Siapa Yosua: Pemimpin Berani yang Membawa Israel Masuk Tanah Perjanjian
Pendahuluan
Bayangkan seorang laki-laki berdiri di tepi Sungai Yordan yang sedang banjir. Di belakangnya ada kuburan baru di Gunung Nebo, tempat Musa dibaringkan. Di depannya ada kota berdinding tebal bernama Yerikho. Di sekelilingnya ada hampir dua juta orang yang terkenal keras kepala, yang dulu pernah ingin merajam pemimpin mereka dengan batu. Dan di dalam dirinya, kalau kita jujur membaca Alkitab, ada hati yang bisa kecut.
Namanya Yosua bin Nun. Kita biasanya mengingatnya sebagai jenderal pemberani, penakluk Kanaan, suara yang membuat tembok runtuh. Tetapi ada satu detail yang sering terlewat: Tuhan harus berkali-kali memerintahkan dia untuk berani. Orang yang benar-benar pemberani secara alami tidak perlu disuruh begitu sering.
Di halaman ini Anda akan menelusuri hidup Yosua dari awal sampai akhir, dengan kekuatan dan kegagalannya, dan menemukan dari mana sesungguhnya keberaniannya datang.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca Yosua bukan sebagai pahlawan bernyali besar yang kebetulan dipakai Tuhan, melainkan sebagai orang biasa yang keberaniannya selalu keberanian pinjaman. Setiap kali ia maju, ada firman, kehadiran, atau janji Allah yang lebih dahulu menopangnya. Setiap kali ia bertindak tanpa bertanya kepada Tuhan, ia tersandung. Sudut pandang ini penting karena banyak dari kita menunggu sampai merasa cukup kuat sebelum menaati Tuhan. Hidup Yosua membalik logika itu: ketaatan datang lebih dulu, perasaan berani menyusul kemudian. Kuncinya bukan karakter yang hebat, tetapi Allah yang menyertai.
Keberanian Yosua selalu keberanian pinjaman.
Apa kata Alkitab tentang Yosua?
Yosua dalam Alkitab pertama kali muncul bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai bawahan yang diberi tugas berat. Israel baru saja keluar dari Mesir ketika orang Amalek menyerang di Rafidim. Di situlah namanya terdengar untuk pertama kali: "Musa berkata kepada Yosua: 'Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.'" (Keluaran 17:9).
Perhatikan pembagian tugasnya. Yosua yang mengangkat pedang di lembah; Musa yang mengangkat tongkat Allah di bukit. Dan ketika tangan Musa turun, Amalek yang menang. Pelajaran pertama dalam karier Yosua adalah pelajaran yang paling merendahkan sekaligus paling membebaskan: kemenangan tidak ditentukan oleh kehebatan pedangnya, tetapi oleh tangan yang terangkat kepada Tuhan.
Sesudah itu Yosua menghilang dari sorotan selama puluhan tahun. Ia menjadi pelayan Musa, orang muda yang tidak meninggalkan Kemah Pertemuan, yang ikut mendaki Sinai dan menunggu di lereng gunung sementara Musa masuk ke dalam awan (Keluaran 24:13; Keluaran 33:11). Sebelum ia memimpin ribuan orang, ia lama belajar berdiri diam di dekat hadirat Allah. Tidak ada jalan pintas di sini.
Momen besar berikutnya datang di Kadesh-Barnea. Yosua termasuk dua belas pengintai yang dikirim ke Kanaan, dan hanya dia bersama Kaleb yang kembali dengan iman, bukan ketakutan. Mereka berkata kepada seluruh umat: "Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya." (Bilangan 14:8). Sepuluh pengintai lain melihat raksasa; Yosua melihat Tuhan yang berkenan. Dasar keyakinannya bukan perkiraan militer, melainkan kasih Allah terhadap umat-Nya.
Akibat dari laporan itu: Yosua hampir dirajam. Harga sebuah keyakinan yang benar di tengah mayoritas yang takut memang sering begitu mahal. Lalu ia harus menunggu empat puluh tahun lagi, berjalan mengelilingi padang gurun bersama generasi yang tidak mau percaya, sampai mereka semua mati. Empat puluh tahun kesabaran untuk satu keyakinan yang sebenarnya sudah benar sejak awal.
Ketika akhirnya waktunya tiba, Musa melantiknya di depan seluruh umat: "Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: 'Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya.'" (Ulangan 31:7).
Kalimat itu diulang oleh Tuhan sendiri sesudah Musa mati: "Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (Yosua 1:9). Tiga kali dalam satu pasal Tuhan menyuruhnya kuat. Itu bukan pujian atas watak Yosua; itu obat bagi hatinya yang bisa gemetar.
Sisa kisahnya adalah penggenapan janji: Yordan terbelah, Yerikho jatuh, Kanaan dibagi, dan akhirnya seorang tua berumur seratus sepuluh tahun berdiri di Sikhem dan menantang umatnya untuk memilih kepada siapa mereka beribadah.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Nama Yosua bukan nama sembarangan. Orang tuanya menamainya Hosea, dan Musa yang mengubahnya menjadi Yosua, "Yehosyua", yang berarti "TUHAN adalah keselamatan" (Bilangan 13:16). Nama itu menjadi program hidupnya: bukan Yosua yang menyelamatkan Israel, tetapi Tuhan, melalui Yosua.
Dalam Perjanjian Lama, Yosua berdiri di persambungan dua babak besar. Musa melambangkan hukum Taurat yang membawa umat keluar dari perbudakan tetapi tidak bisa membawa mereka masuk ke perhentian. Yosua melambangkan penggenapan janji: masuk, mewarisi, berhenti berjalan. Kitab Yosua sendiri menutup bagiannya dengan kesaksian yang menakjubkan, bahwa dari segala yang baik yang dijanjikan Tuhan kepada kaum Israel tidak ada satu pun yang tidak dipenuhi (Yosua 21:45). Allah menepati janji-Nya secara bersejarah, di atas tanah yang bisa dipijak, bukan hanya di dalam gagasan.
Tetapi perhentian itu belum lengkap. Hakim-hakim membuktikannya: satu generasi sesudah Yosua, Israel kembali menyembah Baal. Raja-raja membuktikannya lagi: tanah itu akhirnya hilang di pembuangan. Dan Mazmur 95 memanggil umat untuk tidak mengeraskan hati "supaya mereka masuk ke tempat perhentian-Ku". Jadi ada perhentian yang lebih dalam daripada Kanaan.
Di sinilah Perjanjian Baru mengambil alih dengan sangat elegan. Penulis Ibrani menulis: "Sebab, jikalau Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pastilah Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain." (Ibrani 4:8). Yosua membawa umat ke tanah, tetapi tidak bisa membawa mereka ke dalam damai dengan Allah. Untuk itu diperlukan Yosua yang lain.
Dan Yosua yang lain itu datang. Dalam bahasa Ibrani, nama Yesus adalah nama yang sama: Yehosyua, Yesyua. Ketika malaikat berkata kepada Yusuf bahwa Anak itu harus dinamai Yesus, "sebab Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Matius 1:21), yang terjadi adalah arti nama Yosua akhirnya dipenuhi sampai ke dasarnya. Yosua bin Nun menaklukkan kota-kota; Yesus Kristus menaklukkan dosa dan kematian. Yosua memimpin umat melewati Yordan; Yesus dibaptis di Yordan dan memimpin umat-Nya melewati kematian. Yosua membagikan tanah warisan; Kristus memberikan warisan yang tidak dapat binasa.
Iman Yosua pun dirayakan di Perjanjian Baru, meski namanya tidak disebut: "Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya." (Ibrani 11:30). Yang dihargai bukan strategi perangnya, melainkan kepercayaannya. Rahab, perempuan Kanaan yang diselamatkan dalam kisah itu, muncul kembali dalam daftar nenek moyang Yesus di Matius 1. Benang merahnya jelas: sejak awal, rencana Allah tidak berhenti pada satu bangsa, dan keberanian iman selalu bersandar pada anugerah.
Inti hidupnya
Ada tiga momen yang menentukan siapa Yosua sebenarnya, dan semuanya menyingkapkan dari mana keberaniannya datang.
Yang pertama terjadi sebelum Yerikho, dan jarang dibicarakan. Yosua sedang meninjau kota ketika ia melihat seorang laki-laki berdiri dengan pedang terhunus. Pertanyaan Yosua sangat manusiawi: "Kawankah engkau atau lawan?" Jawabannya mengguncang: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN." Dan Yosua sujud dengan mukanya ke tanah (Yosua 5:13-14). Ia harus menanggalkan kasutnya, sebab tempat itu tanah yang kudus. Jenderal Israel baru saja diberi tahu bahwa ia bukan panglima tertinggi; ia hanya prajurit yang menerima perintah. Keberanian Yosua lahir di lantai, bukan di podium.
Yang kedua adalah Yerikho sendiri. Tidak ada tangga, tidak ada pendobrak, tidak ada taktik. Hanya berjalan mengelilingi kota selama enam hari dalam kebisuan, lalu tujuh kali pada hari ketujuh. Secara militer itu memalukan. Lalu: "Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala dibunyikan; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu bangsa itu memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu." (Yosua 6:20). Kota pertama di Tanah Perjanjian direbut dengan cara yang membuat Israel tidak mungkin membanggakan diri. Tanah itu hadiah, bukan upah.
Yerikho runtuh karena ketaatan, bukan karena strategi.
Yang ketiga adalah kegagalan, dan justru di sini Yosua paling manusiawi. Sesudah Yerikho datang Ai, kota kecil yang tidak diperhitungkan. Israel kalah dan tiga puluh enam orang mati, karena Akhan menyembunyikan barang rampasan yang dikhususkan bagi Tuhan. Yosua mengoyakkan jubahnya dan tersungkur sampai matahari terbenam, dan doanya nyaris menyalahkan Allah. Ia harus belajar bahwa ancaman terbesar bagi umat Allah bukan tembok Kanaan, melainkan dosa di dalam kemah sendiri.
Kegagalan kedua lebih halus. Orang Gibeon datang dengan roti kering dan kantong kulit yang pecah, berpura-pura datang dari jauh. Yosua membuat perjanjian dengan mereka tanpa meminta keputusan Tuhan (Yosua 9:14). Dia tidak ditipu oleh kekuatan, tetapi oleh penampilan yang meyakinkan dan oleh rasa percaya diri yang membuatnya lupa bertanya. Seumur hidupnya perjanjian itu harus ia hormati.
Puncak hidupnya bukan medan perang, melainkan Sikhem. Sebagai orang tua, ia mengumpulkan seluruh suku dan berkata: "Tetapi jika kamu tidak mau beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; kepada allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau kepada allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15). Keberaniannya yang terakhir bukan mengangkat pedang, tetapi mengambil keputusan di depan umum untuk rumah tangganya sendiri.
Yang kita pelajari dari Yosua
Pelajaran pertama: keberanian adalah perintah, bukan perasaan. Tuhan tidak berkata kepada Yosua, "Kalau nanti kamu merasa siap, majulah." Ia berkata, "kuatkan dan teguhkanlah hatimu," lalu menambahkan alasannya, "sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (Yosua 1:9). Keberanian di Alkitab tidak pernah berarti tidak takut; artinya bergerak maju karena Allah menyertai. Jika Anda menunggu rasa takut hilang sebelum menaati Tuhan, Anda akan menunggu selamanya. Yosua maju dengan hati yang masih bergetar, dan Tuhan menyertainya.
Pelajaran kedua: keberanian tumbuh dari firman yang direnungkan. Tepat sebelum perintah untuk kuat, Tuhan memberi Yosua satu tugas rohani yang nyata: "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian engkau akan beruntung dan akan berhasil dalam segala sesuatu." (Yosua 1:8). Jenderal itu diberi kitab, bukan peta perang. Hati yang berani dibentuk oleh firman yang diulang-ulang, bukan oleh motivasi sesaat. Orang yang tidak pernah mendengar suara Allah akan selalu kalah oleh suara-suara lain.
Pelajaran ketiga: kesetiaan jangka panjang lebih mengesankan daripada keberanian sekejap. Empat puluh lima tahun sesudah pengintaian itu, Kaleb datang kepada Yosua dan mengingatkan janji lama: "Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang telah kaujejak dengan kakimu itu akan menjadi milikmu dan milik anak-anakmu untuk selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (Yosua 14:9). Dua orang tua yang dulu berdiri sendirian melawan arus, kini saling meneguhkan di hadapan janji yang digenapi. Yosua tidak merebut bagian terbaik untuk dirinya; ia memberkati rekannya dan baru kemudian menerima bagiannya sendiri di Timnat-Serah.
Dan satu lagi, yang justru lahir dari kegagalannya: tanyakan dahulu kepada Tuhan. Kalau orang sekaliber Yosua bisa tertipu oleh roti kering orang Gibeon karena ia tidak berdoa, maka keputusan kita yang terasa "jelas sekali" justru yang paling perlu dibawa kepada Allah.
Cermin
Mari jujur sebentar. Di mana hati Anda sedang kecut? Mungkin di meja kerja, ketika Anda tahu laporan itu dimanipulasi dan Anda memilih diam karena takut kehilangan posisi. Mungkin di rumah, ketika Anda sudah berbulan-bulan menunda pembicaraan yang sulit dengan pasangan atau anak Anda, dan diam itu Anda sebut kesabaran padahal namanya ketakutan. Mungkin di rekening bank, ketika angka di sana terasa lebih meyakinkan daripada janji Allah, sehingga memberi dengan murah hati terasa seperti risiko yang tidak masuk akal.
Yosua tidak diberi perasaan aman sebelum ia melangkah. Ia diberi satu janji: Tuhan menyertaimu. Lalu kakinya harus menyentuh air Yordan yang sedang banjir sebelum airnya terbelah. Begitulah biasanya cara Allah bekerja dalam hidup Anda juga, dan itu sering membuat kita kesal.
Ada juga ketakutan yang lebih sunyi. Tubuh yang mulai melemah dan diagnosis yang belum Anda ceritakan kepada siapa pun. Malam-malam panjang kesepian setelah kehilangan. Waktu yang terasa habis, mimpi yang terasa terlambat. Kepada Anda, perhatikan ini: Yosua menerima janji di Kadesh dan baru memijak tanah itu empat puluh tahun kemudian. Allah tidak lupa. Ia lambat menurut hitungan kita, tidak pernah lalai menurut hitungan-Nya.
Dan akhirnya pertanyaan Sikhem itu datang ke ruang keluarga Anda. "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" Itu bukan slogan untuk dipasang di dinding. Itu keputusan yang kelihatan dalam kalender, dalam cara Anda memakai uang, dalam apa yang ditonton bersama pada hari Minggu malam, dalam apakah anak-anak Anda pernah melihat ayah atau ibunya berdoa. Allah berdaulat, tetapi Ia sungguh-sungguh menaruh pilihan itu di tangan Anda hari ini.
Dijelaskan untuk anak-anak
Kepada anak-anak, kisah Yosua bisa diceritakan dengan sangat sederhana: Yosua adalah penolong Musa yang setia, dan ketika Musa meninggal, Tuhan memilih Yosua untuk memimpin umat-Nya ke rumah baru mereka. Tuhan berkata kepadanya tiga kali, "Jangan takut, Aku menyertai engkau." Lalu Yosua melakukan hal-hal yang kelihatannya aneh: menyuruh semua orang berjalan mengelilingi kota besar sambil diam, enam hari berturut-turut, dan pada hari ketujuh bersorak sekuat-kuatnya. Tembok kota itu runtuh, bukan karena Israel kuat, tetapi karena Tuhan yang membuatnya runtuh.
Untuk anak kecil, inti yang perlu ditanam cukup satu: Tuhan menyertai kita, jadi kita tidak perlu takut. Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa menambahkan bahwa Yosua pernah membuat kesalahan, misalnya ketika ia lupa bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan, dan bahwa Tuhan tetap mengasihinya. Itu kabar baik bagi anak yang takut salah. Untuk remaja, bagian paling tajam adalah Yosua 24:15: kamu harus memilih sendiri kepada siapa kamu beribadah, dan tidak memilih pun sebenarnya sudah sebuah pilihan.
Satu hal yang indah untuk diceritakan: nama Yosua dan nama Yesus sebenarnya nama yang sama, yang berarti "Tuhan menyelamatkan". Yosua membawa umat masuk ke tanah yang dijanjikan; Yesus membawa kita masuk kepada Allah sendiri.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang Yosua yang disesuaikan untuk anak prasekolah (3 sampai 6 tahun), anak sekolah dasar (7 sampai 12 tahun), dan remaja (12 tahun ke atas), sehingga Anda dapat memilih versi yang paling cocok untuk anak di rumah atau di kelas Anda.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Yosua dalam Alkitab?
Yosua adalah anak Nun dari suku Efraim, pelayan Musa yang kemudian menjadi penggantinya sebagai pemimpin Israel. Ia muncul pertama kali sebagai panglima dalam perang melawan Amalek di Keluaran 17:9, lalu menjadi salah satu dari dua belas pengintai yang dikirim ke Kanaan, dan satu-satunya bersama Kaleb yang percaya bahwa Tuhan sanggup memberikan tanah itu. Sesudah Musa mati, Yosua memimpin Israel menyeberangi Sungai Yordan, menaklukkan Kanaan, dan membagi tanah itu kepada dua belas suku. Ia mati pada umur seratus sepuluh tahun dan disebut "hamba TUHAN".
Apa arti nama Yosua?
Nama Ibraninya, Yehosyua, berarti "TUHAN adalah keselamatan" atau "TUHAN menyelamatkan". Menarik sekali, nama itu bukan nama lahirnya. Bilangan 13:16 mencatat bahwa semula ia bernama Hosea, dan Musa yang menamainya Yosua. Nama baru itu menjadi ringkasan seluruh hidupnya: yang menyelamatkan Israel bukanlah keberanian Yosua, melainkan Tuhan yang bekerja melalui dia. Dalam bentuk yang lebih pendek, nama ini menjadi Yesyua, yaitu nama yang kita kenal sebagai Yesus.
Mengapa Tuhan berkali-kali berkata kepada Yosua "kuatkan dan teguhkanlah hatimu"?
Karena Yosua memang membutuhkannya. Perintah itu muncul dari mulut Musa di Ulangan 31:7, lalu diulang Tuhan sendiri tiga kali dalam Yosua 1, dan diulang lagi oleh umat di Yosua 1:18. Pengulangan sebanyak itu bukan pujian atas watak yang sudah berani, melainkan tanda bahwa ada hati yang bisa kecut dan tawar. Yang menarik, perintah itu selalu disertai alasannya: "sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." Keberanian Yosua bersumber pada kehadiran Allah, bukan pada kepribadiannya.
Apakah tembok Yerikho benar-benar runtuh hanya karena sorak dan sangkakala?
Menurut Alkitab, bukan sorak itu yang meruntuhkan tembok, melainkan Tuhan, pada saat umat-Nya menaati perintah yang secara militer tidak masuk akal. Yosua 6:20 mencatat bahwa setelah bangsa itu bersorak, tembok itu runtuh dan mereka memanjat masuk ke dalam kota. Enam hari berjalan dalam kebisuan adalah ujian ketaatan, bukan taktik perang. Ibrani 11:30 menafsirkannya dengan jelas: tembok Yerikho runtuh karena iman. Kota pertama di Tanah Perjanjian sengaja diberikan dengan cara yang membuat Israel mustahil membanggakan diri.
Mengapa Israel kalah di Ai padahal baru saja menang di Yerikho?
Karena ada dosa yang disembunyikan. Akhan mengambil barang-barang dari Yerikho yang sudah dikhususkan bagi Tuhan, dan akibatnya seluruh umat kehilangan penyertaan Allah dalam pertempuran itu. Tiga puluh enam orang mati, dan Yosua tersungkur di tanah sampai matahari terbenam. Pelajarannya keras dan sangat relevan: musuh yang paling berbahaya bagi umat Allah bukan tembok di luar, melainkan kompromi di dalam. Sesudah perkara itu diselesaikan, Ai pun jatuh, dan kali ini Tuhan sendiri yang memberikan strategi kepada Yosua.
Apakah Yosua berbuat salah ketika membuat perjanjian dengan orang Gibeon?
Ya, dan Alkitab tidak menyembunyikannya. Orang Gibeon datang dengan roti kering dan pakaian usang supaya terlihat seperti datang dari negeri yang jauh. Yosua 9 mencatat bahwa para pemimpin Israel memeriksa bekal mereka, tetapi tidak meminta keputusan Tuhan. Kesalahannya bukan kebodohan, melainkan rasa percaya diri yang membuat doa terasa tidak perlu. Yosua tetap menghormati perjanjian itu, dan menariknya, Tuhan kemudian berperang untuk membela Gibeon di Yosua 10. Allah memakai bahkan kekeliruan hamba-Nya untuk menyelamatkan orang asing.
Benarkah matahari berhenti pada zaman Yosua?
Yosua 10 mencatat bahwa Yosua berdoa agar matahari berhenti di atas Gibeon dan bulan di atas lembah Ayalon, dan hari itu diperpanjang sehingga Israel dapat menyelesaikan pertempuran. Teksnya sendiri menekankan bahwa belum pernah ada hari seperti itu, sebab Tuhan mendengarkan permohonan seorang manusia secara demikian. Para penafsir berbeda pendapat mengenai apa yang persisnya terjadi secara astronomis, apakah mukjizat kosmis, fenomena cahaya, atau bahasa puitis. Inti yang ditegaskan Alkitab tidak berubah: Tuhan yang berperang untuk Israel.
Apa hubungan nama Yosua dengan nama Yesus?
Keduanya nama yang sama dalam bahasa Ibrani. "Yosua" adalah bentuk panjangnya, "Yesus" berasal dari bentuk pendeknya lewat bahasa Yunani. Karena itu Ibrani 4:8 bisa bermain dengan dua tokoh ini: "Sebab, jikalau Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pastilah Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain." Yosua bin Nun membawa umat masuk ke sebuah negeri; Yesus Kristus membawa umat-Nya masuk ke perhentian yang sejati, yaitu damai dengan Allah. Nama yang sama, keselamatan yang jauh lebih dalam.
Berapa umur Yosua ketika ia mati, dan di mana ia dikuburkan?
Yosua 24:29 mencatat bahwa Yosua bin Nun, hamba Tuhan itu, mati pada umur seratus sepuluh tahun. Ia dikuburkan di tanah miliknya sendiri, Timnat-Serah di pegunungan Efraim, bagian warisan yang ia terima paling belakangan setelah semua suku mendapat bagiannya. Catatan Alkitab menambahkan bahwa Israel beribadah kepada Tuhan sepanjang zaman Yosua dan sepanjang hidup para tua-tua yang mengalami sendiri perbuatan Tuhan. Kesetiaannya menahan satu generasi, meski generasi berikutnya cepat menyimpang seperti terbaca dalam Hakim-hakim.
Apakah Yosua yang menulis Kitab Yosua?
Tradisi Yahudi mengaitkan sebagian besar kitab ini dengan Yosua sendiri, dan kitab itu memang menyebut bahwa Yosua menuliskan perkataan dan ketetapan di dalam kitab hukum Allah (Yosua 24:26). Namun bagian-bagian tertentu, seperti catatan tentang kematian dan penguburannya, jelas ditambahkan sesudah ia meninggal. Pandangan yang paling wajar adalah bahwa inti kitab ini berasal dari masa Yosua dan dari catatan saksi mata, lalu disusun dan dilengkapi kemudian. Yang penting bagi kita: otoritasnya tidak bergantung pada nama penulisnya, melainkan pada Allah yang berfirman di dalamnya.
Apa perbedaan antara Yosua dan Kaleb?
Keduanya adalah satu-satunya dari generasi keluaran yang diizinkan masuk Kanaan, karena keduanya percaya ketika sepuluh pengintai lain gentar. Yosua berasal dari suku Efraim dan menjadi pemimpin nasional serta pengganti Musa. Kaleb berasal dari suku Yehuda dan tidak pernah memegang jabatan nasional, tetapi pada umur delapan puluh lima tahun ia masih meminta daerah pegunungan yang dihuni orang Enak. Dalam Yosua 14:9 Kaleb mengingatkan Yosua akan sumpah Musa, dan Yosua memberkatinya. Satu memimpin umat, satu memimpin dengan teladan iman yang tidak pernah pudar.
Mengapa Tuhan memerintahkan Israel menaklukkan bangsa-bangsa Kanaan?
Alkitab memberi dua alasan yang selalu disebut bersama-sama: penggenapan janji kepada Abraham, dan penghakiman atas kejahatan bangsa-bangsa Kanaan yang sudah lama menumpuk, termasuk pengorbanan anak-anak. Kejadian 15:16 menunjukkan bahwa Allah menunggu ratusan tahun sebelum bertindak. Ulangan 9:5 menegaskan bahwa Israel tidak menerima tanah itu karena kebenarannya sendiri. Perintah itu terbatas pada waktu dan wilayah tertentu, bukan pola untuk umat Allah di segala zaman, dan kisah Rahab serta Gibeon memperlihatkan bahwa siapa pun yang berlindung pada Tuhan diterima.
Bagaimana menerapkan Yosua 24:15 dalam keluarga hari ini?
Ayat itu adalah keputusan terbuka, bukan perasaan hangat. Yosua tidak berkata bahwa seisi rumahnya sudah sempurna; ia menyatakan arah rumah tangganya di depan saksi. Dalam praktiknya itu berarti memilih dengan sadar hal-hal kecil yang membentuk keluarga: waktu bersama di hadapan firman, kejujuran dalam uang, pengampunan yang diucapkan, hari Tuhan yang dijaga. Anda tidak bisa memaksa iman masuk ke dalam hati anak Anda, tetapi Anda bisa menentukan apa yang mereka lihat setiap hari. Ketaatan yang terlihat lebih berbicara daripada nasihat yang panjang.
Sebagai penutup
Kalau Anda menutup halaman ini dengan satu kesan tentang Yosua, biarlah ini kesannya: keberaniannya bukan miliknya. Ia harus diperintahkan untuk kuat, karena hatinya bisa kecut. Ia pernah hampir dirajam ketika benar, pernah menunggu empat puluh tahun, pernah kalah karena dosa orang lain, pernah salah karena lupa berdoa. Namun di setiap langkah ada satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu Allah yang menyertai dia ke mana pun ia pergi.
Itu sebabnya nama Yosua begitu pas: TUHAN adalah keselamatan. Dan itu sebabnya hidupnya menunjuk melampaui dirinya sendiri, kepada Yosua yang lebih besar, Yesus Kristus, yang membawa kita bukan ke sebuah negeri melainkan ke dalam perhentian Allah.
Untuk melanjutkan, bacalah Kitab Yosua dari awal sampai akhir dalam beberapa hari, dan perhatikan setiap kali kata "kuatkan dan teguhkanlah hatimu" muncul. Lalu bacalah Ibrani 3 dan 4 berurutan. Terakhir, bawa Yosua 24:15 ke dalam doa Anda malam ini, dan tanyakan dengan jujur: apa satu keputusan nyata yang Tuhan minta dari rumah saya hari ini?
