Topik

Kesembuhan Ilahi Menurut Alkitab: Doa bagi Orang Sakit dan Ketika Tuhan Belum Menyembuhkan

Pendahuluan

Jam dua pagi, lampu lorong rumah sakit menyala temaram, dan seseorang sedang duduk di kursi plastik di samping ranjang ibunya. Di tangannya ada ponsel yang sudah dibuka-tutup puluhan kali, dan di layarnya ada ayat yang dikirim seorang teman: "oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Ayat itu terasa seperti pelukan dan sekaligus seperti tamparan. Kalau memang benar, mengapa ibunya masih terbaring? Apakah doanya kurang keras? Imannya kurang besar?

Mungkin Anda pernah duduk di kursi itu. Mungkin Anda sedang duduk di sana sekarang. Pertanyaan tentang kesembuhan jarang datang sebagai pertanyaan teologis yang rapi; ia datang dengan bau antiseptik, hasil lab, dan air mata yang tidak sempat dilap.

Halaman ini mengajak Anda menelusuri apa yang sungguh-sungguh Alkitab katakan tentang kesembuhan: dari Keluaran sampai Wahyu, dari ruang doa sampai ruang ICU. Anda akan menemukan dasar untuk berdoa dengan berani, dan sekaligus dasar untuk tetap berdiri ketika jawabannya belum datang.

Sudut pandang panduan ini

Panduan ini membaca kesembuhan sebagai panjar kebangkitan. Dalam Alkitab, setiap kesembuhan bukanlah akhir cerita, melainkan uang muka: cicilan pertama dari tubuh baru yang Allah janjikan pada hari Kristus datang. Itu sebabnya kita boleh berdoa dengan keberanian penuh, sebab panjar itu nyata dan Tuhan sanggup memberikannya hari ini juga. Dan itu pula sebabnya kita tidak hancur ketika pelunasannya belum tiba, sebab tubuh yang masih sakit bukan bukti bahwa Allah menolak, melainkan tanda bahwa kita masih hidup di antara "sudah" dan "belum". Sudut pandang ini menjaga kita dari dua jurang: iman yang memaksa, dan pasrah yang mati rasa.

Apa kata Alkitab tentang kesembuhan ilahi?

Alkitab tidak pernah memperlakukan kesembuhan sebagai topik medis. Sejak awal, kesembuhan adalah soal siapa Allah. Kata pertama yang menentukan muncul di padang gurun, hanya beberapa hari setelah Israel keluar dari Mesir, ketika air di Mara terlalu pahit untuk diminum. Di sanalah Tuhan memperkenalkan diri dengan nama yang mengejutkan: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau" (Keluaran 15:26).

Perhatikan bahwa Tuhan tidak berkata "Aku memberi kesembuhan" seolah-olah kesembuhan adalah barang yang terpisah dari diri-Nya. Ia berkata: Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau. Kesembuhan adalah nama-Nya, karakter-Nya, kecenderungan hati-Nya. Allah tidak netral terhadap penyakit. Ia bukan penonton yang sesekali tergerak. Seluruh arah hati-Nya adalah pemulihan, karena penyakit dan kematian bukan bagian dari dunia yang Ia sebut "sungguh amat baik" di Kejadian 1.

Dari pengakuan itulah lahir doa-doa Israel. Daud menulis, "Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu," (Mazmur 103:3). Kedua hal itu diletakkan berdampingan dengan sengaja. Pengampunan dan kesembuhan bukan dua jalur berbeda; keduanya adalah dua sisi dari satu karya pemulihan yang sama. Allah tidak hanya ingin membereskan rekening dosa kita lalu membiarkan tubuh kita membusuk. Ia mau manusia utuh: hati yang bersih dan tubuh yang hidup.

Tetapi Mazmur 103 juga ditulis oleh orang yang tahu bahwa manusia itu "seperti rumput" dan akan layu. Daud tidak sedang menjanjikan bahwa tidak seorang pun di Israel akan pernah mati karena sakit. Ia sedang menyanyikan arah: Allah yang sama yang mengampuni adalah Allah yang menyembuhkan, dan janji itu akan dituntaskan sampai ke sumsum tulang kita.

Puncak janji itu diucapkan oleh Yesaya, tujuh abad sebelum Kristus, dalam nyanyian tentang Hamba yang menderita: "Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:5). Inilah ayat yang paling sering dikutip, dan paling sering salah dipakai. Konteksnya jelas: pemberontakan, kejahatan, keselamatan. "Sembuh" di sini adalah kesembuhan total manusia yang rusak oleh dosa, dan luka Kristus adalah harganya.

Lalu Matius mengutip Yesaya itu dengan cara yang membuat kita berhenti. Setelah Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus dan banyak orang pada malam yang sama, Matius berkomentar: "Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."" (Matius 8:17). Perhatikan: Matius menerapkan Yesaya 53 bukan pada salib, melainkan pada pelayanan penyembuhan Yesus sebelum salib. Artinya, karya penebusan Kristus memang menjangkau tubuh, bukan hanya jiwa. Penyakit ada di dalam daftar hal yang Ia pikul.

Di sinilah panjar itu masuk. Yesus menyembuhkan orang-orang di Kapernaum bukan untuk memberi mereka tubuh abadi; ibu mertua Petrus akhirnya tetap meninggal. Kesembuhan itu adalah tanda jadi, cicipan pertama dari dunia yang akan datang. Dan Perjanjian Baru menutup lingkaran ini dengan perintah yang sangat praktis: "Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan" (Yakobus 5:14). Jemaat tidak diminta berspekulasi tentang kedaulatan Allah. Jemaat diminta berdoa, mengurapi, dan percaya.

Allah tidak netral terhadap penyakit; Ia melawannya.

Benang merah yang mengalir dalam Alkitab

Mulailah dari taman. Kejadian 1 dan 2 tidak mengenal rumah sakit, karena tidak mengenal penyakit. Setelah Kejadian 3, segalanya berubah: tubuh manusia mulai berjalan menuju debu. Semua kisah kesembuhan dalam Alkitab berdiri di atas latar ini. Penyakit adalah penyusup, bukan penghuni asli.

Di Perjanjian Lama, kesembuhan datang sebagai tanda yang jarang tetapi tegas. Musa berdoa bagi Miryam yang kena kusta di Bilangan 12. Hana yang mandul dibuka rahimnya. Elia dan Elisa membangkitkan anak janda dan menyembuhkan Naaman si panglima Aram, seorang asing yang harus turun ke Sungai Yordan tujuh kali sebelum dagingnya pulih. Hizkia yang divonis mati berpaling ke dinding dan menangis, lalu Tuhan menambahkan lima belas tahun pada hidupnya di 2 Raja-raja 20. Namun di tengah semua itu berdirilah Ayub, orang benar yang tubuhnya dipenuhi barah dari telapak kaki sampai ke batu kepalanya, dan yang tidak pernah mendapat penjelasan. Kitab Ayub sengaja ditaruh di tengah Alkitab supaya kita tidak pernah membangun rumus sederhana: saleh berarti sehat, sakit berarti berdosa.

Para nabi kemudian mengangkat kesembuhan ke level yang lebih besar. Yesaya menubuatkan zaman ketika mata orang buta akan dicelikkan dan telinga orang tuli dibuka, dan orang lumpuh akan melompat seperti rusa. Hosea dan Yeremia memakai bahasa kesembuhan untuk luka bangsa yang berpaling dari Allah. Kesembuhan tubuh dan kesembuhan hati bangsa menyatu dalam satu pengharapan: Tuhan akan datang dan membereskan semuanya.

Lalu Ia datang. Dan hal pertama yang mencolok dari pelayanan Yesus adalah betapa banyak waktu-Nya habis untuk tubuh manusia. Ia menjamah orang kusta, sesuatu yang membuat-Nya najis menurut hukum, dan justru kenajisan itu yang berbalik menjadi kesembuhan. Ia menyembuhkan pada hari Sabat berulang kali, seakan ingin menegaskan bahwa hari perhentian Allah memang diciptakan untuk pemulihan. Ia memulihkan wanita yang dua belas tahun pendarahan, dan Ia menangis di kubur Lazarus sebelum memanggilnya keluar. Ketika murid-murid-Nya bertanya tentang orang buta sejak lahir, siapa yang berdosa, Yesus menolak seluruh kerangka pertanyaan itu: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia" (Yohanes 9:3).

Namun Yesus tidak mengosongkan kolam Betesda. Di Yohanes 5, di serambi itu berbaring banyak orang sakit, dan Ia menyembuhkan satu. Ia tidak datang untuk menghapus semua penyakit dari muka bumi pada kedatangan pertama-Nya. Ia datang untuk menanam tanda-tanda. Setiap mata yang terbuka, setiap kaki yang berjalan, adalah papan petunjuk ke arah kebangkitan.

Para rasul melanjutkan pelayanan itu dengan kuasa yang nyata, dari orang lumpuh di Gerbang Indah sampai bayang-bayang Petrus di jalan. Tetapi surat-surat mereka juga memperlihatkan sisi yang jujur: Timotius sering sakit lambung, Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus, dan Epafroditus hampir mati sehingga Paulus menyebut kesembuhannya sebagai belas kasihan Allah, bukan sesuatu yang otomatis. Paulus sendiri, yang tangannya dipakai Tuhan untuk menyembuhkan orang lain, membawa duri dalam dagingnya sampai akhir.

Dan semuanya bermuara di Wahyu, di kota yang di tengah jalannya mengalir sungai air kehidupan, dengan pohon-pohon yang daunnya "dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa" (Wahyu 22:2). Di sana air mata dihapus, dan maut tidak ada lagi. Alkitab tidak berakhir dengan jiwa-jiwa yang melayang, melainkan dengan tubuh yang dibangkitkan di bumi yang baru. Itulah pelunasan penuh dari panjar yang sudah kita terima.

Kesalahpahaman yang umum

"Kalau imanmu cukup, kamu pasti sembuh." Ini kesalahpahaman paling menyakitkan, karena ia menambah beban di atas orang yang sudah hancur. Memang Yesus beberapa kali berkata, "imanmu telah menyelamatkan engkau." Tetapi Ia juga menyembuhkan orang yang sama sekali tidak meminta, seperti orang lumpuh di Betesda yang bahkan tidak tahu siapa Dia. Ia membangkitkan Lazarus yang sudah mati dan jelas tidak punya iman lagi untuk dipakai. Dan ketika Paulus tiga kali memohon supaya durinya diangkat, jawabannya bukan teguran atas kurangnya iman, melainkan: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Korintus 12:9). Kalau kurang iman adalah sebab utama orang tidak sembuh, Paulus akan menjadi contoh pertama yang ditegur, bukan contoh pertama yang dihibur.

"Penyakit selalu akibat dosa tertentu." Alkitab memang mengakui adanya hubungan antara dosa dan penderitaan tubuh. Mazmur 32 menggambarkan tulang yang menjadi lesu karena dosa yang disembunyikan, dan Yakobus 5:15 menyebut kemungkinan adanya dosa yang perlu diampuni. Tetapi Yesus secara eksplisit memutus rumus otomatis itu di Yohanes 9. Ayub dinyatakan benar oleh Allah sendiri justru sebelum penderitaannya dimulai. Mencari-cari dosa tersembunyi di balik setiap diagnosis bukanlah kerohanian; itu pekerjaan para sahabat Ayub, dan Allah menegur mereka, bukan Ayub.

"Kesembuhan sudah dibayar di salib, jadi menerima penyakit sama dengan menolak penebusan." Di sini sudut pandang panjar menolong kita. Benar, penebusan Kristus mencakup tubuh kita; Yesaya 53:5 dan Matius 8:17 tidak bisa dikecilkan menjadi urusan rohani belaka. Tetapi Roma 8 menjelaskan bahwa kita yang sudah menerima "karunia sulung Roh" masih mengeluh sambil menantikan "penebusan tubuh kita". Kata sulung dan kata menanti berdiri bersama dalam satu kalimat. Kita sudah memegang panjarnya; pelunasannya datang pada kebangkitan. Berdoa untuk kesembuhan hari ini adalah meminta cicilan itu dipercepat, dan itu permintaan yang mulia. Tetapi menuntutnya sebagai hak yang pasti cair sekarang berarti memindahkan hari kebangkitan ke dalam kalender kita sendiri.

"Berobat ke dokter berarti kurang percaya Tuhan." Lukas, penulis Injil ketiga, disebut Paulus sebagai tabib yang kekasih. Paulus menasihati Timotius menambahkan sedikit anggur untuk pencernaannya yang terganggu di 1 Timotius 5:23. Yesaya menyuruh orang menaruh kue ara pada barah Hizkia, dan Hizkia pun sembuh. Yakobus 5:14 bahkan menggabungkan doa dengan minyak, sebuah bahan yang pada zaman itu memang dipakai sebagai obat. Alkitab tidak pernah mempertentangkan doa dengan obat. Keduanya datang dari tangan yang sama.

Menghidupinya hari ini

Jadi bagaimana ini bekerja pada hari Selasa pagi, ketika hasil biopsi keluar, atau ketika anak Anda demam untuk kelima kalinya bulan ini?

Pertama, beranilah meminta dengan jelas. Banyak orang Kristen berdoa dengan begitu banyak pagar pengaman sampai doanya tidak lagi meminta apa-apa. "Tuhan, biarlah kehendak-Mu jadi" memang doa Yesus di Getsemani, tetapi ingatlah bahwa kalimat itu didahului oleh permintaan yang sangat lugas: "ambillah cawan ini dari pada-Ku". Yesus meminta dulu, baru menyerah. Mintalah kesembuhan dengan nama penyakitnya, dengan tanggalnya, dengan air mata Anda. Hizkia menangis di dinding dan Tuhan berkata Ia melihat air mata itu.

Kedua, lakukan apa yang Yakobus perintahkan. Jangan sakit sendirian. Hubungi penatua atau pemimpin rohani di gereja Anda, mintalah mereka datang, berdoa, dan mengurapi dengan minyak dalam nama Tuhan. Ini bukan ritual magis; minyak itu bukan obat ajaib. Ini adalah tanda yang bisa disentuh bahwa Anda tidak ditinggalkan, bahwa seluruh tubuh Kristus berdiri bersama Anda. Dalam praktiknya, banyak orang Indonesia lebih cepat mencari "orang pintar" daripada memanggil penatua jemaatnya sendiri. Alkitab menunjuk ke arah yang berlawanan: ke ruang tamu Anda, dengan saudara seiman yang berlutut di sebelah sofa.

Ketiga, pakailah sarana yang Tuhan sediakan tanpa rasa bersalah. Minum obat Anda. Datang ke kontrol. Jalani kemoterapi itu. Tidur cukup. Tubuh Anda bukan musuh kerohanian Anda; tubuh Anda adalah bait Roh Kudus yang sedang dirawat.

Keempat, belajarlah merawat orang lain dengan hadir, bukan dengan menjelaskan. Kebanyakan orang sakit tidak butuh teori tentang mengapa. Mereka butuh seseorang yang mau mengantar makanan, menemani antre di poliklinik, mengirim pesan singkat yang tidak menuntut balasan. Ayub terhibur selama tujuh hari pertama, ketika sahabat-sahabatnya diam. Masalah mulai timbul saat mereka membuka mulut.

Kelima, ketika kesembuhan belum datang, pindahkan permintaan Anda tanpa menghentikannya. Teruslah meminta kesembuhan, dan sambil menunggu, mintalah hal yang Paulus terima: kasih karunia yang cukup untuk hari ini. Banyak orang Kristen yang paling bercahaya yang pernah saya temui adalah mereka yang tubuhnya tidak pernah pulih, tetapi yang hatinya belajar bersandar sepenuhnya.

Cermin

Saya ingin berbicara langsung kepada Anda sekarang.

Mungkin Anda termasuk orang yang diam-diam berhenti berdoa untuk tubuh Anda. Bukan karena Anda tidak percaya Allah sanggup, tetapi karena Anda lelah berharap dan dikecewakan. Lebih aman tidak meminta daripada meminta lalu menangis lagi. Jika itu Anda, dengarlah ini: Tuhan tidak pernah menyebut Anda lancang karena meminta terlalu banyak. Ia menyebut diri-Nya Tuhan yang menyembuhkan. Mintalah lagi. Ia tidak akan menganggap Anda bodoh.

Atau mungkin Anda ada di sisi sebaliknya. Anda sudah mengklaim ayat-ayat kesembuhan dengan keras, berpuasa, menolak mengucapkan kata "sakit", dan berusaha percaya sekuat tenaga. Dan di balik semangat itu ada ketakutan yang melelahkan: jangan-jangan kalau saya mengaku lemah sebentar saja, kesembuhan itu batal. Itu bukan iman, itu beban. Iman bukan tenaga yang Anda produksi untuk memaksa tangan Allah; iman adalah tangan kosong yang terulur kepada Pribadi yang baik. Anda boleh berkata, "Tuhan, saya takut," dan tetap percaya.

Dan mungkin Anda sehat. Anda membaca halaman ini bukan karena diagnosis, tetapi karena seseorang yang Anda kasihi sedang menunggu. Perhatikan bagaimana Anda memakai tubuh yang masih kuat itu: untuk lembur tanpa henti, untuk mengejar angka, untuk memperbaiki penampilan? Tubuh Anda juga sedang berjalan menuju debu, dan satu-satunya alasan ia akan bangkit kembali adalah karena ada Seseorang yang tubuh-Nya diremukkan lebih dulu.

Pertanyaan yang tersisa bukan apakah Allah sanggup menyembuhkan. Pertanyaannya adalah: maukah Anda mempercayakan tubuh Anda, dan waktu Anda, kepada Dia yang memegang kedua ujung cerita ini?

Iman bukan tenaga yang memaksa, melainkan tangan yang terulur.

Dijelaskan untuk anak-anak

Anak-anak sering bertanya tentang hal ini lebih awal daripada yang kita kira, biasanya saat nenek masuk rumah sakit atau saat teman sekelas tidak masuk berminggu-minggu. Mereka tidak butuh pembahasan tentang "sudah dan belum"; mereka butuh gambar yang bisa dipegang.

Salah satu cara yang sederhana adalah berbicara tentang dunia yang rusak dan sedang diperbaiki. Dulu, waktu Allah membuat dunia, tidak ada yang sakit sama sekali. Lalu manusia memilih jalannya sendiri dan semuanya jadi retak, termasuk tubuh kita. Yesus datang membawa perbaikan itu. Waktu Dia menyentuh orang sakit dan mereka sembuh, itu seperti Dia sedang membuka sedikit tirai untuk menunjukkan: beginilah nanti semuanya, di dunia baru yang Dia siapkan.

Lalu katakan juga bagian yang jujur: kadang kita berdoa dan orang yang kita sayangi sembuh, dan kita bersorak. Kadang kita berdoa dan mereka belum sembuh, atau pulang ke rumah Yesus. Itu bukan karena doa kita kurang bagus, dan bukan karena Yesus tidak sayang. Itu karena perbaikan besar itu belum selesai. Suatu hari nanti tidak akan ada lagi rumah sakit, tidak ada obat, tidak ada air mata.

Yang paling penting bagi anak adalah izin untuk tetap berdoa dan izin untuk tetap sedih. Keduanya boleh ada bersama-sama.

Untuk setiap usia, tekanan dan bahasanya berbeda. Anak prasekolah usia tiga sampai enam tahun lebih tertolong oleh cerita dan pelukan daripada penjelasan. Anak usia sekolah tujuh sampai dua belas tahun mulai bertanya "kenapa" dan mau tahu apakah ini salah mereka. Remaja dua belas tahun ke atas sering bergumul dengan keadilan Allah dan dengan teman yang kehilangan orang tua. Tersedia penjelasan khusus untuk ketiga kelompok usia ini, sehingga Anda bisa memilih yang paling cocok untuk anak di depan Anda.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa arti "oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" dalam Yesaya 53:5?

Ayat ini berbicara tentang Hamba Tuhan yang menanggung hukuman atas pemberontakan dan kejahatan kita, sehingga kesembuhan yang dimaksud mencakup pemulihan manusia seutuhnya, mulai dari hubungan kita dengan Allah sampai tubuh kita sendiri. Petrus mengutipnya untuk pengampunan dosa di 1 Petrus 2:24, sedangkan Matius mengutip bagian yang sama untuk pelayanan penyembuhan Yesus di Matius 8:17. Keduanya benar. Luka Kristus adalah dasar bagi seluruh pemulihan, dan kita sudah menikmati sebagian darinya sekarang, sambil menantikan kegenapannya pada kebangkitan.

Apakah setiap orang percaya pasti disembuhkan kalau imannya cukup besar?

Tidak, dan Alkitab sendiri yang memberi contohnya. Paulus tiga kali memohon supaya duri dalam dagingnya diangkat, dan jawaban Tuhan adalah kasih karunia yang cukup, bukan kesembuhan (2 Korintus 12:9). Timotius sering sakit, Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit, dan Epafroditus nyaris mati. Iman memang penting dan Yesus sering memujinya, tetapi iman bukan alat ukur yang menentukan apakah Allah wajib bertindak. Iman mengarahkan kita kepada Pribadi yang baik, bukan memaksa tangan-Nya mengikuti jadwal kita.

Apakah penyakit selalu merupakan hukuman atas dosa?

Tidak selalu. Alkitab mengakui bahwa dosa bisa berdampak pada tubuh, dan Yakobus 5:15 menyebut kemungkinan ada dosa yang perlu diampuni. Tetapi Yesus menolak tegas rumus otomatis ketika murid-murid-Nya bertanya tentang orang buta sejak lahir, dan menjawab bahwa bukan dia maupun orang tuanya yang berbuat dosa. Kitab Ayub juga sengaja memperlihatkan orang benar yang menderita tanpa penjelasan. Jika Anda sakit, langkah pertama bukanlah menuduh diri sendiri, melainkan datang kepada Tuhan dengan hati terbuka dan jujur.

Mengapa Tuhan belum menyembuhkan saya padahal saya sudah berdoa bertahun-tahun?

Alkitab tidak selalu memberi alasan, dan kejujuran itu sendiri adalah bentuk kasih. Yang Alkitab berikan adalah kepastian bahwa penundaan bukan penolakan, dan bahwa kesembuhan penuh sudah dijamin di dalam Kristus walaupun tanggalnya belum tiba. Dalam Roma 8 kita disebut sudah menerima karunia sulung Roh namun masih mengeluh sambil menantikan penebusan tubuh. Selama masa menunggu itu, Allah menawarkan sesuatu yang nyata: kasih karunia yang cukup untuk hari ini, kehadiran-Nya yang tidak pergi, dan jaminan bahwa tubuh Anda akan dibangkitkan.

Bolehkah orang Kristen berobat ke dokter dan minum obat?

Boleh, dan itu bukan tanda lemah iman. Lukas sendiri seorang tabib, Paulus menasihati Timotius menambahkan sedikit anggur untuk pencernaannya di 1 Timotius 5:23, dan Yesaya menyuruh orang menaruh kue ara pada barah Hizkia sebelum ia pulih. Bahkan minyak dalam Yakobus 5:14 adalah bahan yang pada zaman itu lazim dipakai sebagai obat. Allah bekerja melalui sarana, dan obat serta ilmu kedokteran termasuk di dalamnya. Berdoa dan berobat bukan dua jalur yang bersaing, melainkan dua cara bersandar kepada Tuhan yang sama.

Apa makna pengurapan dengan minyak dalam Yakobus 5:14?

Minyak di sini bukan zat bertuah yang menyimpan kuasa. Ia berfungsi sebagai tanda yang bisa disentuh bahwa orang sakit itu diserahkan kepada Tuhan dan tidak ditinggalkan sendirian oleh jemaat. Yang menyembuhkan adalah Tuhan, bukan minyaknya, dan Yakobus menegaskan bahwa doa itu dinaikkan "dalam nama Tuhan". Yang juga penting adalah inisiatifnya: orang sakit yang memanggil para penatua. Artinya, kita tidak diminta bergumul diam-diam, melainkan mengundang kepemimpinan rohani gereja masuk ke dalam penderitaan kita.

Bagaimana cara mendoakan orang sakit sesuai Alkitab?

Mulailah dengan menyebut keadaannya apa adanya di hadapan Tuhan, tanpa memperhalus atau membesar-besarkan. Mintalah kesembuhan dengan jelas, sebab Tuhan sanggup dan hati-Nya memang condong ke arah pemulihan. Lalu serahkan waktu dan caranya kepada Dia, seperti Yesus di Getsemani yang meminta cawan itu diangkat namun tunduk pada kehendak Bapa. Sertakan permohonan untuk kekuatan, damai sejahtera, hikmat bagi dokter, dan penghiburan bagi keluarga. Dan sebisa mungkin berdoalah sambil hadir secara fisik, memegang tangannya, bukan hanya mengirim pesan.

Apakah karunia kesembuhan masih ada pada zaman sekarang?

Alkitab menyebut karunia untuk menyembuhkan sebagai salah satu pemberian Roh Kudus kepada jemaat dalam 1 Korintus 12, dan tidak ada satu ayat pun yang menyatakan karunia itu ditarik setelah para rasul meninggal. Karena itu banyak orang percaya di sepanjang sejarah, termasuk di Indonesia, bersaksi tentang kesembuhan yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Namun karunia itu tetap berada di tangan Roh yang membagikannya "kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya". Tidak ada manusia yang memilikinya sebagai kemampuan tetap, dan tidak ada pelayanan yang bisa menjaminnya.

Apa bedanya kesembuhan ilahi dan mujizat?

Dalam pemakaian sehari-hari, kesembuhan ilahi menunjuk pada pemulihan tubuh yang Tuhan kerjakan, baik melalui proses yang bertahap maupun secara tiba-tiba, sedangkan mujizat biasanya menunjuk pada tindakan Allah yang jelas-jelas melampaui hukum alam. Alkitab sendiri tidak terlalu sibuk memisahkan keduanya, sebab keduanya sama-sama pekerjaan tangan Tuhan. Yang lebih penting daripada kategorinya adalah arahnya: baik kesembuhan yang pelan lewat obat maupun yang mendadak lewat doa sama-sama menjadi tanda penunjuk ke arah dunia baru, tempat tidak ada lagi penyakit.

Apakah duri dalam daging yang dialami Paulus adalah penyakit?

Paulus tidak pernah menjelaskannya secara rinci, dan itu kemungkinan besar disengaja. Ia menyebutnya duri dalam daging dan utusan Iblis yang menggocoh dia, yang oleh banyak penafsir dihubungkan dengan gangguan fisik, mungkin pada matanya, walaupun ada juga yang memahaminya sebagai penganiayaan atau perlawanan terus-menerus. Yang jelas adalah hasilnya: Paulus memohon tiga kali, permohonannya tidak dikabulkan seperti yang ia minta, dan ia menerima jawaban bahwa kasih karunia Allah cukup baginya. Ketidakjelasan itu justru membuat ayat ini bisa memeluk banyak jenis penderitaan.

Apakah berdoa "jika itu kehendak-Mu" menunjukkan kurang iman?

Tidak, kalau kalimat itu lahir dari kepercayaan dan bukan dari keengganan meminta. Yesus sendiri berdoa di Getsemani agar cawan itu diangkat dari pada-Nya, lalu menambahkan bahwa bukan kehendak-Nya melainkan kehendak Bapa yang jadi. Yang keliru adalah memakai kalimat itu sebagai tameng supaya tidak pernah benar-benar berharap. Jadi mintalah dengan berani dan spesifik, sebutkan penyakitnya, lalu letakkan permintaan itu di tangan Bapa yang lebih mengasihi Anda daripada Anda mengasihi diri sendiri. Keberanian dan penyerahan bisa hidup dalam satu doa.

Apa yang sebaiknya saya katakan kepada teman yang sakit berkepanjangan?

Sedikit kata dan banyak kehadiran biasanya lebih menolong daripada penjelasan yang panjang. Hindari kalimat yang terdengar rohani tetapi menusuk, seperti menebak dosa tersembunyi, menyoal besar kecilnya iman, atau menjanjikan kesembuhan yang Anda sendiri tidak bisa jamin. Lebih baik katakan bahwa Anda tidak tahu mengapa ini terjadi, bahwa Anda ikut sedih, dan bahwa Anda akan terus mendoakannya. Lalu buktikan dengan hal kecil yang konkret: mengantar makanan, menemani ke rumah sakit, menanyakan kabar minggu depan ketika orang lain sudah lupa.

Kalau kesembuhan sudah dijamin, mengapa orang percaya tetap mati?

Karena kematian baru dikalahkan sepenuhnya pada kebangkitan, bukan sekarang. Setiap orang yang Yesus sembuhkan di Galilea akhirnya tetap meninggal, termasuk Lazarus yang pernah dibangkitkan. Kesembuhan di dunia ini adalah panjar, bukan pelunasan. Pelunasannya digambarkan dalam Wahyu 21, ketika Allah menghapus segala air mata dan maut tidak akan ada lagi. Karena itu kematian seorang percaya bukan kekalahan doa, melainkan pintu menuju kesembuhan yang paling tuntas, yaitu tubuh yang dibangkitkan dan tidak pernah sakit lagi.

Sebagai penutup

Kesembuhan dalam Alkitab bukan hadiah untuk orang yang paling kuat imannya, dan bukan pula mimpi yang kita hibur-hiburkan sendiri. Ia adalah panjar: cicilan nyata dari tubuh baru yang sudah dibeli oleh bilur-bilur Kristus, yang kadang Tuhan berikan hari ini di kamar tidur kita, dan yang pasti Ia lunasi pada pagi kebangkitan. Memahami hal ini mengubah cara kita berdoa. Kita tidak lagi berdoa dengan malu-malu, seolah meminta kesembuhan itu kurang rohani, dan kita juga tidak lagi berdoa dengan tegang, seolah seluruh beban terletak pada seberapa keras kita percaya.

Jika Anda ingin melanjutkan perenungan ini, bacalah Yesaya 53 secara utuh, lalu Matius 8 dan 9 berturut-turut, dan tutup dengan 2 Korintus 12 serta Wahyu 21. Perhatikan bagaimana luka Sang Hamba, tangan Sang Tabib, kelemahan sang rasul, dan kota tanpa air mata itu sesungguhnya satu cerita.

Dan malam ini, sebelum Anda tidur, sebutkan satu nama kepada Tuhan. Bisa nama Anda sendiri. Mintalah kesembuhan, lalu mintalah kasih karunia yang cukup. Dia mendengar keduanya.

Bagikan halaman ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter
Ayat harian

Bacaan dan renungan di kotak masuk Anda setiap pagi

Setiap pagi Anda menerima bacaan Alkitab dengan renungan singkat untuk mengawali hari Anda. Sudah 6.307 orang membaca bersama.

Anda akan menerima email konfirmasi terlebih dahulu. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja dengan satu klik.

Dinding perenungan

Apa yang menyentuh Anda dalam Kitab Suci? Apa yang bisa kami doakan? Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan?

Doa Editorial pada WAHYU 9:19

Tuhan, ada kuasa yang menyakiti lewat mulut dan dari belakang, dan aku tidak selalu melihatnya datang. Jagalah hatiku dari ucapan…

Wawasan Editorial pada KEJADIAN 26:32

Kami telah menemukan air." Kabar itu datang pada hari yang sama saat Ishak berdamai dengan orang-orang yang dulu mengusirnya. Setelah…

Wawasan Editorial pada PENGKHOTBAH 6:4

Tentang bayi yang tidak sempat hidup, Pengkhotbah menulis: "Sebab, dia datang dalam kesia-siaan dan pergi dalam kegelapan, dan namanya tertutup…

Syukur Editorial pada NAHUM 2:12

Terima kasih, Tuhan, karena Engkau melihat sarang-sarang yang penuh rampasan dan tidak berdiam diri. Singa itu mencabik mangsa untuk anak-anaknya,…

Doa Editorial pada YOSUA 14:5

Tuhan, ajar aku melakukan apa yang Engkau perintahkan, bukan hanya mendengarnya. Sering aku menunda, menawar, mencari jalan sendiri. Hari ini…

Wawasan Editorial pada YEHEZKIEL 39:27

Ketika Aku membawa mereka kembali dari bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri musuh mereka, Aku akan dikuduskan melalui mereka di…

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun studi Alkitab dan renungan. Seluruh isi dihasilkan dari teks Alkitab itu sendiri dan diperiksa setiap hari oleh kontrol mutu otomatis yang independen: sampel acak dari setiap situs bahasa dinilai berdasarkan kesetiaan pada Kitab Suci, kutipan Alkitab yang harfiah, bahasa dan kejelasan, serta hasilnya dipublikasikan tanpa disunting. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan yang tanpa cela dan kesalahan tetap dapat terjadi. Tidak ada yang di platform ini yang merupakan nasihat profesional, dan tidak ada hak yang dapat diturunkan dari isinya. Selalu uji apa yang Anda baca dengan Alkitab itu sendiri, dan gunakan Faith.network sebagai pelengkap, bukan pengganti, studi Alkitab pribadi, doa, dan kehidupan jemaat lokal Anda. Sanggahan lengkap dan Ketentuan Penggunaan kami berlaku. Lihat pemeriksaan mutu harian kami

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami
Perusahaan?