Tokoh Alkitab

Siapa Yesus Kristus Menurut Alkitab: Pribadi, Karya, dan Mengapa Ia Penting

Pendahuluan

Di banyak rumah di Indonesia, nama Yesus tergantung di dinding ruang tamu, tertulis di kalender, atau terselip dalam doa yang diucapkan setengah berbisik pada jam dua pagi ketika seorang ibu menunggu hasil pemeriksaan dokter. Nama itu juga muncul di grup WhatsApp keluarga, dalam perdebatan yang panas dan sering kali tanpa penyelesaian. Ada yang menyebut Dia guru moral. Ada yang menyebut Dia nabi. Ada yang menyebut Dia Tuhan dan Juruselamat, lalu tidak yakin bagaimana menjelaskannya kepada tetangga.

Pertanyaan "siapa Yesus Kristus" ternyata bukan pertanyaan akademis. Ia menyentuh cara kita mati, cara kita mengampuni, cara kita bekerja hari Senin. Halaman ini menelusuri hidup-Nya dari Betlehem sampai takhta, membaca kesaksian Alkitab dengan jujur, dan menunjukkan mengapa jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa dititipkan kepada orang lain.

Sudut pandang panduan ini

Panduan ini tidak berangkat dari pertanyaan kita tentang Yesus, melainkan dari pertanyaan yang Yesus ajukan tentang diri-Nya sendiri. Di Kaisarea Filipi Ia bertanya dua kali: pertama "kata orang", lalu "apa katamu". Seluruh Alkitab bergerak di antara dua pertanyaan itu. Ada opini publik tentang Yesus yang selalu sopan namun selalu terlalu kecil, dan ada pengakuan pribadi yang mengubah segalanya. Karena itu setiap bagian di halaman ini membaca hidup Yesus sebagai undangan untuk berpindah dari baris pertama ke baris kedua: dari apa yang orang katakan, kepada apa yang engkau katakan.

"Kata orang" tidak pernah cukup untuk menyelamatkan siapa pun.

Apa kata Alkitab tentang Yesus Kristus?

Alkitab tidak memperkenalkan Yesus dengan tanggal lahir, tetapi dengan kekekalan. Yohanes membuka Injilnya begitu: "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 1:1). Tiga kalimat pendek, tiga langkah besar. Firman itu sudah ada sebelum ada apa pun. Firman itu berbeda dari Allah, sebab Ia bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu bukan sesuatu yang lebih rendah dari Allah, sebab Firman itu adalah Allah. Lalu, tanpa peringatan, Yohanes menulis pada ayat 14 bahwa "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." Yang kekal itu memakai kulit, tulang, air mata, dan alamat rumah di Nazaret.

Paulus melukiskan hal yang sama dari sudut penciptaan. "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang terutama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan," tulisnya, dan ia melanjutkan: "segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia" (Kolose 1:15-17). Nas ini tidak berhenti di penciptaan. Ia berakhir di salib: "oleh Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus" (Kolose 1:20). Tangan yang menggantung bintang-bintang adalah tangan yang dilubangi paku.

Surat Ibrani menambahkan satu kalimat yang layak dihafal seumur hidup: "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi" (Ibrani 1:3). Perhatikan urutannya: Yesus bukan pantulan samar dari Allah yang jauh, Ia adalah cahaya kemuliaan itu sendiri; Ia menopang alam semesta; Ia menyelesaikan penyucian dosa; lalu Ia duduk. Ia duduk karena pekerjaan itu tuntas, bukan karena lelah.

Dari klaim setinggi itu lahirlah kalimat yang paling sering dianggap keras: "Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yohanes 14:6). Yesus tidak berkata bahwa Ia menunjukkan jalan, mengajarkan kebenaran, dan memberi tips hidup. Ia berkata bahwa Ia adalah jalan itu, kebenaran itu, hidup itu. Kalau Yohanes 1:1 dan Kolose 1:15-20 dan Ibrani 1:3 benar, kalimat ini justru satu-satunya yang logis. Yang menciptakan segala sesuatu memang tidak bisa menjadi salah satu pilihan di antara banyak pilihan.

Dan di tengah semua pernyataan itu, Yesus sendiri berbalik dan bertanya kepada murid-murid-Nya: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:15-16). Alkitab tidak menyodorkan data tentang Yesus supaya kita menilai; Alkitab menghadirkan Yesus supaya kita mengaku.

Benang merah yang mengalir dalam Alkitab

Perjanjian Lama tidak menyebut nama Yesus, tetapi ia terus-menerus membentuk ruang seukuran Dia. Segera setelah manusia jatuh, Allah berbicara tentang keturunan perempuan yang akan meremukkan kepala si ular (Kejadian 3:15). Sejak itu Alkitab menjadi kisah tentang seorang yang dijanjikan: benih Abraham yang membawa berkat bagi segala bangsa, Anak Domba Paskah yang darahnya membuat kematian melewati sebuah rumah, ular tembaga di padang gurun yang menyembuhkan setiap orang yang memandangnya, keturunan Daud yang takhtanya kekal.

Para nabi memperjelas gambar itu sampai terasa hampir tidak masuk akal. Yesaya menyebut seorang anak yang akan lahir dan diberi nama Allah yang Perkasa dan Raja Damai (Yesaya 9:5), lalu di pasal 53 ia melukiskan Hamba yang dihina dan ditolak: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia tertindas oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:5). Mikha menunjuk sebuah desa kecil bernama Betlehem. Daniel melihat seorang seperti Anak Manusia menerima kekuasaan kekal. Zakharia melihat raja yang datang menunggang keledai. Semua serpihan ini tidak pernah menyatu dalam satu tokoh Perjanjian Lama, tidak dalam Musa, tidak dalam Daud, tidak dalam Yeremia.

Perjanjian Baru membuka dengan mengumpulkan serpihan itu. Matius memulai dengan daftar keturunan yang menghubungkan Yesus kepada Abraham dan Daud, lalu mencatat pesan malaikat kepada Yusuf: "Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkaulah yang akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Matius 1:21). Yesus sendiri menegaskan hal ini pada hari kebangkitan-Nya, ketika Ia berjalan bersama dua orang yang putus asa ke Emaus: "Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi" (Lukas 24:27).

Di sini sudut pandang panduan ini muncul kembali. Selama berabad-abad umat Allah hidup dengan "kata orang" tentang Mesias: harapan, tafsiran, kerinduan politik, gambaran pahlawan yang gagah. Ketika Ia akhirnya datang, banyak orang tidak mengenali-Nya, bukan karena Perjanjian Lama kurang jelas, tetapi karena Ia lebih rendah dan sekaligus lebih agung daripada yang diduga siapa pun. Kitab Wahyu menutup ceritanya dengan gambar yang merangkum semuanya: Ia yang duduk di atas takhta alam semesta tampil sebagai Anak Domba yang seperti telah disembelih. Kemuliaan dan luka tidak pernah dipisahkan lagi.

Perjalanan hidup-Nya: dari Betlehem sampai takhta

Ia lahir di kandang karena tidak ada tempat, di sebuah desa yang tidak diperhitungkan, pada masa Kaisar Agustus mengadakan sensus. Yang pertama diberi kabar bukan para imam, melainkan gembala-gembala yang sedang bekerja malam. Tidak lama kemudian keluarga-Nya menjadi pengungsi di Mesir karena seorang raja ingin membunuh bayi itu. Awal hidup Yesus sudah menyingkapkan pola seluruh hidup-Nya: Allah datang dari bawah, lewat pinggiran, dan langsung berhadapan dengan kekuasaan yang mengancam.

Lalu ada sekitar tiga puluh tahun yang hampir sunyi di Nazaret. Lukas mencatat satu kalimat yang sederhana namun penting: "Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Lukas 2:52). Ia belajar bahasa dari ibu-Nya, belajar pekerjaan dari ayah angkat-Nya, memegang gergaji dan kayu. Pada usia dua belas tahun Ia sudah tahu siapa Bapa-Nya dan berkata kepada orang tua-Nya bahwa Ia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya. Namun tetangga-Nya tidak melihat apa-apa yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian, ketika Ia berkhotbah di kampung sendiri, mereka bertanya sinis: "Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?" (Markus 6:3). Itulah "kata orang" dalam bentuknya yang paling akrab dan paling meremehkan.

Pelayanan-Nya di depan publik dimulai di sungai Yordan. Ketika Yohanes Pembaptis membaptis Dia, terdengar suara dari sorga yang menyebut Dia Anak yang dikasihi dan yang berkenan kepada-Nya. Yang menarik: pengakuan Bapa datang sebelum Yesus melakukan satu mukjizat pun. Sesudah itu Roh membawa Dia ke padang gurun, empat puluh hari, lapar, dicobai. Iblis menawarkan jalan pintas menuju kemuliaan tanpa salib, dan Yesus menolak dengan Kitab Suci.

Di Galilea Ia mulai berseru bahwa waktunya telah genap dan Kerajaan Allah sudah dekat. Ia memanggil nelayan, seorang pemungut cukai, orang-orang biasa. Ia menyembuhkan penyakit kusta dengan sentuhan yang menurut hukum agama seharusnya membuat-Nya najis, tetapi justru orang kusta itu yang menjadi tahir. Ia makan bersama orang berdosa, mengampuni dosa dengan wibawa yang membuat para ahli Taurat gemetar, meredakan angin ribut, membangkitkan anak perempuan Yairus. Ia juga keras: Ia mengusir pedagang dari Bait Allah, menyebut sebagian pemimpin agama sebagai kubur bercat putih, dan mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat banyak murid meninggalkan Dia. Yesus yang sesungguhnya tidak pernah hanya lembut.

Titik balik terjadi di Kaisarea Filipi. Ia bertanya, "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" (Matius 16:13). Jawabannya semuanya terhormat: Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia, salah seorang nabi. Semuanya juga salah. Baru sesudah itu Ia mempersempit ruang: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" (Matius 16:15). Dan tepat setelah Petrus mengaku, Yesus mulai berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya. Pengakuan yang benar dan salib selalu diberikan satu paket.

Perjalanan terakhir menuju Yerusalem penuh dengan hal yang tampak seperti kekalahan. Ia masuk kota di atas keledai, disambut sorak-sorai yang lima hari kemudian berubah menjadi tuntutan hukuman mati. Di ruang atas Ia mengambil roti dan cawan dan menjelaskan kematian-Nya sebelum kematian itu terjadi. Di Getsemani Ia berlutut dan berdoa: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42). Ia dikhianati oleh sahabat, ditinggalkan murid-murid, disangkal oleh Petrus yang tadi mengaku dengan begitu yakin, diadili secara tidak sah, dicambuk, dan disalibkan di luar kota.

Di kayu salib Ia menanggung yang tidak bisa kita ukur. "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Markus 15:34). Lalu, sesudah semuanya, satu kata: "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Dan justru di depan salib itu, bukan di depan mukjizat, seorang perwira Romawi mengucapkan pengakuan yang menakjubkan: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!" (Markus 15:39). Orang yang paling jauh dari Kitab Suci mengaku ketika ia melihat cara Yesus mati.

Pada hari ketiga kubur itu kosong. Paulus meringkas inti kabar itu: "ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci" (1 Korintus 15:3-4). Ia menampakkan diri kepada perempuan-perempuan, kepada murid-murid, kepada lebih dari lima ratus orang. Tomas yang menuntut bukti akhirnya jatuh dan berkata: "Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28). Empat puluh hari kemudian Ia naik ke sorga, mengutus Roh Kudus pada hari Pentakosta, dan sekarang, seperti kata Ibrani 1:3, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar. Ia akan datang kembali. Hidup-Nya belum selesai dikisahkan; kita ada di dalam bab yang sedang berjalan.

Inti hidupnya

Tiga momen memikul seluruh berat hidup Yesus, dan ketiganya adalah momen ketika pertanyaan identitas dijawab secara terbuka.

Yang pertama adalah inkarnasi. Paulus menuliskannya dalam sebuah nyanyian: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Filipi 2:5-7). Ia tidak berhenti menjadi Allah; Ia berhenti mempertahankan hak-hak-Nya. Inilah tempat kita harus jujur tentang kelemahan Yesus. Ia sungguh lelah sampai tertidur di perahu yang terguncang. Ia lapar. Ia menangis di kubur Lazarus, dan Yohanes mencatatnya dalam tiga kata: "Maka menangislah Yesus" (Yohanes 11:35). Ia dicobai dengan sungguh-sungguh, sebab Imam Besar kita "sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibrani 4:15). Kelemahan-Nya nyata sebagai kerapuhan manusia, bukan sebagai kegagalan moral. Ia tidak pernah berdosa, dan itu bukan detail kecil, itulah yang membuat kematian-Nya sanggup menanggung dosa orang lain.

Yang kedua adalah salib. Nyanyian Filipi melanjutkan: "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Filipi 2:8). Yesus sendiri menjelaskan artinya: "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45). Bagi mata dunia, ini titik ketika semua "kata orang" terbukti benar: seorang guru dari Galilea yang gagal. Bagi mata iman, ini titik ketika Allah paling jelas terlihat.

Ia turun bukan karena terpaksa, melainkan karena kasih.

Yang ketiga adalah kebangkitan dan peninggian. "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!" (Filipi 2:9-11). Perhatikan akhir dari nyanyian itu. Pada akhirnya tidak akan ada lagi "kata orang". Setiap lidah akan mengaku. Pertanyaan yang Yesus ajukan di Kaisarea Filipi akan dijawab oleh seluruh alam semesta. Satu-satunya pilihan yang kita miliki adalah kapan kita menjawabnya: sekarang, dengan sukacita, atau nanti, ketika semuanya sudah nyata.

Yang kita pelajari dari Yesus Kristus

Pertama, kita belajar bahwa mengenal Yesus selalu bersifat pribadi. Petrus tidak bisa mengaku atas nama kelompok, dan kita tidak bisa mengaku atas nama keluarga, gereja, atau kartu identitas. Banyak orang di Indonesia tumbuh dengan nama Yesus di kolom agama tanpa pernah sekali pun menjawab pertanyaan-Nya sendiri. Sebaliknya, ada orang yang tumbuh tanpa Alkitab di rumah lalu bertemu Dia dan tidak bisa berhenti bercerita. Yohanes menulis Injilnya justru supaya orang percaya dan memperoleh hidup di dalam nama-Nya. Iman itu bukan warisan otomatis, melainkan tanggapan yang harus keluar dari mulut dan hati kita sendiri.

Kedua, kita belajar bahwa kerendahan hati adalah bentuk keagungan, bukan lawannya. Filipi 2 tidak diberikan sebagai bahan renungan Natal, melainkan sebagai obat bagi jemaat yang sedang bertengkar soal siapa yang paling penting. Yesus memiliki segala hak untuk menuntut, dan Ia memilih membasuh kaki. Itu mengubah cara kita memandang jabatan di kantor, urutan bicara dalam rapat gereja, dan siapa yang mencuci piring di rumah. Kalau Allah sendiri turun, orang Kristen yang sibuk mempertahankan gengsi sedang bergerak berlawanan arah dengan Tuhannya.

Ketiga, kita belajar bahwa penderitaan bukan tanda Allah menjauh. Karena Yesus lelah, menangis, dicobai, dan ditinggalkan, tidak ada satu pun kegelapan kita yang asing bagi-Nya. Ketika seorang bapak kehilangan pekerjaan, ketika seorang perempuan muda dihina karena tubuhnya, ketika seseorang duduk di rumah sakit menemani orang yang mungkin tidak akan pulang, Kristus bukan penonton yang bersimpati dari jauh. Ia adalah Imam Besar yang pernah berdoa dengan lutut di tanah Getsemani. Iman kepada Yesus tidak menjanjikan hidup tanpa salib; ia menjanjikan bahwa salib bukan lagi akhir cerita.

Cermin

Sekarang izinkan saya menaruh pertanyaan itu di depan Anda, bukan di depan orang lain. Bukan "kata orang", tetapi "apa katamu". Siapakah Yesus bagi Anda, bukan dalam pengakuan iman yang Anda hafal sejak kecil, melainkan dalam keputusan yang Anda ambil minggu ini?

Kalau Ia adalah Tuhan atas segala sesuatu, maka Ia juga Tuhan atas laporan keuangan yang Anda rapikan supaya terlihat baik, atas cara Anda berbicara kepada pasangan ketika Anda kelelahan, atas jam sebelas malam ketika tangan Anda memegang ponsel dan hati Anda tahu bahwa ini bukan hal yang membangun. Kalau Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya, maka hidup Anda tidak bergantung pada seberapa keras Anda mengendalikan segalanya. Itu bisa terasa menyakitkan bagi orang yang sudah lama membanggakan kemandirian.

Tetapi ada sisi lain, dan sisi itu adalah kelegaan. Yesus berkata "Sudah selesai" sebelum Anda melakukan apa pun untuk membayar dosa Anda. Anda tidak sedang mencicil pengampunan. Anda tidak perlu memantaskan diri lebih dahulu sebelum datang. Ia menerima Petrus kembali sesudah penyangkalan yang memalukan, dan Ia tidak menyimpan catatan itu untuk dipakai nanti.

Mungkin Anda kesepian. Mungkin Anda merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apa yang Anda tanggung. Yesus tahu. Ia pernah ditinggalkan oleh semua orang yang paling dekat dengan-Nya, dalam malam yang paling Ia butuhkan. Dan Ia tetap memilih untuk tidak turun dari salib.

Jangan tunda jawaban Anda sampai Anda punya semua argumen. Petrus juga belum mengerti banyak hal ketika ia berkata, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup." Ia hanya menjawab dengan apa yang ia sudah lihat. Mulailah dari sana.

Dijelaskan untuk anak-anak

Anak-anak tidak membutuhkan istilah teologis untuk mengenal Yesus, tetapi mereka membutuhkan kejujuran. Untuk anak kecil, ceritanya bisa dimulai dari yang paling konkret: Allah sangat mengasihi kita, dan Ia ingin begitu dekat sehingga Ia datang sendiri sebagai bayi bernama Yesus. Yesus tumbuh seperti anak-anak lain, Ia punya ibu, Ia belajar bekerja, Ia pernah lapar dan pernah menangis. Ia menyembuhkan orang sakit, memberkati anak-anak yang oleh orang dewasa dianggap mengganggu, dan Ia selalu berkata benar. Lalu Ia mati di kayu salib bukan karena Ia bersalah, melainkan supaya kesalahan kita diampuni, dan pada hari ketiga Ia hidup kembali. Sekarang Ia hidup dan mendengar doa kita.

Yang perlu dihindari adalah menyederhanakan Yesus menjadi tokoh dongeng yang baik hati saja. Anak-anak sanggup memahami bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, terutama jika kita menghubungkannya dengan pengalaman mereka sendiri: seseorang yang mengasihi biasanya mau turun ke bawah, berjongkok, menyamakan tinggi mata. Itulah yang Allah lakukan di dalam Yesus.

Setiap usia butuh bahasa yang berbeda. Anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun paling terbantu oleh cerita bergambar dan pengulangan yang hangat. Anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun mulai menanyakan bukti, urutan peristiwa, dan alasan mengapa salib diperlukan. Remaja dua belas tahun ke atas berhadapan dengan pertanyaan teman-temannya dan butuh jawaban yang tidak menghindar. Untuk itu tersedia penjelasan khusus per kelompok usia, sehingga Anda bisa memilih yang paling pas dengan anak yang duduk di depan Anda.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah Yesus Kristus itu Allah atau manusia?

Alkitab menjawab keduanya, tanpa mengurangi salah satunya. Yohanes 1:1 menyatakan bahwa Firman itu adalah Allah, dan Yohanes 1:14 menyatakan bahwa Firman itu menjadi manusia. Ibrani 1:3 menyebut Dia cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah, sementara Ibrani 4:15 menegaskan bahwa Ia dicobai seperti kita, hanya tidak berbuat dosa. Gereja sejak awal menolak dua jalan pintas: menjadikan Yesus manusia hebat saja, atau menjadikan Dia Allah yang hanya menyerupai manusia. Ia sungguh Allah dan sungguh manusia dalam satu Pribadi, dan justru karena itu Ia dapat menjadi Penengah antara Allah dan kita.

Apa arti nama Yesus dan gelar Kristus?

"Yesus" berasal dari nama Ibrani Yesua atau Yosua, yang berarti "Tuhan menyelamatkan". Malaikat menjelaskan artinya kepada Yusuf: "engkaulah yang akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Matius 1:21). "Kristus" bukan nama keluarga, melainkan gelar; kata Yunani itu menerjemahkan kata Ibrani "Mesias", yang berarti Yang Diurapi. Dalam Perjanjian Lama raja, imam, dan nabi diurapi dengan minyak sebagai tanda diutus Allah. Ketika kita berkata "Yesus Kristus", kita sebenarnya sedang membuat pengakuan: Juruselamat ini adalah Raja yang dijanjikan itu.

Mengapa Yesus disebut Anak Allah?

Gelar itu tidak berarti Allah mempunyai anak secara biologis. Dalam Alkitab, "Anak Allah" menyatakan hubungan yang unik dan hakikat yang sama: Yesus berasal dari Bapa, mengenal Bapa sepenuhnya, dan menyatakan Bapa dengan sempurna. Karena itu Petrus mengaku, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" (Matius 16:16), dan karena itu para pemimpin agama menuduh Yesus menghujat ketika Ia menyebut Allah sebagai Bapa-Nya sendiri. Kolose 1:15 menjelaskannya dengan cara lain: Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Melihat Yesus berarti melihat siapa Allah sesungguhnya.

Benarkah Yesus benar-benar ada dalam sejarah?

Ya, dan hal ini diakui secara luas, termasuk oleh sejarawan yang tidak beriman kepada-Nya. Selain empat Injil dan surat-surat Perjanjian Baru yang ditulis dalam satu generasi setelah peristiwanya, ada rujukan dari penulis non-Kristen seperti Tacitus, Suetonius, dan sejarawan Yahudi Yosefus, yang menyebut Yesus dan kematian-Nya pada masa Pontius Pilatus. Yang menjadi perdebatan bukanlah apakah Yesus hidup, melainkan siapa Dia. Dan itu memang pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan oleh arsip sejarah saja, sebab Yesus sendiri mengarahkannya kepada hati setiap orang.

Mengapa Yesus harus mati di kayu salib?

Karena dosa bukan kesalahan administratif yang bisa dihapus tanpa biaya. Dosa merusak hubungan dengan Allah yang kudus dan mendatangkan kematian. Yesus menjelaskan kematian-Nya sebagai tebusan: Ia datang "untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:45). Yesaya 53:5 sudah melukiskannya jauh sebelumnya: Ia tertikam karena pemberontakan kita. Kolose 1:20 menambahkan tujuan besarnya, yaitu pendamaian oleh darah salib Kristus. Salib bukan kecelakaan yang menimpa rencana Allah; salib adalah rencana itu, tempat keadilan dan kasih bertemu tanpa saling membatalkan.

Apa bedanya Yesus dengan nabi-nabi lain?

Para nabi berkata, "Beginilah firman Tuhan." Yesus berkata, "Aku berkata kepadamu." Nabi menunjuk kepada Allah; Yesus menyatakan bahwa siapa yang melihat Dia telah melihat Bapa. Para nabi menyampaikan pesan keselamatan; Yesus adalah keselamatan itu, seperti dalam Yohanes 14:6: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." Nabi mati dan dikuburkan; Yesus mati, dikuburkan, lalu dibangkitkan pada hari yang ketiga. Ibrani 1:3 merangkumnya: sesudah Ia menyelesaikan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Allah, sesuatu yang tidak pernah dikatakan tentang seorang nabi mana pun.

Benarkah Yesus pernah berkata bahwa Ia Tuhan?

Ia mengatakannya, meskipun sering tidak dengan rumusan yang kita harapkan. Ia mengampuni dosa, yang hanya bisa dilakukan Allah. Ia menerima penyembahan. Ia menyebut diri Tuhan atas hari Sabat. Kepada orang-orang Yahudi Ia berkata, "sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada" (Yohanes 8:58), dan mereka langsung ingin melempari Dia dengan batu karena mereka mengerti maksudnya. Ketika Tomas berseru, "Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28), Yesus tidak menegurnya dan tidak meralatnya. Ia justru menyebut berbahagia orang yang percaya tanpa melihat.

Bagaimana saya bisa tahu bahwa Yesus benar-benar bangkit?

Bukti terkuat bukan sebuah dokumen, melainkan sekelompok orang yang berubah total. Murid-murid yang bersembunyi karena takut tiba-tiba berkhotbah di Yerusalem, kota tempat kubur itu bisa diperiksa siapa saja, dan mereka bersedia mati untuk kesaksian itu. Kubur itu kosong, dan Ia menampakkan diri kepada banyak saksi, termasuk lebih dari lima ratus orang seperti dicatat dalam 1 Korintus 15. Tambahan lagi, Saulus si penganiaya dan Yakobus yang skeptis berubah menjadi pengikut. Iman kepada kebangkitan bukan lompatan buta; ia bertumpu pada kesaksian yang bisa diuji dan pada pertemuan pribadi yang berlanjut sampai hari ini.

Apa maksud Yesus dengan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup"?

Kalimat itu diucapkan kepada murid-murid yang gelisah karena Ia akan pergi, dan Tomas bertanya jalan mana yang harus mereka tempuh. Jawaban Yesus memindahkan pertanyaan dari peta ke Pribadi. Ia tidak memberi rute, Ia memberi diri-Nya. Sebagai jalan, Ia membuka akses kepada Bapa melalui salib-Nya. Sebagai kebenaran, Ia bukan hanya benar, Ia adalah kenyataan tentang Allah yang menjadi terlihat. Sebagai hidup, Ia membangkitkan orang yang mati secara rohani. Bagian keduanya memang eksklusif, tetapi undangannya terbuka untuk siapa saja yang mau datang.

Apakah Yesus punya saudara?

Injil menyebut nama-nama saudara-Nya, antara lain Yakobus, Yoses, Yudas, dan Simon, serta saudara-saudara perempuan (Markus 6:3). Selama pelayanan Yesus mereka tidak percaya kepada-Nya, bahkan pernah menganggap Dia tidak waras. Yang menakjubkan, sesudah kebangkitan Yakobus menjadi pemimpin jemaat di Yerusalem dan menulis surat yang membuka dengan menyebut dirinya hamba Yesus Kristus. Perubahan seorang saudara kandung dari penolakan menjadi penyembahan adalah salah satu petunjuk paling jujur bahwa sesuatu yang sangat nyata telah terjadi pada hari ketiga itu.

Di mana Yesus sekarang dan apa yang Ia lakukan?

Ibrani 1:3 mengatakan bahwa sesudah menyelesaikan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar. "Duduk" menandakan pekerjaan penebusan sudah tuntas; "di sebelah kanan" menandakan kekuasaan. Di sana Ia bukan sedang beristirahat pasif. Ia memerintah, Ia menjadi kepala jemaat menurut Kolose 1:18, dan Ia berdoa bagi umat-Nya sebagai Imam Besar. Ia juga hadir melalui Roh Kudus yang diberikan-Nya pada hari Pentakosta. Dan Alkitab menutup dengan janji bahwa Ia akan datang kembali secara nyata untuk memperbarui segala sesuatu.

Bagaimana cara mengenal Yesus secara pribadi?

Mulailah dengan membaca satu Injil dari awal sampai akhir, misalnya Markus atau Yohanes, dan bacalah seolah Anda diperkenalkan kepada seseorang, bukan sedang mengumpulkan informasi. Sambil membaca, berbicaralah kepada-Nya dengan jujur, termasuk tentang keraguan Anda. Akui bahwa Anda membutuhkan pengampunan dan percayakan diri Anda kepada apa yang Ia kerjakan di salib. Lalu carilah orang-orang yang mengikut Dia, sebab iman tumbuh dalam persekutuan, bukan dalam kesendirian. Petrus tidak mengenal Yesus lewat penjelasan yang lengkap, melainkan lewat berjalan bersama Dia cukup lama untuk berani menjawab pertanyaan-Nya.

Sebagai penutup

Seluruh Alkitab pada akhirnya menyodorkan satu pertanyaan yang tidak bisa kita lemparkan kembali. Bukan "menurut para ahli", bukan "menurut tradisi keluarga saya", bukan "menurut mayoritas di kampung ini", melainkan "apa katamu, siapakah Aku ini". Yesus mengajukan pertanyaan itu di Kaisarea Filipi, dan Ia terus mengajukannya di ruang tamu, di kamar rumah sakit, di kantor, di tengah malam yang panjang.

Yang membuat pertanyaan itu bukan ancaman melainkan anugerah adalah ini: Dia yang bertanya sudah lebih dahulu turun mencari kita. Yohanes 1:1 memperkenalkan Firman yang kekal; Filipi 2:5-11 menunjukkan Firman itu mengosongkan diri sampai mati di kayu salib lalu ditinggikan di atas segala nama; Kolose 1:15-20 menempatkan salib itu di pusat pemulihan seluruh ciptaan. Kita tidak diminta memanjat menuju Allah. Kita diminta mengaku.

Yang bangkit itu adalah Dia yang disalibkan bagi kita.

Kalau Anda ingin melangkah lebih jauh, ambil Injil Yohanes dan bacalah perlahan selama beberapa minggu, satu pasal sehari, dengan satu pertanyaan di tangan: siapa yang saya lihat di halaman ini. Lalu jawablah dengan nama-Nya, dengan mulut Anda sendiri.

Bagikan halaman ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter
Ayat harian

Bacaan dan renungan di kotak masuk Anda setiap pagi

Setiap pagi Anda menerima bacaan Alkitab dengan renungan singkat untuk mengawali hari Anda. Sudah 3.658 orang membaca bersama.

Anda akan menerima email konfirmasi terlebih dahulu. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja dengan satu klik.

5.584
Bagian Alkitab yang dibuka bersama
Sudah 30 renungan baru hari ini

Dinding perenungan

Apa yang menyentuh Anda dalam Kitab Suci? Apa yang bisa kami doakan? Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan?

Wawasan Editorial pada ZEFANYA 1:2

Aku pasti akan menyapu bersih segala sesuatu dari muka bumi," firman TUHAN. Kalimat pembuka tanpa basa-basi. Terdengar seperti zaman Nuh…

Wawasan Editorial pada MALEAKHI 2:3

Bayangkan kotoran korban, bagian yang seharusnya dibuang jauh ke luar perkemahan, justru dilemparkan ke wajah para imam. "Aku akan melemparkan…

Doa Editorial pada EZRA 7:7

Tuhan, terima kasih untuk perjalanan yang tidak kutempuh sendirian. Ada yang memimpin, ada yang bernyanyi, ada yang menjaga pintu, dan…

Wawasan Editorial pada TITUS 3:6

Yang telah Allah curahkan ke atas kita dengan limpah melalui Kristus Yesus, Juru Selamat kita." Perhatikan kata dicurahkan. Bukan ditetesi,…

Syukur Editorial pada 2 TIMOTIUS 1:9

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau menyelamatkan aku dan memanggilku dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatanku, melainkan berdasarkan rencana dan anugerah-Mu…

Wawasan Editorial pada KELUARAN 10:19

Angin yang membawa belalang, angin juga yang membuangnya. "Tidak ada seekor belalang pun yang tersisa di seluruh wilayah Mesir." Tuhan…

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun studi Alkitab dan renungan. Seluruh isi dihasilkan dari teks Alkitab itu sendiri dan diperiksa setiap hari oleh kontrol mutu otomatis yang independen: sampel acak dari setiap situs bahasa dinilai berdasarkan kesetiaan pada Kitab Suci, kutipan Alkitab yang harfiah, bahasa dan kejelasan, serta hasilnya dipublikasikan tanpa disunting. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan yang tanpa cela dan kesalahan tetap dapat terjadi. Tidak ada yang di platform ini yang merupakan nasihat profesional, dan tidak ada hak yang dapat diturunkan dari isinya. Selalu uji apa yang Anda baca dengan Alkitab itu sendiri, dan gunakan Faith.network sebagai pelengkap, bukan pengganti, studi Alkitab pribadi, doa, dan kehidupan jemaat lokal Anda. Sanggahan lengkap dan Ketentuan Penggunaan kami berlaku. Lihat pemeriksaan mutu harian kami

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami