Kitab Alkitab

Kitab Roma: Inti Injil dan Pembenaran oleh Iman

Pendahuluan

Bayangkan sebuah ruangan sewaan di kota Roma, sekitar tahun 57. Di sana berkumpul selusin orang: seorang tukang kulit Yahudi yang baru kembali ke kota setelah bertahun-tahun diusir, seorang bekas budak dari Asia Kecil, seorang perempuan pemilik rumah, beberapa buruh pelabuhan. Mereka semua percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi mereka tidak sepakat soal makanan, hari raya, dan siapa yang sebenarnya "lebih dulu" dalam keluarga Allah. Lalu seorang perempuan bernama Febe membuka sebuah gulungan panjang dari Korintus, dan surat itu mulai dibacakan dengan suara lantang.

Itulah kelahiran Kitab Roma di dunia nyata: bukan di ruang kuliah, melainkan di tengah orang-orang yang sedang belajar duduk di satu meja. Di halaman ini Anda akan menemukan siapa penulisnya, kapan dan mengapa surat ini ditulis, bagaimana keenam belas pasalnya tersusun, apa ayat-ayat kuncinya, dan bagaimana membacanya sendiri dengan sabar dan penuh sukacita.

Sudut pandang panduan ini

Banyak tulisan memperlakukan Kitab Roma sebagai buku teologi murni: sebuah sistem doktrin yang harus dikuasai. Panduan ini memilih jalan lain. Kita akan membaca Roma sebagai surat pastoral untuk jemaat yang terpecah, di mana pembenaran oleh iman bukan sekadar tiket masuk surga bagi individu, melainkan dasar yang membuat orang Yahudi dan orang bukan Yahudi bisa makan di satu meja tanpa saling memandang rendah. Injil bukan hanya menyelamatkan Anda; Injil menghancurkan alasan Anda untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Sudut pandang ini penting karena tanpanya, Roma berubah menjadi bahan debat, padahal Paulus menulisnya supaya orang saling menerima.

Apa kata Alkitab tentang Kitab Roma?

Surat ini membuka dirinya sendiri: "Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul, yang dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah" (Roma 1:1). Paulus menulis dari Korintus, kemungkinan besar pada tahun 56 atau 57, di ujung perjalanan misinya yang ketiga. Ia mendiktekan surat ini kepada seorang juru tulis bernama Tertius, yang dengan manis menyelipkan salamnya sendiri di Roma 16:22. Pembawanya, menurut Roma 16:1-2, adalah Febe, pelayan jemaat di Kengkrea, pelabuhan Korintus. Paulus sendiri belum pernah ke Roma. Ia sedang bersiap membawa sumbangan bagi orang-orang kudus di Yerusalem, lalu berharap singgah di Roma dan melanjutkan ke Spanyol.

Karena itu Roma punya nada yang khas. Paulus tidak sedang memadamkan kebakaran seperti di Korintus, dan tidak sedang marah seperti di Galatia. Ia memperkenalkan diri dan Injilnya secara utuh kepada jemaat yang belum mengenalnya, sekaligus menyembuhkan luka lama di antara mereka.

Tesis surat ini muncul di pasal pertama: "Sebab, aku tidak malu terhadap Injil karena Injil adalah kekuatan Allah yang mendatangkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya, pertama-tama bagi orang Yahudi, dan juga bagi orang Yunani" (Roma 1:16). Perhatikan tiga hal. Injil adalah kekuatan, bukan nasihat. Injil bekerja melalui percaya, bukan prestasi. Dan Injil menjangkau dua kelompok yang selama ini saling curiga. Kalimat "pertama-tama bagi orang Yahudi, dan juga bagi orang Yunani" bukan tempelan; itu benih dari seluruh surat.

Untuk sampai ke sana, Paulus lebih dahulu meruntuhkan setiap podium. Ia mulai dengan dunia kafir yang menukar kemuliaan Allah dengan berhala, lalu berbalik kepada orang religius yang menghakimi dan berkata: engkau pun sama. Kesimpulannya menyapu bersih: "karena semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Kata "semua" itulah yang mengosongkan meja dari kursi kehormatan. Tidak ada yang datang sebagai tuan rumah; semua datang sebagai orang yang diundang.

Lalu datang jantung surat ini. Bukan manusia yang naik kepada Allah, tetapi Allah yang turun kepada manusia: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8). Waktu dalam ayat ini menentukan segalanya. Kristus tidak menunggu kita membaik. Kasih itu bergerak lebih dulu.

Dari sana Paulus membangun kepastian yang tak tergoyahkan: "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus" (Roma 8:1). Kata "sekarang" berarti putusan itu sudah jatuh, bukan sedang menunggu. Dan karena putusan itu sudah jatuh, iman menjadi hal yang bisa diakui dengan terbuka: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan" (Roma 10:9).

Akhirnya, semua kebenaran ini tidak berhenti di kepala. Paulus membalik seluruh isi surat menjadi cara hidup: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Ibadah pindah dari mezbah ke meja makan, ke tempat kerja, ke tubuh yang lelah.

Benang merah yang mengalir dalam Alkitab

Kitab Roma adalah surat yang paling sarat kutipan Perjanjian Lama di antara semua tulisan Paulus. Ia tidak sedang menciptakan agama baru; ia sedang menunjukkan bahwa Injil adalah panen dari benih yang Allah tanam sejak Kejadian.

Lihat Abraham. Paulus memilih tokoh yang paling dihormati orang Yahudi, lalu bertanya: kapan sebenarnya Abraham dinyatakan benar? Jawabannya diambil dari Kejadian 15:6 dan dikutip di Roma 4:3: "Sebab apa dikatakan Kitab Suci? Lalu percayalah Abraham kepada Allah, dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran." Itu terjadi sebelum sunat, sebelum hukum Taurat, sebelum Bait Suci. Dengan satu langkah, Paulus membuktikan bahwa iman selalu menjadi jalan Allah, dan bahwa orang bukan Yahudi bukan tamu kelas dua, melainkan anak-anak Abraham menurut janji.

Lihat juga Habakuk, nabi yang bergumul di tengah keruntuhan bangsanya. Kalimatnya dikutip Paulus sebagai kunci: "Sebab di dalamnya nyata keadilan Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: 'Orang yang benar akan hidup oleh iman'" (Roma 1:17). Habakuk 2:4 berbicara tentang hidup yang bertahan di tengah reruntuhan; Paulus menunjukkan bahwa hidup itu kini bernama Yesus Kristus.

Adam pun muncul. Dalam Roma 5, Paulus membaca seluruh sejarah manusia melalui dua kepala keluarga: satu orang membawa dosa dan kematian, satu Orang membawa kebenaran dan hidup. Kejadian 3 tidak dijelaskan sebagai dongeng lama, melainkan sebagai alamat kita sendiri. Dan Kristus adalah Adam yang taat, yang membalikkan arah seluruh keturunan.

Kemudian ada Israel. Pasal 9 sampai 11 adalah bagian yang paling sering dilewati pembaca, padahal di situlah Paulus menjawab pertanyaan paling tajam: jika Allah gagal memegang janji-Nya kepada Israel, apa jaminan Ia akan memegang janji-Nya kepada kita? Dengan mengutip Musa, Yesaya, Hosea, dan Elia, Paulus menunjukkan bahwa Allah selalu bekerja melalui sisa yang tersisa, selalu memanggil karena kasih karunia dan bukan karena keturunan, dan tidak pernah membuang umat-Nya. Ujungnya bukan diagram, melainkan penyembahan: "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan tak terselami jalan-jalan-Nya!" (Roma 11:33).

Roma membaca seluruh Alkitab sebagai satu kisah kasih karunia.

Semuanya bertemu di Roma 15:7: "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah." Perjanjian Lama merindukan bangsa-bangsa memuji Allah bersama Israel; Paulus mengutip empat nas untuk membuktikannya. Meja bersama di ruang sewaan di Roma itu adalah penggenapan nubuat.

Struktur dan tema utama

Roma terdiri dari enam belas pasal yang tersusun sangat rapi, seperti bangunan dengan empat lantai dan sebuah ruang tamu di depan.

Ruang tamunya adalah Roma 1:1-17. Paulus memperkenalkan diri, menyampaikan kerinduannya untuk datang, dan meletakkan tema: Injil sebagai kekuatan Allah yang mendatangkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya.

Lantai pertama, Roma 1:18 sampai 3:20, adalah diagnosis. Paulus menelusuri kerusakan manusia dari penyembahan berhala bangsa-bangsa sampai kesombongan orang beragama. Nada bagian ini gelap dan tidak nyaman, tetapi tanpa lantai ini seluruh bangunan kehilangan fondasi. Kesimpulannya: mulut setiap orang tertutup, tidak ada yang bisa membela diri.

Lantai kedua, Roma 3:21 sampai 5:21, adalah pembebasan. Kebenaran Allah dinyatakan di luar hukum Taurat, melalui iman kepada Yesus Kristus, bagi semua orang tanpa perbedaan. Di sini Paulus menegaskan, "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan perbuatan hukum Taurat" (Roma 3:28). Abraham menjadi saksinya, dan pasal 5 memanen buahnya: damai dengan Allah, pengharapan yang tahan penderitaan, kasih yang dicurahkan ke dalam hati.

Lantai ketiga, Roma 6 sampai 8, menjawab pertanyaan yang wajar muncul: kalau semuanya kasih karunia, apakah kita bebas berbuat dosa? Paulus menolaknya dengan keras: "Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!" (Roma 6:1-2, sebagian). Orang yang dibenarkan telah mati bersama Kristus dan dibangkitkan untuk hidup baru. Pasal 7 membuka pergumulan yang jujur dan menyakitkan, sampai terdengar seruan, "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh kematian ini?" (Roma 7:24). Pasal 8 menjawabnya dengan Roh Kudus, pengangkatan sebagai anak, dan kasih yang tidak bisa dipisahkan oleh apa pun.

Lantai keempat, Roma 9 sampai 11, membela kesetiaan Allah terhadap Israel dan menempatkan orang bukan Yahudi sebagai cabang yang dicangkokkan, bukan pemilik pohon. Di sini sudut pandang kita paling terasa: Paulus sedang mengunci pintu bagi kesombongan rohani apa pun.

Bagian penerapan, Roma 12:1 sampai 15:13, membawa semuanya ke tanah. Tubuh sebagai persembahan hidup, karunia yang saling melengkapi, kasih tanpa kepura-puraan, sikap terhadap pemerintah, utang kasih, dan pasal panjang tentang yang kuat dan yang lemah dalam hal makanan dan hari raya. Semua doktrin di pasal 1 sampai 11 ternyata bermuara pada pertanyaan sederhana: bisakah kalian makan bersama tanpa saling menghina?

Penutupnya, Roma 15:14 sampai 16:27, berisi rencana perjalanan, permintaan doa, dan dua puluh enam nama yang disalami satu per satu, sebagian besar orang biasa, beberapa perempuan, beberapa bekas budak. Sebuah doksologi menutup surat ini.

Ayat-ayat kunci dari kitab ini

Tiga ayat pantas Anda hafalkan, bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dibawa di dalam hati.

Yang pertama, Roma 1:16: "Sebab, aku tidak malu terhadap Injil karena Injil adalah kekuatan Allah yang mendatangkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya, pertama-tama bagi orang Yahudi, dan juga bagi orang Yunani." Paulus menulis ini kepada kota yang mengukur segala sesuatu dengan kekuasaan. Roma punya legiun, jalan raya, dan kaisar. Paulus punya berita tentang seorang Yahudi yang disalibkan. Secara sosial, itu memalukan. Namun ia berkata: justru inilah kekuatan Allah. Dan kekuatan itu tidak memilih-milih latar belakang. Ayat ini sekaligus menjadi pukulan bagi rasa malu kita dan bagi rasa unggul kita.

Yang kedua, Roma 5:8: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Kata sambung "akan tetapi" menandai perubahan arah paling besar dalam sejarah. Kita masih berdosa, masih tidak berdaya, masih memusuhi, dan pada titik itulah Allah bertindak. Kasih di sini bukan perasaan yang diucapkan, tetapi harga yang dibayar. Kalau kasih Allah bergantung pada perbaikan diri kita, kasih itu akan selalu bergoyang mengikuti suasana hati kita. Karena kasih itu dibuktikan di salib, dasar kita berdiri di luar diri kita sendiri.

Yang ketiga, Roma 12:1: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." Perhatikan urutannya. Bukan "persembahkan tubuhmu supaya Allah bermurah hati", melainkan "demi kemurahan Allah, persembahkan tubuhmu". Sebelas pasal kasih karunia lebih dahulu, lalu tuntutan. Dan yang dipersembahkan adalah tubuh: tangan, waktu, tenaga, dompet, mulut. Ibadah yang sejati terjadi di tempat kita berkeringat, bukan hanya di tempat kita bernyanyi.

Panduan membaca Kitab Roma dalam empat minggu

Roma bisa dibaca utuh dalam waktu sekitar satu jam, dan sekali dalam hidup Anda sebaiknya melakukannya, sekali duduk, seperti jemaat pertama mendengarnya dibacakan. Namun untuk memahaminya, empat minggu adalah ritme yang sehat.

Minggu pertama, bacalah Roma 1 sampai 4. Jangan buru-buru melewati bagian gelap di pasal 1 dan 2. Catat setiap kali muncul kata "semua" dan "tidak seorang pun". Tanyakan pada diri sendiri: di mana saya biasanya mencari alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain? Akhiri minggu itu dengan Roma 3:23 dan Roma 4:5, dan biarkan keduanya bekerja bersama.

Minggu kedua, bacalah Roma 5 sampai 8. Inilah bagian yang paling menghibur dalam seluruh Alkitab bagi hati yang lelah. Bacalah Roma 8:1 dengan suara keras setiap hari selama satu minggu, terutama pada pagi hari ketika rasa bersalah lebih dahulu bangun daripada Anda. Tutup dengan Roma 8:38-39 dan tuliskan nama ketakutan Anda sendiri di dalam daftar hal-hal yang tidak dapat memisahkan Anda dari kasih Allah.

Minggu ketiga, bacalah Roma 9 sampai 11. Bagian ini sulit, jadi ubah cara membacanya: jangan mulai dengan mencari jawaban tentang pemilihan, mulailah dengan memperhatikan air mata Paulus bagi bangsanya sendiri. Perhatikan bahwa argumen ini berakhir dalam pujian, bukan dalam rumus. Jika ada yang belum jelas, catat pertanyaannya dan lanjutkan. Kejelasan sering datang setelah beberapa kali membaca.

Minggu keempat, bacalah Roma 12 sampai 16. Bacalah dengan pensil dan tandai setiap perintah yang menyangkut hubungan dengan orang lain. Lalu pilih satu, hanya satu, untuk dilakukan minggu itu. Selesaikan dengan membaca daftar nama di pasal 16 dengan lambat, dan berdoalah bagi orang-orang yang namanya akan tertulis dalam "pasal 16" hidup Anda.

Sepanjang empat minggu itu, simpanlah satu pertanyaan di kepala Anda: bagaimana kebenaran ini membuat saya lebih mudah menerima orang yang berbeda dari saya? Itulah arah yang Paulus tuju.

Cermin

Anda mungkin sudah tahu bahwa Anda diselamatkan oleh kasih karunia. Tetapi mari jujur sebentar. Kalau Anda hari ini mendengar seseorang berkata bahwa dia baru pertama kali datang ke gereja setelah dua puluh tahun hidup jauh dari Allah, apa reaksi pertama hati Anda? Ada bagian dalam diri kita yang menghitung: saya sudah setia sejak kecil, saya melayani, saya memberi persembahan, dan orang ini baru datang. Justru di titik itu Roma 3:23 menyentuh Anda, bukan orang itu.

Kasih karunia terasa manis ketika kita menerimanya dan terasa pahit ketika orang lain menerimanya dengan porsi yang sama.

Cermin ini juga masuk ke ruang-ruang lain. Di tempat kerja, Anda mungkin membangun harga diri dari performa, dan setiap kritik terasa seperti penghukuman atas seluruh diri Anda. Roma 8:1 tidak membuat Anda malas; ayat itu melepaskan pekerjaan Anda dari beban menyelamatkan Anda. Di rumah, Anda mungkin menuntut anak atau pasangan dengan standar yang bahkan tidak Anda penuhi sendiri, sebab hati yang belum sungguh menerima kasih karunia selalu menjadi hakim yang keras. Soal tubuh dan waktu, Roma 12:1 menantang gagasan bahwa hidup rohani hanya urusan hari Minggu, sementara tubuh yang kelelahan, tidur yang dikorbankan, dan uang yang dibelanjakan berjalan di jalur lain.

Dan jika Anda sedang kesepian, perhatikan pasal 16. Paulus tidak menutup suratnya yang paling agung dengan ringkasan doktrin, tetapi dengan nama-nama orang biasa yang ia kasihi. Anda tidak diselamatkan untuk berdiri sendiri di depan Allah; Anda dibawa masuk ke sebuah keluarga yang penuh orang yang tidak Anda pilih.

Pertanyaannya sederhana dan mengganggu: siapa yang saat ini sulit Anda terima, padahal Kristus sudah menerimanya?

Dijelaskan untuk anak-anak

Kitab Roma bisa dijelaskan kepada anak-anak dengan gambar surat. Katakan begini: dahulu ada seorang bapak bernama Paulus yang sangat mengasihi Yesus. Ia mau pergi ke kota besar bernama Roma, tetapi belum bisa. Jadi ia menulis surat yang panjang, dan surat itu dibawa oleh seorang ibu bernama Febe, menyeberangi laut, sampai ke rumah orang-orang yang percaya kepada Yesus di sana.

Isi suratnya kira-kira begini. Semua orang pernah melakukan hal yang salah, tidak ada satu pun yang sempurna, termasuk orang dewasa. Kita tidak bisa membuat diri kita bersih dengan berusaha lebih keras. Tetapi Yesus datang dan mati untuk kita ketika kita masih nakal, bukan setelah kita menjadi baik. Kalau kita percaya kepada Yesus, Allah berkata: kamu anak-Ku, tidak ada lagi hukuman. Dan karena Yesus menerima kita, kita juga harus menerima teman-teman kita, walaupun mereka berbeda: beda makanan, beda bahasa, beda kebiasaan.

Untuk anak yang lebih kecil, cukup dua kalimat: Yesus mengasihi kita lebih dulu, dan kasih-Nya tidak bisa dicuri oleh siapa pun. Untuk anak yang lebih besar, Anda bisa mulai bicara tentang mengapa manusia butuh diselamatkan.

Di Faith.network tersedia penjelasan khusus sesuai usia: untuk anak prasekolah tiga sampai enam tahun dengan cerita dan gambar sederhana, untuk anak sekolah dasar tujuh sampai dua belas tahun dengan pertanyaan diskusi, dan untuk remaja dua belas tahun ke atas yang mulai bergumul dengan pertanyaan tentang dosa, identitas, dan kasih karunia.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa yang menulis Kitab Roma dan kapan ditulis?

Rasul Paulus adalah penulisnya, dan hampir semua ahli dari berbagai aliran sepakat mengenai hal ini. Surat ini didiktekan kepada seorang juru tulis bernama Tertius, yang menyampaikan salamnya sendiri dalam Roma 16:22. Waktu penulisannya diperkirakan sekitar tahun 56 atau 57, ketika Paulus berada di Korintus pada akhir perjalanan misinya yang ketiga, sebelum ia membawa sumbangan jemaat-jemaat ke Yerusalem. Febe, pelayan jemaat di Kengkrea, kemungkinan besar membawa surat ini ke Roma.

Apa tema utama Kitab Roma?

Temanya adalah kebenaran Allah yang dinyatakan dalam Injil dan diterima melalui iman kepada Yesus Kristus. Paulus menunjukkan bahwa semua manusia, baik yang religius maupun yang tidak, berada di bawah kuasa dosa, dan bahwa Allah membenarkan orang berdosa secara gratis oleh kasih karunia. Namun tema itu punya tujuan yang sangat praktis: karena semua diselamatkan dengan cara yang sama, orang Yahudi dan orang bukan Yahudi harus saling menerima sebagai satu keluarga, seperti dirumuskan dalam Roma 15:7.

Apa arti "dibenarkan oleh iman" dalam Kitab Roma?

Dibenarkan berarti Allah menyatakan seseorang benar di hadapan-Nya, seperti seorang hakim yang mengucapkan putusan bebas. Yang membuat putusan itu adil adalah karya Kristus, yang mati menanggung dosa dan dibangkitkan bagi kita. Iman bukan jasa atau kekuatan batin, melainkan tangan kosong yang menerima. Paulus menegaskannya dalam Roma 3:28, bahwa manusia dibenarkan karena iman dan bukan karena melakukan perbuatan hukum Taurat. Karena itu keselamatan tidak pernah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Apakah Kitab Roma mengajarkan bahwa perbuatan baik tidak penting?

Tidak sama sekali. Paulus justru mengantisipasi kesalahpahaman itu dan menolaknya dengan tegas di awal pasal 6: bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya kasih karunia bertambah? Jawabannya, sekali-kali tidak. Orang yang percaya telah mati bagi dosa dan dibangkitkan untuk hidup baru. Perbuatan baik bukan cara mendapatkan keselamatan, melainkan buah dari hidup yang sudah diselamatkan. Empat pasal terakhir surat ini penuh perintah yang sangat konkret tentang kasih, kerendahan hati, dan pengampunan.

Apa itu "Jalan Roma" yang sering dipakai untuk memberitakan Injil?

"Jalan Roma" adalah rangkaian ayat dari Kitab Roma yang dipakai untuk menjelaskan Injil secara ringkas, biasanya dimulai dari Roma 3:23 tentang keadaan semua manusia, lalu Roma 6:23 tentang upah dosa dan karunia Allah, kemudian Roma 5:8 tentang kasih Allah yang dibuktikan di salib, dan berakhir di Roma 10:9 tentang mengaku dan percaya. Metode ini sangat berguna, asalkan kita ingat bahwa Paulus menulis argumen yang utuh, bukan sekadar daftar ayat lepas.

Mengapa Roma 7 terasa seperti pergumulan orang Kristen sehari-hari?

Karena bahasanya sangat jujur: Paulus menggambarkan seseorang yang tahu apa yang baik tetapi tidak berdaya melakukannya, sampai berseru dalam Roma 7:24 bahwa ia manusia celaka. Ada perdebatan panjang apakah ia menggambarkan hidupnya sebelum atau sesudah mengenal Kristus, atau pengalaman manusia di bawah hukum Taurat secara umum. Yang jelas, pasal ini tidak berakhir dengan keputusasaan; ia langsung mengalir ke ucapan syukur kepada Allah oleh Yesus Kristus, dan lalu ke kemerdekaan di pasal 8.

Apa maksud Roma 9 sampai 11 tentang Israel dan pemilihan Allah?

Paulus sedang menjawab keberatan besar: jika banyak orang Israel menolak Mesias, apakah janji Allah gagal? Jawabannya adalah tidak, sebab Allah selalu bekerja melalui pemilihan berdasarkan kasih karunia, bukan berdasarkan keturunan atau prestasi, dan Ia menyisakan umat yang setia. Bagian ini juga memperingatkan orang bukan Yahudi supaya tidak sombong, karena mereka adalah cabang yang dicangkokkan. Ujung dari seluruh argumen bukan sebuah sistem yang rapi, melainkan pujian dalam Roma 11:33.

Berapa pasal dalam Kitab Roma dan berapa lama waktu untuk membacanya?

Kitab Roma terdiri dari enam belas pasal dan sekitar 433 ayat, menjadikannya surat Paulus yang terpanjang. Dibaca dengan tenang tanpa berhenti, seluruh surat memerlukan waktu sekitar satu jam, kurang lebih sama seperti ketika dibacakan dengan suara keras di rumah-rumah jemaat di Roma. Untuk pemahaman yang lebih dalam, banyak orang memilih membaginya menjadi empat bagian besar dan membacanya selama empat minggu, sambil mencatat pertanyaan yang muncul di sepanjang jalan.

Apa perbedaan Kitab Roma dan Kitab Galatia?

Keduanya membahas pembenaran oleh iman, tetapi nadanya berbeda. Galatia ditulis dengan mendesak dan penuh emosi kepada jemaat yang sedang ditarik kembali kepada hukum Taurat, sehingga terasa seperti pembelaan darurat. Roma ditulis dengan tenang dan sistematis kepada jemaat yang belum Paulus kenal, sebagai pemaparan utuh tentang Injil sekaligus upaya mendamaikan orang Yahudi dan orang bukan Yahudi. Galatia adalah pedang yang ditarik cepat; Roma adalah bangunan yang didirikan dengan sabar.

Apakah Roma 13 berarti kita harus selalu menaati pemerintah?

Roma 13:1 memang mengajarkan bahwa setiap orang harus takluk kepada pemerintah, karena tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Namun ini bukan izin bagi kekuasaan untuk berbuat sewenang-wenang. Dalam konteksnya, Paulus sedang mengajar jemaat kecil di ibu kota kekaisaran agar hidup terhormat dan tidak memberontak tanpa alasan. Seluruh Alkitab juga memberi contoh ketaatan yang lebih tinggi kepada Allah ketika perintah manusia bertentangan dengan perintah-Nya, seperti dalam Kisah Para Rasul 5:29.

Mengapa Kitab Roma ditempatkan pertama di antara surat-surat Paulus?

Bukan karena ditulis paling awal, sebab beberapa surat lain lebih dahulu ditulis, melainkan terutama karena panjangnya dan karena isinya paling menyeluruh. Penempatan ini ternyata sangat tepat secara teologis: setelah Kisah Para Rasul menceritakan bagaimana Injil menyebar dari Yerusalem ke Roma, Kitab Roma menjelaskan apa sebenarnya Injil itu. Sepanjang sejarah gereja, kitab inilah yang berulang kali memicu pembaruan besar, dari Agustinus, Martin Luther, sampai John Wesley.

Bagaimana cara mulai membaca Kitab Roma jika saya baru pertama kali?

Mulailah dengan membaca Roma 5 sampai 8 lebih dahulu, karena bagian itu paling menghibur dan paling mudah menyentuh hati. Setelah itu kembali ke pasal 1 sampai 4 untuk memahami mengapa keselamatan begitu dibutuhkan, lalu lanjutkan ke pasal 9 sampai 16. Bacalah dengan pensil di tangan, tandai kata "iman", "kasih karunia", dan "semua", dan jangan panik jika ada bagian yang belum jelas. Kitab ini dirancang untuk dibaca berulang kali sepanjang hidup.

Sebagai penutup

Kitab Roma sering diperlakukan sebagai gudang amunisi doktrin, dan memang di dalamnya tersimpan kebenaran yang telah membangunkan gereja berkali-kali dari tidurnya. Tetapi surat ini lahir untuk sebuah ruangan kecil di kota besar, tempat orang-orang dari latar belakang yang saling bermusuhan belajar memecahkan roti bersama. Pembenaran oleh iman bukan hanya kabar bahwa Anda diterima Allah; itu juga kabar bahwa tidak ada lagi kursi kehormatan di meja-Nya. Semua duduk di sana karena kasih karunia, dan hanya karena itu.

Kasih karunia yang sungguh dipahami selalu melahirkan sikap menerima.

Kalau Anda ingin melanjutkan, ambillah waktu satu jam akhir pekan ini dan bacalah seluruh keenam belas pasal dalam satu kali duduk. Lalu ulangi bulan depan. Perhatikan bagaimana Roma 8:1 membebaskan pagi hari Anda dari rasa bersalah, bagaimana Roma 12:1 menuntut tubuh dan waktu Anda, dan bagaimana Roma 15:7 mengganggu daftar orang yang selama ini Anda jauhi. Surat ini tidak akan membiarkan Anda tetap sama, dan itulah kekuatan Allah yang tidak Paulus malukan.

Bagikan halaman ini

Bantu sebarkan Injil. Kirim penjelasan ini kepada seseorang yang dapat dikuatkan olehnya.

WhatsApp Email Facebook X / Twitter
Ayat harian

Bacaan dan renungan di kotak masuk Anda setiap pagi

Setiap pagi Anda menerima bacaan Alkitab dengan renungan singkat untuk mengawali hari Anda. Sudah 6.350 orang membaca bersama.

Anda akan menerima email konfirmasi terlebih dahulu. Anda dapat berhenti berlangganan kapan saja dengan satu klik.

7.142
Bagian Alkitab yang dibuka bersama
Sudah 156 renungan baru minggu ini

Dinding perenungan

Apa yang menyentuh Anda dalam Kitab Suci? Apa yang bisa kami doakan? Apa yang bisa kita syukuri kepada Tuhan?

Syukur Editorial pada AMSAL 26:26

Terima kasih, Tuhan, karena tidak ada kebencian yang bisa bersembunyi selamanya di balik tipu daya. Engkau menyingkapkan apa yang tersembunyi…

Wawasan Editorial pada KISAH PARA RASUL 7:13

Pada kunjungan kedua, Yusuf memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya." Kunjungan pertama mereka tidak mengenalinya. Butuh waktu kedua sebelum mata mereka terbuka.…

Doa Editorial pada YEHEZKIEL 22:28

Tuhan, jaga hatiku dari kata kata manis yang hanya menutupi retak tanpa memperbaikinya. Aku tidak mau hidup dari janji palsu,…

Wawasan Editorial pada NEHEMIA 10:23

Hosea, Hananya, Hasub." Hanya tiga nama, tanpa cerita, tanpa catatan apa pun tentang hidup mereka. Namun mereka ada di sana,…

Wawasan Editorial pada MAZMUR 10:4

Perhatikan letak masalahnya: bukan di otak, tapi di wajah yang terangkat. "Tidak ada Allah," itu bukan kesimpulan setelah berpikir panjang,…

Syukur Editorial pada 1 TAWARIKH 1:39

Terima kasih, Tuhan, karena nama Hori, Homam, dan Timna pun Engkau catat dalam firman-Mu. Aku bersyukur Engkau tidak melupakan orang…

Penafian: Faith.network menggunakan model bahasa otomatis untuk menyusun studi Alkitab dan renungan. Seluruh isi dihasilkan dari teks Alkitab itu sendiri dan diperiksa setiap hari oleh kontrol mutu otomatis yang independen: sampel acak dari setiap situs bahasa dinilai berdasarkan kesetiaan pada Kitab Suci, kutipan Alkitab yang harfiah, bahasa dan kejelasan, serta hasilnya dipublikasikan tanpa disunting. Meskipun demikian, tidak ada penjelasan yang tanpa cela dan kesalahan tetap dapat terjadi. Tidak ada yang di platform ini yang merupakan nasihat profesional, dan tidak ada hak yang dapat diturunkan dari isinya. Selalu uji apa yang Anda baca dengan Alkitab itu sendiri, dan gunakan Faith.network sebagai pelengkap, bukan pengganti, studi Alkitab pribadi, doa, dan kehidupan jemaat lokal Anda. Sanggahan lengkap dan Ketentuan Penggunaan kami berlaku. Lihat pemeriksaan mutu harian kami

© 2026 Faith.Network. Hak cipta dilindungi.

Faith.network adalah pelayanan dari Faith.network · KvK 84972599 · connect@faith.network

Terwujud berkat para mitra kami
Perusahaan?