Apa Itu Kasih Menurut Alkitab: Makna, Ciri, dan Wujud Nyatanya
Pendahuluan
Di sebuah pesta pernikahan, seseorang berdiri di depan dan membacakan 1 Korintus 13 dengan suara bergetar. Semua orang terharu. Lima tahun kemudian, pasangan yang sama duduk berhadapan di meja makan, saling diam, memikirkan tagihan yang belum terbayar dan kalimat tajam yang terlanjur keluar tadi pagi. Kasih yang dibacakan di altar itu ke mana perginya?
Pertanyaan itu bukan hanya milik pasangan menikah. Itu pertanyaan orang tua yang lelah, anak yang terluka oleh ayahnya, jemaat yang kecewa pada gerejanya, dan siapa pun yang pernah berkata "aku mengasihi" lalu mendapati dirinya tidak sanggup. Alkitab berbicara tentang kasih dari halaman pertama sampai halaman terakhir, tetapi yang dimaksudkannya jauh lebih kokoh, lebih keras, dan lebih memerdekakan daripada yang biasa kita bayangkan. Di halaman ini Anda akan menemukan apa sebenarnya kasih itu menurut Alkitab, bagaimana ia mengalir sepanjang Kitab Suci, di mana kita sering salah paham, dan seperti apa wujudnya pada hari Senin pagi.
Sudut pandang panduan ini
Panduan ini membaca kasih bukan terutama sebagai perasaan, melainkan sebagai ikatan perjanjian: kesetiaan yang diikat Allah lebih dulu, lalu dibagikan kepada kita, lalu mengalir keluar dari kita. Itulah sebabnya kasih bisa diperintahkan. Anda tidak bisa diperintahkan untuk berdebar-debar, tetapi Anda bisa diperintahkan untuk setia, memberi, mengampuni, dan tinggal. Sudut pandang ini penting karena kebanyakan dari kita diajar oleh lagu dan film bahwa kasih adalah sesuatu yang "kita rasakan" atau "kita jatuhi". Alkitab justru berkata: kasih adalah sesuatu yang kita terima dari Allah dan kemudian kita lakukan, bahkan ketika perasaan sedang tidak bekerja sama.
Apa kata Alkitab tentang kasih?
Alkitab tidak pernah memulai pembicaraan tentang kasih dari manusia. Ia memulai dari Allah. Rasul Yohanes menulis kalimat yang paling berani dalam seluruh Kitab Suci tentang hal ini: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). Perhatikan, Yohanes tidak berkata Allah memiliki kasih, seolah-olah kasih adalah salah satu sifat-Nya di antara sifat-sifat lain. Ia berkata Allah adalah kasih. Sebelum ada satu pun manusia yang bisa dikasihi, Bapa sudah mengasihi Anak di dalam Roh Kudus. Kasih bukan penemuan manusia yang kemudian kita tempelkan pada Allah; kasih adalah kehidupan Allah sendiri yang kemudian tumpah ke dalam dunia ciptaan.
Dalam bahasa Ibrani, kata yang paling sering muncul untuk kasih Allah adalah hesed, yang dalam Terjemahan Baru biasanya diterjemahkan "kasih setia". Kata ini sulit dicari padanannya karena mengandung tiga hal sekaligus: kasih sayang yang hangat, kesetiaan pada janji, dan tindakan nyata yang menolong. Hesed bukan suasana hati; hesed adalah komitmen yang tidak goyah ketika pihak lain mengecewakan. Dalam bahasa Yunani, Perjanjian Baru memakai kata agape, kasih yang memilih kebaikan orang lain dengan sengaja, tanpa menunggu dia layak lebih dulu.
Karena itulah kasih bisa menjadi perintah. Di jantung iman Israel berdiri seruan yang diucapkan setiap pagi dan setiap petang: "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:5). Kalimat ini datang tepat setelah pengakuan bahwa TUHAN itu esa, dan tepat setelah Israel diselamatkan keluar dari Mesir. Urutannya tidak boleh dibalik. Allah tidak berkata, "Kasihilah Aku supaya Aku menyelamatkan kamu." Ia berkata, "Aku sudah membawa kamu keluar; sekarang kasihilah Aku." Kasih di sini berarti kesetiaan total kepada satu Pribadi: hati Anda yang paling dalam, nyawa Anda yang paling berharga, tenaga Anda yang paling nyata.
Ketika seorang ahli Taurat menguji Yesus Kristus dengan pertanyaan tentang hukum yang terutama, Ia tidak menciptakan sesuatu yang baru. "Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Matius 22:37). Lalu Ia menambahkan hukum kedua dari Imamat 19:18: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39). Dua perintah ini, kata Yesus, menjadi gantungan seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Seluruh kehendak Allah bagi manusia bisa dirangkum dalam satu kata kerja: mengasihi.
Tetapi bagaimana kita tahu kasih itu seperti apa? Di sinilah Paulus memberi kita cermin yang tidak bisa ditawar: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong" (1 Korintus 13:4). Semua yang disebutkan di sana adalah kata kerja, bukan kata sifat suasana hati. Sabar itu dilakukan. Murah hati itu dikerjakan. Tidak sombong itu dipilih. Dan ketika kita bertanya di mana kasih seperti itu pernah terlihat utuh dalam sejarah, Paulus menunjuk ke satu tempat: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8).
Salib adalah definisi kasih yang tidak bisa dibantah.
Benang merah yang mengalir dalam Alkitab
Kasih perjanjian itu mengalir seperti sungai dari Kejadian sampai Wahyu, dan setiap tikungannya mengarah ke Kristus.
Di Taman Eden, Allah tidak menciptakan manusia karena Ia kesepian atau kekurangan. Ia menciptakan karena kasih meluap keluar dari diri-Nya. Ketika manusia memberontak, Ia tidak langsung memusnahkan; Ia mencari, memanggil, dan membuat pakaian dari kulit binatang untuk menutupi malu mereka. Sejak awal, kasih Allah berbentuk tindakan yang mahal.
Lalu Ia mengikat perjanjian dengan Abraham, bukan karena Abraham hebat, melainkan karena Ia berkenan. Ketika Israel ditindas di Mesir, Ia mendengar keluhan mereka dan turun. Dan ketika Musa meminta melihat kemuliaan-Nya, inilah nama yang Allah serukan tentang diri-Nya sendiri: "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" (Keluaran 34:6). Itulah potret diri Allah yang digambar oleh tangan-Nya sendiri, dan kasih setia berdiri di tengahnya.
Perjanjian Lama lalu menjadi kisah panjang tentang umat yang terus berselingkuh dan Allah yang terus kembali. Para nabi memakai bahasa yang hampir terlalu intim. Melalui Hosea, Allah berbicara tentang Efraim yang keras kepala, lalu berkata: "Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak" (Hosea 11:8). Melalui Yeremia Ia bersumpah: "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu" (Yeremia 31:3). Dan di tengah reruntuhan Yerusalem, seorang yang kehilangan segalanya masih berani menulis: "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23).
Semua itu memuncak di Betlehem dan Golgota. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16). Yang dijanjikan dalam perjanjian kini berdiri dalam daging. Di ruang atas, pada malam sebelum Ia disalibkan, Yesus mengikat perjanjian baru itu dengan sebuah perintah: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yohanes 13:34). Ukurannya bukan lagi "seperti dirimu sendiri", tetapi "sama seperti Aku telah mengasihi kamu". Ukuran itu baru saja diperagakan dengan baskom dan handuk, dan besok akan dipakukan di kayu salib.
Dari situ sungai ini mengalir ke dalam gereja. Roh Kudus dicurahkan, dan bersama-Nya datang kasih itu sendiri ke dalam hati manusia (Roma 5:5). Buah pertama yang disebut Paulus dari pekerjaan Roh adalah kasih (Galatia 5:22). Lalu di akhir Alkitab, perjanjian itu digenapi dalam gambaran pernikahan: Anak Domba dan mempelai-Nya, dan Allah yang berdiam di tengah umat-Nya, menghapus segala air mata dari mata mereka. Kasih yang mengikat di Eden akhirnya memeluk selama-lamanya di Yerusalem baru.
Kesalahpahaman yang umum
Pertama, kasih dianggap sama dengan perasaan. Ini kesalahpahaman yang paling merusak, karena membuat orang menyimpulkan bahwa ketika rasa itu hilang, kasih juga sudah mati. Jika kasih hanyalah perasaan, maka Ulangan 6:5 dan Matius 22:37 adalah perintah yang mustahil, sebab tidak ada orang yang bisa memerintahkan jantungnya untuk berdebar. Alkitab memang tidak menolak perasaan; kasih dalam Kitab Suci penuh kehangatan, air mata, dan kerinduan. Tetapi pusatnya ada pada kehendak dan kesetiaan. Paulus tidak berkata "kasih itu berbunga-bunga", melainkan "kasih itu sabar; kasih itu murah hati" (1 Korintus 13:4). Sabar adalah sesuatu yang Anda lakukan justru ketika perasaan Anda sudah habis.
Kedua, kasih dianggap sama dengan membiarkan apa saja. Dalam bahasa zaman ini, mengasihi sering berarti tidak pernah berkata tidak, tidak pernah menegur, tidak pernah menyebut dosa sebagai dosa. Tetapi kasih perjanjian justru menuntut kejujuran, karena perjanjian hanya bisa hidup dalam kebenaran. Paulus menulis bahwa kasih "tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran" (1 Korintus 13:6). Penulis Ibrani bahkan menghubungkan kasih dengan teguran: "Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak" (Ibrani 12:6). Kasih yang tidak pernah berani mengatakan sesuatu yang tidak enak biasanya bukan kasih, melainkan rasa takut kehilangan muka.
Ketiga, kasih dianggap sebagai prestasi yang harus kita hasilkan sendiri. Banyak orang Kristen hidup dengan rasa bersalah yang menumpuk: "Seharusnya aku lebih mengasihi." Lalu mereka mencoba memeras kasih dari hati yang kering. Yohanes membalikkan arahnya: "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yohanes 4:19). Kasih Kristen selalu bersifat tanggapan. Ia bukan air yang kita pompa dari sumur diri sendiri, melainkan air yang mengalir keluar karena kita sudah dialiri. Roma 5:8 menempatkan kita pada tempat penerima sebelum menjadi pemberi: Kristus mati untuk kita ketika kita masih berdosa, bukan setelah kita berhasil menjadi pengasih.
Keempat, kasih kepada Allah dianggap bisa dipisahkan dari kasih kepada sesama. Ada bentuk kesalehan yang sangat rajin beribadah tetapi dingin terhadap tetangga, karyawan, atau menantu. Yohanes menutup celah itu rapat-rapat: "Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya" (1 Yohanes 4:20). Dan jangan lupa kalimat yang sering kita lewati: "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yohanes 3:18). Kasih yang tidak punya tangan dan kaki hanyalah niat yang tidak pernah lahir.
Menghidupinya hari ini
Kasih perjanjian paling terasa justru di tempat-tempat yang tidak romantis. Dalam rumah tangga, ia berbentuk pasangan yang tetap tinggal dan berbicara jujur ketika gairah awal sudah menguap. Paulus menyebut standarnya tanpa basa-basi: "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya" (Efesus 5:25). Ukurannya bukan "selama aku bahagia", melainkan "sampai aku menyerahkan diri". Dalam pengasuhan anak, kasih berarti hadir pada malam-malam yang melelahkan, dan juga berarti berkata tidak ketika itu tidak populer.
Di tempat kerja, kasih berwujud sangat konkret: tidak mencuri waktu, tidak menjatuhkan rekan demi promosi, tidak membiarkan karyawan yang paling lemah menanggung beban paling berat. Paulus menulis bahwa kasih "tidak mencari keuntungan diri sendiri" (1 Korintus 13:5). Itu kalimat yang mengganggu bagi siapa pun yang bekerja di lingkungan kompetitif, tetapi justru di situlah kasih Kristen terlihat berbeda.
Dalam urusan uang, kasih mengambil bentuk dompet yang terbuka. Yohanes bertanya bagaimana mungkin kasih Allah tinggal di dalam seseorang yang melihat saudaranya menderita kekurangan lalu menutup hatinya. Memberi dengan tenang, tanpa pengumuman, kepada orang yang tidak akan bisa membalas, adalah salah satu bukti paling murni bahwa kita sudah menerima sesuatu dengan cuma-cuma.
Terhadap orang yang menyakiti kita, kasih menjadi paling mahal dan paling jelas. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Perhatikan bahwa Yesus tidak menyuruh kita menyukai mereka atau berpura-pura tidak terluka. Ia menyuruh kita berdoa bagi mereka dan menghendaki kebaikan mereka. Itu bisa dilakukan bahkan ketika hati masih perih, dan sering kali perasaan menyusul kemudian, bukan sebaliknya.
Di gereja, perintah baru dalam Yohanes 13:34 menjadi tanda pengenal. Yesus berkata bahwa dunia akan mengenali murid-murid-Nya dari kasih mereka satu sama lain. Bukan dari gedungnya, bukan dari mutu musiknya, bukan dari kefasihan khotbahnya. Dari cara orang-orang yang berbeda suku, kelas, dan selera saling menanggung.
Dan untuk Anda yang sedang kesepian: kasih perjanjian berarti Anda tidak perlu menunggu seseorang memilih Anda untuk mengetahui bahwa Anda dikasihi. Anda sudah dipilih di Golgota sebelum Anda sanggup membalas apa pun.
Kasih yang bisa diperintahkan bukanlah perasaan, melainkan kesetiaan.
Cermin
Sekarang mari kita berhenti berbicara tentang kasih secara umum dan berbicara tentang Anda.
Siapa nama orang yang namanya membuat dada Anda mengeras ketika Anda membaca bagian tentang mengasihi musuh tadi? Jangan buru-buru pindah paragraf. Allah biasanya bekerja justru pada nama itu. Mungkin itu mantan pasangan yang pergi, atasan yang mempermalukan Anda di depan tim, saudara kandung yang mengambil warisan, atau orang tua yang tidak pernah meminta maaf. Perintah untuk mengasihi tidak berarti Anda harus berpura-pura luka itu tidak ada. Perintah itu berarti Anda tidak diizinkan mendoakan kehancurannya.
Lalu lihatlah kalender dan rekening Anda. Keduanya adalah pengakuan iman yang paling jujur, jauh lebih jujur daripada apa pun yang Anda nyanyikan hari Minggu. Ke mana waktu Anda pergi? Siapa yang mendapat sisa tenaga Anda, dan siapa yang hanya mendapat sisa perhatian di sela layar ponsel? Anak-anak sering mengeja kasih dengan huruf w-a-k-t-u, dan mereka tahu persis apakah ayah atau ibunya benar-benar hadir atau hanya sedang berada di ruangan yang sama.
Dan bagaimana dengan Allah sendiri? Ulangan 6:5 menuntut segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan. Sudah berapa lama Anda tidak berbicara dengan-Nya tanpa daftar permintaan? Yesus pernah berkata kepada sebuah jemaat yang sangat rajin bekerja bahwa mereka telah meninggalkan kasih yang semula. Itu mungkin peringatan paling lembut sekaligus paling menusuk dalam seluruh Alkitab: Anda bisa sibuk melayani sambil perlahan berhenti mengasihi.
Kabar baiknya, pintu keluar dari semua ini bukan usaha yang lebih keras, melainkan tempat yang lebih rendah. Kembalilah ke Roma 5:8. Anda dikasihi ketika Anda masih berdosa, bukan setelah Anda memperbaiki diri. Mulailah dari sana, dan Anda akan terkejut menemukan ada sesuatu yang mulai mengalir keluar.
Dijelaskan untuk anak-anak
Anak-anak sebenarnya lebih siap memahami kasih perjanjian daripada orang dewasa, asal kita tidak menjelaskannya dengan kata-kata abstrak. Mulailah dari pengalaman mereka sendiri: kasih itu bukan perasaan geli di perut ketika melihat seseorang yang kita suka, melainkan ketika Mama tetap merawat kita waktu kita muntah di tengah malam, atau ketika Papa tetap menyayangi kita setelah kita memecahkan sesuatu dan berbohong tentangnya. Lalu hubungkan itu dengan Allah: Dia mengasihi kita bukan karena kita anak yang pintar atau penurut, tetapi karena Dia memang Allah yang penuh kasih, dan Dia membuktikannya dengan mengirim Yesus Kristus untuk kita.
Untuk anak yang lebih kecil, gambar sederhana sering bekerja paling baik: kasih itu seperti tangan yang menggenggam dan tidak melepaskan, bahkan ketika jalanan licin. Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa mulai memperkenalkan bahwa kasih punya bentuk nyata, misalnya berbagi bekal, membela teman yang diejek, atau meminta maaf lebih dulu. Hindari memakai kasih sebagai alat tawar-menawar, seperti "kalau kamu nakal, Tuhan tidak sayang kamu lagi", karena itu persis kebalikan dari Roma 5:8.
Di Faith.network tersedia penjelasan khusus tentang tema kasih yang disusun untuk tiga kelompok usia: anak prasekolah tiga sampai enam tahun, anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun, dan remaja dua belas tahun ke atas. Masing-masing memakai bahasa, contoh, dan pertanyaan yang sesuai dengan tahap pemahaman mereka, sehingga Anda tidak perlu menerjemahkan sendiri isi halaman ini menjadi bahasa anak-anak.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti kasih menurut Alkitab?
Kasih menurut Alkitab adalah komitmen setia untuk menghendaki dan mengerjakan kebaikan orang lain, yang bersumber dari Allah sendiri. Dalam Perjanjian Lama kata kuncinya adalah kasih setia, dan dalam Perjanjian Baru kata kuncinya adalah agape. Keduanya menekankan tindakan dan kesetiaan, bukan sekadar emosi. Itulah sebabnya kasih bisa diperintahkan dalam Ulangan 6:5 dan Matius 22:37. Definisi paling padatnya diberikan Yohanes dalam 1 Yohanes 4:8: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."
Apa perbedaan antara kasih agape, fileo, eros, dan storge?
Bahasa Yunani memakai beberapa kata yang semuanya diterjemahkan "kasih" atau "cinta". Eros menunjuk pada cinta yang menggairahkan antara suami istri, storge pada kasih sayang alami dalam keluarga, fileo pada kasih persahabatan yang hangat dan saling menyukai, dan agape pada kasih yang memilih memberi tanpa menuntut balasan. Perjanjian Baru paling sering memakai agape untuk kasih Allah dan untuk kasih yang diperintahkan kepada orang percaya. Namun perlu diingat, keempatnya tidak saling bertentangan; dalam pernikahan yang sehat, misalnya, ketiga bentuk pertama idealnya dialiri dan dimurnikan oleh agape.
Apa itu kasih yang sejati menurut 1 Korintus 13?
Paulus menulis pasal ini kepada jemaat yang bangga pada karunia rohani tetapi terpecah belah. Ia mulai dengan menyatakan bahwa bahasa roh, nubuat, pengetahuan, bahkan pengorbanan tanpa kasih sama sekali tidak berguna. Lalu ia menggambarkan kasih dengan kata kerja: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong" (1 Korintus 13:4). Jadi kasih sejati diukur bukan dari perasaan atau pencapaian rohani, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan orang yang menjengkelkan kita setiap hari.
Mengapa Allah disebut kasih dalam 1 Yohanes 4:8?
Karena kasih bukan hanya sesuatu yang Allah lakukan, melainkan siapa Dia adanya. Allah Tritunggal sudah saling mengasihi dalam kekekalan sebelum ada ciptaan, sehingga kasih-Nya tidak bergantung pada apa pun di luar diri-Nya. Yohanes menegaskan ini bukan sebagai teori melainkan sebagai ujian: orang yang hidupnya tidak dialiri kasih sebenarnya belum benar-benar mengenal Allah. Perlu dicatat juga, kalimat ini tidak boleh dibalik menjadi "kasih adalah Allah", seolah-olah segala bentuk perasaan cinta manusia otomatis bersifat ilahi.
Bagaimana cara mengasihi Tuhan dengan segenap hati?
Ulangan 6:5 menyebut segenap hati, jiwa, dan kekuatan, sedangkan Matius 22:37 menambahkan akal budi. Artinya, mengasihi Allah melibatkan keinginan terdalam, nyawa, tenaga, dan pikiran kita, bukan hanya momen khusyuk saat ibadah. Secara praktis, itu berarti memberi Dia waktu yang terbaik dan bukan sisa, menaati-Nya dalam keputusan yang tidak dilihat orang, memikirkan firman-Nya dengan serius, dan tidak membagi loyalitas hati kita dengan hal lain yang diam-diam menjadi tuhan kecil, entah itu karier, pasangan, atau citra diri.
Apakah mengasihi berarti harus selalu diam dan menerima perlakuan buruk?
Tidak. Kasih alkitabiah tidak pernah berdamai dengan ketidakadilan; Paulus menulis bahwa kasih "tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran" (1 Korintus 13:6). Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas dendam, tetapi itu tidak sama dengan membiarkan diri terus dilukai atau menutupi kejahatan. Dalam kasus kekerasan, Anda boleh dan bahkan perlu mencari perlindungan, menetapkan batas, dan melibatkan orang lain. Kasih yang membiarkan pelaku terus berbuat jahat sebenarnya bukan kasih, sebab itu tidak baik bagi pelaku maupun korban.
Bagaimana cara mengasihi musuh menurut Alkitab?
Yesus memberi dua langkah yang sangat praktis dalam Matius 5:44: mengasihi dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Doa adalah pintu masuknya, karena sulit terus membenci seseorang yang Anda bawa secara jujur ke hadapan Allah. Langkah berikutnya adalah tindakan konkret: tidak membalas dengan kata-kata tajam, tidak ikut menyebarkan aib mereka, dan bila memungkinkan berbuat baik secara nyata. Perasaan Anda mungkin belum berubah saat itu juga, dan itu tidak apa-apa; dalam kasih perjanjian, tindakan sering berjalan lebih dulu dan hati menyusul kemudian.
Apa perbedaan kasih dan cinta dalam bahasa Alkitab Indonesia?
Dalam Terjemahan Baru, kata "kasih" biasanya dipakai untuk kasih Allah dan kasih antarmanusia dalam arti luas, sedangkan "cinta" lebih sering muncul dalam konteks romantis, misalnya dalam Kidung Agung. Perbedaan itu bersifat kebiasaan bahasa, bukan perbedaan teologis yang kaku, sebab teks aslinya sering memakai akar kata yang sama. Yang penting dipahami adalah isinya: baik kasih maupun cinta dalam Alkitab selalu mengandung unsur kesetiaan dan pengorbanan, bukan sekadar ketertarikan yang bisa menguap ketika keadaan berubah.
Apakah kita boleh mengasihi diri sendiri?
Perintah "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" dalam Matius 22:39 mengandaikan bahwa manusia memang secara alami memperhatikan dirinya sendiri, lalu memakai itu sebagai ukuran untuk orang lain. Jadi Alkitab tidak memerintahkan kita mencari cinta diri, tetapi juga tidak mengajarkan kita membenci diri. Tubuh dan jiwa Anda adalah pemberian Allah, dan merawatnya dengan istirahat, batas yang sehat, serta penerimaan atas pengampunan-Nya adalah bagian dari ketaatan. Yang dilarang Alkitab adalah menjadikan diri sendiri sebagai pusat, bukan menghargai diri sebagai ciptaan yang dikasihi.
Mengapa Yesus menyebutnya perintah baru padahal kasih sudah ada dalam Perjanjian Lama?
Perintah untuk mengasihi sesama memang sudah tertulis dalam Imamat 19:18, jadi yang baru bukan isinya melainkan ukurannya. Dalam Yohanes 13:34 Yesus berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." Standarnya bukan lagi diri kita sendiri, melainkan Kristus yang baru saja membasuh kaki murid-murid-Nya dan akan segera menyerahkan nyawa-Nya. Selain itu, perintah ini baru karena diberikan dalam perjanjian baru, lengkap dengan kuasa Roh Kudus yang memampukan.
Bagaimana jika saya tidak merasakan kasih kepada Tuhan?
Anda tidak sendirian, dan perasaan kering bukan bukti bahwa Anda bukan milik Allah. Justru di sinilah pemahaman bahwa kasih adalah kesetiaan, bukan sensasi, menjadi menolong. Teruslah berdoa, membaca firman, dan berkumpul dengan umat Allah meskipun hati terasa datar, karena ketaatan sering kali memulihkan perasaan, bukan sebaliknya. Kembalilah terus kepada Roma 5:8, bahwa Kristus mati bagi Anda ketika Anda masih berdosa. Kasih Anda kepada Allah tidak pernah menjadi dasar hubungan itu; kasih-Nya kepada Andalah dasarnya.
Apa hubungan antara kasih dan ketaatan?
Yesus menyatukan keduanya tanpa ragu ketika Ia berkata bahwa orang yang mengasihi Dia akan menuruti firman-Nya. Ketaatan tanpa kasih berubah menjadi legalisme yang dingin, sementara kasih tanpa ketaatan hanyalah sentimen yang tidak berakar. Dalam kerangka perjanjian, hal ini masuk akal: ketaatan adalah cara kesetiaan diwujudkan sehari-hari, seperti janji nikah yang dibuktikan oleh ribuan keputusan kecil. Karena itu Paulus bisa menulis bahwa kasih adalah kegenapan hukum Taurat, sebab orang yang sungguh mengasihi tidak akan berbuat jahat terhadap sesamanya.
Ayat apa saja tentang kasih yang paling penting dalam Alkitab?
Beberapa ayat yang paling sering dijadikan tiang pemahaman adalah Ulangan 6:5 tentang mengasihi Allah dengan segenap diri, Matius 22:37 ketika Yesus menyebutnya hukum yang terutama, Yohanes 13:34 tentang perintah baru untuk saling mengasihi seperti Kristus mengasihi kita, Roma 5:8 tentang kasih yang dibuktikan di salib, 1 Korintus 13:4 tentang wujud nyata kasih, dan 1 Yohanes 4:8 tentang Allah yang adalah kasih. Jika keenamnya dibaca berurutan, Anda mendapat gambaran utuh: sumbernya, ukurannya, buktinya, dan bentuknya.
Sebagai penutup
Jika kasih hanyalah perasaan, maka hidup Kristen akan menjadi perlombaan melelahkan untuk terus merasakan sesuatu yang tidak bisa kita produksi. Tetapi Alkitab menaruh kasih pada fondasi yang jauh lebih kokoh: ikatan perjanjian yang diikat oleh Allah sendiri, dimeteraikan dengan darah Kristus, dan dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Karena itulah kasih bisa diperintahkan, bisa dipelajari, bisa dilatih, dan bisa bertahan ketika semuanya terasa hambar.
Kita mengasihi karena kita sudah lebih dulu dikasihi.
Langkah berikutnya bukan membaca lebih banyak, melainkan memilih satu hal. Bacalah 1 Korintus 13 dengan perlahan selama tujuh hari, dan setiap kali Anda menemukan kata "kasih", gantilah dengan nama Yesus Kristus; Anda akan melihat betapa persisnya pasal itu adalah potret-Nya. Lalu gantilah dengan nama Anda sendiri, dan biarkan Roh Kudus menunjukkan di mana Anda perlu bertumbuh, tanpa rasa bersalah yang menghancurkan. Setelah itu, pilih satu orang minggu ini, mungkin orang yang paling sulit Anda doakan, dan lakukan satu tindakan kasih yang konkret dan tidak diumumkan kepada siapa pun. Di situlah teologi tentang kasih berhenti menjadi bacaan dan mulai menjadi hidup.
