama: "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya kepadamu, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu." Perhatikan bahwa Musa menempatkan "takut" dan "mengasihi" dalam satu tarikan napas. Dalam pikiran Alkitab, keduanya bukan lawan. Takut akan Tuhan adalah kasih yang tahu diri; kasih kepada Tuhan adalah takut yang hangat. Keduanya terwujud dalam hal yang sangat sehari-hari: berjalan di jalan-Nya dan beribadah dengan segenap hati.
Pengkhotbah menutup perjalanan panjangnya mencari makna hidup dengan kesimpulan yang sama. Setelah mencoba kekayaan, kesenangan, pengetahuan, dan kerja keras, dan setelah menemukan semuanya "kesia-siaan", ia berkata dalam Pengkhotbah 12:13: "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." Jadi takut akan Tuhan bukan hanya permulaan pengetahuan, melainkan juga akhir dari segala pencarian. Ia adalah lingkaran yang menutup hidup manusia: kita mulai di sana, dan ke sanalah kita pulang.
Kitab Amsal juga memberi definisi yang sangat praktis. Amsal 8:13 berkata: "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." Di sini takut akan Tuhan punya wajah etis yang tajam. Ia bukan getaran religius yang samar, melainkan kebencian yang nyata terhadap hal-hal yang Allah benci, dimulai dari kesombongan dalam diri sendiri.
Dan inilah yang paling mengejutkan: Alkitab menghubungkan takut akan Tuhan dengan keintiman, bukan dengan jarak. Mazmur 25:14 berkata: "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." Orang yang gentar di hadapan Allah justru dibawa masuk ke dalam lingkaran paling dalam. Di sinilah sudut pandang panduan ini mulai terasa: hanya hati yang tahu betapa kudusnya Allah yang sanggup menghargai betapa besarnya pengampunan-Nya. Dan hanya hati yang sudah diampuni yang berani mendekat dengan gentar tanpa melarikan diri.
Gentar yang sejati tidak pernah membuat kita lari.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Tema ini muncul sejak halaman-halaman awal Alkitab, dan menarik sekali bahwa penyebutan pertamanya keluar dari mulut Abraham ketika ia menilai sebuah kota asing. Dalam Kejadian 20:11 ia berkata: "Sebab pikirku: Takut akan Allah tidak ada di tempat ini; tentulah aku akan dibunuh karena isteriku." Abraham memakai takut akan Allah sebagai ukuran apakah sebuah masyarakat aman untuk ditinggali. Di mana tidak ada takut akan Allah, nyawa manusia menjadi murah.
Lalu di Kejadian 22:12, setelah Abraham mengangkat pisau atas Ishak, Allah berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Takut akan Allah di sini berarti: Allah lebih berharga dari apa pun yang paling kita cintai.
Keluaran menunjukkan wajah politiknya. Bidan-bidan Ibrani menentang perintah raja paling berkuasa di dunia saat itu, dan alasannya hanya satu. Keluaran 1:17 mencatat: "Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup." Takut akan Allah ternyata adalah sumber keberanian sipil. Orang yang takut kepada Allah berhenti takut kepada penguasa.
Di Sinai, ketika gunung bergetar dan bangsa itu gemetar ketakutan, Musa mengucapkan kalimat yang seakan bertentangan dalam Keluaran 20:20: "Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa." Jangan takut, supaya kamu takut. Yang pertama adalah teror yang membuat lari; yang kedua adalah hormat yang membuat tinggal dan taat. Seluruh Alkitab bergerak di antara dua kata itu.
Para nabi lalu membawa tema ini kepada seorang Pribadi. Yesaya 11:2 bernubuat tentang tunas dari tunggul Isai: "Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN." Mesias sendiri akan menjadi manusia yang sempurna dalam takut akan Tuhan. Dan Ibrani 5:7 mengatakan bahwa doa-doa Yesus didengarkan "karena kesalehan-Nya", kata yang dalam bahasa aslinya bernuansa hormat yang gentar. Di taman Getsemani kita melihatnya: Anak Allah berlutut, berpeluh darah, dan berkata bukan kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu.
Yesus pun mengajarkannya tanpa basa-basi. Matius 10:28 berbunyi: "Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka." Ayat ini bukan untuk menakut-nakuti murid, melainkan untuk membebaskan mereka dari ketakutan terhadap manusia. Satu rasa takut yang benar mengusir seratus rasa takut yang salah.
Lalu lahirlah jemaat. Dan Kisah Para Rasul 9:31 melukiskan kesehatan rohani gereja mula-mula dengan tiga ciri: "Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus." Damai, takut akan Tuhan, dan penghiburan Roh Kudus berjalan bersama di satu kalimat yang sama. Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang gemetar dengan sukacita.
Dan di akhir Alkitab, takut akan Allah menjadi isi pemberitaan Injil kekal. Wahyu 14:7 mencatat seruan malaikat: "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air." Dari Kejadian sampai Wahyu, benang merah itu tidak pernah putus; ia hanya makin jelas warnanya di kaki salib, di mana kekudusan dan kasih Allah bertemu dalam satu peristiwa.
Kesalahpahaman yang umum
Kesalahpahaman pertama, dan yang paling populer, adalah bahwa takut akan Tuhan hanya berarti "hormat". Penjelasan ini terdengar aman, tetapi ia memotong terlalu banyak. Alkitab memang tidak sedang menggambarkan orang yang panik di hadapan Allah, tetapi ia juga tidak sedang bicara tentang sopan santun rohani. Ketika Yesaya melihat Tuhan dalam Yesaya 6:5, ia tidak berkata "betapa saya menghormati Engkau", melainkan: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir." Ketika Petrus melihat kuasa Yesus dalam Lukas 5:8, ia tersungkur dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." Takut akan Tuhan selalu menyertakan kesadaran yang menggetarkan bahwa Allah itu kudus dan kita tidak. Yang hilang bukan rasa gentarnya, melainkan keputusasaannya, sebab di dalam Kristus gentar itu berujung pada pengampunan, bukan pada kebinasaan.
Kesalahpahaman kedua: takut akan Tuhan bertentangan dengan kasih, sehingga orang mengutip 1 Yohanes 4:18 untuk menyingkirkan tema ini: "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." Yohanes sedang bicara tentang ketakutan akan hukuman, ketakutan seorang terdakwa yang menanti vonis. Itu memang dilenyapkan oleh kasih Kristus. Tetapi Ulangan 10:12 sudah menempatkan takut dan kasih berdampingan, dan Mazmur 103:13 berkata: "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." Anak yang dikasihi bapanya tidak gemetar ketakutan, tetapi ia juga tidak kurang ajar. Justru di sinilah sudut pandang panduan ini: pengampunan tidak melunturkan gentar, ia memurnikannya.
Kesalahpahaman ketiga: takut akan Tuhan adalah urusan Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Baru hanya bicara kasih karunia. Padahal Paulus menulis dalam 2 Korintus 7:1: "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah." Ibrani 12:28 dan 29 berkata: "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." Perhatikan: justru karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan. Anugerah adalah alasan untuk gentar, bukan alasan untuk santai.
Kesalahpahaman keempat: orang yang takut akan Tuhan pasti hidupnya tegang, kaku, dan tidak bisa menikmati apa-apa. Alkitab mengatakan sebaliknya. Mazmur 112:1 berseru: "Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya." Amsal 14:26 menambahkan: "Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya." Takut akan Tuhan ternyata adalah rumah yang aman, bukan penjara. Orang yang gentar di hadapan Allah tidak perlu lagi gentar di hadapan atasan, tetangga, algoritma, atau masa depan.
Menghidupinya hari ini
Takut akan Tuhan jarang diuji di gereja pada hari Minggu. Ia diuji pada Selasa sore, di tempat-tempat yang tidak ada saksinya.
Di pekerjaan, takut akan Tuhan muncul sebagai integritas yang tidak bergantung pada pengawasan. Bidan-bidan di Keluaran 1 tidak punya pelindung, tidak punya pengacara, dan tidak punya jaminan apa pun kecuali keyakinan bahwa Allah melihat. Ketika Anda menolak menandatangani laporan yang dipoles, ketika Anda mengakui kesalahan yang sebenarnya bisa Anda sembunyikan, ketika Anda membayar pajak dengan jujur meski semua orang tertawa, Anda sedang mempraktikkan Amsal 8:13 secara konkret: membenci kejahatan, dimulai dari kejahatan yang menguntungkan diri sendiri.
Dalam keluarga, takut akan Tuhan terasa sebagai kesadaran bahwa anak-anak Anda bukan milik Anda. Abraham belajar hal ini dengan cara yang paling keras. Orang tua yang takut akan Tuhan tidak menjadikan anak sebagai proyek harga dirinya, dan tidak memakai kemarahan sebagai alat kekuasaan di rumah. Suami istri yang takut akan Tuhan saling merendahkan diri, seperti kata Efesus 5:21: "dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus."
Soal uang, takut akan Tuhan membongkar ilusi bahwa rekening bank adalah keamanan kita. Pengkhotbah sudah mencoba semua jalan itu dan pulang dengan tangan kosong, lalu menutup dengan Pengkhotbah 12:13. Orang yang takut akan Tuhan bisa memberi dengan lega, karena hidupnya tidak bergantung pada apa yang ia pegang.
Soal tubuh dan waktu, takut akan Tuhan berarti mengakui bahwa keduanya titipan. Anda tidak memiliki tubuh Anda sendiri, dan jam Anda akan dipertanggungjawabkan. Itu bukan beban; itu pembebasan dari tuntutan dunia yang tidak pernah puas.
Dan dalam kesepian, mungkin di sinilah tema ini paling menghibur. Maleakhi 3:16 mencatat sesuatu yang lembut: Allah menyimpan "sebuah kitab peringatan" bagi orang-orang yang takut akan Dia. Ketaatan Anda yang sunyi, yang tidak dilihat siapa pun dan tidak dihargai siapa pun, tercatat di hadapan-Nya. Anda tidak sedang menjalani kesalehan yang sia-sia.
Bagaimana cara menumbuhkannya? Alkitab menjawab dengan sederhana dan mengejutkan: ini bisa diajarkan. Mazmur 34:12 berkata: "Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!" Ia tumbuh lewat Firman yang dibaca dengan serius, lewat doa yang jujur, lewat merenungkan salib sampai kita berhenti menganggap dosa sebagai hal sepele, dan lewat persekutuan dengan orang-orang yang hidupnya membuat kita rindu lebih dekat kepada Allah.
Cermin
Mari jujur sejenak. Mungkin Anda termasuk orang yang sangat takut, hanya saja bukan kepada Tuhan. Anda takut kehilangan pekerjaan, takut tidak dianggap, takut dibicarakan di grup keluarga, takut tubuh Anda menua, takut masa tua tanpa uang, takut sendirian di hari Sabtu malam. Ketakutan-ketakutan itu mengatur jadwal Anda, isi dompet Anda, bahkan cara Anda berbicara di meja makan. Yesus tidak berkata kepada Anda "jangan takut apa pun". Ia berkata dalam Matius 10:28 bahwa ada Satu yang pantas ditakuti, dan justru rasa takut itulah yang akan memerdekakan Anda dari semua yang lain.
Dan mungkin Anda yang sebaliknya. Anda sudah terbiasa dengan Allah. Terlalu terbiasa. Anda bisa menyanyikan lagu tentang salib sambil memikirkan menu makan siang. Anda sudah lama tidak gemetar oleh apa pun dalam ibadah Anda. Dosa yang dulu membuat Anda menangis, kini Anda kelola dengan tenang: sedikit bohong di sini, sedikit kecanduan di sana, sedikit kepahitan yang Anda beri nama "realistis". Takut akan Tuhan adalah hal yang paling Anda butuhkan, dan paling Anda hindari.
Kabar baiknya begini. Jalan kembali bukan dengan memaksa diri merasa takut. Jalan kembali adalah berdiri lagi di depan salib dan melihat harga yang sudah dibayar. Mazmur 130:4 berkata: "Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang." Orang yang benar-benar mengerti bahwa ia diampuni tidak keluar dari ruangan itu dengan bahu yang tegak dan hati yang enteng. Ia keluar dengan lutut yang gemetar dan mata yang basah, dan untuk pertama kalinya ia tidak takut kepada apa pun yang lain.
Diampuni bukan alasan santai, melainkan alasan gentar.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sering menangkap tema ini lebih cepat daripada orang dewasa, asal kita tidak merusaknya dengan kata-kata yang menakutkan. Hindari gambaran Allah sebagai polisi yang menunggu anak berbuat salah. Yang perlu mereka dengar adalah bahwa Allah itu sangat besar dan sangat baik, dan karena Dia begitu besar dan begitu baik, kita menjadi hati-hati dengan apa yang kita lakukan, bukan karena Dia galak, melainkan karena kita menyayangi-Nya dan tidak mau membuat hati-Nya sedih.
Gambaran yang biasanya menolong adalah laut. Anak-anak suka laut, tetapi anak yang baik tidak berlari sembarangan ke ombak besar. Ia kagum sekaligus hati-hati. Ia menikmati laut justru karena ia tahu laut itu jauh lebih besar daripada dirinya. Begitulah hati yang takut akan Tuhan: penuh kagum, penuh senang, dan penuh hati-hati pada saat yang sama.
Untuk anak yang lebih besar, Amsal 1:7 bisa diperkenalkan dengan sederhana: kalau kita mau benar-benar pandai, kita harus mulai dengan mengenal Allah lebih dahulu. Dan ketika mereka bertanya tentang hukuman atau neraka, jawablah dengan jujur tetapi selalu bawa mereka pulang ke salib, tempat Yesus menanggung semuanya bagi kita.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus untuk berbagai usia: untuk anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun dengan bahasa gambar yang sangat sederhana, untuk anak sekolah dasar usia tujuh sampai dua belas tahun dengan contoh dari kehidupan mereka sehari-hari, dan untuk remaja usia dua belas tahun ke atas yang sudah siap membahas pertanyaan-pertanyaan sulit tentang kekudusan, kasih karunia, dan keberanian hidup berbeda di tengah teman-temannya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti sebenarnya dari takut akan Tuhan?
Takut akan Tuhan berarti hidup dengan kesadaran yang terus menerus bahwa Allah itu nyata, kudus, berkuasa, dan dekat. Ia mencakup rasa kagum yang menggetarkan, hormat yang mendalam, kebencian terhadap dosa, dan kepercayaan yang penuh kasih. Ulangan 10:12 menjelaskannya sebagai berjalan di jalan Allah, mengasihi Dia, dan beribadah dengan segenap hati. Jadi ini bukan perasaan panik, melainkan sikap hidup yang menentukan segala keputusan kita, terutama keputusan yang tidak dilihat siapa pun.
Apakah takut akan Tuhan berarti saya harus merasa ngeri kepada Allah?
Tidak. Alkitab membedakan dengan jelas antara teror yang membuat orang lari dari Allah dan gentar yang membuat orang mendekat dengan hormat. Keluaran 20:20 menangkap keduanya ketika Musa berkata jangan takut, supaya takut akan Dia ada pada bangsa itu. Bagi orang yang ada di dalam Kristus, ketakutan akan hukuman sudah dihapus oleh salib, tetapi rasa kagum yang kudus justru bertambah dalam. Semakin Anda mengenal pengampunan-Nya, semakin Anda tidak sanggup memperlakukan Dia dengan sembarangan.
Apa bedanya takut akan Tuhan dengan rasa takut biasa?
Rasa takut biasa menyempitkan hidup; takut akan Tuhan melebarkannya. Ketakutan biasa membuat kita mengecil, bersembunyi, dan mengatur hidup demi menghindari kehilangan. Takut akan Tuhan justru melahirkan keberanian, seperti pada bidan-bidan di Keluaran 1:17 yang berani melawan perintah Firaun. Matius 10:28 memakai prinsip yang sama: siapa yang takut kepada Allah tidak perlu lagi takut kepada manusia. Satu rasa takut yang benar mengusir banyak ketakutan yang salah.
Mengapa Amsal 1:7 menyebut takut akan Tuhan sebagai permulaan pengetahuan?
Karena semua pengetahuan dibangun di atas satu pertanyaan dasar: siapa Allah dan siapa saya. Amsal 1:7 berkata: "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan." Kata permulaan berarti titik awal sekaligus prinsip utama, bukan tahap pemula yang nanti ditinggalkan. Tanpa fondasi ini, seseorang bisa mengumpulkan banyak informasi tetapi tetap salah arah, karena ia tidak tahu untuk Siapa dan untuk apa semua pengetahuannya dipakai.
Apa hubungan takut akan Tuhan dengan hikmat?
Keduanya hampir tidak bisa dipisahkan dalam Alkitab. Mazmur 111:10 berkata: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik." Hikmat alkitabiah bukan sekadar kecerdasan, melainkan kemampuan menjalani hidup selaras dengan kenyataan, dan kenyataan paling dasar adalah bahwa Allah itu Allah dan kita bukan. Orang yang gentar di hadapan Allah akhirnya belajar mengambil keputusan yang tepat tentang uang, waktu, lidah, dan relasi, karena ia mengukur semuanya dari sudut pandang kekekalan.
Apakah orang Kristen yang sudah diselamatkan masih perlu takut akan Tuhan?
Justru paling perlu. Kisah Para Rasul 9:31 menggambarkan jemaat mula-mula yang "dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan" bersamaan dengan penghiburan Roh Kudus. Paulus mendorong orang percaya dalam 2 Korintus 7:1 untuk menyempurnakan kekudusan "dalam takut akan Allah", dan Ibrani 12:28 memanggil kita beribadah "dengan hormat dan takut" justru karena kita sudah menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan. Keselamatan tidak menghapus gentar; ia mengubah gentar dari ketakutan akan hukuman menjadi kekaguman anak yang dikasihi.
Benarkah kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan?
Benar, tetapi perlu dibaca dengan teliti. 1 Yohanes 4:18 berkata: "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." Yang dilenyapkan adalah ketakutan seorang terdakwa yang menanti vonis, bukan rasa kagum yang kudus. Buktinya, Alkitab yang sama menempatkan takut dan kasih berdampingan dalam Ulangan 10:12, dan Mazmur 103:13 menggambarkan Tuhan sayang seperti bapa kepada orang yang takut akan Dia.
Apa saja berkat bagi orang yang takut akan Tuhan?
Alkitab menjanjikan banyak hal: hikmat dan akal budi yang baik menurut Mazmur 111:10, ketenteraman dan perlindungan menurut Amsal 14:26, keintiman dengan Allah menurut Mazmur 25:14 yang berkata bahwa Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, serta kebahagiaan menurut Mazmur 112:1. Amsal 14:27 bahkan menyebutnya sumber kehidupan yang menjauhkan orang dari jerat maut. Berkat terbesarnya bukan kenyamanan, melainkan kedekatan: Allah membukakan hati-Nya kepada orang yang menghormati-Nya.
Apa tanda-tanda seseorang takut akan Tuhan?
Tandanya kelihatan di tempat tersembunyi. Ia jujur ketika kebohongan tidak akan ketahuan, cepat mengakui dosa tanpa membela diri, membenci kesombongannya sendiri sesuai Amsal 8:13, dan menghormati orang lain tanpa memandang jabatan. Ia juga berani berkata tidak kepada hal yang salah meski harus kehilangan sesuatu. Tanda yang paling halus namun paling jelas adalah ini: ia tidak bisa memperlakukan Firman Allah dengan sembarangan, dan hatinya tetap lembut saat mendengar tentang salib Kristus.
Apakah Yesus Kristus juga takut akan Tuhan?
Ya, dan Dia melakukannya dengan sempurna. Yesaya 11:2 bernubuat tentang Mesias: "Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN." Ibrani 5:7 mengatakan doa-doa-Nya didengarkan karena kesalehan-Nya, yang dalam bahasa aslinya mengandung arti hormat yang gentar. Di Getsemani kita melihat wujudnya: Dia menyerahkan kehendak-Nya sendiri kepada Bapa. Karena itu takut akan Tuhan bagi kita bukan prestasi, melainkan buah dari hidup Kristus yang dikerjakan Roh Kudus dalam diri kita.
Bagaimana cara menumbuhkan takut akan Tuhan dalam hidup sehari-hari?
Mulailah dari Firman yang dibaca pelan dan serius, bukan sekadar dilewati. Mazmur 34:12 menunjukkan bahwa takut akan Tuhan bisa diajarkan dan dipelajari. Tambahkan doa yang jujur, pengakuan dosa yang spesifik, dan kebiasaan merenungkan salib sampai dosa berhenti terasa sepele. Bergaullah dengan orang percaya yang hidupnya membuat Anda rindu kepada Allah. Dan latihlah ketaatan dalam hal kecil yang tak terlihat, karena di situlah hati kita sebenarnya terbentuk.
Mengapa Pengkhotbah menyebut takut akan Allah sebagai kewajiban setiap orang?
Karena setelah mencoba segala jalan untuk menemukan makna, penulis Pengkhotbah menemukan bahwa hanya satu hal yang bertahan. Pengkhotbah 12:13 berkata: "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." Kata "setiap orang" penting: ini bukan panggilan khusus untuk pendeta atau orang saleh, melainkan panggilan untuk seluruh umat manusia. Hidup di hadapan Allah adalah satu-satunya cara hidup yang tidak berakhir sia-sia.
Apa hubungan takut akan Tuhan dengan pertumbuhan gereja?
Hubungannya lebih erat daripada yang kita kira. Kisah Para Rasul 9:31 menyebut tiga hal sekaligus pada jemaat yang bertumbuh: keadaan damai, hidup dalam takut akan Tuhan, dan penghiburan Roh Kudus. Jemaat yang menganggap serius kekudusan Allah biasanya juga menganggap serius Injil, pertobatan, dan kasih kepada sesama. Sebaliknya, gereja yang kehilangan rasa gentar cenderung kehilangan pesan yang mengubahkan. Pertumbuhan yang sehat lahir dari hati yang kagum, bukan dari strategi yang pintar.
Sebagai penutup
Takut akan Tuhan bukan sisa dari agama lama yang perlu kita buang setelah mengenal kasih karunia. Ia justru adalah bentuk paling dewasa dari kasih karunia yang dimengerti dengan sungguh-sungguh. Orang yang benar-benar tahu bahwa ia diampuni tidak keluar dari ruang pengampunan dengan sikap enteng; ia keluar dengan hati yang gemetar oleh kagum dan dengan keberanian baru untuk hidup jujur. Itulah yang dikatakan Mazmur 130:4: pengampunan Allah justru melahirkan rasa takut yang kudus.
Kalau Anda ingin menelusuri tema ini lebih jauh, bacalah Mazmur 111 dan 112 secara berurutan; keduanya dirancang sebagai pasangan yang menunjukkan bagaimana karakter Allah membentuk karakter orang yang takut akan Dia. Lanjutkan ke Amsal 1 sampai 9 untuk melihat wajah praktisnya, lalu tutup dengan Ibrani 12 untuk melihat bagaimana semuanya bermuara pada Kristus.
Mulailah di kaki salib, dan gentar itu akan datang sendiri.
