Topik

Perbedaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru: Satu Alkitab, Satu Rencana Keselamatan

Pendahuluan

Setiap awal tahun, ribuan orang Kristen memulai rencana membaca Alkitab satu tahun. Kejadian terasa seru, Keluaran masih menegangkan, lalu tibalah Imamat. Aturan tentang darah, lemak binatang, kulit yang berpenyakit, kain yang berjamur. Di titik itu banyak orang diam-diam menutup Alkitabnya dan berpikir, "Sepertinya saya cukup membaca Perjanjian Baru saja. Yesus lebih lembut. Allah di bagian depan ini terasa asing, bahkan menakutkan."

Mungkin Anda pernah merasakannya. Mungkin Anda pernah mendengar seseorang berkata bahwa Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang murka, dan Allah Perjanjian Baru adalah Allah yang penuh kasih, seolah-olah Dia berganti sifat di antara Maleakhi dan Matius.

Halaman ini akan menunjukkan sesuatu yang lain. Anda akan melihat bahwa perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu nyata, penting, dan indah, tetapi bukan perbedaan antara dua Allah atau dua jalan keselamatan. Perbedaannya terletak di tempat yang jauh lebih mengejutkan: di alamat tempat hukum Allah dituliskan.

Sudut pandang panduan ini

Kebanyakan tulisan membandingkan dua perjanjian lewat daftar: hukum versus kasih karunia, bayangan versus kenyataan, Israel versus gereja. Semua itu ada benarnya, tetapi mudah membuat kita menyimpulkan bahwa Allah berubah pikiran di tengah jalan.

Panduan ini membaca perbedaan itu dari satu titik: perpindahan alamat dari loh batu ke hati manusia. Hukum yang sama, Allah yang sama, kehendak yang sama, tetapi dituliskan di tempat yang berbeda dan karena itu bekerja dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Yeremia 31:31 menjanjikannya, Lukas 22:20 memeteraikannya dengan darah, dan 2 Korintus 3:6 menjelaskan dampaknya. Sudut pandang ini penting karena menentukan apakah Anda hidup sebagai orang yang ditekan dari luar, atau sebagai orang yang digerakkan dari dalam.

Apa kata Alkitab tentang perbedaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

Sebelum masuk ke isinya, kita perlu meluruskan satu hal kecil yang sering mengaburkan segalanya. Dalam bahasa sehari-hari, "Perjanjian Lama" dan "Perjanjian Baru" biasanya berarti dua kumpulan kitab: tiga puluh sembilan kitab dari Kejadian sampai Maleakhi, dan dua puluh tujuh kitab dari Matius sampai Wahyu. Tetapi Alkitab sendiri memakai istilah itu terutama untuk dua ikatan janji antara Allah dan umat-Nya. Jadi ada perbedaan antara pembagian kitab dan perbedaan perjanjian. Yang pertama soal rak buku; yang kedua soal hidup dan mati.

Istilah "perjanjian baru" pertama kali muncul bukan di mulut Yesus, melainkan di mulut seorang nabi yang hidup saat Yerusalem hendak runtuh. Yeremia 31:31 berbunyi: "Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,". Perhatikan siapa yang berinisiatif. Bukan manusia yang mengajukan usul perbaikan; Allahlah yang berkata "Aku akan". Dan dua ayat kemudian Dia menjelaskan apa yang membuatnya baru: "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku" (Yeremia 31:33).

Bacalah pelan-pelan. Isinya tetap Taurat-Nya. Yang berubah adalah medianya: dari batu ke batin, dari tulisan di luar ke tulisan di dalam. Itulah inti perbedaan kedua perjanjian.

Paulus mengambil gagasan yang sama dan mempertajamnya. 2 Korintus 3:6 mengatakan: "Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan." Paulus tidak sedang menghina hukum Taurat. Ia sedang menjelaskan keterbatasannya. Perintah yang tertulis di batu bisa memberi tahu Anda apa yang benar, tetapi tidak bisa memberi Anda hati yang ingin melakukannya. Ia seperti rambu lalu lintas: sangat berguna, tetapi tidak pernah bisa mengemudikan mobil untuk Anda.

Lalu bagaimana perjanjian baru itu diresmikan? Pada malam terakhir sebelum Dia disalibkan, Yesus mengangkat cawan. Lukas 22:20 mencatat: "Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: 'Cawan ini adalah perjanjian baru oleh karena darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.'" Perjanjian di Sinai dimeteraikan dengan darah lembu jantan; perjanjian baru dimeteraikan dengan darah Anak Allah sendiri. Itu sebabnya Ibrani 8:6 bisa berkata: "Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi."

Yang "lebih mulia" bukan berarti yang lama itu jelek. Bulan tidak menjadi jelek ketika matahari terbit. Ia hanya kehilangan fungsinya sebagai sumber cahaya utama.

Dan agar tidak ada yang salah paham tentang bagaimana Yesus memandang kitab-kitab lama itu, Dia sendiri berkata dalam Matius 5:17: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya." Kata "menggenapi" di situ bukan "menghapus" dan bukan pula "mengawetkan tanpa perubahan". Artinya membawa sesuatu sampai pada tujuan akhirnya. Paulus memakai logika yang sama dalam Roma 10:4: "Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya." Hukum itu seperti anak panah yang akhirnya menancap tepat di sasaran, dan sasaran itu adalah Kristus.

Benang merah yang mengalir dalam Alkitab

Kalau Anda membaca Alkitab dari awal, Anda akan melihat bahwa Allah selalu bekerja melalui perjanjian, dan setiap perjanjian itu seperti anak tangga yang menuju ke satu puncak.

Di Kejadian 3:15, tepat setelah manusia jatuh, Allah sudah berjanji tentang keturunan perempuan yang "akan meremukkan kepalamu". Belum ada bait suci, belum ada imam, belum ada Taurat, tetapi janji keselamatan sudah diucapkan. Lalu Allah memanggil Abraham dan berkata dalam Kejadian 12:3 bahwa "olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat". Perhatikan: berkat untuk segala bangsa sudah ada dalam rencana sejak awal, ribuan tahun sebelum Pentakosta.

Di Sinai, Allah memberikan Taurat kepada satu bangsa budak yang baru merdeka. Itu bukan langkah mundur, melainkan anugerah besar: sebuah bangsa diberi identitas, keadilan, ibadah, dan gambaran tentang kekudusan. Tetapi Taurat juga berfungsi sebagai cermin yang jujur. Roma 3:20 menyimpulkan: "Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa." Galatia 3:24 menyebutnya penuntun: "Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman."

Lalu datanglah para nabi, dan di sinilah alamat baru itu diumumkan. Yeremia bicara tentang Taurat yang ditulis di hati. Yehezkiel 36:26 menambahkan sisi lain dari janji yang sama: "Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat." Allah tidak menjanjikan standar yang lebih rendah. Dia menjanjikan manusia yang berubah.

Perjanjian Baru dibuka dengan silsilah, bukan dengan ajaran baru. Matius sengaja menghubungkan Yesus dengan Abraham dan Daud, seakan berkata: ini bukan agama baru, ini kelanjutan cerita yang sama. Ibrani 1:1-2 merangkumnya: "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya".

Sesudah bangkit, Yesus berjalan bersama dua murid yang putus asa, dan Lukas 24:27 mencatat: "Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi." Pelajaran Alkitab pertama sesudah kebangkitan adalah pelajaran Perjanjian Lama yang berpusat pada Kristus.

Dan benang merah itu berakhir di Wahyu 21:3, di mana kalimat perjanjian yang diucapkan Yeremia akhirnya terdengar penuh: "Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka." Dari Kejadian sampai Wahyu, Allah mengejar satu hal: tinggal bersama umat-Nya, di dalam hati mereka.

Kesalahpahaman yang umum

"Allah Perjanjian Lama itu pemarah, Allah Perjanjian Baru itu penuh kasih." Ini kesalahpahaman paling populer dan paling cepat runtuh begitu Anda benar-benar membaca. Kalimat paling terkenal tentang kasih Allah justru diucapkan di Sinai, di Keluaran 34:6, tentang Allah yang "panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya". Sebaliknya, ajaran paling tajam tentang penghakiman dan neraka datang dari mulut Yesus sendiri, dan kitab terakhir Alkitab penuh dengan murka Anak Domba. Kasih dan keadilan bukan dua fase dalam diri Allah; keduanya adalah dua sisi dari satu pribadi yang tidak berubah.

"Di Perjanjian Lama orang selamat karena menaati hukum, di Perjanjian Baru karena iman." Kalau itu benar, Paulus akan kesulitan besar, sebab ia justru memakai Abraham sebagai bukti bahwa pembenaran selalu karena iman. Abraham percaya kepada Allah, dan itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran, dan itu terjadi berabad-abad sebelum Taurat ada. Tidak ada seorang pun, di zaman mana pun, yang pernah diselamatkan oleh prestasinya sendiri. Orang-orang kudus Perjanjian Lama diselamatkan oleh Kristus yang mereka nantikan; kita diselamatkan oleh Kristus yang telah datang. Satu Juruselamat, dua arah pandangan.

"Perjanjian Lama sudah tidak berlaku, jadi tidak perlu dibaca." Ibrani 8:13 memang menyebut perjanjian yang pertama "telah menjadi tua dan usang", tetapi yang dibicarakan di situ adalah sistem korban dan keimaman yang memang sudah digenapi, bukan seluruh Kitab Suci. Ketika Paulus menulis 2 Timotius 3:16, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran", kitab yang ada di tangannya terutama adalah Perjanjian Lama. Membuang dua pertiga Alkitab berarti membuang akar dari pohon yang buahnya kita nikmati.

"Kasih karunia berarti hukum Allah tidak penting lagi." Justru sebaliknya. Dalam perjanjian lama, hukum berdiri di luar Anda dan menuntut. Dalam perjanjian baru, hukum itu dipindahkan ke dalam hati Anda dan menggerakkan. Orang yang berkata "saya bebas, jadi saya boleh berbuat sesuka hati" sebenarnya sedang mengaku bahwa hatinya belum ditulisi apa-apa. Kasih karunia tidak menurunkan standar; ia memberi kita hati yang mencintai standar itu.

Menghidupinya hari ini

Perpindahan alamat dari batu ke hati bukan teori. Ia menyentuh hari Senin Anda.

Bayangkan seorang karyawan yang menemukan celah untuk memanipulasi laporan pengeluaran. Secara hukum negara tidak ada yang mendeteksi; secara aturan kantor tidak ada pasal yang dilanggar secara eksplisit. Orang yang hidup di bawah aturan tertulis akan bertanya, "Apakah ini melanggar?" Orang yang hukumnya ditulis di hati bertanya, "Apakah ini jujur?" Pertanyaan kedua jauh lebih sulit dihindari, karena hakimnya tidak duduk di gedung sebelah, melainkan di dada Anda sendiri.

Bayangkan seorang ibu yang lelah dan merasa gagal karena minggu ini ia sudah tiga kali membentak anaknya. Di bawah perjanjian lama, satu-satunya jalan pulang adalah membawa korban dan berharap diterima. Di bawah perjanjian baru, Ibrani 8:6 mengingatkan bahwa Pengantara kita sudah masuk sekali untuk selamanya. Ia tidak perlu mengulang kurban, dan Anda tidak perlu mengulang usaha untuk membeli penerimaan. Anda datang dengan tangan kosong, dan justru itulah syarat satu-satunya.

Bayangkan seseorang yang bergumul dengan kebiasaan yang sudah bertahun-tahun ia lawan dengan niat dan janji. Ia menempelkan ayat di cermin, memasang pengingat di ponsel, membuat komitmen di retret. Semua itu adalah loh batu versi modern: baik, benar, tetapi di luar. Yang ia butuhkan bukan tekanan tambahan dari luar, melainkan pekerjaan Roh dari dalam, sebab "hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan" (2 Korintus 3:6). Maka doanya berubah dari "Tuhan, tolong saya lebih kuat" menjadi "Tuhan, ubahlah apa yang saya inginkan".

Dan ini juga mengubah cara Anda membaca Alkitab. Imamat tidak lagi menjadi daftar aturan aneh, melainkan gambar beresolusi rendah dari salib. Mazmur menjadi buku doa Yesus. Nabi-nabi menjadi suara yang menunggu, dan Injil menjadi jawaban yang tiba. Dua pertiga Alkitab Anda hidup kembali.

Cermin

Sekarang izinkan saya bertanya langsung kepada Anda. Di mana sebenarnya hukum Allah tertulis dalam hidup Anda hari ini: di batu, atau di hati?

Ada cara mudah untuk mengetahuinya. Perhatikan apa yang Anda rasakan ketika tidak ada yang melihat. Ketika suami atau istri Anda pergi ke luar kota. Ketika laporan keuangan gereja tidak diperiksa siapa pun. Ketika Anda sendirian dengan ponsel di tangan pada pukul sebelas malam. Jika ketaatan Anda runtuh begitu pengawasan hilang, maka hukum itu masih berdiri di luar Anda, dan Anda masih hidup seperti orang di kaki Gunung Sinai: takut, tegang, dan kelelahan.

Atau mungkin masalah Anda berbeda. Mungkin Anda justru sangat rajin. Anda datang ke gereja, melayani, memberi, berpuasa, dan tetap merasa Allah belum cukup puas dengan Anda. Setiap kali Anda gagal, Anda menghukum diri sendiri selama beberapa hari sebelum merasa pantas berdoa lagi. Kalau begitu, Anda sedang membangun kembali meja korban yang sudah dibongkar Kristus. Cawan itu sudah diminum, Anda tidak perlu menambah darah.

Dan mungkin ada di antara Anda yang sebenarnya hanya lelah. Pekerjaan menumpuk, tubuh mulai sakit-sakitan, uang tidak pernah cukup, dan rumah terasa sepi walaupun penuh orang. Kepada Anda, janji Yeremia 31:31 berbicara dengan lembut: Allah berkata "Aku akan". Bukan "kalau kamu berusaha lebih keras". Dia sendiri yang mengadakan perjanjian itu, Dia sendiri yang menulis di hati Anda, Dia sendiri yang menanggung biayanya.

Pertanyaannya bukan apakah Anda cukup kuat memegang perjanjian ini. Pertanyaannya adalah apakah Anda mau berhenti memegang dan mulai dipegang.

Dijelaskan untuk anak-anak

Anak-anak sering bingung dengan dua bagian tebal dalam Alkitab mereka, apalagi kalau di gereja mereka mendengar cerita Daud dan Goliat minggu ini lalu cerita Yesus memberi makan lima ribu orang minggu depan. Pertanyaan khas mereka adalah, "Jadi ini dua buku yang berbeda, ya?"

Gambaran yang paling mudah dipahami adalah gambaran satu cerita panjang dengan dua bagian. Bagian pertama berisi janji: Allah berjanji akan mengirim Seseorang yang akan membereskan semua kekacauan yang dibuat manusia. Bagian kedua berisi kedatangan-Nya: Yesus datang, dan semua janji itu ditepati. Kalau anak Anda suka hadiah, Anda bisa berkata bahwa Perjanjian Lama seperti bungkus kado yang indah dan penuh petunjuk, sedangkan Perjanjian Baru adalah saat kadonya dibuka. Bungkusnya penting, tetapi isinya adalah Yesus.

Untuk anak yang lebih besar, tambahkan gambaran kedua: dulu aturan Allah ditulis di batu, sekarang Roh Kudus menulisnya di hati kita, supaya kita bukan hanya tahu yang benar, tetapi juga ingin melakukannya.

Di Faith.network tersedia penjelasan khusus mengenai tema ini untuk tiga kelompok usia: anak prasekolah tiga sampai enam tahun, anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun, dan remaja dua belas tahun ke atas. Masing-masing memakai bahasa, contoh, dan pertanyaan diskusi yang sesuai dengan tahap mereka, sehingga Anda tidak perlu menyederhanakan sendiri hal-hal yang rumit.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa perbedaan utama Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

Perbedaan utamanya bukan pada sifat Allah, melainkan pada cara Dia mengikat diri dengan umat-Nya. Perjanjian lama berpusat pada hukum yang tertulis di loh batu, keimaman manusia, dan korban binatang yang harus diulang terus-menerus. Perjanjian baru berpusat pada Kristus sebagai Pengantara, korban-Nya yang sekali untuk selamanya, dan Taurat Allah yang dituliskan di dalam hati oleh Roh Kudus, seperti dijanjikan dalam Yeremia 31:31 dan dijelaskan dalam Ibrani 8:6. Isinya satu rencana keselamatan, bukan dua.

Apakah Allah Perjanjian Lama berbeda dengan Allah Perjanjian Baru?

Tidak. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak berubah, dan Yesus sendiri menyebut Allah Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Bapa-Nya. Yang berubah adalah tahap penyingkapan diri-Nya. Dalam Perjanjian Lama kita melihat kasih dan keadilan-Nya melalui sejarah satu bangsa; dalam Perjanjian Baru kita melihat keduanya bertemu secara sempurna di salib. Kalau Anda merasa Dia "lebih galak" di bagian depan Alkitab, itu biasanya karena kita membaca kisah penghakiman tanpa membaca ratusan ayat tentang kesabaran-Nya yang mendahuluinya.

Apakah hukum Taurat masih berlaku bagi orang Kristen?

Yesus berkata dalam Matius 5:17 bahwa Dia datang untuk menggenapi, bukan meniadakan. Artinya hukum Taurat tetap firman Allah yang berwibawa, tetapi fungsinya berubah sejak Kristus datang. Hukum tentang korban dan keimaman sudah digenapi dalam diri-Nya, sehingga kita tidak lagi mempersembahkan binatang. Hukum tentang kekudusan hidup tidak dibatalkan, melainkan diperdalam dan dipindahkan ke dalam hati kita. Kita menaatinya bukan untuk diterima Allah, melainkan karena kita sudah diterima.

Berapa jumlah kitab dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?

Dalam Alkitab Protestan terdapat tiga puluh sembilan kitab Perjanjian Lama, dari Kejadian sampai Maleakhi, dan dua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru, dari Matius sampai Wahyu, sehingga seluruhnya berjumlah enam puluh enam kitab. Alkitab Katolik menambahkan sejumlah kitab deuterokanonika dalam Perjanjian Lama. Pembagian ini mencerminkan dua babak karya Allah, tetapi perlu diingat bahwa istilah "perjanjian" dalam Alkitab sendiri lebih menunjuk pada ikatan janji Allah dengan umat-Nya daripada pada kumpulan kitab.

Mengapa orang Kristen tidak lagi mempersembahkan korban binatang?

Karena korban yang sesungguhnya sudah dipersembahkan. Seluruh sistem korban dalam Imamat berfungsi sebagai gambaran yang menunjuk ke depan, menunjukkan betapa mahalnya harga dosa dan betapa perlunya pengganti. Ketika Yesus mengangkat cawan dalam Lukas 22:20 dan berbicara tentang darah-Nya yang ditumpahkan, Dia menyatakan diri sebagai penggenapan dari semua itu. Mempersembahkan korban binatang sesudah salib sama saja dengan menyalakan lilin di tengah siang bolong: bukan salah secara moral, melainkan tidak masuk akal secara rohani.

Apa arti "perjanjian baru" dalam Lukas 22:20?

Yesus sedang memakai bahasa perjanjian yang sudah dikenal murid-murid-Nya dari Yeremia 31:31. Setiap perjanjian dalam Alkitab diresmikan dengan darah, dan pada malam itu Yesus menyatakan bahwa darah-Nya sendirilah yang akan meresmikan perjanjian yang dijanjikan para nabi. Cawan itu bukan sekadar simbol kenangan, melainkan pengumuman bahwa pengampunan dosa dan hati yang baru kini tersedia. Setiap kali kita mengambil Perjamuan Kudus, kita sedang mengingat bahwa ikatan kita dengan Allah dibayar dengan nyawa-Nya.

Apakah orang di Perjanjian Lama diselamatkan dengan cara yang berbeda?

Tidak. Mereka diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, sama seperti kita, hanya saja iman mereka memandang ke depan kepada janji yang belum digenapi, sedangkan iman kita memandang ke belakang kepada salib yang sudah terjadi. Abraham dibenarkan karena percaya, bukan karena menaati Taurat yang bahkan belum diberikan pada zamannya. Roma 10:4 menegaskan bahwa Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran selalu diperoleh melalui iman, di zaman mana pun seseorang hidup.

Apakah Sepuluh Perintah Allah masih harus ditaati?

Sembilan dari sepuluh perintah itu diulang kembali secara eksplisit dalam Perjanjian Baru, dan semuanya tercakup dalam dua perintah besar tentang mengasihi Allah dan sesama. Jadi ya, isinya tetap mengikat, tetapi motivasinya berubah total. Kita tidak menaatinya untuk mendapat perkenanan Allah, sebab perkenanan itu sudah diberikan dalam Kristus. Kita menaatinya karena Roh Kudus telah menuliskan kehendak Allah di dalam hati kita, sehingga ketaatan menjadi ungkapan kasih, bukan syarat keselamatan.

Mengapa Perjanjian Lama lebih tebal tetapi jarang dibaca?

Sebagian besar karena jaraknya terasa jauh: budaya kuno, silsilah panjang, aturan ibadah yang asing, dan nama-nama tempat yang sulit diucapkan. Tetapi 2 Timotius 3:16 mengatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat, dan ketika ayat itu ditulis, tulisan yang dimaksud terutama adalah Perjanjian Lama. Tanpa bagian ini kita tidak akan memahami dosa, penebusan, korban, kerajaan, atau mengapa Yesus harus mati. Membacanya dengan Kristus sebagai kunci membuat halaman-halaman itu tiba-tiba terasa dekat.

Apakah kita masih harus memberi persepuluhan dan merayakan hari Sabat?

Keduanya berakar dalam Perjanjian Lama dan keduanya mengandung prinsip yang tetap berharga: bahwa segala milik kita berasal dari Allah, dan bahwa manusia butuh berhenti serta beristirahat di dalam Dia. Dalam Perjanjian Baru, pemberian ditekankan bukan sebagai kewajiban persentase melainkan sebagai kemurahan hati yang sukarela dan sukacita, sementara istirahat sejati digambarkan sebagai berhenti dari usaha menyelamatkan diri sendiri. Banyak orang Kristen tetap memakai persepuluhan sebagai patokan praktis dan menguduskan satu hari untuk beribadah, dan itu sehat selama tidak berubah menjadi hukum baru.

Benarkah Perjanjian Lama sudah usang menurut Ibrani 8:13?

Ayat itu memang menyebut perjanjian yang pertama telah menjadi tua dan usang, tetapi yang dibicarakan surat Ibrani sepanjang pasal itu adalah sistem keimaman dan korban di bait suci, bukan nilai Kitab Suci Perjanjian Lama. Penulis Ibrani sendiri mengutip Perjanjian Lama puluhan kali sebagai firman Allah yang hidup. Jadi yang usang adalah bayangannya, bukan terangnya. Bayangan tidak dibuang karena jelek, melainkan karena yang membuat bayangan itu akhirnya berdiri di hadapan kita.

Bagaimana cara mulai membaca Perjanjian Lama supaya tidak bingung?

Mulailah dari kisahnya, bukan dari aturannya. Bacalah Kejadian, Keluaran, lalu lompat ke Rut, 1 Samuel, dan Mazmur sebelum masuk ke kitab hukum dan nabi-nabi. Di setiap bagian, tanyakan tiga hal sederhana: apa yang ayat ini katakan tentang Allah, apa yang dikatakan tentang manusia, dan ke arah mana ia menunjuk. Ingat kata-kata Yesus dalam Lukas 24:27 bahwa seluruh Kitab Suci bersaksi tentang Dia. Dengan kacamata itu, Perjanjian Lama berhenti menjadi labirin dan mulai menjadi jalan.

Sebagai penutup

Perbedaan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukanlah kisah tentang Allah yang berubah pikiran, melainkan kisah tentang Allah yang memindahkan tulisan-Nya dari loh batu ke dalam hati manusia. Di Sinai, Dia menulis dengan jari-Nya di atas batu dan menaruhnya di dalam tabut. Di Golgota, Dia menulis dengan darah Anak-Nya dan menaruhnya di dalam diri kita melalui Roh Kudus. Hukum yang sama, Allah yang sama, kasih yang sama, tetapi kini bekerja dari dalam ke luar, bukan lagi dari luar ke dalam.

Itulah sebabnya kita tidak boleh memilih salah satu bagian Alkitab dan membuang yang lain. Tanpa Perjanjian Lama, salib kehilangan maknanya; tanpa Perjanjian Baru, janji-janji itu menggantung tanpa jawaban. Satu Alkitab, satu rencana keselamatan, satu Juruselamat.

Kalau Anda ingin melanjutkan, bacalah Ibrani pasal 8 sampai 10 dengan tenang, lalu bandingkan dengan Yeremia pasal 31. Biarkan dua bagian itu saling berbicara. Dan sambil membaca, ajukan satu doa sederhana: Tuhan, tuliskanlah firman-Mu di hatiku, bukan hanya di buku catatanku.

Bagikan halaman ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter
Ayat harian

Bacaan dan renungan di kotak masuk Anda setiap pagi

Setiap pagi Anda menerima bacaan Alkitab dengan renungan singkat untuk mengawali hari Anda. Sudah 6.428 orang membaca bersama.

Anda akan menerima email konfirmasi terlebih dahulu. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja dengan satu klik.

Dinding perenungan

Apa yang menyentuh Anda dalam Kitab Suci? Apa yang bisa kami doakan? Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan?

Syukur Editorial pada IBRANI 10:3

Terima kasih, Tuhan, karena aku tidak lagi hidup di bawah kurban tahunan yang selalu mengingatkan dosa. Dulu setiap tahun ada…

Doa Editorial pada YESAYA 50:3

Tuhan, Engkau yang sanggup menyelimuti langit dengan kegelapan, Engkau juga yang memegang hidupku saat hariku terasa kelam. Aku tidak selalu…

Wawasan Editorial pada 1 YOHANES 4:17

Karena seperti Dia adanya, demikian juga kita di dunia ini." Perhatikan, bukan nanti, tapi sekarang. Di tempatmu yang biasa, dengan…

Wawasan Editorial pada 2 TAWARIKH 27:1

Nama ibunya adalah Yerusa, anak perempuan Zadok." Hanya sebaris, lalu nama itu hilang dari Alkitab. Tetapi anak yang dibesarkannya memerintah…

Doa Editorial pada RUT 4:13

Bapa, Engkau yang mengubah kisah yang tampak berakhir menjadi awal yang baru. Terima kasih karena Engkau bekerja diam-diam, memberi kehidupan…

Wawasan Editorial pada HAKIM-HAKIM 10:1

Setelah Abimelekh yang membantai tujuh puluh saudaranya demi tahta, muncullah Tola, "untuk menyelamatkan orang Israel." Tidak ada kisah perang, tidak…

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun studi Alkitab dan renungan. Seluruh isi dihasilkan dari teks Alkitab itu sendiri dan diperiksa setiap hari oleh kontrol mutu otomatis yang independen: sampel acak dari setiap situs bahasa dinilai berdasarkan kesetiaan pada Kitab Suci, kutipan Alkitab yang harfiah, bahasa dan kejelasan, serta hasilnya dipublikasikan tanpa disunting. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan yang tanpa cela dan kesalahan tetap dapat terjadi. Tidak ada yang di platform ini yang merupakan nasihat profesional, dan tidak ada hak yang dapat diturunkan dari isinya. Selalu uji apa yang Anda baca dengan Alkitab itu sendiri, dan gunakan Faith.network sebagai pelengkap, bukan pengganti, studi Alkitab pribadi, doa, dan kehidupan jemaat lokal Anda. Sanggahan lengkap dan Ketentuan Penggunaan kami berlaku. Lihat pemeriksaan mutu harian kami

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami
Perusahaan?